“YANG SADAR” ~ “YANG TERCERAHKAN” ADALAH BUDDHA

Download Artikel

“YANG  SADAR” – “YANG  TERCERAHKAN” ADALAH  BUDDHA
Oleh: Cakra Ningrat

PENGANTAR

Tulisan ini didasari oleh adanya keinginan luhur dari hati yang tulus untuk mencari korelasi atau hubungan baik langsung maupun tidak langsung, baik terang-terangan maupun samar-samar antara alqur’an dan alkitab dengan prinsip-prinsip dasar yang merupakan inti ajaran Buddha. Buddha artinya “Yang Sadar” –“Yang Tercerahkan”.

Menulis artikel seperti ini bukanlah sebuah perkara mudah dan gampang. Dibutuhkan kekuatan logika yang handal, ketajaman fikiran yang berkilau dan kecerdasan akal yang menyinari untuk membuktikan secara nyata dan meyakinkan bahwa sesungguhnya manusia memiliki Tuhan Yang Sama. Satu Tuhan dalam Ketuhan-an Yang Maha Esa.

Tata cara peribadatan tidak akan mendapat tempat untuk dibahas karena sampai kapanpun tata cara peribadatan semua agama-agama tidak akan pernah bisa dipersatukan oleh siapapun sekalipun itu oleh Allah sendiri. Sebagaimana firmanNya dalam alqur’an: “Manusia dahulunya hanya satu ummat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan diantara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu” (10:19). Adalah sebuah kesia-siaan mempermasalahkan tata cara peribadatan dan ritual keagamaan karena perbedaan itu sudah menjadi ketetapan Tuhan yang tidak mungkin bisa dipersatukan. Satu-satunya jalan kita untuk bersatu adalah dengan mengkaji secara kritis apakah ada firman Tuhan yang mendukung prinsip-prinsip ajaran Buddha tersebut. Jika memang terdapat firman Tuhan yang mendukung maka disitulah terminal perjumpaan kita menuju Tuhan Yang Satu.

Artikel ini terilhami dari ajaran, arahan dan bimbingan guru agung Yaman Al Bughury dan Sinuhun Cahyo Nayaswara. Ditulis atas permintaan admin, satriopingitmuncul.wordpress.com. Semoga artikel ini membawa manfaat bagi seluruh pembaca, terutama kepada mereka yang mendambakan persatuan dan kesatuan di dalam Tangan Tuhan. Amin. 

SEJARAH BUDDHA

Terlahir sebagai putera mahkota, putera tunggal dari raja Sudhodana dan permaisuri Mahamaya, dari suku sakya yang berdiam di Kapilavastu, India Utara (dekat Nepal) namanya adalah: Shidatta Gotama. Ketika usia kandungan permaisuri dianggap cukup, maka permaisuri keluar meninggalkan istana bersama rombongan kerajaan.  Permaisuri bermaksud hendak menuju kerumah orang tuanya untuk melahirkan putranya akan tetapi dalam perjalanan permaisuri merasakan sakit yang luar biasa sebagai tanda sudah akan melahirkan. Lahirlah sang pangeran ditengah-tengah taman Lumbini. Alam menyambut kelahiran beliau dengan caranya sendiri.

Pemberkatan atas kelahiran putera mahkota dilaksanakan secara meriah ditengah kemewahan istana. Pemberkatan dipimpin oleh pertapa Asita, seorang Brahmana ternama yang paling terhormat saat itu. Saat pengeran kecil diangkat untuk menghormat kepada guru Asita, kaki pengeran menyentuh kening Asita. Pertapa Asita tertawa gembira karena dia telah melihat tanda-tanda keagungan seorang calon Buddha. Asita tertawa karena dia telah mengetahui telah lahir seorang guru agung. Kemudian Asita menangis tersedu-sedu, karena Asita tahu bahwa usianya sudah tua, Asita sudah tidak sempat lagi mendengarkan ajaran agung yang akan disampaikan oleh sang Buddha. Para pertapa menyambut kelahiran pangeran Shidatta Gotama dengan caranya sendiri.

Masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa dilalui Shidatta dalam lingkungan kemewahan istana. Seperti para pangeran lainnya Shidatta juga mendapat pengajaran dan menguasai ilmu bela diri dan militer, berenang, berburu dan memanah. Keterampilannya dalam berburu dan memanah tidak pernah dia gunakan untuk melukai apalagi membunuh binatang. Semua itu disebabkan karena sifatnya yang penuh “welas asih”. Setelah dewasa dia menikahi Yasodhara, saudara sepupunya sendiri. Yasodhara adalah seorang wanita anggun, tenang dan bermartabat tinggi.

Kehidupan Shidatta Gotama adalah kehidupan yang penuh dengan kemewahan dan kegemerlapan istana. Kehidupan yang memancarkan suasana keceriahan, kebahagiaan dan kenikmatan hidup. Segala yang diinginkan tersedia, segala yang diharapkan terpenuhi. Meski segala kesenangan telah ia miliki akan tetapi Shidatta merasakan ketidak puasan batinnya. Untuk menenangkan kegelisahan batinnya Shidatta sering berjalan-jalan diluar tembok istana mengamati keadaan masyarakat sekelilingnya. Dari perjalanannya itu Shidatta melihat dan menyaksikan sendiri apa yang dikenal dengan sebutan “empat penampakan”.

  • Perjalanan pertama, pangeran melihat seorang tua dengan segala kelemahannya. Pangeran menyadari setiap orang akan mengalami usia tua.
  • Perjalanan kedua, pangeran melihat seorang sakit yang menderita. Pangeran menyadari setiap orang pasti mengalami sakit.
  • Pada perjalanan ketiga, pangeran melihat mayat orang mati yang dibakar. Pangeran menyadari semua orang pasti mati.
  • Pada perjalanan keempat, pangeran bertemu dengan seorang pertapa yang begitu agung. Pangeran merasa bahagia menyadari adanya cara untuk mencari jawaban pertanyaannya tentang bagaimana manusia bisa terhindar dari penderitaan.

Dapat dikatakan bahwa pangeran Shidatta Gotama telah memetik hikmah dan mengambil pelajaran dari “empat penampakan” tersebut. Penampakan orang tua adalah penampakan yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan universal yang dijumpai oleh semua manusia yang hidup. Shidatta ingin terbebas dari kegelisahannya. Dia ingin terbebas dari penderitaannya. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan batinnya, yang bertanya kepada dirinya sendiri. Pangeran yang masih muda, tampan, memiliki bentuk tubuh yang sempurna dengan keindahan kulit yang sangat bagus apa jadinya kelak jika dia menjadi tua bangka, berjalan membungkuk dan wajahnya berkeriput. Apa jadinya pangeran yang saat ini sehat bugar dan kuat tiba-tiba jatuh sakit dan tergeletak tak berdaya kemudian mati. Lalu bersiklus kembali mengikuti putaran waktu kemudian terlahir kembali entah dimana dan sebagai apa kemudian menjadi tua, sakit dan mati lagi. Apakah penderitaan batin ini bisa diahiri?. Apakah kegelisahan dan kecemasan batin ini bisa ditenangkan?. Penampakan pertapa yang tenang karena telah melepas nafsu keduniaan yang menguasai dirinya adalah solusi tepat yang ditemukan oleh pangeran untuk menenangkan kegelisahan, kecemasan dan penderitaan batinnya.

Kondisi psikologis Shidatta dapat disebut sebagai kondisi yang bersifat universal dimana semua manusia bisa saja merasakannya. Penderitaan batin Shidatta bukan lagi masalah kebutuhan duniawi karena untuk semua hal yang bersifat duniawi sudah dimiliki oleh beliau. Pertanyaan-pertanyaan fundamental “tua, sakit dan mati” berbanding terbalik dengan  kenyataan hidupnya. Kita yang hidup sekarang ini mungkin saja tidak diperhadapkan pada pertanyaan bagaimana kalau kita tua, sakit dan mati namun kita diperhadapkan pada kenyataan hidup yang lain. Misalnya penderitaan batin karena ketakutan atau kecemasan kita terhadap kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang kita harapkan. Semua orang pernah merasakan kegelisahan batin dan semua orang mencari metode yang tepat guna menenangkan batinnya.

Penampakan pertapa sebagai penampakan keempat adalah solusi yang akan ditempuh oleh Shidatta Gotama. Usia 29 tahun, Shidatta meninggalkan istana. Meninggalkan kesenangan dunia. Meninggalkan istrinya dan anaknya Rahula yang baru saja lahir. Malam itu saat istri dan anaknya tertidur lelap dia pergi diam-diam. Tanpa pamit, tanpa pesan. Dengan menunggang kuda putihnya yang berlari kencang, Shidatta masuk jauh kedalam hutan untuk melakukan pertapaan.  

Pakaian kebesaran kerajaan beliau tanggalkan, rambut dipotong habis, jubah kumal dikenakan jadilah beliau seorang pertapa. Didalam hutan dia mencari guru yang dapat membimbingnya. Dari guru Alara Kalama dia belajar meditasi dengan konsentrasi tinggi. Guru Udhaka Ramaputra mengajari cara mencapai jhana-jhana yang tinggi. Meski pencapaian Shidatta telah melampaui pencapaian guru-gurunya, Shidatta belum menemukan apa yang diinginkannya. Nafsu belum terhapuskan. Penderitaannya masih terasakan. Kecemasan berlebihan terhadap “tua, sakit dan mati” masih terus mengejar dirinya. Sungguh sebuah penderitaan yang sangat menyiksa batinnya. Shidatta belum mendapatkan ketenangan batin.

Sadar bahwa meditasi yang telah diajarkan guru Alara  Kalama dan Udhaka Ramaputra belum dapat menghapus nafsu dan penderitaannya maka pertapa Gotama mencoba melakukan meditasi dengan caranya sendiri. Gotama mengajak lima orang pertapa untuk menemaninya melakukan metode yang paling extrem sepanjang sejarah pertapaan, yaitu menyiksa tubuh dengan keyakinan jika tubuh dalam keadaan tersiksa maka jiwa akan bebas dari derita. Shidatta makan sangat sedikit, minum sangat sedikit dan menahan nafas untuk jangka waktu lama sampai-sampai saat ia memegang kulit perutnya, ia juga menyentuh tulang belakangnya. Ia memaksakan dirinya keambang batas yang tidak pernah dilakukan manusia.

Sadar bahwa cara yang dilakukannya salah, Shidatta menghentikan pertapaannya. Shidatta menerima persembahan semangkok nasi susu dari seorang gadis bernama Sujata, yang sebelumnya mengira Shidatta adalah dewa pohon. Melihat Shidatta telah memakan nasi susu itu maka kelima pertapa yang selama ini menemani Shidatta, pergi satu persatu meninggalkannya karena mereka beranggapan Shidatta sudah menyerah dalam latihannya.

Sadar bahwa cara “menyiksa tubuh” secara extrem adalah salah dan “memanjakan tubuh” secara berlebih-lebihan sebagaimana yang pernah ia rasakan sewaktu hidup di istana juga salah maka Shidatta mencoba lagi sebuah metode baru. Metode ini disebut sebagai JALAN TENGAH (jalan madya). Shidatta melanjutkan lagi pertapaannya seorang diri dengan metode JALAN TENGAH hingga ia mencapai pencerahan yang pertama. Kondisi tubuh beliau terlihat agung dan sempurna pada pencapaian pencerahan pertama. Melihat kenyataan itu, seorang pengembara mempersembahkan alas meditasi yang terbuat dari rumput kering kepada beliau karena beliau akan melanjutkan lagi pertapaannya.

Sadar bahwa metode JALAN TENGAH adalah JALAN BENAR, maka Shidatta melanjutkan lagi meditasinya dibawah pohon Bodhi di Gaya dan berjanji kepada bumi sebagai saksi bahwa beliau tidak akan bangun dari meditasinya sebelum mencapai pencerahan yang sempurna. Dalam meditasinya kali ini, Shidatta menghadapi godaan Mara Penggoda dengan berbagai macam godaan. Puncak godaan Mara dilambangkan sebagai tiga wanita cantik. Shidatta mampu melewati godaan-godaan itu. Godaan Mara adalah “nafsu keinginan” yang ada didalam diri Shidatta sendiri. Setelah berhasil mengalahkan nafsu yang ada didalam dirinya sendiri maka Shidatta telah mencapai pencerahan kedua. Kemudian pencerahan sempurna tepat dimalam purnama bulan Vesakha.

Pencerahan sempurna adalah fase pencapaian tertinggi Shidatta, dimana pada fase itu Shidatta Gotama melihat dengan penglihatan batinnya proses kelahiran berulang atas dirinya dimasa-masa yang lalu sebelum dia lahir kembali dan hidup dengan nama Shidatta Gotama.

Ada dua belas kelahiran berulang yang dilihat oleh Shidatta sebelum dia terlahir kembali dengan nama Shidatta Gotama yaitu:

  1. Terlahir sebagai pertapa Sumedha. Sumedha adalah orang yang kaya raya kemudian mendanakan semua kekayaannya lalu menjadi pertapa.
  2. Terlahir sebagai raja yang bernama Visantara. Visantara selalu memberikan dana tanpa keragu-raguan dengan cinta kasih.
  3. Terlahir sebagai raja Gajah. Gajah ini membiarkan gadingnya diambil atas perintah seorang permaisuri. Gajah membiarkan dirinya dibunuh dan permaisuri juga mati karena penyesalannya.
  4. Terlahir sebagai raja yang bernama Makhadeva dari Videhi. Tukang cukur menyampaikan kepada raja kalau rambutnya sudah memutih. Raja menyadari bahwa hidup ini tidak kekal, maka raja meletakkan jabatannya kemudian menjadi pertapa.
  5. Terlahir sebagai pangeran yang bernama Pancayoda. Dalam perjalanan Pancayoda bertemu dengan siluman bernama Siesaloma. Terjadilah pertempuran sengit diantara mereka dengan kekuatan berimbang. Senjata terakhir Pancayoda untuk memenangi pertarungan tersebut adalah dengan cara menyadarkan Siesaloma dari perbuatan jahatnya.
  6. Terlahir sebagai seorang pertapa bernama Khantivadi. Sang pertapa mengajarkan permaisuri tentang kesabaran akan tetapi raja merasa cemburu kemudian memerintahkan pemotongan kedua tangan dan kedua kaki Khantivadi. Melihat kesabaran Khantivadi, Dewa Saka mengembalikan semua tangan dan kakinya.
  7. Terlahir sebagai raja bernama Sutasoma. Sutasoma berteman dengan raja Brahmadata. Brahmadata seorang kanibal. Sutasoma berhasil menyadarkan Brahmadata.
  8. Terlahir sebagai pangeran bernama Themiya kemudian menjadi pertapa.
  9. Terlahir sebagai seorang anak dari ayah dan ibu yang buta. Suatu hari ada seorang raja yang berburu dihutan. Tanpa disengaja anak panah yang dilesatkan mengenai tubuh anak itu. Sebelum meninggal anak itu menitipkan pesan kepada raja, agar memelihara ayah dan ibunya yang buta tersebut.
  10. Terlahir sebagai pertapa bijaksana
  11. Terlahir sebagai pertapa yang menjalankan kehidupannya dengan telanjang. Menyadari bahwa perbuatannya akan menyebabkannya lahir dialam rendah maka pertapa merubah caranya bertapa dan cara hidupnya yang benar yang menyebabkannya terlahir disurga Tusita.
  12. Terlahir di surga Tusita dan menunggu perhitungan waktu yang tepat untuk terlahir kembali sebagai manusia untuk selanjutnya diberi nama Pangeran Shidatta Gotama.

Terlalu sulit bagi kita untuk membenarkan kelahiran berulang Shidatta Gotama sebanyak dua belas kali kelahiran mengingat semua nama dan tokoh yang disebutkan di atas hanyalah penglihatan subyektif Shidatta ketika mendapatkan pencerahan yang sempurna. Tidak ada tolok ukur untuk membuktikan secara ilmiah yang dapat dijadikan sebagai rujukan kebenaran nama dan tokoh-tokoh dimaksud. Namun begitu kita juga tidak bisa dengan seenaknya mengingkari kebenaran penglihatan subyektif Shidatta tanpa sebuah kajian husus yang cermat, mendalam dan obyektif.

Pada kelahiran berulangnya yang ketiga, Shidatta melihat dirinya pernah terlahir sebagai raja gajah, yang rela dibunuh karena permaisuri mengingini gadingnya. Raja gajah tidak melakukan perlawanan terhadap manusia yang ingin membunuhnya meskipun dia bisa dan punya kesempatan melakukan perlawanan untuk membela dirinya. Jika kelahiran berulang sebagai raja gajah tidak pernah terjadi mungkin sampai hari ini kita tidak pernah melihat atau menyaksikan persahabatan yang begitu dekat antara gajah yang bertubuh besar dengan manusia yang bertubuh kecil. Di negeri Thailand, India dan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia kita bisa melihat persahabatan yang begitu erat dan kebersamaan yang begitu lekat antara gajah dan manusia. Gajah dapat diajak bermain bersama, gajah patuh pada perintah sesuai dengan keinginan manusia. Diberbagai kesempatan gajah dapat menghibur manusia seperti berbaris diacara-acara karnaval atau dalam bentuk pertunjukan tontonan yang komersial dan sebagainya. Bersahabatlah dengan gajah dan kendalikanlah dia. Hukum disemua negara melarang keras perburuan liar dan pembunuhan terhadap gajah.

Islam menolak keras ajaran “kelahiran berulang dan adanya dosa menurun”. Islam meyakini setiap manusia yang lahir dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menasranikan atau memajusikan atau menjadikan anak-anaknya sebagai penyembah api. Keyakinan ummat islam ini didasari oleh hadits nabi Muhammad SAW yang mengatakan “setiap bayi yang lahir, dia lahir dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani atau majusi”. Cakra Ningrat  tidak menolak kebenaran hadits tersebut akan tetapi logika hukum mempertanyakan dengan mengambil analogi sebagai berikut: seorang perempuan pelacur yang malang melintang didunia hitam kepelacuran tiba-tiba hamil tanpa diketahui siapa laki-laki yang menyebabkannya hamil, setelah bayinya lahir apakah bayi itu dapat dikatakan suci mengingat perempuan pelacur itu beragama islam?. Jika agama islam yang dijadikan tolok ukur sebuah kesucian, sungguh betapa mudah dan gampangnya yang dinamakan “suci”. Jika bayi orang yang beragama islam saja yang suci lantas dimanakah rasionalitas Tuhan?.

Cakra Ningrat mempertanyakan kebenaran hadits tersebut. Cakra Ningrat tidak ingin berpolemik dengan semua hal yang tidak rasional dan bertolak belakang dengan logika hukum. Dalam alqur’an surat albaqarah ayat 28 Tuhan berfirman: “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

Ayat di atas dengan jelas dan tegas memberi petunjuk kepada kita bahwa kita semua manusia yang hidup sekarang ini tadinya adalah manusia yang sudah mati kemudian Tuhan menghidupkan kita lalu dimatikan kemudian dihidupkan-Nya kembali. Mati lalu hidup kemudian dimatikan untuk dihidupkan kembali adalah doktrin KELAHIRAN BERULANG yang diimani oleh ummat Buddha. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alqur’an membenarkan ajaran Buddha dan mengakui adanya Kelahiran Berulang. Sebagai muslim atau seorang nasrani, kita harus menerima kenyataan akan “kebenaran” ini entah dengan muka senang atau cemberut, entah dengan ihlas atau terpaksa yang jelas alqur’an mengakui adanya kelahiran berulang tersebut. Mengingkari kebenaran ajaran Buddha berarti mengingkari kebenaran alqur’an. Mengingkari kebenaran alqur’an maka dengan sendirinya mengingkari kebenaran alkitab.

Hati dan jiwa hanya dikenal dalam islam dan nasrani. Buddha menepis semua teori dan spekulasi tentang jiwa dengan doktrin anatta. Anatta diterjemahkan dalam berbagai lebel: tiada diri, tiada jiwa, tanpa aku. Itu berarti Kelahiran Berulang tidak berhubungan dengan jiwa dan jasad. Oleh karena ajaran Buddha tidak mengenal adanya jiwa. Dalam alqur’an Tuhan berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan“ (29:57). Yang mati adalah jiwa dan jasad. Jiwa dan jasad tidak mengalami proses kelahiran berulang. Pandangan islam dapat dibenarkan secara hukum jika mengatakan jiwa tidak akan mengalami proses kelahiran berulang, sebab tiap-tiap jiwa akan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pandangan islam menjadi “salah” bila menepis adanya Kelahiran Berulang.

Yang mengalami kelahiran berulang adalah roh dan bukan jiwa. Didalam roh ada fikiran. Jika seseorang mati kemudian diahir kematiannya terdapat “lekatan” didalam fikiran orang itu berupa nafsu keinginan yang belum terpuaskan atau apapun bentuk dari “lekatan” tersebut maka lekatan itulah yang menyebabkannya terlahir secara berulang. Orang nasrani  menamakan “lekatan” itu sebagai “dosa menurun”. Lekatan itu adalah nafsu atau dosa.

Dalam alqur’an Tuhan berfirman: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh (roh). Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan melainkan sedikit” (17:85). Pengetahuan manusia tentang ruh (roh) memang sangat sedikit akan tetapi jika didasari oleh niat suci untuk “kebersatuan” maka yang sedikit itu tentu saja akan membawa manfaat yang banyak buat kita semua. Roh memang adalah urusan Tuhan. Roh itulah yang selalu terlahir secara berulang. Kita semua tidak ada yang mengetahui, roh yang mendiami jasad-raga kita, entah sudah yang keberapa kalinya terlahir kembali. Kita tidak perlu berusaha mencari tahu karena bukan urusan kita. Biarlah ia tetap menjadi urusan yang punya urusan (Tuhan). Urusan kita atau tugas kita adalah bagaimana mengahiri kelahiran berulang terhadap roh yang ada dijasad kita sekarang.

Selama enam tahun, dengan upaya sendiri yang dia lakukan secara sungguh-sungguh pada ahirnya Shidatta Gotama dapat mencapai pencerahan yang sempurna sebagai seorang Buddha. Dia telah menyempurnakan sepuluh parami kualitas tertinggi kedermawanan, kesusilaan, ketaklekatan, kebijaksanaan, daya, kesabaran, kejujuran, keteguhan, cinta kasih dan ketenangseimbangan. Dalam Anguttara Nikaya, ia berkata: “saya bukanlah dewa atau mahluk halus lainnya, juga bukan manusia pada umumnya. Ketahuilah, saya adalah Buddha, Yang Sadar”. Setelah pencerahan, Buddha tidak bisa lagi digolongkan sebagai orang biasa, ia tergolong warga Buddha. Suatu kelas khusus dari mahluk-mahluk tercerahkan, yang semuanya adalah pada Buddha. Siapapun yang telah mencapai pencerahan sebagai seorang Buddha maka secara otomatis kelahiran berulangnya akan berahir dengan sendirinya.

Jika roh menjadi urusan Tuhan, maka patut dikesampingkan seluruh nama-nama dan tokoh yang disebut-sebut dalam proses kelahiran berulang sebelum ahirnya dia terlahir sebagai seorang yang bernama Shidatta Gotama. Nama-nama tersebut hanya penglihatan subyektif  Shidatta yang mustahil kita dapat menemukan sebuah rujukan pembenarannya sebab nama-nama tokoh tersebut tidak terungkap sejarah hidupnya atau fiktif. Logika kita tentu akan bertanya “apakah ada nama dan tokoh rahasia yang ada dibalik nama dan tokoh yang dilihat dengan penglihatan subyektif Shidatta Gotama”?. Jika ada, siapakah nama dan tokoh tersebut yang sengaja disembunyikan Tuhan sebagai yang empunya urusan?. Jika ada, maka nama dan tokoh tersebut harus bisa merubah penglihatan subyektif Shidatta menjadi penglihatan obyektif manusia yang hidup sekarang ini. Ukuran obyektifitasnya adalah nama dan tokoh tersebut harus memiliki sejarah hidup, sebagaimana Shidatta. Memiliki bukti nyata peninggalan yang bisa dilihat dan disaksikan secara kasat mata sebagaimana adanya bukti peninggalan Shidatta yang bisa dilihat secara kasat mata hingga saat ini. Nama dan tokoh tersebut harus pula dikenal luas oleh ummat manusia dan terahir nama tokoh tersebut harus tercantum didalam alqur’an dan alkitab.

SHIDATTA GOTAMA ADALAH  ABRAHAM (IBRAHIM)

Kita semua terperangah membaca sub judul artikel ini. Penulis dengan jujur mengakui bukanlah sebuah perkara mudah untuk menguraikannya guna membuktikan kebenarannya. Diibaratkan dua gulung benang kusut didua kutub yang berjauhan. Simpul-simpulnya harus diuraikan kemudian ujung kedua benang tersebut disambung menjadi satu simpul, sebagai simbol bahwa sesungguhnya kita adalah satu. 

Dalam alqur’an Tuhan berfirman: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap ummat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (5:48).

Ayat diatas dengan jelas menyebutkan bahwa “Untuk tiap-tiap ummat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. Ajaran Buddha adalah aturan dan jalan yang terang yang juga bersumber dari Allah dan harus kita imani bersama. Yang dimaksud dengan “aturan” adalah semua hal yang berimplikasi terhadap hukum-hukum Tuhan sedangkan “jalan terang” adalah “jalan tengah” untuk mencapai pencerahan yang sempurna. Yang dimaksud dengan pencerahan sempurna adalah bilamana logika akal sehat sudah sampai kepada tingkat kesadaran yang paripurna dan membenarkan bahwa semua manusia memiliki Tuhan Yang Sama yaitu Tuhan Yang Satu.

  • Sadar bahwa Tuhan manusia adalah SATU maka manusia harus sadar bahwa semua hamba-hamba yang diciptakan Tuhan harus digenapkan, termasuk Abraham (Ibrahim).
  • Sadar bahwa kelahiran berulang dibenarkan oleh alqur’an sebagaimana ayat 2:28 maka semua manusia harus sadar bahwa Abraham (Ibrahim) telah terlahir kembali dan bernama Pangeran Shidatta Gotama.
  • Sadar bahwa Abraham (Ibrahim) adalah BAPA bagi semua agama langit (samawi), Yahudi, Islam dan Nasrani maka semua manusia harus sadar bahwa Abraham (Shidatta Gotama) juga adalah BAPA bagi semua agama bumi.

Fakta hukum yang tidak mungkin bisa dibantah kebenarannya oleh ummat islam bahwa Shidatta Gotama adalah Abraham (Ibrahim) dapat kami uraikan sebagai berikut:

  1. Rukun islam yang kelima adalah menunaikan ibadah haji. Puncak ritual ibadah haji adalah wukuf dipadang Arafah. Semua laki-laki yang melaksanakan wukuf harus menggunakan pakaian ihram. Pakaian ihram adalah pakaian yang digunakan oleh Shidatta saat mencapai pencerahan yang sempurna. Pakaian ihram yang digunakan oleh ummat islam berwarna putih sebagai simbol langit (warnah awan) pakaian Shidatta Gotama atau pakaian yang biasa dikenakan oleh para Bhikku berwarnah coklat tua atau kuning sebagai simbol bumi (warnah tanah).
  2. Waktu wukuf ditetapkan tanggal 10 Dzulhijjah tengah hari setiap tahunnya. Ummat islam duduk tenang didalam tenda masing-masing mendengar khutbah wukuf yang disampaikan oleh penghutbah. Duduk tenang dengan cara duduk bersila melupakan seluruh urusan-urusan yang bersifat duniawi termasuk melupakan sementara keluarga, anak dan isteri. Cara duduk dengan konsentrasi tinggi (Khusyu)) adalah cara duduk dan konsentrasi Shidatta Gotama saat mencapai pencerahan yang sempurna.
  3. Setelah matahari terbenam (11 Dzulhijjah) ummat islam menuju Musdalifah memungut batu-batu kecil, lalu ke Mina melemparkan batu-batu kecil itu (melontar jumrah) kesebuah batu yang disimbolkan kepada syetan penggoda yang menggoda Ibrahim saat akan menyembelih putranya Ismail. Syetan penggoda itu bernama Jamratul aqabah. Shidatta Gotama menamakan syetan penggoda sebagai mara penggoda. Mara penggoda adalah nafsu yang ada didalam diri Shidatta yang berhasil ditaklukkan.
  4. Setelah melontar Jamratul aqabah, ummat islam melakukan tahallul yaitu memotong rambut. Kebanyakan laki-laki memotong habis rambutnya (gundul). Setelah tahallul barulah ummat islam dibolehkan melepas pakaian ihramnya. Setelah mencapai pencerahan yang sempurna Shidatta Gotama memotong habis rambutnya sebagai tanda dia telah mencapai Buddha. Para Bhikku juga menggundul rambutnya. Tahallul bagi ummat islam adalah simbol telah mendapatkan penyadaran dan pencerahan.
  5. Selama menggunakan pakaian ihram ummat islam diharamkan membunuh binatang meskipun seekor semut atau seekor nyamuk dan diharamkan mengganggu semua tanaman meskipun itu hanya mencubit selembar daun atau selembar rumput. Larangan itu hanya berlaku ditiga tempat yang disebut sebagai tanah haram yaitu; padang Arafah, Musdalifah dan Mina. Shidatta Gotama, dengan sifatnya yang penuh dengan welas asih melarang membunuh binatang apapun dan membunuh tumbuhan apapun karena dihawatirkan akan mengganggu roh yang menunggu kelahiran berulangnya berada pada binatang atau tanaman tersebut.
  6. Ka’bah adalah kiblat seluruh ummat islam yang ada di bumi ini. Ka’bah adalah bangunan tembok yang berbentuk empat persegi. Ka’bah dibangun oleh Abraham. Didekat Ka’bah ada maqam (tanda) Ibrahim. Tanda Ibrahim adalah “dua telapak kakinya”. Kedua telapak kakinya itu dicor dengan emas berkilau. Tanda itu adalah bukti nyata bahwa Abraham bukan nama dan tokoh fiktif. Shidatta Gotama juga meninggalkan tanda untuk kita semua. Setelah wafat, tubuhnya dikremasi dan reliknya dibagikan kepada delapan kerajaan. Setiap raja membangun pagoda untuk menyimpan bagian reliknya. Bagian yang diberikan kepada raja Ajatasattu disemayamkan dalam sebuah pagoda di Rajagaha.
  7. Abraham tidak membawa sebuah agama. Shidatta Gotama juga tidak membawa agama. Shidatta hanya mengajarkan kebenaran universal yang dia temukan. Beberapa abad setelah Shidatta meninggal para pengikut ajarannya berhimpun dalam satu agama yang disebut sebagai agama Buddha. Negara-negara Budhis yang mengenal ajaran Buddha beberapa abad setelah Shidatta Gotama wafat adalah; Srilanka, Myanmar, China, Tibet, Nepal, Korea Mongolia, Jepang, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos.

Abraham hidup sekitar 3.000 tahun  SM. Memiliki dua orang putera. Dari istrinya Hajar (Hagar) Abraham memperanakkan Ismail (Ismael). Dari istrinya Sarah (Sara’i) Abraham memperanakkan Ishak. Dari garis keturunan Ismail, Abraham mendapatkan Muhammad; Nabi besar yang sangat diagungkan oleh ummat islam. Dari garis keturunan Ishak, Abraham mendapatkan Yesus Kristus, Putera BAPA yang sangat dimuliakan oleh ummat kristen. Abraham meninggal dalam usia 175 tahun dan dimakamkan di Hebron tanah Kanaan.

Pada 500 tahun SM atau 2.500 tahun setelah Abraham meninggal, roh Abraham terlahir kembali sebagai Shidatta Gotama. Umur 35 tahun Shidatta menjadi seorang Buddha. Selama 45 tahun dia membabarkan dhamma. Dia meninggal diusia 80 tahun, dan tidak akan terlahir kembali. Sebelum meninggal Buddha Gotama berkata: “saya bukanlah Buddha yang pertama datang di dunia ini; juga bukan yang terahir. Pada saatnya, Buddha yang lain akan muncul di dunia ini, Yang Suci, Yang Tercerahkan, terberkahi dengan kebijaksanaan, mengetahui semesta, pemimpin manusia  yang tiada tara, guru para dewa dan manusia. Ia akan mengungkapkan kepada kalian kebenaran abadi yang sama seperti yang saya ajarkan kepada kalian. Ia akan membabarkan kehidupan spritual, sempurna dan suci sepenuhnya seperti yang saya babarkan saat ini. Ia akan dikenal sebagai Metteyya yang berarti kebajikan atau kasih”.

Buddha Gotama mengakui bahwa dirinya bukanlah Buddha yang pertama. Ummat Buddha hususnya dan ummat manusia pada umumnya tidak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya Buddha Abraham adalah Buddha yang pertama.

Sekitar 500 tahun setelah Buddha Gotama meninggal dan dikremasi, Buddha yang lain muncul di dunia ini. Disebut Buddha yang lain karena Buddha ini memiliki keluarbiasaan tiada tara dan tak terbandingkan oleh siapapun. Abraham mencapai Buddha ketika dia sudah berusia senja. Shidatta Gotama mencapai Buddha diusianya yang ke 35 tahun. Buddha yang satu ini sudah  Buddha pada saat dia dilahirkan. Dalam bahasa pali Buddha ini disebut Metteyya yang artinya kebajikan atau kasih. Dalam bahasa Ibrani Buddha itu disebut Messiah. Ummat kristen mengenalnya sebagai Yesus Kristus, ummat islam menamakannya sebagai Isa Almasih.

Dua ribu tahun setelah kematiannya ditiang salib. Dua ribu tahun setelah dia bangkit dari yang mati dihari ketiga. Dua ribu tahun setelah dia naik ke langit. Roh-Nya terlahir kembali. Kelahiran berulang untuk menggenapkan. Apa yang telah dia lakukan pada kelahirannya yang pertama tidak akan mungkin dia lakukan pada kelahirannya yang kedua. Jika kelahiran pertamanya dia memunculkan dirinya sejak masih bayi maka dikelahirannya yang kedua dia akan terus menerus menyembunyikan dirinya dengan memingit diri. Jika dikelahiran pertamanya dia dihakimi oleh Pilatus sehingga dia disalib hingga kematiannya maka dikelahirannya yang kedua dia menghakimi manusia, agar manusia mengalami delarosa sebagaimana yang pernah dia jalani.

Sebagai warga setia blog yang terhormat ini, sepatutnyalah kita semua berterima kasih kepada Yaman Al Bughury, karena beliau telah berhasil meyakinkan kita dan menyadarkan kita bahwa artikel SPTM ditulis oleh Satrio Piningit yang sejati. Satrio adalah Dia yang tak terkalahkan. Satrio adalah Dia yang terlahir kembali untuk menggenapkan. Dia yang menyembunyikan (piningit/memingit) diri. Dia ingin ditahu secara logika. Al Bughury telah membuka pintu kesadaran kita dan menjadikan kita sebagai manusia YANG SADAR. Kita semua sepatutnya juga berterima kasih kepada Cahyo Nayaswara yang telah mencerahkan kita, yang telah membuka mata akal kita yang selama ini buta. Dengan pencerahan itu mata akal kita dapat melihat kebenaran. Dapat melihat Dia yang terlahir kembali. Dengan pencerahan itu menjadikan kita sebagai manusia YANG TERCERAHKAN.

Buddha adalah Yang Sadar. Yang Tercerahkan. Buddha Gotama mengatakan semua orang bisa menjadi seorang Buddha dengan caranya sendiri. Buddha itu disebut sebagai Buddha Araha. Marilah kita jadikan diri kita sebagai Buddha Araha dengan cara kita sendiri. Tanpa harus ada guru atau pembimbing . Tanpa harus bertanya kesana-kemari dan kemana-mana. Tanpa harus bermeditasi. Tidak perlu ke gereja, mesjid atau pagoda. Cukup dengan kekuatan logika kita masing-masing. Akal fikiran kita musti disadarkan. Akal fikiran kita musti dicerahkan. Dan kita sendiri yang melakukannya.

Pencerahan adalah menyingkirkan ketaktahuan. Pencerahan bukanlah aksi intelektualitas semata. Spekulasi semata tidak akan menolong seseorang untuk mendekati realitas kehidupan dirinya. Buddha memberi penekanan pada pengalaman pribadi. Meditasi merupakan jalan untuk menguji kebenaran yang datang dari pengalaman pribadi. Melalui meditasi penyadaran akan bangkit. Metafisika hanya mengikat kita dalam pikiran dan kata-kata kusut.

Selain dengan cara meditasi, penulis menawarkan cara lain mengingat tidak semua orang tahu melakukan meditasi dengan cara yang benar lagi pula latar belakang warga setia blog yang terhormat sangat majemuk. Cara yang ditawarkan oleh penulis adalah dengan menggunakan kekuatan logika akal sehat kita masing-masing. Gunakan kekuatan logika anda untuk menembus lorong waktu masa lalu anda. Pengalaman pribadi, sampai kemasa kanak-kanak anda. Temukanlah kesalahan anda. Jangan mencari kebenaran anda karena kebenaran itu relatif. Jika anda telah menemukan kesalahan  diri anda maka anda telah mengetahui siapa diri anda. Jika anda telah menemukan kesalahan anda maka “kesadaran” akan bangkit dan pencerahan akan menyingkirkan ketaktahuan anda. Janganlah melalaikan pencapaian diri sendiri, seberapa besarpun pencapaian pihak lain. Setelah sepenuhnya memahami pencapaian diri sendiri, hendaklah ia tekun melakukan kebaikan  (Dhamma pada 166).

Ajaran Buddha menghargai akal budi dan usaha manusia untuk pencapaian tanpa tergantung pada mahluk di alam. Agama sejati berarti keyakinan terhadap kebaikan manusia. Ajaran Buddha bukanlah suatu agama melainkan suatu metode mulia untuk memperoleh kedamaian dan keselamatan abadi melalui cara hidup yang terhormat. Dari awal mula, ajaran Buddha melakukan pendekatan intelektual (logika akal sehat) dan pengembangan bathin. Setiap manusia berbudaya di dunia ini menghormati Buddha sebagai guru akal-budi.

Buddha mengajarkan bahwa apa yang diperlukan manusia untuk kebahagiaannya bukanlah dogma dan teori, tetapi pengetahuan  tentang kekuatan semesta dengan hukum sebab-akibat.

Marilah kita jalani hidup dan kehidupan kita dengan menggunakan metode Jalan Tengah. Jalan Tengah adalah Jalan Lurus (sirathal mustaqim). Jalan Tengah adalah Jalan Salib (delarosa). Jalan Tengah adalah Trisula Wedha (benar, lurus, jujur). Jalan Tengah adalah Jalan Mulia berfaktor delapan. Itulah jalan Buddha. Fahamilah ajaran Buddha.

SIFAT BUDDHA

            Terpahamilah apa yang untuk dipahami;
            Terlatihlah apa yang untuk dilatih;
            Terkikislah apa yang untuk dikikis;
            Karena itu Brahmana, saya adalah Buddha.  

                                                                (Sutta nipata)

AJARAN BUDDHA

Dhamma artinya kebenaran universal. Kebenaran ini ditemukan oleh Buddha Gotama setelah mencapai pencerahan yang sempurna. Begitu banyak kebenaran yang ada di alam semesta ini tetapi apa yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah kebenaran yang lebih bermanfaat bagi semua mahluk. Kebenaran universal adalah kebenaran yang berlaku bagi siapapun dan apapun tanpa tergantung tempat, waktu dan kondisi. Tanpa mengenal batasan usia, status sosial dan latar belakang agama dan budaya seseorang. Dhamma yang dibabarkan Buddha Gotama sangat logis, rasional dan bukan faham relegius. Buddha Gotama tidak membawa sebuah agama. Buddha Gotama hanya mengajarkan Kebenaran Mulia dan membentuk komunitas Bhikku yang disebut Sangha guna meneruskan ajarannya.

Beberapa ratus tahun setelah Buddha Gotama wafat, Sangha berkumpul melakukan pertemuan dan menamakan ajaran Buddha sebagai agama Buddha. Kitab sucinya disebut Tipitaka yang artinya tiga keranjang. Tipitaka terdiri atas tiga bagian yaitu; Disiplin (Vinaya pitaka), Ceramah (Sutta pitaka), dan Doktrin mutlak (Abhidamma pitaka). Penulis berkeyakinan siapapun bisa menjadi seorang Buddha tanpa harus memeluk agama Buddha. Buddha adalah pencapaian kesadaran tertinggi seseorang dan pencerahan sempurna seseorang.

Dalam iman islam dikatakan: “Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya” atau “Kenalilah dirimu sebelum engkau mengenal Tuhanmu”. Ajaran Buddha sangat relevan dan aktual untuk mengenal diri kita sendiri dan untuk kebaikan diri kita sendiri. Tiada yang dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri.

Buddha telah berkata bahwa karena kita tidak memahami Empat Kebenaran Mulia, maka kita terus menerus mengitari siklus kelahiran dan kematian. Empat Kebenaran Mulia adalah:

–        Kebenaran Mulia Tentang Duka
–        Kebenaran Mulia Tentang Sebab Duka
–        Kebenaran Mulia Tentang Ahir Duka
–        Kebenaran Mulia Tentang Jalan Ahir Duka.

DUKA

Dalam bahasa Pali “dhukka”, atau duka yang berarti penderitaan. Pada dasarnya manusia hidup di dunia ini senantiasa mengalami penderitaan. Penderitaan itu disebabkan karena apa yang kita harapkan terkadang berbeda dengan kenyataan yang kita dapatkan. Selain ketidak puasan, masalah lain yang menyebabkan manusia menderita adalah karena adanya ketidak sempurnaan, kesakitan, ketidak abadian, ketidakselarasan, ketidaknyamanan, gangguan, ketidaklengkapan, ketidakcukupan. Penderitaan juga mencakup penderitaan fisik dan mental karena adanya kesakitan, kematian, berkumpul dengan yang tidak menyenangkan. Disaat gembira dan bahagia juga ada dhukka karena kegembiraan dan kebahagiaan tidak permanen. Semuanya selalu berubah. Selama kita hidup kita mengalami kebenaran ini dengan sangat jelas.

SEBAB DUKA

Yang menjadi penyebab duka (penderitaan) adalah karena adanya nafsu (tanha). Nafsu keinginan yang melekat pada diri manusia didasari oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha). Nafsu adalah api yang berkobar dalam diri semua manusia; semua aktivitas didorong oleh nafsu. Merasa diri lebih baik, lebih sempurna, lebih benar, lebih mulia, lebih hebat dari yang lain dan sebagainya adalah bukti keserakahan. Memiliki sifat cemburu, iri hati, dengki dan dendam disebabkan karena kebencian. Tidak mengenal diri sendiri, tidak tahu hidup ini untuk apa dan harus bagaimana disebabkan karena adanya kebodohan batin.

Nafsu memiliki banyak tingkatan dan keragaman, mulai dari yang paling halus sampai yang paling kasar, mulai yang manusiawi sampai di luar perikemanusiaan, mulai dari yang paling sederhana sampai majemuk yang membuat kerumitan hidup. Acapkali nafsu itu sengaja dirangsang oleh manusia beradab demi untuk memenuhi tuntutan nafsu yang tidak pernah akan bisa terpuaskan. Karena kebodohan batinnya manusia mau saja diperdaya oleh nafsu sampai ahirnya manusia melanggar batasan-batasan norma, melintasi batas-batas kepatutan sampai terjebak melakukan pelanggaran hukum-hukum positif dan hukum universal.

Nafsu adalah hasrat mental yang kuat yang ada dalam semua bentuk kehidupan manusia dan merupakan penyakit utama kehidupan. Nafsu inilah yang mengarah pada kelahiran berulang dalam siklus kehidupan. Buddha berkata “Dikarenakan tidak mengetahui, tidak memahami, tidak menembusi musabab yang saling bergantung, orang-orang ini telah jadi terjerat bagaikan benang kusut, terliputi duka, bagai rumput dan ilalang, dan tidak dapat keluar dari kejatuhan, jalan suram, keadaan sengsara, lingkaran kelahiran dan kematian”.

AHIR DUKA

Sadar bahwa nafsu adalah penyebab duka (penderitaan) maka kita harus mengahiri duka. Lenyapkan duka dari akarnya dengan menyingkirkan nafsu dalam batin. Keadaan dimana nafsu telah padam disebut “nibbana”. Kata nibbana tersusun dari “ni” dan “bana” yang berarti “pergi dari atau berahirnya nafsu”. Ini adalah keadaan terbebas dari duka dan siklus kelahiran berulang. Ini adalah keadaan yang tidak terkena hukum: lahir, tua dan mati. Nibbana, tidak terlahir, tidak berasal, tidak tercipta, tidak terbentuk. Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi, suatu keadaan kebahagiaan abadi yang luar biasa. Kebahagiaan Nibbana tidak dapat dialami dengan memanjakan indra, tetapi dengan memadamkannya.

Catatan:  dalam ajaran guru agung Buddha Yaman Al Bughury, kondisi “nibbana” disebut sebagai sebuah kondisi “ tidak ada beban”. Buddha Al Bughury mengajarkan bahwa seluruh nafsu yang ada didalam diri manusia disebabkan karena adanya lekatan berupa empat sifat yang terkondisi yaitu sifat cemburu, iri hati, dengki dan dendam. Keempat sifat tersebut harus dihancurkan selama manusia masih hidup dan menjalani kehidupannya manakala tidak maka nafsu itu akan menjadi penyebab kelahiran berulang. Orang nasrani menamakan nafsu yang terlahir kembali sebagai dosa menurun.

Buddha Gotama mengatakan “Bhikku, sekalipun jika seorang bhikku, memegang ujung jubah saya, dan berjalan dekat dibelakang saya. Langkah demi langkah, tetapi jika ia iri hati, sangat melekat dengan kesenangan indrawi, dengki dalam pikiran, berpikir dan bertujuan tidak jujur, beringatan salah, tidak penuh perhatian dan tidak kontemplatif (kebulatan pikiran, perhatian penuh), berotak kacau, kemampuan indranya tak terkendali, maka ia jauh dari saya dan saya jauh dari dirinya”.

“Bhikku, sekalipun jika bhikku itu berada seratus mil jauhnya, tetapi ia tidak iri hati, tidak melekat pada kesenangan indrawi, tidak dengki dalam pikiran, tidak berpikiran dan bertujuan tidak jujur, kokoh dalam ingatan, penuh perhatian, kontemplatif, pikirannya terpusat, kemampuan indranya terkendali, maka ia dekat dengan saya dan saya dekat dengannya”.

Buddha Yaman Al Bughury mengajarkan bahwa untuk menghancurkan nafsu yang melekat pada diri manusia, atau membelenggu manusia atau menyalib manusia maka manusia harus menjalani hidup ini dengan jalan salib (delarosa). Dalam Injil Matius 10:38 Yesus berkata; “Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku”. Yang dimaksud dengan jalan salib adalah menjaga kesabaran, membina keihlasan dan menumbuhkan kepasrahan. Sabar, ihlas, pasrah adalah kekuatan yang dapat melenyapkan lekatan nafsu. Kita bisa lihat dan saksikan sendiri bagaimana seorang bikkhu berjalan di jalan raya menjalani jalan salib (delarosa) dengan penuh kesabaran keihlasan dan kepasrahan. Kita bisa melihat bagaimana mereka menjalani hidup dan kehidupannya dengan penuh kesabaran, keihlasan dan kepasrahan dan rasa welas asih yang mendalam. Apa yang dipercontohkan atau dipersaksikan oleh para bikkhu adalah contoh jalan menuju kepada kemuliaan. Itulah jalan salib yang sesungguhnya.

Apakah para bikkhu atau siapapun yang telah menjalani hidup dan kehidupannya dengan kesabaran, keihlasan dan kepasrahan dan welas asih sudah dapat dianggap telah mencapai nibbana?. Belum bisa. Buddha Gotama mengatakan “nibbana” adalah sebuah keadaan yang sangat luhur sehingga tidak ada bahasa manusia yang dapat mengekspresikannya. Nibbana Tidak Terlahir, Tidak Berasal, Tidak Tercipta, Tidak Terbentuk.

Buddha Yaman Al Bughury mengatakan “nibbana” adalah saat dimana manusia menantikan TUHAN yang (Tidak Terlahir, Tidak Berasal, Tidak Tercipta, Tidak Terbentuk) Berkehendak. Buddha Yaman memberi contoh ketika Metteyya/Messiah (Yesus Kristus/Isa Almasih) wafat di tiang salib beliau dimasukkan kedalam gua tempat penyimpanan bagi orang yang sudah mati. Ada jedah waktu selama tiga hari menantikan Tuhan  (Tidak Terlahir, Tidak Berasal, Tidak Tercipta, Tidak Terbentuk) untuk Berkehendak. Ketika Tuhan telah Berkehendak, maka Metteyya/Messiah bangkit dari yang mati. Dia hidup kembali lalu mengunjungi murid-muridnya. Itulah Nibbana. Nibbana yang terlahir. Nibbana yang berasal. Nibbana yang tercipta. Nibbana yang terbentuk. Setelah Metteyya/Messiah mempersaksikan dirinya dihadapan murid-muridnya  barulah beliau naik kelangit menuju syurga  yaitu nibbana yang sesungguhnya. Syurga adalah nibbana yang Terlahir. Nibbana yang Berasal. Nibbana yang Tercipta. Nibbana yang Terbentuk dari TUHAN Yang Tidak Terlahir, Tidak Berasal, Tidak Tercipta, Tidak Terbentuk.

Dua ribu lima ratus tahun yang lalu, sejarah telah mencatat pesan terahir Buddha Gotama kepada murid terdekatnya, murid yang selalu menemani kemana saja guru agung Buddha Gotama berjalan. Muridnya itu bernama Ananda. Sambil menahan air mata, Ananda bertanya kepada Buddha. “Siapa yang mengajar kami ketika guru telah tiada?. Buddha menasihatinya untuk menganggap ajarannya sebagai guru. Buddha melanjutkan kembali” saya bukanlah Buddha yang pertama datang di dunia ini juga bukan yang terahir. Pada saatnya, Buddha yang lain yang akan muncul di dunia ini, Yang Suci, Yang Tercerahkan, terberkahi dengan kebijaksanan, mengetahui semesta, pemimpin manusia yang tiada tara, guru para dewa dan manusia. Ia akan mengungkapkan kepada kalian kebenaran abadi yang sama seperti yang saya ajarkan kepada kalian. Ia akan membabarkan kehidupan spritual, sempurna, suci sepenuhnya seperti yang saya babarkan saat ini. “Bagaimana kita bisa mengenalnya?” tanya Ananda. Buddha menjawab, “ia akan dikenal sebagai Metteyya, yang berarti kebajikan atau kasih”.

Lima ratus tahun setelah Buddha Gotama wafat, pesannya kepada Ananda terbukti secara nyata. Metteyya benar-benar terlahir. Dia lahir dikandang domba di dekat pohon kurma. Dia lahir dari rahim perawan suci Maria. Wanita yang tidak pernah disentuh apalagi bersentuhan dengan laki-laki. Dia lahir ditengah-tengah orang Yahudi. Dia dikelilingi oleh manusia-manusia yang penuh dengan lekatan-lekatan nafsu didarah dan dagingnya. Itulah Metteyya. Itulah Messiah. Pemimpin manusia yang tiada tara. Penyelamat manusia yang tiada banding. Guru para dewa dan manusia. Dia dikenal sebagai Yesus Kristus. Dia dikenal sebagai Isa Almasih. Dia dikenal sebagai pembawa Kebajikan. Dikenal sebagi pembawa Kasih.

Penulis adalah seorang Buddha. Seorang Yang Sadar. Seorang Yang Tercerahkan. Seorang Buddha Araha. Seorang yang mencari kebenaran universal dengan caranya sendiri. Dengan kekuatan logika penulis Yang Sadar dan Tercerahkan sebagai bekal, penulis telah berusaha meringsek masuk, menelisik jauh kedalam menembus kristal-kristal putih, nan suci, relik-relik Buddha dan semua Buddha, menyelam jauh kedalam inti dari segala inti ajaran Buddha guna mengambil hikmah, pelajaran suci yang terpendam berupa sebuah mustika bahwasanya adalah benar dan sungguh-sungguh benar “kelahiran berulang” disebabkan karena adanya lekatan nafsu pada diri manusia. Lekatan yang paling halus adalah merasa lebih mulia dan lebih benar dari yang lain. Lekatan yang kasar adalah pemahaman berupa keyakinan diri yang sangat mendalam bahwa agamanya saja, atau agama yang dianutnya saja yang paling benar berdasarkan dalil dan argumentasi masing-masing. Sebagai seorang Buddha Araha, penulis hanya dapat mengatakan secara bijak “memang agama kalian yang paling benar akan tetapi diri kalian sendiri yang paling salah”.

Sangat beralasan, logika dan masuk akal jika Metteyya/Yesus Kristus/Isa Almasih harus terlahir kembali. Kelahiran berulangnya bukan karena masih ada lekatan nafsu di dalam dirinya. Bukan !. Ada dua hal yang menyebabkannya terlahir kembali: pertama; untuk menggenapkan, kedua; untuk mengahiri perselisihan pendapat. Hanya Dia yang dapat menyatukan pendapat karena Dia juga sebagai penyebab terjadinya perbedaan pendapat. Dia adalah SATU didalam  TIGA NAMA. Guru agung Buddha Yaman Al Bughury mengatakan Dia bersembunyi dibalik misteri SATRIO PININGIT. Diyakini bahwa Satrio Piningit yang sejati telah berada ditengah-tengah kita. Disekitar kita. Dia tidak ingin ditahu karena Dia membawa rahasia Yang Tidak Terlahir, Yang Tidak Berasal, Yang Tidak Tercipta, Yang Tidak Terbentuk. Dia tidak ingin dikenal sampai manusia mengetahui hakikat dan makna nibbana. Dia terlahir kembali untuk membebaskan diriNya dari lekatan nafsu yang ada didalam diri manusia. Dia tidak ingin lagi menolong manusia yang menyebabkan diriNya terkotori. Dia ingin membiarkan manusia menolong dirinya sendiri. Dirinya masing-masing. Orang perorang.

Buddha mengajarkan bahwa penaklukan terbesar bukanlah penaklukan orang lain, melainkan penaklukan diri sendiri. Ia mengajar dalam Dhammapada 103; “Barang siapa beribu-ribu kali mengalahkan orang dipertempuran, jika bisa menaklukkan satu saja, dirinya sendiri, ia sesungguhnya memenangkan pertempuran yang utama”.

JALAN AHIR DUKA

Untuk menolong diri sendiri, kita harus menjalani apa yang disebut dengan jalan ahir duka (penderitaan). Buddha Gotama mengajarkan bahwa jalan ahir duka dengan menjalani jalan mulia berfaktor delapan.

Jalan Mulia berfaktor delapan adalah:

  1. Pandangan Benar
  2. Pemikiran Benar
  3. Perkataan Benar
  4. Perbuatan benar
  5. Penghidupan Benar (mata pencaharian)
  6. Pengupayaan Benar
  7. Perhatian Benar
  8. Perenungan Benar

Jika kita menjalani hidup dan kehidupan ini dengan berpedoman pada jalan mulia berfaktor delapan dengan pemahaman yang benar maka sangat dimungkinkan, logis dan masuk akal kita akan selamat, sejahtera dan sentausa selamanya. Jalan mulia berfaktor delapan musti dijalani secara hati-hati, dilatih dan dibiasakan oleh kita semua, oleh diri kita masing-masing. Tiada yang dapat menolong diri kita kecuali diri kita sendiri.

Penulis teringat akan pesan terahir Buddha Cahyo Nayaswara sebelum pamit meninggalkan warga setia blog satriopiningitmuncul.wordpress.com beliau mengatakan “selamat tinggal anak-anakku semua. Selamat menjalani hidup dan kehidupan kalian . Aku dan  Al Bughury menantimu dipenghujung jalan”. Penulis menangkap pesan yang tersirat dari Buddha Nayaswara, bahwa orang tua itu menginginkan kita semua menjalani jalan mulia berfaktor delapan.

Seorang yang bernama Dighajanu pernah mengunjungi Buddha dan bertanya, “Yang Penuh Berkah, kita adalah orang biasa, menjalani hidup berumah tangga dengan istri dan anak. Maukah Yang Penuh Berkah mengajari kita beberapa ajaran yang akan menunjang kebahagiaan kita di dunia ini dan selamanya?”.

Buddha berkata kepadanya bahwa ada empat hal yang mendukung kebahagiaan manusia di dunia ini.

  1. Ia sebaiknya terampil, efisien, bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam profesi apapun yang ia jalani dan ia sebaiknya memahaminya dengan baik (utthana-sampadha).
  2. Ia sebaiknya melindungi penghasilannya yang telah ia dapatkan secara benar dengan keringat dari dahinya (orakka-sampadha).
  3. Ia sebaiknya memiliki teman-teman baik (kalyana-mittata) yang jujur, terpelajar, mulia, bebas dan pandai, yang akan menolongnya sepanjang jalan yang benar dan jauh dari kejahatan.
  4. Ia sebaiknya berbelanja dengan masuk akal, sesuai dengan penghasilannya, tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Buddha  menjelaskan ada empat nilai yang mendasar yang dapat menunjang kebahagiaan perumah tangga untuk selamanya, yaitu:

1.    Saddha.

Ia sebaiknya memiliki keyakinan dan kepercayaan diri dalam nilai-nilai moral, spiritual dan intelektual.

 2.    Sila

Ia sebaiknya tidak merusak dan menganiya kehidupan, mencuri, berperilaku seksual menyimpang, berdusta dan minum yang memabukkan.

 3.    Caga

Ia sebaiknya mempraktekkan kemurahan hati, kedermawanan, tidak melekat dan bernafsu akan kekayaannya.

 4.    Panna

Ia sebaiknya mengembangkan kebijaksanaan yang menuntun pada penghancuran total duka, menuju realisasi nibbana.

Ajaran Buddha untuk kebahagiaan manusia dan untuk kebahagiaan para perumah tangga adalah ajaran mulia yang tetap konsisten pada jalan mulia berfaktor delapan, sebuah ajaran yang tidak bertentangan nilai-nilai moral, dan ajaran semua agama. Ajaran Buddha, sangat rasional, logis dan masuk akal.

Mengingat luasnya ajaran Buddha sebagaimana termaktub dalam kitab Tipitaka, maka penulis hanya mengangkat inti daripada segala inti ajaran beliau. Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berfaktor Delapan adalah khotbah pertama beliau setelah mencapai pencerahan sempurna. Khotbah pertama “Dhamma cakka pavattana Sutta” tersebut beliau sampaikan dihadapan lima orang pertapa di Taman Rusa di Sarnath.

HUKUM KARMA

Dalam Dhammapada 1-2 dijelaskan “Segala yang dialami didahului pikiran, dipelopori pikiran, diciptakan pikiran. Jika orang berbicara atau berbuat dengan pikiran yang buruk, maka penderitaan akan mengikutinya, laksana roda mengikuti jejak. Jika orang berbicara dengan pikiran yang murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, laksana bayang-bayang yang tak terpisahkan”.

Karma adalah aksi. Kecenderungan bawaan ini memaksa setiap mahluk untuk bergerak. Seseorang bergerak secara mental atau fisik. Geraknya merupakan aksi. Pengulangan aksi menjadikannya kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi watak. Dalam ajaran Buddha proses itu disebut karma.

Karma bukanlah suatu wujud, melainkan suatu proses aksi, energi dan daya. Perbuatan kita sendirilah yang bereaksi pada diri kita. Sakit dan kebahagiaan yang dialami manusia merupakan hasil pikiran, perkataan, perbuatan sendiri yang bereaksi pada diri mereka sendiri. Pikiran, perkataan dan perbuatan kita menghasilkan kesuksesan dan kegagalan kita, kebahagiaan dan kesengsaraan kita.

Karma adalah suatu hukum alam impersonal yang bekerja secara ketat sesuai dengan perbuatan kita. Karma adalah hukum tersendiri dan tidak ada pemberi hukum. Karma bekerja dengan sendirinya tanpa campur tangan sosok pengatur eksternal.

Karma tidak memandang seseorang dari latar belakang agama dan keyakinannya. Karma tidak mengenal dialamatkan kemanakah segala puji dan sembah seseorang. Karma tidak peduli doa-doa suci yang disampaikan dimesjid-mesjid, gereja, pure, vihara, pagoda dan dimanapun kita ucapkan. Karma senantiasa menempel secara ketat dan bekerja berdasarkan apa yang diperbuat oleh tubuh kita, apa yang diucapkan oleh mulut kita dan apa yang ada dipikiran kita.

Karma berkaitan dengan perbuatan manusia, tetapi setiap perbuatan yang dilakukan tanpa niat tujuan apapun tidak dapat dijadikan kusala-kamma (perbuatan baik) atau akusala-kamma (perbuatan buruk/jahat). Itulah sebabnya Buddha mengartikan karma sebagai perbuatan dengan kehendak (niat). Energi karma tidak mendua. Energi karma seperti gaya gravitasi yang adil.

Nilai-nilai etika Buddhis pada hakekatnya adalah bagian dari alam dan hukum sebab-akibat moral (karma). Moralitas yang ditemukan dalam semua prinsip itu dapat disimpulkan dalam tiga prinsip sederhana: “Tidak melakukan segala keburukan, memperbanyak kebaikan, memurnikan batin sendiri. Inilah ajaran para Buddha (Dhammapada 183)”.

Dalam ajaran Buddha, perbedaan antara yang baik dan yang buruk sangat sederhana; semua tindakan yang memiliki akar dalam keserakahan (loba), kebencian (dosa) dan khayalan yang timbul dari keakuan (moha) adalah tercela dan buruk. Semua tindakan yang berakar dalam kedermawanan, kewelasan dan kebijaksanaan adalah mulia. Kriteria baik dan buruk berlaku pada aksi pikiran, perkataan dan perbuatan.

Perkataan yang diucapkan oleh mulut berasal dari apa yang terdapt dalam pikiran. Dalam Alkitab Yesus berkata: Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat?. Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkannya di hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum. (Injil Matius 12:34-37). Yang dimaksud perbendaharaan adalah apa yang ada didalam pikiran kita.

Jika perbendaharaan kita jahat maka ucapan kita jahat dan perbuatan kita juga jahat sebaliknya jika perbendaharaan kita baik maka ucapan dan perbuatan kita juga akan baik.

Penyebutan kata “ular beludak” oleh Yesus Kristus dimaksudkan sebagai sebutan terhadap manusia yang dikuasai oleh hawa nafsunya. Tentang makna “ular” sebagaimana yang terdapat dalam uraian Alkitab (Perjanjian Lama:Kitab Kejadian) telah pernah kami uaraikan secara lengkap di kolom komentar.

HUKUM ALAM

Menurut ajaran Buddha, ada lima kaidah atau proses hukum alam (niyama) yang bekerja dalam dunia fisik dan mental.

  1. Hukum musim (utu niyama) yang berkaitan dengan asas anorganik fisik, misalnya fenomena musim dari angin dan hujan dan sebagainya.
  2. Hukum biji (bija niyama) yang berkaitan dengan asas benih dan biji.
  3. Hukum perbuatan (kamma niyama) yang berkaitan dengan kausal moral atau asas sebab akibat.
  4. Hukum batin (citta niyama) yang mengatur proses kesadaran
  5. Hukum fenomena (dhamma niyama) yang berkaitan dengan daya listrik, gerakan gelombang dan sebagainya.

Karma adalah salah satu dari lima hukum alam yang ada di alam semesta ini. Ajaran Buddha adalah cara hidup yang benar untuk kedamaian dan kebahagiaan semua mahluk. Ajaran Buddha merupakan suatu metode untuk lepas dari duka dan menemukan keterbebasan. Ajaran ini bukanlah suatu agama atau iman semata. Ini adalah ajaran untuk segenap semesta. Ini adalah ajaran untuk sepanjang masa. Tujuannya adalah pelayanan yang tidak egois, niat baik, kedamaian, keterbebasan dari duka. Keselamatan dalam ajaran Buddha merupakan persoalan individual. Anda harus menyelamatkan diri anda sendiri.

HUKUM TUHAN

Menurut Buddha mencari sebab pertama dari kehidupan atau apapun adalah hal yang tidak dapat dibayangkan. Karena pada umumnya sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab. Dalam lingkaran sebab akibat, suatu SEBAB PERTAMA tidak dapat ditemukan. Sehubungan dengan asal muasal kehidupan, Buddha mengatakan; “pengembaraan berulang dalam samsara (siklus kelahiran dan kematian) adalah tanpa ahir yang diketahui. Para mahluk terhambat oleh ketaktahuan dan terbelenggu oleh nafsu. Awal pertama dari mahluk-mahluk ini tidaklah diketahui”.

Ajaran Buddha tidak menaruh banyak perhatian pada teori dan kepercayaan tentang asal muasal dunia. Baik dunia itu diciptakan oleh suatu Tuhan ataupun ada dengan sendirinya, tidaklah berbeda banyak. Buddha menyarankan orang untuk memahami fakta bahwa kehidupan saat ini penuh dengan duka (penderitaan) dan sebaiknya orang berjuang keras untuk menemukan keselamatan mereka sendiri.

Apabila ummat islam atau ummat nasrani mengajukan pertanyaan “Bagaimana semua mahluk ada, tanpa suatu sebab pertama” maka jawaban ummat Buddha “tidak ada jawaban” karena pertanyaan yang diajukan oleh penanya adalah produk dari pemahaman penanya yang terbatas. Hukum akan mengejar penanya dengan pertanyaan “bisakah penanya menjelaskannya secara benar dengan sebenar-benarnya?”. Jawaban ummat islam dan nasrani adalah “tidak ada jawaban”!. Dengan tatapan mata yang tajam dan suara agak ditinggikan hukum bertanya lagi kepada penanya “kenapa kalian diam”!. Penanya terkejut dan gugup. Penanya saling melirik diam, saling memandang bisu sebagai suatu isyarat yang mereka sepakati agar bicara jujur, apa adanya didepan hukum. Salah satu diantara penanya dengan suara terbata-bata berkata “sejujurnya kami juga tidak tahu persis. Kami hanya mendengar cerita dari nenek moyang kami dan tetuah-tetuah kami. Bahkan diantara kami berdua ini juga berbeda pendapat, yang mulia”. Mendengar jawaban penanya yang lugu, jujur dan polos maka hukum dengan suara datar kembali mengajukan pertanyaan “siapakah kalian ini’?. Serentak penanya menjawab bersamaan “Kami ini dua bersaudara, yang mulia”. Hukum melanjutkan pertanyaannya “siapakah BAPA kalian”?. Serentak penanya menjawab bersamaan “ABRAHAM (IBRAHIM) yang mulia”. Mendengar jawaban penanya, hukum memperlihatkan senyum dan mengangguk-angguk sebagai pertanda jawaban penanya adalah BENAR. Kemudian hukum melanjutkan: “maka bersatulah kalian ditangan BAPA”. Mendengar arahan hukum, sontak kedua bersaudara itu berdiri; bersalaman, saling berpelukan, menangis  haru beruarai air mata. Lalu penanya duduk kembali dihadapan hukum dan hukum melanjutkan pertanyaannya:”apakah kalian tahu, kalau BAPA masih memiliki anak?”. Kedua bersaudara itu menjawab serentak “Tahu yang mulia”. Hukum bertanya dengan suara keras dan lantang “siapa anak itu?’. Kedua bersaudara itu menjawab dengan suara lepas “Yahudi, yang mulia”. Mendengar jawaban itu, hukum terdiam. Lama terdiam. Wajahnya merah padam. Mulutnya terkatup rapat. Giginya gemericik menahan amarah. Bulu kuduk merinding. Menakutkan!. Kemudian dengan suara datar dan sedikit terpaksa hukum mengatakan : “Benar”, mereka adalah anak BAPA. Mereka adalah anak yang melawan hukum, maka BAPA harus terlahir kembali. Itulah LEKATAN yang harus BAPA selesaikan. BAPA harus mengalami kelahiran berulang karena BAPA harus menurunkan generasi yang taat, tunduk, patuh menurut hukum untuk mengimbangi generasi melawan hukum yang pernah diturunkan oleh BAPA. Lekatan inilah yang menjadi penyebab BAPA harus terlahir kembali sebagai SHIDATTA GOTAMA. Perhatikanlah ummat Buddha. Mereka adalah anak-anak BAPA yang tunduk menurut hukum. Mereka hanya tahu BAPA. Mereka tidak tahu Tuhan. Urusan TUHAN adalah urusan BAPA. Tunduklah kalian kepada hukum Tuhan. Hukum karma, hukum alam dan hukum positif adalah mata rantai yang saling berkaitan dan tidak akan pernah terputus selama hidup dan kehidupan ini masih ada. Jalanilah hidup dan kehidupan ini dengan benar dengan mengikuti jalan mulia berfaktor delapan. Ajaran BUDDHA adalah ajaran BAPA. Ajaran BUDDHA bukan sebuah AGAMA. Ajaran BUDDHA adalah ATURAN DAN JALAN TERANG. Semua yang kalian tunggu pada hakekatnya hanya SATU. YANG SATU itu telah terlahir kembali. Kelahiran berulangnya untuk menyelesaikan lekatan berupa segala yang diperselisihkan manusia tentang dirinya. Hanya Alam yang mengetahui dia dan keberadaan dia. Maka dari itu selamatkanlah dirimu sebelum alam menghukum kamu. Berjalanlah dijalan tengah karena jalan tengah itu adalah jalan yang lurus. Berhati-hatilah karena jalan lurus itu sangat halus bagaikan sehelai rambut dibelah tujuh.

PENUTUP

Andaikan anda mengetahui suatu permasalahan hukum, kemudian aparat penegak hukum memanggil anda untuk menyampaikan keterangan; bagaimanakah sikap anda?. Jika panggilan telah dilakukan tiga kali berturut-turut dan anda belum juga memenuhi panggilan maka aparat penegak hukum memiliki hak untuk menjemput anda dengan cara “memaksa” atas dasar perintah undang-undang (hukum). Kewajiban anda hanya menyampaikan keterangan berdasarkan apa yang anda ketahui. Jika anda tidak menyampaikan keterangan maka anda sudah pasti disalahkan. Jika anda menyampaikan keterangan maka hukum yang memiliki hak untuk menilai keterangan anda. Belum tentu anda salah. Boleh jadi anda benar.

Kami menulis artikel ini karena kami menyadari hukum. Kami mengerti hukum dan kami memahami hukum. Artikel ini sangat fenomenal. Sebagian orang menganggapnya kontraversial. Biarkanlah hukum yang memutuskan. Jika kami berdiam diri dan bermasa bodoh, tentu hukum akan mempersalahkan kami karena hukum mengetahui bahwa kami memiliki pengetahuan yang terpendam. Demi menjaga tuntutan hukum yang dapat saja timbul dikemudian hari atas diri kami dan untuk memenuhi permintaan admin dan keinginan pembaca maka artikel ini kami tulis. Bagi pembaca yang tidak sependapat dengan penulis dipersilahkan mengajukan bantahan lewat tulisan artikel. Penulis tidak memiliki kewajiban menanggapi komentar yang disampaikan lewat komentar pembaca/ komentar balasan. Demikian.

Hari Nyepi, 12-3-13

48 thoughts on ““YANG SADAR” ~ “YANG TERCERAHKAN” ADALAH BUDDHA

  1. Assalamu alaikum wr.wb.
    Salam sejahtera buat kita sekalian

    Warga setia blog SPTM yang kami muliakan

    Jumat Agung adalah hari kesedihan dalam menghayati betapa besar pengorbanan Yesus Kristus untuk sebuah Rencana Besar Tuhan buat ummat manusia. Marilah kita jadikan Jumat Agung ini sebagai hari perenungan kita semua untuk kebangkitan kita kearah yang lebih baik dan lebih terarah didalam menjalani hari hari kita yang akan datang.

    Sebagaimana yang telah kami perjanjikan sebelumnya maka pada hari ini, jumat tanggal 29 maret 2013 artikel “YANG SADAR” – “YANG TERCERAHKAN” ADALAH BUDDHA, yang ditulis oleh Bapa Cakra Ningrat telah terpajang di blog yth ini. Selamat menyimak. Semoga membawa manfaat buat seluruh warga.

    Jika pembaca tidak sependapat dengan artikel tersebut, admin mempersilahkan pembaca membuat artikel bantahan dengan dalil yang kuat. Admin tidak mempersiapkan tempat di kolom komentar ini untuk semua sanggahan/bantahan. Kolom komentar husus diperuntukkan buat warga atau pembaca yang ingin bertanya atau meminta penjelasan kepada Bapa Cakra Ningrat berkaitan dengan artikel yang beliau tulis sepanjang pertanyaan dan atau permintaan itu disampaikan secara santun, bijak, dewasa, etis, intelek, ilmiah dan bertanggungjawab.

    Admin dan seluruh Tim mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Bapa Cakra Ningrat atas segala sumbangsih fikiran dan pandangan-pandangan Bapa yang konstruktif dan terasa sangat besar manfaatnya baik buat Tim Admin secara individu maupun buat warga blog yth ini. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan Rahmat Dan BerkatNya buat Bapa dan keluarga. Amin.

    Wassalam,
    Tim Admin.

  2. Bapak Cakra Ningrat, yang kami muliakan.
    Warga Setia Blog SPTM yang kami hormati.

    Assalamu Alaikum Wr. Wb.
    Salam sejahtera buat kita sekalian

    Alhamdulillah, puji Tuhan, artikel “Yang Sadar”-“Yang Tercerahkan” adalah Buddha, yang Bapa tulis telah kami pajang di blog ini sejak tanggal 29 Maret 2013. Hari ini tepat sudah dua minggu artikel itu kami pajang namun belum ada satupun komentar pembaca yang masuk, itu berarti artikel yang Bapa tulis telah diterima dengan baik oleh seluruh warga setia blog yth ini dan pembaca lainnya sebagai sebuah kebenaran.

    Tanpa bermaksud menyusahkan Bapa apalagi mengganggu aktivitas tugas-tugas keseharian Bapa, dengan segala kerendahan hati Tim Admin mewakili warga setia dan pembaca blog yth ini bermohon kepada Bapa kiranya berkenan melanjutkan penyampaian Legal Opinion di blog yth ini. Kami menyarankan agar Legal Opinion disampaikan dalam bentuk artikel saja Bapa untuk memudahkan kami mempelajarinya. Kami semua akan merasa senang apabila Legal Opinion yang pernah Bapa sampaikan dapat Bapa susun kembali dan edit seperlunya sehingga menjadi sebuah artikel penting untuk dipajang di blog yth ini.

    Demikianlah harapan kami, semoga Bapa berkenan menyampaikan KEBENARAN berdasarkan hukum yang tidak mungkin bisa kami tolak kebenarannya. Kami tidak mengetahui siapa Bapa yang sesungguhnya. Satu-satunya yang kami ketahui bahwa Bapa menyampaikan kebenaran yang tidak mungkin dapat kami tolak kebenarannya. Satu-satunya cara yang kami ketahui untuk menyikapi kebenaran itu adalah dengan membenarkannya. Bapa, sampaikanlah kebenaran itu. Kami semua anak-anakmu sudah lama haus akan kebenaran. Terima kasih Bapa.

    Wassalam,
    Tim Admin

  3. Assalamu Alaikum Wr. Wb.
    Salam sejahtera buat kita semua

    Terima kasih atas apresiasi yang Admin berikan terhadap artikel “YANG SADAR, YANG TERCERAHKAN ADALAH BUDDHA”. Apa yang kami sampaikan dalam artikel tersebut adalah sebuah kebenaran yang tidak mungkin ditolak kebenarannya. Admin sangat berharap agar kami dapat menulis LEGAL OPINION dalam bentuk artikel untuk dipajang permanen di blog yang terhormat ini guna memudahkan warga setia mempelajarinya.

    Legal Opinion adalah pendapat hukum Cakra Ningrat yang disampaikan secara terbuka guna melakukan pembelaan hukum terhadap Tuhan. Pembelaan hukum dianggap perlu mengingat manusia selama ini memiliki kesalahan atau kekeliruan dalam memahami Tuhan. Celakanya, kesalah pahaman ini justru memicu tumbuhnya sikap arogansi, superioritas dan ekslusifitas terhadap agama dan keyakinan mereka masing-masing. Semua agama mengklaim dirinya saja yang benar, jika begitu mana agama yang benar dan mana yang salah?, Tidak ada yang salah semuanya benar, tapi yang benar masih memiliki celah hukum. Tidak ada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

    Melakukan pembelaan hukum terhadap Tuhan, adalah sebuah bentuk upaya hukum yang tidak pernah dilakukan manusia. Dan satu hal yang sangat mustahil Cakra Ningrat mau melakukannya jika hal itu bukan atas kehendak Tuhan. Disampaikan atau tidaknya Legal Opinion ini, bagi Cakra Ningrat sama saja, karena Cakra Ningrat tidak berkepentingan sehingga tidak membawa pengaruh apa-apa bagi diri kami. Yang punya kepentingan terhadap Legal Opinion ini adalah Tuhan. Itulah sebabnya kami tidak ingin tergesa-gesa menjawab permohonan Admin sebab kami tahu bahwa Legal Opinion membawa implikasi dan resiko-resiko hukum bagi pembaca yang ingin mengecilkan arti Legal Opinion atau menganggapnya hal sepele. Alam, dengan seperangkat alat-alat hukumnya akan melakukan pengawalan, pengawasan dan kontrol ketat terhadap Legal Opinion.

    Tuhan berkepentingan terhadap Legal Opinion karena ingin mengingatkan anda semua bahwa anda terikat perjanjian dengan Tuhan. Perjanjian itu disebut dengan PERJANJIAN LAMA yang diakui kebenarannya oleh alqur’an. Karena telah diakui oleh alqur’an maka perjanjian itu dianggap sah menurut hukum. Bila telah diingatkan dan anda mengingkari perjanjian tersebut maka masing-masing pihak akan membebaskan diri dari ikatan perjanjian itu. Jangan anda persalahkan Tuhan jika anda harus merasakan “hari penghakiman” atau “hari pembalasan”.

    Jika anda diingatkan dengan perjanjian lama kemudian anda SADAR dan TERCERAHKAN oleh perjanjian itu dan membenarkannya maka ikatan anda dengan Tuhan akan semakin dieratkan untuk didekatkan kemudian menyatu didalam satu kesatuan dengan-Nya. Legal Opinion terhadap Perjanjian Lama akan kami mulai dengan artikel pertama yang berjudul “PERJANJIAN TUHAN DENGAN ADAM (MANUSIA)”. Artikel kedua berjudul “PERJANJIAN TUHAN DENGAN KAIN (QABIL)” dan seterusnya dan selanjutnya.

    Legal Opinion akan menempatkan anda sebagai hakim yang memutuskan apakah perjanjian itu hanya berlaku dimasa yang lalu atau masih berlaku hingga saat ini dan selamanya?. Selain itu Legal Opinion juga akan menguji apakah benar anda telah menjadi orang yang Sadar dan Tercerahkan?.

    Jika benar anda telah menjadi orang yang Sadar dan Tercerahkan maka dapat dipastikan keputusan ahir LEGAL OPINION adalah DISSENTING OPINION artinya keputusan bulat tanpa ada perbedaan pendapat semua dewan hakim.

    Salam kasih,
    Cakra Ningrat

  4. Assalamu Alaikum,
    Menanggapi permintaan/permohonan Admin kepada Bapa Cakra Ningrat agar melanjutkan penyampaian Legal Opinion yang ditulis dalam bentuk artikel. Ibarat gayung bersambut kata berjawab, Bapa Cakra Ningrat menyambut baik permohonan Admin sebagaimana yang beliau sampaikan pada tanggal 23 April 2013 di kolom komentar. Ada dua hal penting yang menjadi penekanan beliau yaitu:

    1. Dissenting Opionion
    Sejujurnya admin baru mengenal istilah ini. Dissenting Opinion adalah istilah hukum yang artinya keputusan bulat tanpa ada perbedaan pendapat semua dewan hakim. Legal Opinion adalah pendapat hukum yang disampaikan oleh Bapa Cakra Ningrat dalam upaya melakukan pembelaan terhadap Tuhan oleh karena manusia salah dalam memahami pesan-pesan Tuhan sebagaimana firman-firmanNya yang terdapat dalam alqur’an dan alkitab. Bapa Cakra Ningrat menempatkan warga dan pembaca sebagai hakim yang mengambil keputusan. Jika kalian sebagai dewan hakim mengambil keputusan bulat tanpa ada perbedaan pendapat setelah membaca Legal Opinion, maka keputusan itulah yang dimaksud dengan Dissenting Opinion.

    2. Alam, dengan seperangkat alat-alat hukumnya akan melakukan pengawalan, pengawasan dan kontrol ketat terhadap Legal Opinion. Admin menilai kalimat diatas adalah pesan dari Bapa Cakra Ningrat agar kita berhati-hati dan tidak menganggap sepele Legal Opinion sebab alam melakukan kontrol ketat terhadap kita semua.

    Admin melaporkan kepada warga dan pembaca lainnya bahwa: LEGAL OPINION TERHADAP PERJANJIAN LAMA yang berjudul “PERJANJIAN TUHAN DENGAN ADAM (MANUSIA)” telah admin terima pada hari Kamis tanggal 25 April 2013 jam 18.11 sore. Malam harinya, ditengah malam buta, pukul satu lewat menjelang dini hari, rakyat Indonesia dikejutkan dengan berita meninggalnya ustadz Jeffry Al Buchori yang akrab disapa Uje. Almarhum meninggal dunia dan tewas secara mengenaskan akibat kecelakaan tunggal di jalan raya Pondok-Indah Jakarta Selatan. Entah hanya kebetulan atau bukan, entah berkaitan atau tidak dengan point 2 tersebut di atas, admin tidak bisa memastikan. Akan tetapi barangkali menarik untuk kita kaji bersama mengingat motor kawasaki yang digunakan ustadz Jeffry berwarna hijau. Hijau adalah simbol warna alam. Motor itu naik ke pembatas jalan kemudian menabrak pohon lalu terpelanting dan terhempas ke aspal jalan. Pohon adalah simbol alam. Jika analisis admin benar maka dapat disimpulkan bahwa alam sengaja memilih sosok yang diidolakan dan dipuja-puji oleh kebanyakan ummat islam sebagai figur hebat pembawa kebenaran subyektif untuk diahiri kehidupannya. Fenomena ini menarik untuk kita amati bersama.

    Kematian ustadz Jefry Al Buchori membawa duka yang mendalam bagi kebanyakan ummat islam hususnya di Indonesia. Rasa duka ini sama dengan rasa duka yang pernah dirasakan ummat katolik di seluruh dunia, ketika Paus Benediktus XVI mengundurkan diri secara tiba-tiba dan sangat mengejutkan. Sepanjang sejarah belum pernah ada seorang Paus yang mengundurkan diri oleh karena jabatan Paus adalah jabatan seumur hidup. Paus Benediktus XVI mengundurkan diri dengan alasan uzur (umur yang sudah tua) dan alasan kesehatan. Ternyata alam memiliki cara tersendiri untuk menarik perhatian kita semua. Hanya orang yang sadar dan tercerahkan yang memiliki ketertarikan dan berkemampuan dengan penuh kebijakan menerjemahkan tanda-tanda alam.

    Admin bersama Tim, menerima Legal Opinion dengan keputusan bulat tanpa ada seorangpun yang berbeda pendapat (Dissenting Opinion) bahwa Legal Opinion yang disampaikan oleh Bapa Cakra Ningrat adalah sebuah KEBENARAN. Admin bersama Tim juga sependapat bahwa alam dengan seperangkat alat-alat hukumnya benar-benar melakukan pengawalan, pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap Legal Opinion terhitung sejak pertama kali disampaikan tanggal 17 Januari 2013 di kolom komentar, sampai saat ini dan untuk waktu-waktu yang akan datang. Tidak ada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

    Mengingat pentingnya Legal Opinion ini maka Tim akan melakukan perubahan format dan penataan ulang blog ini. Legal Opinion akan ditampilkan pada halaman terdepan. Sehubungan dengan itu Admin memohon kesabaran dan pengertian seluruh warga dan pembaca.
    Terima kasih.

    Wassalam, Admin

    • Dalam tanggapannya, Admin mencermati kematian ustadz Jefri Al Buchori sebagai sebuah kehendak atau ketetapan hukum alam. Yang dijadikan indikator oleh Admin terdapatnya simbol-simbol alam pada kecelakaan tunggal tersebut. Motor kawasaki yang dikendarai almarhum berwarnah hijau kemudian motor itu menabrak pohon palem. Admin mengatakan pohon dan warna hijau adalah simbol alam. Barangkali Admin lupa, saya hanya ingin menambahkan bahwa kecelakaan tunggal tersebut terjadi di jalan Gedung HIJAU. Apakah semua ini sebuah kebetulan?. Terserah warga bagaimana menyimpulkannya!.

      Menarik untuk kita amati dan cermati bersama kasus hukum yang membelit mantan Kabareskrim Irjen Pol (Purn) Susno Duaji. Bagaimana mungkin seorang penyidik tertinggi di republik ini yang biasa menyidik dan memenjarakan orang harus disidik dan dimasukkan ke dalam penjara oleh institusi yang dipimpinnya sendiri?. Majelis hakim ditingkat pertama menyatakan SD bersalah kemudian SD banding. Ditingkat banding, majelis hakim tinggi memperkuat putusan pengadilan negeri akan tetapi kasus yang diadili adalah perkara orang lain, SD lalu kasasi ke Mahkamah Agung dan permohonan kasasi SD ditolak, akan tetapi majelis hakim agung tidak memerintahkan SD harus menjalani hukuman badan (penjara)?. Ketika Kejaksaan Agung akan melakukan eksekusi terhadap dirinya SD meminta perlindungan pada Kepolisian dengan dalih SD adalah warga negara yang memohon perlindungan dan polisi wajib memberi perlindungan kepadanya. Ada apa semua ini?.

      Dalam puisinya Cahyo Nayaswara mengatakan “hukum, hanyalah permainan petak-umpet antara pasal-pasal dan ayat-ayat”. Hukum yang dimaksud oleh Cahyo Nayaswara adalah hukum positif yang berlaku di negara ini yang konon kabarnya hukum adalah panglima. Cakra Ningrat berpendapat; kasus yang membelit SD masuk dalam ranah hukum karma yang dibalut oleh hukum positif. Marilah kita amati bagaimana nanti kesudahannya; seorang Jenderal Polisi yang biasa mengejar-ngejar dan menangkap buronan sekarang menjadi buronan yang dikejar-kejar oleh intelijen Kejaksaan Agung. Apakah SD akan tertangkap?. Inilah permainan petak-umpet yang pernah didendangkan oleh Sinuhun Cahyo Nayaswara.

      Hukum karma adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan hukum alam. Alam menjalankan hukum-hukumnya dengan caranya sendiri. Pertanyaannya adalah “maukah kita belajar menerjemahkan bahasa yang digunakan oleh alam?”. Satu hal yang pasti, tidak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mencegah atau menghalangi alam memperlihatkan kehadirannya. Segala do’a dan harapan yang dipanjatkan menjadi hambar dan sirna karena tertiup angin.

      Marilah kita pererat dan perkuat kesatuan dan persatuan kita. Kebersatuan antara Cakra Ningrat, Tim Admin dan seluruh warga setia blog yang terhormat ini. Biarlah alam bekerja dengan caranya sendiri karena pada ahirnya alam juga yang bertugas memunculkan kebenaran yang sejati. Tiada Kebenaran selain Kebenaran itu sendiri.

      Wassalam,
      Cakra Ningrat

      • Assalamu’alaikum Wr.Wb
        Yth.Bapak Cakra Ningrat
        Salam sejahtera,
        Saya pernah mengalami peristiwa yg tak masuk akal.Suatu ketika di bulan Ramadhan hampir setiap malam saya baca Al Qur’an yg ada tafsirnya,terus saya baca sampai hari yg kesekian dan saya membaca ayat yg kira2 artinya”Bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu dilindungi oleh beribu-ribu malaikat dan hanya orang-orang tertentu yang diridhoi Allah yang dapat menafsirkan makna sesungguhnya dari Al Qur’an”.kira-kira seperti itu terjemahannya yg masih didalam ingatan saya,kemudian saya berhenti Al Qur’an saya tutup ,seperti biasa pita merahnya saya sisipkan dihalaman terakhir yg saya baca.Besok malam harinya saya lanjutkan lg membaca,terjemahan yang kemaren saya baca dan sudah saya tandai pita merah kok nggak ada,saya cari bolak balik tetap juga ga ketemu sampai sekarang padahal saya masih ingat terjemahannya.Sekiranya itu tentang pengalaman saya Bapak,mohon kiranya sudi memberikan pencerahan atas pengalaman saya,terimakasih

        • Kepada Yth. Bpk. Iwan Haris Kurniawan, Admin dan seluruh warga setia blog SPTM.

          Assalamu Alaikum.
          Setelah saya membuka alqurán saya pun tidak menemukan ayat yang terjemahannya “Bahwa sesungguhnya Alqurán itu dilindungi oleh beribu-ribu malaikat dan hanya orang-orang tertentu yang diridhoi Allah yang dapat menafsirkan makna sesungguhnya dari Alqurán .”
          Pertanyaannya; apakah anda berdusta atau mengada-ada dengan maksud-maksud dan tujuan tertentu? Ternyata setelah saya melakukan verifikasi, saya menemukan jawabannya bahwa anda BENAR. Anda tidak berdusta karena anda bukan pendusta. Cakra Ningrat MEMBENARKAN penglihatan (gaib) anda. KEBENARAN penglihatan (gaib) anda didasari oleh firman Allah dalam alqurán S. 13:39
          “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Lohmahfuz).”
          Kembali pada penglihatan (gaib) anda:

          1. “Bahwa sesungguhnya alquran itu dilindungi oleh beribu-ribu malaikat.” Kata “beribu-ribu” secara harfiah berarti ”banyak.” Alquran menggunakan kata “kami” yang bermakna meskipun ”banyak”namun tetap satu di dalam kesatuan-Nya sebagaimana firman Allah di dalam S. 15:9

          “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

          2. “Dan hanya orang-orang tertentu yang diridhai Allah yang dapat menafsirkan makna sesungguhnya dari alquran.” Pada umumnya dan hampir secara keseluruhan umat islam tidak memahami makna alquran yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan karena Allah sendiri yang menghendakinya sebagaimana firman-Nya S 2:106

          “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

          Berdasarkan ayat di atas maka dapat dipastikan bahwa tidak ada yang mengetahui makna alquran yang sesungguhnya. Hal itu sekaligus merupakan fakta bahwa alquran benar-benar memang sangat-sangat terjaga sebagaimana firman-Nya pada ayat S 15:9 tersebut di atas.

          Orang-orang tertentu yang memahami makna alquran sesungguhnya adalah orang yang mendalam ilmunya. Orang itu memahami ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana firman-Nya S. 3:7
          “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

          Orang yang mendalam ilmunya, yang memahami mutasyabihat, yang memahami makna alquran yang sesungguhnya adalah orang yang bersembunyi dan menyembunyikan diri (piningit). Dia bukan ulama, bukian kiyai, bukan pula ustadz-ustadz (guru) yang gemar menonjolkan dirinya. Biarlah waktu yang memunculkan “dia” yang piningit itu. Demikianlah penjelasan saya semoga anda tercerahkan. Dan sebagai penutup saya kutipkan firman Tuhan S. 38:87-88

          “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur’an setelah beberapa waktu lagi .”

          Wassalam
          Cakra Ningrat.

          • Kepada Yang Terhormat Bapak Cakra Ningrat
            Saya tidak menyangka Bapak Cakra Ningrat mempunyai mata batin yang luar biasa.
            Saya ucapkan beribu – ribu terima kasih atas pencerahan yang Bapak Cakra Ningrat berikan. terimakasih,terimakasih,terimakasih
            hormat saya,
            iwan haris kurniawan

  5. Cakra Ningrat, anda memang orang yang luar biasa. Anda bukan hanya Bapa bagi kami tapi juga sekaligus GURU (kalau tidak ingin dikatakan sebagai Maha Guru) kami. Anda betul-betul sangat konsisten dengan HUKUM PENGGENAPAN. Admin mengamati kematian Ustadz Jefri Al Buchori hanya sebatas akibat adanya “hukum alam” saja dan Bapa mendukung hipotesa yang Admin kemukakan akan tetapi secara halus Bapa mengingatkan Admin tentang adanya “hukum karma” dengan mengambil contoh kasus Susno Duaji yang sedang bermain petak-umpet dengan aparat kejaksaan.

    Bapa benar, memang seharusnya hipotesa Admin tidak hanya pada aspek “hukum alam” saja akan tetapi juga harus masuk pada kajian aspek “hukum karma”nya. Admin mendengar wawancara TV One dengan Ustadz Jefri tahun 2009 yang disiarkan ulang Minggu 29-4-2013. Alm. Jefri secara jujur mengakui kehidupan masa lalunya yang hitam kelam sebagai pemabuk, pecandu narkoba dan nakal terhadap perempuan. Perbuatan jahatnya ini tentu saja memusingkan orang tuanya sendiri dan juga memusingkan perempuan-perempuan yang pernah digauli. Dari berita yang Admin dengar dan baca di media sebelum kejadian almarhum menderita demam dan pusing kepala. Kecelakaan tunggal tersebut menyebabkan kepala almarhum hancur. Boleh jadi semua itu adalah balasan atas karma jahat almarhum. Balasan atas karma baiknya dalam menyampaikan da’wah islamiyah sudah almarhum dapatkan lebih dulu dalam bentuk kecukupan materi.

    Dalam artikel “YANG SADAR”, “YANG TERCERAHKAN” ADALAH BUDDHA, Cakra Ningrat mendefenisikan hukum karma sebagai berikut:
    Karma adalah suatu hukum alam impersonal yang bekerja secara ketat sesuai dengan perbuatan kita. Karma adalah hukum tersendiri dan tidak ada pemberi hukum. Karma bekerja dengan sendirinya tanpa campur tangan sosok pengatur eksternal.

    Karma tidak memandang seseorang dari latar belakang agama dan keyakinannya. Karma tidak mengenal dialamatkan kemanakah segala puji dan sembah seseorang. Karma tidak peduli do’a-do’a suci yang disampaikan dimesjid-mesjid, gereja, pure, vihara, pagoda dan dimanapun kita ucapkan. Karma senantiasa menempel secara ketat dan bekerja berdasarkan apa yang diperbuat oleh tubuh kita, apa yang diucapkan oleh mulut kita dan apa yang ada di pikiran kita. (Hal. 20).

    Diriwayatkan: saat-saat terahir ketika nabi Muhammad SAW akan meninggal dunia, dengan berderai air mata beliau mengatakan: ummatku, ummatku, ummatku …..

    Beliau menyebut ummatku sebanyak tiga kali. Tidak ada yang mengetahui apa makna sebenarnya sebutan itu. Menurut Admin mungkin saja beliau menyebut kata “ummatku” sebanyak tiga kali karena beliau sudah mengetahui bahwa kelak ummatnya akan terpecah dalam tujuh puluh tujuh golongan. Perpecahan itu disebabkan karena ummat sangat mudah terpesona dengan hal-hal yang nampak dipermukaannya saja.

    Cakra Ningrat mengajarkan kepada kita untuk tidak percaya kepada kaum Brahmana (ahli agama). Mereka hanya mengajarkan kebenaran yang bersifat subyektif menurut pemahaman subyektifitas mereka. Cakra Ningrat mengajarkan kebenaran universal menyangkut seluruh ummat manusia berdasarkan alkitab dan alqur’an melalui pendekatan hukum yang tidak mungkin bisa terbantahkan.

    Cakra Ningrat menginginkan kita semua lebih mempererat dan memperkuat ikatan kita dengan diri beliau. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan Cakra Ningrat mengeluarkan pernyataan tersebut. Mungkin saja beliau telah memprediksi akan terjadinya kejutan-kejutan “hukum alam dan hukum karma” yang lebih intens dihari-hari mendatang. Ada baiknya jika “ikatan kebersatuan” itu tetap didasari oleh hukum penggenapan yaitu:
    1. Cakra Ningrat adalah BAPA dan GURU
    2. Admin adalah ADMIN dan ANAK BAPA
    3. Warga setia adalah WARGA dan ANAK MURID

    Seorang anak tidak akan mungkin berhianat dan durhaka kepada Bapanya. Seorang murid tidak akan mungkin bisa melawan dan mengalahkan gurunya. Cakra Ningrat, admin dan warga terikat dalam satu ikatan suci yang disebut TRINITAS (Tiga akan tetapi Satu).
    Sebagai penutup, Admin menyampaikan kepada seluruh warga setia blog yang terhormat ini bahwa Kamis tanggal 2 Mei 2013, LEGAL OPINION TERHADAP PERJANJIAN LAMA yang berjudul PERJANJIAN TUHAN DENGAN ADAM (MANUSIA) yang ditulis oleh BAPA dan GURU kita sudah akan dipajang di blog yang terhormat ini. Selamat membaca semoga anda menjadi orang yang Sadar dan Tercerahkan. Amin.

    Wassalam,
    Tim Admin

  6. seorang perempuan pelacur yang malang melintang didunia hitam kepelacuran tiba-tiba hamil tanpa diketahui siapa laki-laki yang menyebabkannya hamil, setelah bayinya lahir apakah bayi itu dapat dikatakan suci mengingat perempuan pelacur itu beragama islam?. Jika agama islam yang dijadikan tolok ukur sebuah kesucian, sungguh betapa mudah dan gampangnya yang dinamakan “suci”. Jika bayi orang yang beragama islam saja yang suci lantas dimanakah rasionalitas Tuhan?.

    Tentu saja bayi itu suci. Yang melacur kan ibunya, bukan bayinya. Bukan kehendak si bayi dia terlahir dari pelacur. Kalau bayi pelacur dianggap tidak suci, lantas dimanakah rasionalitas Tuhan?

    • ane sependapat dengan agan diatas ane
      bayi itu masih polos tidak berdosa >> apakah para pengikut budha menggangap bayi tersebut kotor/berdosa sejak lahir? Kalo bagitu anda juga sebagai pengikut budha adalah anak haram yang kotor karena dilahirkan dari hasil perzinahan ibu dan bapak anda, karena menurut agama kami pernikahan ibu dan bapak anda tidak sah secara hukum.

  7. Islam itu reinkarnasi…dan reinkarnasi itu adalah islam…siapa yg memutuskan siklus reinkarnasi, ia telah berbuat zholim.!

  8. salam
    saya baru menemukan laman ini
    pada hemat saya,penulis adalah beragama buddha dan cuba mengatakan bahawa agama buddha yg terpilih dan terbaik dengan menjadikan al quran sebagai hujah.
    amat malang kerana penulis hanya menggunakan bagian bagian al quraan untuk membenarkan agama buddha.saya sarankan supaya pembaca di ruangan ini membaca al quran keseluruhannya.al quran pula mesti di fahamai bersama hadis rasul Allah muhammad “al mustofa”,kedua dua ini mestilah di fahami lagi asbabul nuzul,dengan ilmu ilmu bahasa arab,ilmu nahu,sorof,ilmu tafsir ,ulumudin,usuludin,mantiq.kerana al quran itu di turunkan di dalam bahsa arab dan lisan(lidah atau bahasa) arab.bukan bahasa jawa bukan bahasa lainnya di dunia.jika manusia islam mengambil jalan mudah tidak mahu belajar maka manusia islam itu sendiri sudah tentu lah ikut apa yang telah di persetujui ulama muktabar yang telah membuat persidangan seperti kata penulis sebagai mana penganut buddha memakai fahaman buddha yang telah di persetujui semasa persidangan oleh sanggha setelah berapa ratus tahun siddharta gautama buddha meninggal dunia.
    sungguh tidak manis menggatakan gutama adalah roh nabi allah ibrahim yang dilahirkan semula.
    sungguh tidak manis menggatakan ibadah haji ummat islam adalah peniruan dari ajaran buddha yang di ajar oleh roh nabi ibrahim yang dilahirkan semula dalam jasad buddha.
    tapi apa yang menariknya,penulis ada menyebut tentang “matereya”.buddha ada menyebut manusia agung ini lebih agung daripadanya,pembawa rahmat seuruh alam.tapi penulis terlupa menulis kata kata dan pesan gautama supaya jika manusia agung ini lahir maka kamu semua ikutilah ajarannya.sungguh tidak manis…
    di dalam alquran menyebut “innaddinainddallahillislam”.sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah islam(dalam tafsir bahasa melayu) kerana ulama muktabar masih boleh menjelaskan tafsir yang lebih baik tentang ayat allah ini dalam bahasa arab.Al quran menyebut tentang nabi dan rasul terdahulu,nabi muhammad juga membenarkan rasul terdahulu tapi tidak membenarkan fahaman buddha.jika fahaman buddha yang benar tentulah nabi muhammad mengajak ummatnnya mengikut dan beramal cara buddha yang lebih beribu tahun lahir sebelum nabi muhammad,nabi muhammad di utuskan allah untuk seluruh ummat manusia.dia lah manusia agung yang di maksudkan oleh oleh gautama tersebut.jadi apa alasannya manusia hari ini menolak dari mengikut agama allah yang telah di sampaikan melalui lisan contoh dan perbuatan nabi muhammad melainkan manusia itu hanya mahu menjadi dirinya sendiri yakni nafsu.di dalam al quran allah memberitahu sikap manusia manusia ingkar yang mengubah isi kitab kitab terdahulu dengan tangan dan fikiran mereka sendiri dengan sebab nafsu kejahatan mereka sendiri.di dalam al quran menceritakan bahawa yang di salib oleh paulus itu bukannya nabi allah isa al masih,tetapi pengikutnya yang berpaling tadah yang telah di serupakan oleh allah mukanya menyerupai isa al masih.nabi isa tidak pernah di salib dan tidak akan pernah di salib.penulis juga membuat hujah dengan hadis hadis palsu yang seperti”kenallah diri mu barulah engkau mengenali tuhan mu” ulama muktabar bersepakat hadis ini lemah dan dhoif dan palsu.”barang siapa yang mengenali dirinya maka akan mengenal tuhannya”.ini sebenarnya bukan hadis bukan kata-kata nabi muhammad,tetapi kata kata yang di ada adakan oleh musuh dalam selimut.ulama muktabar menyepakati.sebagai manusia yang berakal,tentulah dapat membezakan tentang ramalan.apakah ramalan nabi itu boleh di samakan dengan ramalan si tukang sihir,si pendusta dan si hamba dajal?allah juga berfirman jelas di dalam surah al kafirun.yang boleh di fahamai maksud kupasan tafsirnya ialah jika manusia manusia ingkar ini tidak mahu beriman dengan nabi muhammad dan allah maka “lakumdinukumwaliyadin”.kerana “kelak kamu akan di jelaskan satu persatu tentang apa yang kamu perselisihkan”.mengkut tafsiran ulama muktabar,penjelasan itu akan di lkukan oleh allah semasa mengitung amalan manusia tentang benar dan salahnya di hari selepas kiamatnya dunia ini.di masa itu,semasa manusia di bangkitkan untuk menimbang amalan manusia,roh gautama akan di bankitkan dalam jasad siapa?adakah dalam jasad ibrahim atau jasad gautama?roh manusia yang mengalamai kelahiran demi kelahiran akan bangkit dalam jasad siapa?misalnya kakek mu yang meningal dunia maka kamu percaya rohnya lahir dalam jasad gajah,maka di hari selepas kiamat itu siapa yang akan bangkit?kakek mu atau gajah?.dalam al quran menjelaskan.orang orang kafir selepas mati akan meminta kepada allah untuk kembali ke dunia untuk beramal baik tetapi allah tidak membenarkan permintaan mereka.orang islam jelas tidak berpegang pada kelahiran semula kerana nabi muhammad tidak menjelaskan dan tidak mengajarkannya.jadi amat tidak manis penulis mengaitkan fahaman buddha dengan islam.semoga penulis sadar,jika tidak mahu beriman dengana kebenaran islam,ikutlah fahaman mu itu,kelak kamu akan mengetahuinya,mana yang benar mana yang salah.

    • Assalamu alaikum, selamat datang kepada Zarillazamani di blog SPTM ini. Kesalahan dan kekeliruan besar ditujukan kepada diri anda. Anda terlalu skeptis dalam membaca gagasan orang lain yang anda anggap bertentangan dengan faham dan keyakinan anda. Penilaian anda terhadap penulis artikel dengan menyatakan: “pada hemat saya, penulis adalah beragama Buddha dan cuba mengatakan bahawa agama Buddha yang terpilih dan terbaik dengan menjadikan alquran sebagai hujah.”

      Subhanallah…. Sungguh anda sudah memvonis saya dengan fitnah yang sangat keji. Apa yang menjadi dasar pemikiran anda sehingga mengatakan penullis beragama Buddha?! Jika kalimat pembuka saja anda sudah keliru maka seluruh materi komentar anda dipastikan keliru dalam memahami artikel yang saya tulis.

      Cakra Ningrat adalah seorang muslim. Seorang yang solih. Puluhan tahun yang lalu Cakra Ningrat telah menunaikan ibadah haji sebagai implementasi rukun islam yang kelima. Saran saya kepada anda agar dapat meluangkan waktunya membaca seluruh artikel dan komentar saya yang terdapat di blog ini agar anda dapat lebih memahami konstruksi berfikir saya.

      Zarillazamani, apa pun keyakinan anda adalah benar menurut ukuran anda akan tetapi belum tentu benar menurut keyakinan orang lain. Demikian pula sebaliknya. Satu-satunya yang dapat mempersatukan ummat manusia adalah sebuah “kebenaran” menurut akal dan fikiran kita. Tapi hal itu sulit tercapai bila anda belum sadar dan belum tercerahkan. Demikian tanggapan saya untuk sementara! Mudah-mudahan diskusi ini bisa berlanjut dengan catatan anda sudah dapat memahami filosofi berfikir Cakra Ningrat. Ukuran baju atau celana yang anda kenakan belum tentu cocok dan pas buat orang lain. Demikian pula sebaliknya.

      Wassalam

      • Orang yg sdh ‘tersadarkan dan tercerahkan’ pasti akan terlepas dari berbagai sekatan2, terutama sekatan agama….

  9. ya terima kasih pak cakra.tapi sayang tulisan anda bukan mencerminkan anda muslim dengan membiarkan pembaca menghadam tulisan anda dengan fahaman “reinkarnasi ada di sebut dalam al quran”.sepertinya al quran itu membenarkan fahaman yg di anuti agama buddha.jika betul begitu,kenapa tidak terkeluar satu patah perkataan daripada mulut nabi muhammad bahawa reinkarnasi itu betul.amat memalukn bila pak ningrat tidak menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan sebelumnya.filisofi yg bertentangan dengan ajaran islam sudah tentunya tertolak dengan sendiri pak ningrat.sepatutnya muslim berbicara dalam konteks kefahaman islam.bukan mencampur adukkan.adakah pak ningrat lebih tercerah lebih daripada nabi muhammad sendiri?maksudnya adakah nabi muhammad tertinggal satu perkara untuk di ajarkan kepada sekalian umatnya?iaitu memang fahaman reinkarnasi itu betul.sedangkan agama hindu juga mempercayai kelahiran semula untuk melunaskan “sesuatu yang belum beres” pada kehidupan dahulu.jika agama lainnya betul mengapa perlunya nabi muhammad di utuskan oleh allah?begitu juga dengan tulisan sebelum ini mengupas maksud “la ilaha illa llah” kenapa di pusing pusing maksudnya untuk manusia memahami maksud tiada tuhan melainkan allah.hanya allah sahaja tuhan,BENDA lain yang di anggap tuhan oleh manusia yang tidak mahu beriman dan menyembah allah sebenarnya bukan tuhan.selagi tidak beriman kepada allah bermakna manusia itu salah arah dalam mencari tuhan untuk di sembah,mengadu,meminta hajat dan sebagainya.tidak perlu mengukur celana dan baju saya kerana bukan saya yang membawa ajaran islam.tetapi nabi muhammad yang membawa ajaran islam.kenapa pak ningrat tidak ukur baju pak ningrat dengan baju nabi muhammad bila mahu mengatakan “reinkarnasi memang ada di sebut dalam al quran”.kenapa tidak di ceritakan asbabun nuzul ayat yang pak ningrat sebut itu.kenapa tidak di datangkan hujah para ahli tafsir yang muktabar?kenapa memakai fahaman tercerah pak ningrat sendiri?.sebagai muslim,kalau sekiranya tulisan itu di cedok dari tulisan orang lain pun,seharusnya pak ningrat menjelaskan kekeliruan itu bukannya membenarkan.jika nabi muhammad perlu di genapkan bermaksud apa?nabi muhammad perlu di genapkan oleh imam mahdi?bermaksud apa?sungguh perkataan itu perkataan yang menghina nabi muhammad.melalui lidah nabi allah berfirman dalam al quran.”al yaumaakmaltulakum diinnakum wa atmamtu alaikum ni’mati warodhi tu lakumul ISLAMidina”nabi yang rahmah ini semasa hayatnya sentiasa memohon kepada allah supaya menangguhkan azab yang besar besar ke atas umatnya,tidak di balasi terus jika melakukan dosa dan maksiat,minta di tangguhkan hingga hari pembalasan,hanya kerana kasihnya beliau kepada ummatnya.tetapi sayang ada manusia yang tidak terkesan dengan kasih sayang nabi muhammad kekasih allah itu.dengan wewenangnya merendahkan martabatnya secara halus melalui tulisan yang berseni.ah indahnya permainan bahasa…

    • Maaf puan zarrilla, banyak hal yg tdk diketahui manusia dan tak satu manusiapun yg tahu akan Tuhan, tapi yg ” merasa tahu ” Tuhan mungkin 99,9999…%. Bahkan mungkin lebih tahu dibandingkan Tuhan dan bahkan lebih hebat lagi memaksa kehendak agar manusia diakui sebagai Tuhan. Atas perbuatan manusia tersebut Tuhan tdk pernah marah maupun menghukum bahkan membunuh manusia lain juga Dia biarkan…Itulah Tuhan
      Jadi sebagai manusia puan bebas berbuat apa saja, termasuk kata dan perbuatan karena itu urusan manusia bukan Tuhan, jadi yg berhak menghakimi puan adalah manusia sendiri dgn hukum(pembenaran). Jadi semuanya terserah puan, jika ingin tercerahkan maka pelajarilah semua agama yg ada, karena Tuhan menciptakan rasa kasih dgn tdk membeda2kan semua makhluk hidup bukan hanya manusia, nyawa seekor cicak dan nyawa manusia gak ada bedanya didepan Tuhan. Tuhan menciptakan seluruh makhluk hidup dgn tdk membeda2kan maupun menganaktirikan salah satu, jadi didunia ini tdk ada binatang najis binatang haram dllnya. Yang jelas hanya manusia yg membuat perbedaan itu.
      Semuanya hanya ulah manusia….
      Silahkan puan renungkan baik2 sehingga puan bisa ” sadar ” bahwa semua itu hanyalah ” Panggung Sandiwara “.
      Ttd. Joyokencono

    • Terima kasih atas tanggapan dan komentar Saudara Zarillazamani. Cakra Ningrat secara jujur mengakui bahwa memang benar tidak ada satu pun ayat di dalam Alqur’an yang secara jelas dan terang-terangan menyebut adanya reinkarnasi dan tidak ada satu pun hadits nabi Muhammad yang mengatakan adanya kelahiran berulang. Untuk kedua hal yang mendasar tersebut (Alqur’an dan hadits) kita sependapat. Yang membedakan kita adalah; anda berhenti berfikir dan menerima apa adanya, sementara saya berusaha terus untuk mencari tahu.

      Dalam upaya pencarian itu tentu saja saya tidak memakai hadits nabi sebagai sumber referensi apalagi pendapat-pendapat para ulama muktabar. Satu-satunya pegangan saya dan sumber kekuatan berfikir saya adalah Alqur’an. Tanpa Alqur’an tidak mungkin saya mau bersusah payah melakukan kajian-kajian kritis terhadap kebenaran ajaran Yang Mulia Shidarta Gautama. Tanpa Alqur’an saya akan tersesat dan kebingungan sendiri di tengah belantara pencarian saya. Alqur’an diturunkan bukan hanya untuk ummat islam saja, akan tetapi diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia.

      Tuhan berfirman:

      – (Alqur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh ummat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS 3:138)

      – Sesungguhnya Alqur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS 69:48)
      Sebagai orang yang bertakwa, wajiblah bagi saya untuk menjadikan Alqur’an sebagai pelajaran dan bukan hadits nabi apalagi pendapat ulama muktabar. Hadits-hadits nabi dan pendapat-pendapat ulama khusus berlaku untuk kalangan ummat islam saja, akan tetapi Alqur’an cakupannya meliputi seluruh ummat manusia dari berbagai macam agama.

      Tuhan berfirman:
      (Alqur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan agar mereka diberi peringatan dengannya, serta supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS 14:52)

      Sebagai orang yang berakal tentu saja saya harus senantiasa menggunakan akal saya untuk memahami Alqur’an dalam konteks kesemestaan. Ummat islam pada umumnya dan khususnya tentu saja Zarillazamani bersikap ambivalen dalam memahami ajaran mulia guru agung Shidarta Gautama. Kalian menepis kebenaran ajaran guru agung, akan tetapi kalian menerima pesan beliau tentang akan munculnya Buddha Maitreya. Ironisnya lagi, kalian dengan pongah dan tanpa rasa malu menganggap Buddha Maitreya adalah nabi Muhammad SAW. Sungguh sebuah cara berfikir yang ambivalen kalau tidak ingin dikatakan tidak konsisten.

      Nabi Muhammad adalah rasul Allah yang terakhir. Tidak akan ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Ajaran Buddha tidak mengenal adanya nabi dan rasul, dengan demikian nabi Muhammad bukanlah Buddha Maitreya. Sebagai muslim yang bertakwa, seharusnya kita bersikap bijak untuk tidak mencampuradukkan ajaran islam dengan ajaran Buddha dan atau ajaran agama lainnya. Sebagai muslim seharusnya kita kembali kepada Alqur’an dan memandang segala sesuatunya secara berimbang dan obyektif.

      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:
      Kami turunkan kepadamu Kitab (Alqur’an) yang menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (QS. 16:89)

      Kita meyakini Alqur’an berasal dari Tuhan Semesta Alam yang disampaikan oleh nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril Alaihissalam. Dengan keyakinan itu bukan berarti kita harus bersikap sombong dengan mengklaim diri sebagai “yang paling benar.” Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS 3:7).

      Kebanyakan ulama dan ummat islam pada umumnya termasuk Saudara Zarillazamani mengimani ayat-ayat Mukhamat. Ayat Mukhamat adalah ayat yang jelas dan terang benderang sehingga mudah dipahami. Saya juga sangat memahami ayat-ayat tersebut. Ada pun ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang remang-remang, samar-samar dan bermakna ambigu. Sangat banyak ummat islam yang tersesat karena mencari-cari takwil ayat mutasyabihat.

      Salah satu contoh ayat mutasyahbihat adalah:

      “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS 2:28).

      Cakra Ningrat menakwilkan ayat mutasyabihat di atas sebagai pengakuan Allah tentang adanya reinkarnasi. Ayat di atas dimulai dengan kalimat “kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan kembali ditakwilkan sebagai reinkarnasi. Selanjutnya ayat tersebut mengatakan “kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” Kalimat ini ditakwilkan sebagai “Nibbana (Nirwana)” yaitu suatu wilayah yang tak terdefenisikan yakni kembali kepada Allah, Tuhan Semesta Alam. Berbeda halnya kalau ayat itu mengatakan “kamu tadinya hidup lalu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali” maka takwilnya bukan reinkarnasi akan tetapi kehidupan di alam mahsyar (akhirat).

      Takwil ayat di atas murni pemikiran Cakra Ningrat sendiri dan Cakra Ningrat bersiap sedia mempertanggungjawabkan segala resikonya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Oleh karena Alqur’an membenarkan adanya reinkarnasi maka saya melakukan kajian terhadap konsep “ketuhanan” yang diajarkan oleh guru agung Shidarta Gautama. Bagi saya, tentu konsep ini yang paling prinsip untuk menilai kebenaran suatu ajaran.

      Dalam kitab Tipitaka bagian Sutta Pitaka Udana VIII:3 guru agung Shidarta Gautama mengatakan: “Atthi, Bhikkare Ajatang Abhutang akatang Asangkhatang…” yang artinya “O… Bhikku, ADA yang yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak / yang tidak berkondisi…” Dengan adanya yang mutlak / yang tidak berkondisi maka semua yang berkondisi bisa terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan tertinggi dengan cara merealisasi Nibbana. Karena Atthi (ADA) dijelaskan sebagai Asankhata Dhamma maka ADA yang dimaksud bersifat anatta (tanpa aku) yang tidak dapat dipersonifikasikan dan tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun.

      Sang Buddha mengakui dan mengajarkan dengan ajaran agungnya bahwa Tuhan bersifat ADA. Yaitu Dia yang tidak dilahirkan, Dia yang tidak menjelma, Dia yang tidak tercipta, Dia yang bersifat mutlak / Dia yang tidak berkondisi oleh karena Dia ada di mana-mana, di langit dan di bumi. Cakra Ningrat berpandangan konsep “ketuhanan” sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Buddha tidak bertentangan dengan Alqur’an.

      Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS 6:103).

      Kita tidak boleh menuntut ummat Buddha sebagai agama yang salah, musyrik, dan tersesat karena mereka tidak mengenal sebutan Allah. Bagaimana mungkin mereka dapat menyebut kalimat Allah sementara Sang Buddha tidak pernah mengajarkannya? Apakah Sang Buddha akan anda salahkan? Karena beliau tidak mengajarkannya?

      Wahai Zarillazamani, gunakanlah akal fikiran anda! Rentang waktu antara sang Buddha dengan nabi Muhammad kurang lebih 11 abad. Bahasa yang digunakan oleh sang Buddha adalah bahasa Pali di India, sementara bahasa yang digunakan nabi Muhammad adalah bahasa Arab. Janganlah karena kesombongan kita sebagai ummat islam sehingga kita mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Itu berarti sama saja kita telah berbuat melampaui batas dengan cara merampas hak Tuhan sebagai hakim yang akan mengadili secara adil semua perkara yang kita perselisihkan.

      Tuhan mewahyukan kepada nabi Muhammad, dan tentu saja wahyu itu berlaku juga bagi kita semua sebagai ummat islam pengikut Muhammad untuk mengikuti “agama Ibrahim.” Apa agama Ibrahim? Kenapa Tuhan memerintahkan Muhammad untuk mengikuti agama Ibrahim?! Perintah ini tidak main-main bung! Perintah ini diaplikasikan oleh semua ummat islam dengan dasar hukum “wajib” dalam lima kali sehari semalam. Dalam tahiyyatul akhir, pengharapan ummat islam agar Muhammad mengikut pada Ibrahim menyebutkan bacaan:

      Allahumma solli’ ala Muhammad wa’ ala alil Muhammad.
      Kama sollaita’ ala Ibrahim wa’ala alil Ibrahim
      Wabarik’ ala Muhammad wa’ala alil Muhammad
      Kama barakta ‘ala alil Ibrahim wa’ala alil Ibrahim
      Fil alamina innakahamidummajid.

      Artinya: Ya Allah berilah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad seperti apa yang telah Engkau anugerahkan kesejahteraan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad seperti yang Engkau berkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Tinggi.

      Sadarkah kita bahwa setiap hari kita bermohon kepada Allah agar rahmat, kesejahteraan dan keberkatan diberikan kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Allah telah memberi rahmat, kesejahteraan dan keberkatan-Nya kepada Ibrahim?

      Sadarkah kita bahwa nabi Ibrahim bukan beragama islam? Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (QS. 3:67).

      Ibrahim bukan Yahudi, bukan pula nasrani, islam, hindu, dan Buddha. Agama-agama yang dianut manusia hanya jalan untk sampai kepada satu titik perjumpaan atau terminal dimana manusia hanya tunduk kepada Tuhan. Itulah agama Ibrahim. Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS 2:130-131)

      Ummat islam bisa berkelit dengan kelanjutan ayat selanjutnya
      Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. 2:132)

      Cakra Ningrat berpandangan ayat 132 adalah pegangan ummat islam untuk tetap teguh pada aqidah islamiyah selama hayat di kandung badan, janganlah berpindah-pindah agama. Bijaklah memandang agama orang lain di luar islam oleh karena apa pun agama yang dianut oleh manusia, terminal yang kita tuju sesungguhnya hanya satu yaitu Ibrahim.

      Alqur’an memberi petunjuk kepada kita bagaimana kepribadian Ibrahim:

      Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah. (QS. 11:75)

      Sang Buddha Gautama juga adalah seorang yang memiliki sifat yang penuh dengan kesantunan. Beliau juga seorang yang memiliki sifat welas asih (penghiba). Tujuan hidup Sang Buddha adalah bagaiamna bisa mencapai nibbana. Pencapaiaan seseorang pada “nibbana” makna sesungguhnya adalah kembali kepada Allah. Ummat islam sangat sering mengucapkan kalimat istirja’: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya) terutama bila ditimpa musibah.

      Kalimat istirja’ sangat mudah diucapkan, akan tetapi sangat susah difahami maknanya secara hakikiah. Diri kita adalah milik Allah. Apakah setelah kita mati dengan serta merta kita kembali kepada Allah? Belum tentu. Sadarkah kita bahwa diri kita ini penuh dengan dosa (kebencian), lobha (keserakahan) dan moha (kebodohan batin) ?

      Untuk kembali kepada Allah, kita harus bersih dari dosa, lobha dan moha. Kembali kepada Allah dapat berarti sebuah capaian tertinggi, yakni kembali kepada nibbana. Sang Buddha telah mengajarkan “nibbana” adalah satu wilayah yang tak terdefinisikan. Sama dengan Allah, siapa dapat mendefenisikan Allah? Bila ada ummat islam yang pongah mendefenisikan wilayah Allah maka orang itu pendusta. Nibbana adalah sebuah wilayah Allah, sangat dekat, bahkan menyatu dengan Allah dan tetap menjadi rahasia Allah. Itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan nibbana adalah suatu wilayah yang tak terdefenisikan. Singkat, konkrit, dan tegas!

      Shidarta Gautama adalah seorang pangeran yang bergelimang harta dan kemewahan dunia. Tahta beliau tinggalkan setelah melihat, mengamati, dan mencermati empat penampakan agung. Hikmah yang beliau dapatkan adalah pemikiran bahwa semua yang hidup akan mengalami masa tua, akan menderita sakit, dan selanjutnya akan mati. Dari tiga penampakan ini, beliau menyimpulkan pada hakekatnya kehidupan ini adalah “dukkha.” Penampakan keempat adalah melihat seorang pertapa.
      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS 3:185)

      Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. 6:32)

      Ribuan tahun sebelum Alqur’an diturunkan, Tuhan Yang Maha Esa telah memberi inspirasi kepada Sang Buddha bahwa: “tiap-tiap jiwa akan merasakan mati” dan “kehidupan dunia ini tidak lain adalah kesenangan yang memperdayakan.” Ayat inilah yang merupakan dasar pemikiran Sang Buddha untuk memutus mata rantai kelahiran berulang beliau.

      Sebelum menulis artikel “Yang Sadar dan Yang Tercerahkan adalah Buddha,” saya berfikir bahwa tidak akan mungkin dasar pemikiran Sang Buddha dapat relevan dengan ayat Alqur’an di atas bila di kehidupan sebelumnya beliau tidak pernah bersentuhan langsung dengan Allah, Tuhan Semesta Alam yang di belakang hari menurunkan Alqur’an kepada nabi Muhammad. Jika ada, siapa beliau?

      Setelah melakukan kontemplasi yang mendalam, melakukan kajian-kajian intrinsik sembari memohon petunjuk Tuhan akhirnya saya menemukan satu kata yaitu HANIF, yang artinya LURUS, Hanif identik dengan kepribadian nabi Ibrahim menurut Alqur’an.

      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 16:120-123)

      Alqur’an tidak bisa terlepas dari Muhammad oleh karena Alqur’an adalah mu’jizat beliau. Oleh karena itulah Alqur’an mengatakan Muhammad bukan hanya rasul bagi ummat islam, akan tetapi rasul untuk ummat manusia. Tuhan berfirman:

      Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. 4:79)

      Ummat islam keliru jika menuntut ummat beragama lain mengikuti apa pun yang dikatakan oleh nabi Muhammad an sich, tanpa melakukan pemilihan dan mendudukkan semua masalah ke dalam proporsi yang sebenarnya. Sepanjang kaidah-kaidah Alqur’an terpenuhi, entah diucapkan atau tidak maka dapat diartikan sebagai pengakuan manusia atas kerasulan Muhammad.

      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). (QS. 6:8)

      Ummat islam tidak bisa bersikap benci (dosa) kepada ummat yang beragama lain. Kebencian hanya akan menjauhkan kita dari kebenaran. Sang Buddha mengajarkan kepada kita untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Urusan keselamatan adalah urusan pribadi masing-masing. Tuhan berfirman:

      Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116-117)

      Janganlah latah mengikuti pendapat orang lain termasuk ulama, pendeta, pastor, bikkhu, ustadz, dan yang lainnya.

      Sang Buddha bukanlah nabi, bukan pula rasul. Yang nabi dan rasul adalah Ibrahim. Sang Buddha menggenapkan nabi Ibrahim. Mengikut pada ajaran-ajaran murni dan agung Sang Buddha berarti mengikuti pada jalan Ibrahim yaitu jalan yang lurus. Jalan lurus adalah jalan Tuhan.
      Ummat islam cenderung memuja nabi Muhammad secara berlebih-lebihan. Acapkali mereka terjebak pada pengkultusan. Pemujaan dan pengkultusan terhadap Muhammad, tanpa kita sadari kita akan terjebak pada kemusyrikan yaitu menggenapkan Tuhan atau menduakan Tuhan.

      Sang Buddha tidak pernah mengajarkan kepada murid-muridnya tentang Tuhan. Beliau membatasi diri memberi pandangan telalu jauh tentang hakikat Tuhan. Kenapa? Karena pada kehidupan sebelumnya, hakikat Tuhan telah sempurna didapatkan oleh Ibrahim.

      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260).

      Firman di atas telah memantapkan dan meyakinkan hati Ibrahim tentang Tuhan dan segala kekuasaan-Nya. Firman di atas dapat juga dijadikan sebagai dasar hukum yang kuat tentang adanya reinkarnasi. Kehidupan berulang telah dibuktikan oleh Ibrahim dengan 4 ekor burung yang beliau cincang hingga mati, lalu ditempatkan 4 bagian masing-masing di 4 bukit kemudian beliau panggil. Seketika 4 ekor burung yang telah mati dicincang (hancur lebur) datang kembali menghampiri Ibrahim.

      Ummat islam tidak bisa berkelit dengan mengatakan firman di atas menyangkut hari berbangkit. Salah satu Firman Tuhan dalam Alqur’an menyangkut hari berbangkit:

      Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

      Di kehidupan sebelumnya, Ibrahim mencari dan menemukan hakekat Tuhan. Setelah bereinkarnasi dalam wujud Sang Buddha, Ibrahim mengajarkan bagaimana manusia menempuh jalan menuju Tuhan. Pencarian tentang hakikat Tuhan, difirmaknkan dalam Alqur’an sbb:

      Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. 6:76-79).

      Di kehidupan berikutnya ketika beliau terlahir kembali (reikarnasi) dalam wujud Sang Buddha, beliau melakukan pencarian jalan menuju Tuhan untuk diajarkan kepada ummat manusia. Langkah-langkah yang dilakukan Ibrahim dalam mewujudkan kehidupan Shidarta Gautama adalah sbb:

      1. Setelah menyaksikan empat penampakan agung beliau menyadari bahwa pada hakekatnya hidup ini penuh penderitaan (dhukka). Bahwa semua yang hidup akan merasakan tua, sakit, dan mati. Tiap-tiap yang bernyawa pasti merasakan mati

      2. Beliau adalah seoarang pangeran yang gagah. Tahta dan kekuasaan ada dalam genggamannya. Istri yang cantik dan anak yang sedang lucu-lucunya selalu menghiburnya. Harta dan kemewahan istana telah dimilikinya. Baginya semua itu hanya penghalang dirinya untuk mencapai nibbana (syurga). Karena itu beliau meninggalkan segala kesenangan duniawi miliknya.
      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. 6: 32)

      3. Dalam meditasinya, beliau menemukan sebuah jalan dengan apa yang dikatakan sebagai metode jalan tengah. Tidak di kiri, tidak di kanan, serta tidak ada yang berlebih-lebihan. Jalan tengah adalah jalan yang lurus.
      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:

      Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. (QS. 6:126)

      Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. 6:161)

      Jalan tengah atau jalan yang lurus atau agama Ibrahim adalah menyatunya keyakinan dan logika akal sehat. Apabila masih ada celah pertentangan antara keyakinan anda dan akal sehat anda sekalipun itu sangat kecil, maka anda belum berada di jalan yang lurus. Ibrahim tidak pernah mengatakan bahwa dia membawa sebuah agama. Demikian pula pada kelahiran berulangnya, Sang Buddha juga tidak pernah mengatakan bahwa beliau membawa agama Buddha.

      Dalam melakukan kajian-kajian Alqur’an terutama ayat-ayat mutasyabihat, Cakra Ningrat tidak berpatokan atau menjadikan rujukan ashabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat). Apabila Cakra Ningrat menulis kajian-kajian tentang agama islam, tentu yang dijadikan dasar rujukan adalah Alqur’an dan hadits-hadits nabi Muhammad yang sahih dengan tetap mengenyampingkan pendapat-pendapat ulama muktabar.

      Alqur’an hanya memastikan keselamatan dan keberkatan pada Ibrahim dan keluarganya. Yang dimaksudkan keluarga Ibrhim adalah: Ibrahim, kedua putranya yaitu Ismail dan Ishak, kedua istrinya telah digenapkan. Ibrahim pun telah digenapkan oleh sang Buddha, istrinya Yashodara dan putranya Rahula dapat disebut sebagai keluarga Ibrahim.

      Nabi Muhammad bukan Tuhan. Beliau hanyalah seorang hamba dan pesuruh Allah. Nabi dan Rasul Allah. Beliau tidak berhak dipuji dan dikultuskan. Olah karena Muhammad bukan Tuhan, maka kelak menjelang akhir zaman akan muncul seorang sosok yang bergelar Imam Mahdi untuk menggenapkannya. Imam Mahdi-lah yang akan membuktikan secara nyata seluruh kebenaran Alqur’an. Tuhan berfirman dalam Alqur’an:
      Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi. (QS 10:94-95).

      Ayat di atas adalah bukti nyata bahwa nabi Muhammad pernah meragukan kebenaran Alqur’an. Disabdakan karena nabi pernah ragu-ragu terhadap Alqur’an maka kita sebagai ummatnya diwajibkan untuk bershalawat sebagai do’a dan pengharapan kita kepada Tuhan agar nabi Muhammad dapat mencapai “nibbana” bersama Ibrahim dan Sang Buddha.

      Sebagai pengikut Muhammad, marilah kita ucapkan shalawat untuk junjungan kita nabi Muhammad SAW:
      Allohumma Sholli ‘Ala Muhammadin
      Kama Shollaita ‘Ala aali Ibroohima
      Innaka hamidun majid. Allohumma Baarik
      ‘Ala Muhammad kamaa Barakta ‘Ala aali
      Ibrohima innaka Hamidun Majid.

      Artinya:
      Ya Allah wahai Tuhanku muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memuliakan keluarga Ibrahim dan berilah berkat-Mu kepada Muhammad dan keluaganya sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Engkaulah Tuhan Yang Maha Terpuji dan Mulia di seluruh alam.

      Tentang penyaliban nabi Isa (Yesus Kristus) samapai saat ini, terjadi perbedaan pendapat. Alqur’an mengatakan bukan dia yang disalib akan tetapi alkitab dengan tegas dia yang mati disalib. Apakah Alqur’an yang benar dan alkitab yang salah? Ataukah sebaliknya? Untuk menjawab hal ini, nantikan saja artikel Cakra Ningrat yang khusus membahas hal tersebut.

      Demikian penjelasan saya atas komentar Zarillazamani. Semoga membawa manfaat terutama buat seluruh warga setia blog SPTM.

      • Assalamu’alaikum wr.wb
        Perkenankanlah saya mengurai sedikit dari riwayat Agama Tauhid nabi Ibrahim,
        Ketika nabi Daud telah mewariskan kerajaannya kepada nabi Sulaiman, maka kekuasaannya tersebar hampir diseluruh pelosok bumi, segala kekuasaannya ditundukan Alloh untuk nabi Sulaiman, dari seluruh hewan termasuk bangsa Jin, dan Alam, angin pun ditundukannya sebagai media untuk bepergian keseluruh pelosok negri.

        Peradaban nabi Sulaiman meninggalkan kuil dan bangunan besar yang dibangun oleh bangsa Jin, Sisa bangunan itu tersebar didaratan Asia, seperti di India, Nusantata, Muangthai, Filiphina dan lain-lain.
        Maka tak heran bila nabi Sulaiman mempunyai Istri banyak dari negri yang telah ditaklukannya, sampai wafatnya beliau yang masih dalam keadaan duduk, artinya kekuasaannya masih berjalan dan akhirnya diketahui dari rayap yang memakan tongkatnya.

        Kerajaan2 yang tersebar dipelosok negri diteruskan oleh keturunan-keturunannya, sampai masa dimana hanya para pembesar kerajaanlah yg hanya bisa makmur dan rakyatnya tetap sengsara, disebutlah peradaban umat Hindu, dan sang Budha menyelamatkan kaumnya yang prihatin.
        Disimpulkan sementara kenapa Hindu-Budha India dan Nusantara ada peradaban yang sama dan sedikit perbedaan dari misal MahaBrata dan BrataYuda, itulah kisah ajaran yang dituangkan dalam masanya,

        Ada pertanyaan kenapa candi Budha Borobudur isi reliefnya Isi dari kisah Nabi Sulaiman? Kejanggalannya adalah peneliti sejarah menyatakan itu peradaban abad ke 7, bisa di cek lagi penelitian paruh waktu untuk membuka sejarah. Dan kenapa bangsa Asing ingin memiliki Nusantara yang kaya ini.

        Ini sangat penting mengenai bangaimana sesungguhnya riwayat kerajaan-kerajaan Nusantara ini berdiri dimasa lalu, Peradaban Selanjutnya masa kenabian nabi Isa, bisa dikatakan tidak menjangkau Nusantara ini, adapun yang membawa Ajarannya ketika jaman Portugis menjajah dan kedatangan Belanda.

        Dan sekitar abad 13 pula corak kerajaan-kerajaan Nusantara ini sebagian besar menjadi Kerajaan Islam. Maka tak heran bila perpaduan kebudayaan dan agama masih bercampur sampai saat ini.

        Belok sedikit pada Uga Wangsit Siliwangi, jika dilihat dari penghayatan Agama Tauhid Ibrahim, Kepergian sang Raja Keselatan adalah ke jalur perlayaran Untuk Melakukan Ibadah Haji, Naskah lebih panjang tidak saya urai disini. Itulah perpisahan dengan para pengikutnya yang setia, Kepergiannya bulat untuk sampai wafat di tanah suci, Isi pesan Wangsit itu sendiri bisa disimpulkan, bahwa penulisan berdasar keadaan rakyat dan kerajaan saat itu, dan ditulis berdasar petunjuk sang Illahi, karena Prabu Siliwangi tekun SembahYang, dan bisa melihat keadaan keturunannya dimasa depan atas petunjuk Illahi.

        Mengenai kalimat SANG RATU ADIL, tak lain adalah ALLOH SWT, yaitu Raja DIHARI AKHIR, RAJA MANUSIA, RAJA SELURUH ALAM, itulah masa depan peradaban Manusia dan Mahluk lainya. Dimana peradaban berakhir (Kiamat) dan dibangkitkan kembali untuk kehidupan yang kekal.

        Wangsit itu bukan sekedar ramalan, Keturunan-keturanannyalah yang sama akan didatangi malaikat untuk diberi petunjuk, yaitu keturunan yang selalu menghamparkan Alas untuk SembahYang. Itulah Final dari apa yang diharapkan adanya SANG RATU ADIL.

        Sebelum saya menuliskan Komentar ini, Petunjuk yang didapat tidak berubah, adapun yang mendorong saya untuk menyampaikan ini adalah ketika saya berdo’a untuk minta petunjuk kesekian kalinya” adakah sosok manusia yang akan meminpin negri ini sampai kesejahteraan dan keadilan berlangsung”, didapatkan dari Al-Qur’an, yaitu ayat yang menyatakan Alloh tidak bisa menyegerakan atau menangguhkan kejadian hari Akhir ini.

        Alloh akan melihat apa yang telah kita usahakan, apakah pertobatan dan segala amal kebajikan kita diterima, Di sisa waktu ini marilah kita berserah diri kepada SANG PENCIPTA dan Tetap Hidup Menjalankan Agama Tauhid sebagai MUSLIM. Dan kita benar-benar tidak ada yang diberitahu kapan terjadinya kiamat itu, bila melihat petunjuk dan tanda-tandanya, bisa dibayangkan 7 gunung di Jawa ini meletus berhamburan secara bersamaan, bukankah itu kejadian Luar biasa pada alam ini?
        SEKIAN DAN TERIMAKASIH
        WASSALAMU’ALAIKUM WR WB.

  10. Maaf pak cakra, budha dan hindu juga termasuk katagori agama, karena agama pengertiannya adalah ” tidak kacau “. Jadi agar segala sesuatu tdk kacau, maka dibuatlah peraturan, semua peraturan intinya adalah yg boleh dilakukan dan tdk boleh dilakukan.
    Terima kasih.

  11. ya pak ningrat,sama saja apa pun alasan yang pak ningrat beri untuk menegakkan pendirian fahaman reinkarnasi itu.sebagai umat islam yg mengakui soleh dan telah pergi haji.dalam keterangan balas ini juga masih tetap mempertahankan buddha sebagai manusia agung tapi tidak menjawab,adakah buddha ini lebih agung dari rasulullah saw?menggunakan alquran dengan kefahaman buddha,amat tidak manis pak ningrat.sebab itu saya sarankan pembaca membaca alquran dengan ilmu ilmu bahasa arab,memahami alquran dengan asbabu nuzul,memahami quran dengan nahu dan soraf,memahami quran,dengan lisan arab.kerana itulah alquran di turunkan dalam bahasa arab,sebagai rahmat lilalamin.tidak dalam bahasa jawa,pahlawi,atau bahasa ibrani.begitu juga berani mengatakan ibrahim itu bukan islam,sedangkan jelas alquran menyebut “hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin.pak ningrat juga bangga menyebut tahap-tahap nafsu dalam ajaran buddha dan kerakusan jiwa manusia dan nafsu halobanya.pertanyaaan saya,tidakah nabi muhammmad itu mengajar ummatnya menahan dan mendidik nafsu?begitu juga jika pak ningrat anggap buddha itu reinkarnsai nabi ibrahim,maka kenapakah nabi ibrahim menyembelih bintang korban.yang menjadi ikutan orang islam yakni menyembelih bintang korban,dan nabi muhammad telah menunjukkan cara cara menyembelih binatang korban.kerana nabi isa dan buddha tidak pernah berperang maka mereka lebih agung daripada nabi muhammad?bermaksud adakah nabi muhammad berperang dahulu kerana ikut nafsunya?kamu pak ningrat tidak pernah menjawab persoalan saya.cuma membela buddha dengan dalil al quran memakai kefahaman mu sendiri.sebagai orang islam mengikut pengakuan mu,bagaimanakah itikad syahadah mu.jika kamu berani beritahu kami sekalian pembaca di sini bagaimana lafaz dan itiqad dua kalimah syahadah mu?ataukah kamu ini sama kefahamannya dengan syiah yang menolak para khulafa arrashyidin dengan memahami dan beritiqad bahawa malaikit jibril telah menyembunyikan wahyu yg sepatut di sampaikan kepada nabi muhammmad?jika begitu itiqad mu pak ningrat,maka tidak ada sudahnya.jadi cukuplah dengan jawapan allah kepada kaum yg kafir”lakumdinukum waliyadin”.orang yg mencela nabi bukan hanya di zaman kini,sejak dulu lagi nabi muhammad di keji dan di cela.saya bukan orang besar,hanya insan kerdil persis seekor burung yang membawa air di dalam paruhnya untuk memadamkan api yang membakar ibrahim.ketika ditanya sekalian makhluk yang mampu nampak,jawapan burung itu adalah senang,inilah usaha aku jika di tanya allah nanti.begitu juga saya tidak lah hebat perbicaraan pak ningrat,tapi inilah usaha kecil saya menegur pak ningrat yang mencampur adukkan kefahaman buddha dan islam.pertanyaan saya,apakah pak ningrat tahu asbabul nuzulnya ayat al quran yang bermaksud”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” itu.
    juga pertanyaan saya,mengapa nabi muhammad tidak membenarkan hal reinkarnasi ini?mengapa?adakah dia terlupa,adakah jibril terlupa?sifat nabi muhammad yang wajib di imani setiap muslim,siddik amanah tabligh fatonah.cuba kamu jelaskan kepada saya dan sekalian pembacanya,mengapakah tidak nabi menyampaikan kepada ummatnya?.semoga kamu tahu ya pak ningrat,setelah kelahiran nabi muhammad semua agama lain dan kitab lain terbatal secara otomatisnya dan allah mengkendaki umat manusia mengikut nabi muhammad.jika di dalam kata kristian,boleh saya simpulkan islam ini adalah last testament dari allah.jika akidah kamu rusak pak ningrat,biarlah ianya rusak bersama kamu,tapi menjadi salah besar bila kamu cuba merusakkan akidah ummat islam dengan cara pemikiran kamu.dalam hadisnya rasulullah beritahu,beberapa nabi yang masuk surga secara sendiri sendiri,atau ada nabi yg hanya masuk surga dan di ikuti di belakangnya hanya satu dua pengikut.kemudian terlihatlah gerombolan manusia yang ramai,maka nabi bertanya inikah ummat ku?maka di jawab bukan! itu kaum musa.maka di tunjukkan ke satu ufuk penuh dengan gerombolan manusia yang ramai hingga menenggelamkan kaum musa.maka di katakan “itulah ummatmu yang akan masuk syurga mengikutimu.di antara mereka ada 70 ribu masuk syurga tanpa hisab.maka jika kamu pak ningrat,mahu ikut nabi nuhammad secara separuh separuh dan menolak nabi muhammad separuh separuh maka kamu tidak lain hanyalah mendustakan rasulullah.jika ummat buddha mahu menyebut perkataan allah,maka melalui kamulah pak ningrat kerana sebagai muslim yang soleh maka ada tanggungjawab kamu menyampaikan kalimah allah kepada penganut buddha,bukannya mempergunakan alquran menyokong buddha,dan akhirnya kamu yang terpana beritiqad ada reinkarnasi dalam islam.sayangnya kamu tidak menjawab soalan soalan saya secara terus tapi masih bermain dengan pusing pusing bahasa mengelak mendedahkan siapa diri kamu yang sebenarnya.di akhir zaman ini,inilah permainannya.merosakkan islam dari dalam.buat pak joyo kencono,maaf saya masih tidak jelas pak joyo berdiskusi dari sudut kefahaman apa ya…

    • Ya Pak Zarillazamani; Alqur’an diturunkan dalam bahasa Arab oleh karena Nabi Muhammad sehari-harinya menggunakan bahasa Arab. Anda salah jika mengatakan saya tidak tahu membaca Alqur’an dengan ilmu bahasa Arab. Mulut anda seperti anak kecil yang berteriak-teriak karena digigit semut merah. Kamu sombong dan angkuh jika mengatakan komentar-komentar kamu adalah usaha kecil kamu untuk menegur saya sebagai bentuk pertanggungjawaban kamu jika ditanya nanti oleh Allah. Sungguh lancang mulut kamu! Emangnya kamu siapa?! Di hadapan Allah semua manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Kita tidak butuh ulama dan siapa pun untuk membela diri kita.

      Anda bersikap skeptis terhadap Shidarta Gautama, bukan hanya ajaran-ajarannya, tapi juga terhadap pribadi beliau. Saya tidak pernah membanding-bandingkan Sang Buddha dengan Nabi Muhammad, juga tidak pernah membanding-bandingkan Nabi Muhammad dengan Nabi Isa. Apa ada yang salah jika saya menyatakan Sang Buddha sebagai GURU AGUNG? Yah memang, beliau adalah seorang guru agung yang mengajarkan dharma. Beliau bukan nabiullah, bukan pula rasulullah. Keagungan beliau karena telah mengajarkan ajaran-ajaran mulia tentang kebenaran universal sejak 2.500 tahun yang lalu dan tetap berlaku hingga sekarang ini.

      Memang Nabi Muhammad tidak pernah mengatakan adanya reinkarnasi, tapi bukan berarti reinkarnasi itu tidak ada. Andaikan saja Nabi Muhammad mengatakan secara terang-terangan tentang adanya reinkarnasi, maka kacaulah agama yang beliau bawa (Islam). Kenapa? Karena banyak ummat islam akan bersimpati terhadap agama Buddha, sebab Nabi Muhammad pernah membenarkannya.

      Cakra Ningrat adalah muslim pertama yang berpendapat bahwa Alqur’an membenarkan adanya reinkarnasi, meskipun pengakuan itu disampaikan dengan ayat-ayat yang tersirat. Seharusnya kamu Zarillazamani mengejar saya dengan mempertanyakan “apakah Alqur’an mengakui hukum karma?” Andaikan kamu tanya, tentu saya akan menjawab pertanyaan itu dengan membuktikan ayat-ayatnya. Karena kamu tidak menanyakannya maka saya menilai kamu bukan orang yang kritis dan rasional.

      Cakra Ningrat adalah muslim pertama yang berani mengatakan bahwa Shidarta Gautama adalah reinkarnasi Nabi Ibrahim. Ayat-ayatnya jelas dan sudah saya kemukakan pada komentar saya yang lalu. Lucunya kamu tanya lagi soal “ritual Nabi Ibrahim menyembelih kurban.” Apa yang kamu katakan semakin membuktikan bahwa kamu tidak memahami substansi permasalahan.

      Jawaban saya ini adalah jawaban terakhir buat kamu Zarillazamani. Kepada Admin saya mohon agar tidak lagi menampilkan komentar orang-orang yang tidak dikaruniai kesadaran dan ketercerahan akal fikirannya. Meskipun begitu saya mengapresiasi kehadiran kamu di blog ini. Perlu Zarillazamani ketahui bahwa di blog SPTM ada yang disebut dengan “warga setia.” Jumlah mereka cukup banyak dan berasal dari berbagai latar belakang agama. Mereka aktif menyimak setiap perkembangan yang ada di blog ini. Meskipun kami tidak pernah ketemu, tidak pernah kontak person, tidak pernah berkirim E-mail, tapi kami merasa ada ikatan persahabatan yang mendalam di antara kami yang dirajut oleh Kasih Tuhan.

      Zarillazamani yang baik, saya bukan da’i, bukan ustadz, dan bukan ulama. Tugas saya bukan untuk berdakwah dan menjalankan syiar islam, saya seorang intelektual muslim yang berprofesi sebagai lawyer (pembela). Saya sudah terbiasa mengatakan “yang benar itu benar meskipun terasa pahit bagi yang mendengarnya.” Sebagai ahli hukum, saya adalah penemu teori GOD COMPILATION of LAWS. Hukum Tuhan dikompilasi ke Hukum Alam dan Hukum Alam dikompilasi ke Hukum Manusia. Manusia bisa saja mempermainkan hukum (termasuk hukum Tuhan) akan tetapi Hukum Alam akan mengontrol mereka, bahkan menjatuhkan hukuman atas mereka.

      LARANGAN MENYEBUT ALLAH

      Otoritas islam di Malaysia menyita ratusan Alkitab menyusul keputusan Mahkamah Tinggi melarang non muslim menggunakan kata Allah. Injil yang disita berjumlah 321 Alkitab yang diimpor dari Indonesia. Selain kata Allah, ummat non muslim juga dilarang menggunakan kata “nabi” dan “injil.” Penggerebekan ini terjadi pada tanggal 2 Januari 2014 di Gereja Katolik negara bagian Selangor. Gereja tersebut kebanyakan dikunjungi oleh penduduk Sabah dan Serawak.

      Cakra Ningrat berpendapat; Ummat islam tidak bisa melarang ummat Kristen menggunakan kata “Allah.” Bahwa persepsi Allah dalam Kristen berbeda dengan Allah menurut islam adalah sesuatu yang bersifat dogmatik dan aqidah yang tidak bisa dijadikan dasar hukum untuk melakukan keputusan hukum yang diikuti dengan penindakan hukum. Terjadinya perbedaan agama yang dianut oleh manusia bukan atas keinginan manusia, akan tetapi perbedaan itu terjadi oleh karena Allah yang menghendaki. Karena itu, ummat islam tidak memiliki hak untuk melarang ummat Kristen menggunakan kata Allah. Pelarangan tersebut bisa juga diartikan sebagai pelanggaran hukum Tuhan secara nyata.

      Oleh karena ummat islam dan Pemerintah Malaysia telah melakukan pelanggaran terhadap hukum Tuhan maka “Alam” akan memberi “penindakan hukum” terhadap Pemerintah Malaysia. Penindakan hukum yang dimaksud adalah “Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 secara misterius.” Pesawat itu berangkat dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur pada tanggal 8 Maret 2014 menuju ibu kota Beijing-Tiongkok, mengangkut 227 penumpang dari 15 negara dan 12 awak kabin.

      Pertanyaan saya kepada Zarillazamani; apakah anda pernah mendengar ada satu statement yang mengatakan hilangnya MH370 tanggal 3 Maret 2014 berkaitan langsung dengan peristiwa penyitaan Alkitab tanggal 2 Januari 2014 oleh otoritas islam Malaysia atas perintah Pemerintah Malaysia???

      Cakra Ningrat adalah orang pertama yang membuat statement bahwa hilangnya MH370 secara misterius hanya akibat hukum, yang menjadi “sebab” adalah “penyitaan alkitab dan pelarangan penyebutan Allah” oleh ummat Kristen di Malaysia. Pemerintah Malaysia dan ummat islam Malaysia secara prinsip telah melanggar hukum Tuhan, maka “Alam” melakukan penindakan hukum atas pelanggaran hukum tersebut. Begitulah cara Tuhan menegur ummat manusia, akan tetapi manusia tidak mengetahuinya kecuali orang yang diberi ilmu dari pada-Nya, pengetahuan dan mau menggunakan akal fikirannya.

      Fakta bahwa hilangnya MH370 adalah hukuman Tuhan; silahkan Zarillazamani pelajari sendiri. Ketika sains dan teknologi sudah tidak bisa menjawab suatu permasalahan yang misterius maka di situlah tersimpan pesan Tuhan untuk kita semua. Sekian dan terima kasih.

  12. Bagaimana Zarilla Zamani mahu menjawab jika sudah di kenakan sekatan ke atas aksesnya?Jika di sini benar dan telus,Biarkanlah Zarilla Zamani menyampaikan.apakah Pak Cakra Ningrat takut kan sesuatu?sebagai muslim ,Jawapan terbaru pak ningrat sudah ada unsur unsur menolak Nabi Muhammad secara halus dan berseni seperti yang di tegur saudara Zarilla Zamani.

    • Abe, Cakra Ningrat tidak tahu menahu dan tidak ada urusan dengan sekatan akses. Admin memiliki otoritas penuh untuk menerima atau menolak segala bentuk-bentuk komentar dari pembaca. Silahkan tanyakan sendiri pada Admin. Cakra Ningrat sama sekali tidak memiliki rasa takut pada Godzilla apalagi kepada orang yang bernama Zarilla Zamani. Dari dua kali zarilla Zamani berkomentar, saya juga sudah bisa mengukur kemampuannya.

      Abe,… anda keliru jika mengatakan “sebagai muslim, jawaban terbaru Pak Ningrat sudah ada unsur-unsur menolak nabi Muhammad secara halus dan berseni.” Penilaian Abe sangat subyektif dan melampaui batas. Sebagai muslim tentu saja saya tidak mungkin menolak nabi Muhammad, baik secara halus dan berseni, maupun secara terang-terangan, akan tetapi secara tegas saya menolak penilaian Abe terhadap diri saya. Abe harus berhati-hati dalam berkata-kata oleh karena di hari kemudian semua yang Abe katakan atau perbuat selama hidup di dunia ini akan Abe pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Hari kemudian biasa juga disebut sebagai Hari Akhir (Yaumil Akhir) atau Hari Pembalasan. Ummat nasrani menyebutnya sebagai Hari Penghakiman.

  13. Assalamualaikum…
    Salam kenal untuk bapak Cakra Ningrat
    Dari ; Nurul fajri jum’ati agustini
    29 agustus 1969 (081273399229)
    Terimakasih…
    Wassalam…

  14. Assalamu’alaikum, Sampurasun, ohm shakti shakti shakti ohm, Tabe,..

    Yang saya hormati pak Cankra Nikrat, dalam komentar Bapak diatas mengatakan “Terjadinya perbedaan agama yang dianut oleh manusia bukan atas keinginan manusia, akan tetapi perbedaan itu terjadi oleh karena Allah yang menghendaki.”

    Apakah maksudnya agar manusia berfikir ? Apakah itu salah satu bentuk seleksi Tuhan terhadap manusia ? Atau adakah hal-hal lain yg belum kami ketahui karena keterbatasan kami ? Karena dari apa yg saya pahami, agama itu adalah buatan manusia dan atas keinginan manusia. Seperti halnya organisasi, partai, komunitas, dsb…

    Saya, pemuda yg awam dan jengah dengan pertikaian antar agama ini memohon pencerahan lebih lanjut dari kutipan Bapak diatas _/\_

    Oh iya, bersama ini pula izinkan saya ikut menjadi warga SPTM dan mengikuti mengikuti pembelajaran di sini 🙂

    • BENAR, Allah yang menghendaki manusia tersekat-sekat dalam perbedaan agama, sebagaimana firman-Nya dalam alquran:

      Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. 2:213)

      Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS. 10:19)

      Dua ayat di atas yang mendasari pernyataan saya bahwa perbedaan-perbedaan agama di antara kita disebabkan karena Allah menghendaki perbedaan itu. Oleh karena itu jangan sekali-kali kita mengklaim bahwa agama kitalah yang paling benar dan agama orang lain salah.

      Kita sebagai manusia seharusnya “berfikir” dan memikirkan “kenapa perbedaan agama dikehendaki Tuhan. Bukankah dengan adanya perbedaan itu yang menyebabkan manusia memiliki dengki satu sama lain bahkan acapkali kedengkian di antara mereka berakhir dengan permusuhan yang saling membunuh.”

      Tujuan Tuhan membeda-bedakan kita dalam beragama agar terjadi perselisihan di antara kita. Dari perselisihan itu akan nampak siapa yang disesatkan dan siapa yang diberi petunjuk. Dalam alquran Tuhan berfirman:

      Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 16-93).

      Kita sebagai manusia seharusnya “berfikir” dan memikirkan “apa tujuan Tuhan sehingga membagi manusia dalam dua kelompok yaitu yang disesatkan dan diberi petunjuk.

      Tujuan Tuhan membagi manusia dalam dua kelompok adalah untuk memisahkan antara orang jahat dan orang baik. Orang jahat akan disesatkan jalannya oleh Tuhan dan orang baik akan diberi petunjuk oleh Tuhan agar menemukan jalan yang benar.

      Kita sebagai manusia seharusnya “berfikir” dan memikirkan “apa tujuan Tuhan memberi petunjuk kepada orang baik agar orang baik itu menemukan jalan yang benar.” Dalam alquran Tuhan berfirman:

      Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang lalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. (QS. 42-8).

      Berdasarkan ayat (42-8) tersebut di atas dapatlah diketahui kenapa kita harus berbeda-beda agama. Tujuannya adalah agar Allah memasukkan orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya.

      Allah menginspirasi manusia dan mengajarkan kepada manusia tentang aturan-aturan moral dan tata cara peribadatan sebuah agama. Berbeda dengan organisasi keagamaan. Agama diciptakan oleh Allah, sedangkan oraganisasi keagamaan diciptakan oleh manusia.

      Cakra Ningrat menyambut dengan tangan terbuka niat baik Ardian Sach untuk menjadi warga setia blog SPTM. Allah telah memberi petunjuk menujui jalan yang benar kepada anda Ardian Sach. Amin 3x.

      Cakra Ningrat menyarankan kepada anda agar aktif mengikuti blog ini. Menyimak pertanyaan pembaca dan bagaimana saya berkomentar menanggapinya. Antara pertanyaan dan jawaban saya di situ terdapat sebutir hikmah yang merupakan pelajaran berharga bagi anda pribadi. Selamat bergabung di komunitas persahabatan ini. Tuhan memberkati.

      • Wah luar biasa tanggapannya pak Cakra Ningrat, sangat mencerahkan… Rupanya kami ini masih benar-benar awam dan sok tahu perihal rahasia Tuhan.
        Semoga suatu saat kita sekalian bisa saling bertemu, baik di dimensi jasad maupun di dimensi ghaib untuk berdiskusi 🙂

        Terima Kasih atas izinnya bergabung disini, Selamat Idul Fitri buat segenap saudaraku yg merayakannya di blog ini _/\_

        note : entah kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan saya ‘disuruh’ masuk blog ini dan menemukan kebanggaan tersendiri sebagai orang Sulawesi Selatan mengetahui Satrio Piningit konon adalah keturunan orang Makassar 🙂

  15. Selamat sore pak Cakra Ningrat…
    Salam hormat, salam santun dan salam kenal pak….

    Puji Tuhan, Alhamdulillah, Astungkara ….bahwanya dapat menemukan blog ini dengan begitu banyak dan kayanya pencerahannya …yang jauh dari ego dan sentimen umat beragama dan bahkan diblog ini sangat2 tercerminkan sebuah toleransi yang amat sangat indah dan damai,,,,,luar biasa …

    Pak Cakra Ningrat, kiranya diperkenankan saya memohon pencerahan Bapak terkait
    1. “Kita sebagai manusia seharusnya “berfikir” dan memikirkan “apa tujuan Tuhan sehingga membagi manusia dalam dua kelompok yaitu yang disesatkan dan diberi petunjuk”….
    2. “Tujuan Tuhan membagi manusia dalam dua kelompok adalah untuk memisahkan antara orang jahat dan orang baik. Orang jahat akan disesatkan jalannya oleh Tuhan dan orang baik akan diberi petunjuk oleh Tuhan agar menemukan jalan yang benar”.
    3. “Kita sebagai manusia seharusnya “berfikir” dan memikirkan “apa tujuan Tuhan memberi petunjuk kepada orang baik agar orang baik itu menemukan jalan yang benar.”
    4. “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang lalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. (QS. 42-8)”.
    5. “Berdasarkan ayat (42-8) tersebut di atas dapatlah diketahui kenapa kita harus berbeda-beda agama. Tujuannya adalah agar Allah memasukkan orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya”.

    Apakah benar apabila saya menarik kesimpulan dengan kata lain dapat dipahami bahwa Tuhan menghendaki dan menetapkan orang2 yang baik itu menemukan jalan yang benar di masing2 umat beragama tersebut pak? atau dengan kata lain lagi bahwa di masing2 umat penganut suatu agama tersebut ada “orang yang diberi petunjuk” dan “orang yang disesatkan” pak?? Mohon pencerahan buat kami yang awam ini pak …trima kasih….salam damai, salam sejahtera dan ass. mualaikum w.

    Sungkem saya pak,

    • Pak Budi Warsito, yang saya hormati.

      Assalamu Alaikum.

      Salam sejahtera buat kita semua.

      Sebagai ummat yang beragama dan sebagai manusia yang ber-Tuhan maka tidaklah sepatutnya kita membangga-banggakan agama yang kita anut kemudian merendahkan agama orang lain. Semua adalah petunjuk kepada jalan yang “benar” akan tetapi semua manusia “salah” dalam menafsirkan jalan-Nya. Kenapa manusia disebut “salah” ? Bukankah mereka telah berusaha dengan sekuat tenaga menjalankan semua perintah agama dan belajar dengan sungguh-sungguh dengan penuh keimanan? Jawabannya sangat sederhana: Karena manusia memiliki sifat tergesa-gesa.

      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:
      “dan manusia berdo’a untuk kejahatan, sebagaimana ia berdo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS.17:11)

      Tergesa-gesa (Bahasa Arab: isti’jal, ajalah dan tasarru) bersifat universal, artinya seluruh manusia memiliki sifat dasar tergesa-gesa. Kenapa manusia memiliki sifat dasar tergesa-gesa? Karena manusia memiliki nafsu dan nafsu itu memiliki sifat tergesa-gesa. Bagaimana membuktikannya?

      Tuhan berfirman:
      “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).” QS. 86:5-8

      Tulang sulbi atau koksiks lebih dikenal sebagai tulang ekor, adalah bagian paling ujung dari tulang belakang; terdiri dari tiga sampai lima vertebrata terpisah atau menyatu di bawah sakrum, tulang ini tersambung dengan sakrum oleh sendi fibrocartilaginous, simfisis sakrosigeal yang memungkinkan gerakan terbatas sakrum dan koksiks.

      Tulang sulbi laki-laki mencakup tulang belakang bagian pinggang (dorsa), tulang belakang sekitar paha (lumbar) dan tulang punggung. Dilihat dari aspek neurologi (syaraf), ia mencakup pusat reproduksi yang memberi perintah untuk ereksi dan ejakulasi. Sperma laki-laki terbentuk di dalam saluran testis. Setelah proses pembentukannya sempurna dengan munculnya tali mani, sperma berpindah ke dalam kandung sperma, lalu ke saluran kencing dan terakhir keluar dari saluran kencing, dan seterusnya…

      Air yang terpancar (sperma) yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada atau penis tidak akan mungkin bisa terpancar bila tidak ada dorongan. Dorongan ini disebut nafsu seksual. Nafsu sifatnya memburu dan mengejar-ngejar yang dikejar terburu-buru memancarkannya. Jika air itu membuahi sel telur wanita (ovum) maka manusia yang dihasilkannya pasti memiliki sifat dasar tergesa-gesa.

      Kodrat manusia adalah memiliki sifat dasar tergesa-gesa. Manusia akan dikatakan : “salah” atau “jahat” jika tidak mau menerima kebenaran universal ini. Manusia yang “baik “ adalah manusia yang mau menerima kebenaran ini.

      Tuhan berfirman:
      “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” QS. 32: 7-9

      Hanya Adam yang diciptakan Tuhan dari tanah. Selanjutnya; keturunan Adam dijadikan dari saripati air yang hina (air mani). Alqur’an menggunakan gaya bahasa sarkasme menyindir kita sebagai manusia yang dijadikan dari saripati air yang hina!

      Ummat nasrani (kristen, katolik) menangkap kebenaran ini dengan doktrin “semua manusia yang lahir dalam keadaan berdosa.” (Roma 5:12, Roma 6:16-17, Mazmur 51:5, Mazmur 58:4). Doktrin ini berasal dari alkitab tersebut di atas. Karena alkitab “benar” maka doktrin yang disampaikan juga “benar.” Hanya argumentasi pembenarannya yang “salah” sebab ummat nasrani mengait-ngaitkannya dengan “dosa” Adam dan Hawa.

      Dalam Legal Opinion sudah saya tuliskan bahwa Adam dan Hawa tidak “salah” dan tidak “dosa” meskipun mereka memakan buah pohon itu. Yang “salah” adalah keturunannya yaitu “Kain” (Qabil) karena dia membunuh Habel (Habil), adiknya. Meskipun begitu, saya juga masih mengatakan “Kain” (Qabil) tidak “salah” karena Tuhan masih melaksanakan serangkaian penciptaan-Nya.

      Pohon kayu yang dimaksudkan dalam Alqur’an dan alkitab (Kejadian) adalah “penis” yang sedang ereksi. Memakan buah pohon kayu adalah menikmati hubungan seksual. Apa yang anda rasakan dari hubungan tersebut dinamakan buah khuldi.

      Firman-Nya
      Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku , maka kumakan.”Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (Kejadian 3:13-14)

      Yang dimaksud ular di dalam alkitab bukan ular sebagaimana yang biasa kita lihat di pasar-pasar atau di hutan-hutan. “Ular” adalah bahasa ungkapan (sarkasme) untuk menyebut nafsu seksual. “Dengan perutmulah engkau akan menjalar” maksudnya posisi berhubungan badan dimana perut laki-laki harus menindih perempuan agar air mani bisa dipancarkan, “dan debu tanahlah yang akan kau makan seumur hidupmu.” Debu tanah maksudnya adalah “hawa nafsu.”

      Tuhan menciptakan hawa nafsu dan seterusnya, akan tetapi dalam menyampaikannya, Tuhan menggunakan bahasa yang halus, santun dengan bahasa ungkapan berupa sindiran. Kenapa? Karena Tuhan ingin memposisikan diri-Nya secara tegas bahwa Tuhan tidak berada di dalam nafsu. Tuhan suci dari segala bentuk nafsu. Untuk mencapai Tuhan kita tidak boleh tergesa-gesa.

      Tuhan berfirman:
      “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” QS. 2:216.

      Perang apakah yang dimaksud di dalam Alqur’an? Perang yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah perang melawan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri. Apa pun agama anda tetaplah berpegang teguh pada agama yang anda anut karena sesungguhnya semua agama adalah “benar.” Yang “salah” adalah kita karena kita tidak memahaminya. Terkadang orang “salah” memang selalu MERASA “benar”. Namanya saja “perasaan”, kadang “perasaan” itu tidak “benar” atau “salah.” Tuhan memberi petunjuk kepada siapa pun hamba-Nya yang Dia kehendaki tanpa melihat latar belakang agama dan status sosial orang itu. Apa pun agama anda, yakinlah anda akan tercerahkan di blog yang terhormat ini.

      Blog SPTM ini adalah blog terhormat dan mulia. Saya selalu memberi pencerahan kepada siapa pun. Saya selalu menyapa warga blog ini dengan sebutan sebagai “warga setia.” Sebenarnya karena persoalan dialektika saja. Saya sangat membutuhkan dialog. Respon pembaca dalam bentuk pertanyaan membuat blog ini berkembang terhadap hal berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki satu masalah. Ajaran Hegel menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta itu terjadi dari hasil pertentangan antara dua hal dan yang menimbulkan hal lain lagi. Begitu teori dialektika menurut Hegel. Cakra Ningrat hanya menerapkannya di blog yang terhormat ini.

      Demikian pencerahan ini. Terfahamilah yang perlu difahami. Tercerahkanlah yang perlu dicerahkan.

      Salam hormat:

      Cakra Ningrat.

      • Selamat pagi bapa Cakra Ningrat….

        Syalom, Ass. Mualikum, Om Santih…

        Trima kasih banyak atas pencerahannya bapa yg sangat komprehensif dan jelas pak…..smg Tuhan senantiasa memberkati bapa dan kita semua..amien

        Salam,

        Budi W

  16. Assalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua.
    Yth. Bpk. Cakra Ningrat

    Saat ini ada 1 hal yang mengganjal hati saya. dan saya cukup kesulitan untuk menemukan Maksud dan tujuannya.

    Sepengetahuan saya sebagai orang yang awam akan hukum beranggapan bahwa seseorang bisa dikatakan sebagai saksi bilamana orang tersebut menyaksikan segala bentuk kejadian secara sadar, atau orang tersebutlah yang menjadi pelaku kejadian secara sadar.

    Sebagai contoh si A menjadi saksi dipengadilan atas kasus pembunuhan si B terhadap si C. dengan pemahaman yang ada saat ini maka saya beranggapan bahwa si A menyaksikan secara sadar kasus pembunuhan si B terhadap si C.

    sehingga apabila si A di pengadilan mengatakan “Saya bersaksi bahwa B telah membunuh C” maka kesaksian si A akan dianggap benar menurut hukum.
    Namun apabila ada orang lain lain contoh si D mengatakan “Saya bersaksi bahwa B telah membunuh C” maka kesaksian si D tidak akan dianggap benar menurut hukum.

    Yang menjadi pertanyaan saya,

    Bagaimana cara saya sebagai umat muslim bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, sedangkan saya tidak pernah menyaksikan keduanya. agar kesaksian saya bisa diterima secara Hukum Tuhan?

    Apakah maksud dan Tujuan dari 2 kalimat tersebut?

    Tanpa mengurangi rasa hormat umat muslim, saya hanya mengutarakan apa yang ada didalam hati saya. karena jika saya mempertanyakan hal ini kepada Ulama, ataupun Kyai niscaya mereka hanya akan menjawab “Segera Bertaubatlah”

    Terima Kasih

    • Yth. Rhattorion.

      Anda Benar. Anda cerdas. Pertanyaan anda sudah mengarah ke pertanyaan filsafat. Dalam hukum acara; telah diatur bahwa seorang saksi itu melihat, mendengar dan mengetahui terjadinya suatu perbuatan hukum. Apabila saksi itu tidak melihat, tidak mendengar dan tidak mengetahui, maka saksi tersebut tidak patut diambil keterangannya. Saksi itu saksi Buta.

      Dulu, saya juga sama dengan anda Rhattarion. Yang saya pertanyakan adalah tentang kebenaran riwayat Isra’ Mi’raj. Pada waktu nabi menceritakan pada orang-orang bahwa beliau diperjalankan dalam satu malam dari Masjidil Haram- ke Masjidil Aqsha kemudian beliau naik ke langit. Sebagian besar yang mendengarkan cerita itu beranjak pergi meninggalkan nabi karena mereka tidak percaya. Hanya Abu Bakar saja yang percaya dan yakin dengan berita itu. Kemudian nabi memberi gelar kepadanya sebagai “Asy syiddiq” yang artinya orang yang sangat percaya dan sangat yakin.

      Dalam Alqur’an Tuhan berfirman:
      “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” QS. 17:1

      Sebagai seorang muslim saya harus percaya kisah itu karena sudah ada ayatnya. Akan tetapi, sebagai seorang yang menguasai Filsafat Ilmu, seorang yang mengandalkan kekuatan nalar, logika, akal, dan fikirannya masih mempertanyakan bebrapa hal:

      1. Diriwayatkan; nabi naik ke langit menerima perintah shalat dan berdialog dengan Allah. Apakah nabi berjumpa dengan Tuhan?
      2. Diriwayatkan; nabi melihat orang-orang yang disiksa di neraka. Pertanyaannya. Apakah benar neraka berada di langit dan orang-orang yang disiksa di neraka adalah dewa-dewa suci yang diyakini oleh saudara-saudara saya yang beragama hindu?
      3. Diriwayatkan; nabi berjumpa dengan malaikat Jibril Alaihissalam, pemimpin tertinggi para malaikat suci. Tidak disebutkan kalau nabi melihat Yesus Kristus! (Ketahuilah Rhattorion bahwa Yesus Kristus itu adalah Maha Guru Cakra Ningrat).

      Pertanyaan-pertanyaan di atas “ngeganjel” tidak berlebih-lebihan jika disebut “mengotori” fikiran saya. Berpuluh-puluh tahun saya mencari jawabannya. Kepada ustadz, kiyai dan ulama saya bertanya; jawaban mereka tidak mencerahkan saya, bahkan mereka menyuruh saya agar beristigfar dan shalat taubat. Saya katakan; saya tidak mau karena saya tidak tahu kesalahan apa yang telah saya perbuat, saya tanya ke sulingsih, pandita, dan pedanda; saya bilang nabi saya melihat dewa-dewi yang anda puja disiksa di neraka di atas langit. Mereka diam, saya katakan kepada pendeta dan Romo; nabi saya sudah naik ke langit tapi beliau tidak berjumpa dengan Yesus Kristus, Beliau juga tidak melihat rumah Bapa. Bapa pendeta dan Romo menjawab dengan enteng tapi bijak katanya; kalau kamu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh nabi kamu berarti kamu orang fasik. Kalau kamu tidak percaya Yesus Kristus ada di langit di rumah Bapa di syurga berarti kamu orang fasik sebab Alqur’an sudah mengatakan Isa Almasih telah diangkat ke langit.

      Jawaban Bapa pendeta dan Romo tidak mencerahkan saya. Mereka tidak memberi solusi, malah justru menohok saya dan menyudutkan saya dengan menyebut “fasik’” (orang yang berdosa). Saya merasa sangat terpukul, stress dan depresi. Logika saya terkunci ! Dead Lock! Gelap rasanya hidup ini.

      Yang mencerahkan saya adalah Shidarta Gautama. Guru Agung berkata:
      Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
      Oleh diri sendiri seseorang menjadi suci,
      Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri
      Tak seorang pun yang dapat menyucikan orang lain.
      (Dhammapada 165)

      Sejak saya mendengar, mengerti, memahami, dan membenarkan “dhamma” di atas maka sejak itu saya bersumpah pada diri saya sendiri bahwa saya tidak mau lagi percaya kepada ustadz, kiyai, ulama, pendeta, pastor, romo, sulingsih, pandita, pedanda bahkan para bhikku. Saya bersumpah akan belajar sendiri mempelajari semua kitab suci Tuhan; Alqur’an, Alkitab, reg Weda, Bhagavad Gita, dan Tipitaka. Saya bersumpah pada diri sendiri; meskipun saya tidak berkhotbah di mimbar-mimbar mesjid, atau berkhotbah di gereja dan di hadapan jamaat, bukan berarti ustadz, kiyai, ulama, pendeta, pastor, atau romo dapat mengalahkan pemahaman saya terhadap Alqur’an dan alkitab. Meskipun saya tidak tahu dan saya tidak melakukan yoga, bukan berarti sulingsih, pandita dan pedanda dapat mengalahkan saya karena saya menguasai “tapah pikiran.” Maha Guruku (Dewa Krisna) berkata “Kedamaian pikiran, sopan santun, pendiam, pengendalian diri dan kemurnian pikiran, ini dikatakan tapah pikiran” (Bhavad Gita 17-16). Meskipun saya tidak melakukan meditasi, akan tetapi saya tahu esensi “jalan tengah” untuk mencapai kesempurnaan.

      Berpuluh-puluh tahun lalu pertanyaan-pertanyaan yang pernah mengotori pikiran saya telah saya temukan jawabannya ketika usia saya sudah setengah abad, saya menemukan artikel SPTM di blog ini yang menceritakan tentang alam langit. Sungguh saya benar-benar tercerahkan. Pada saat itu saya menyimpulkan:

      1. Kedudukan hukum penulis artikel adalah sebagai saksi kunci terhadap kebenaran Nabi Muhammad. Karena Dia satu-satunya saksi kunci maka Dia bergelar Imam Mahdi. Dia adalah pemimpin dan kita wajib mengikutinya.
      2. Selain sebagai saksi kunci, penulis artikel dapat juga didudukkan sebagai saksi pelaku, artinya Dia melakukan perbuatan naik ke langit kemudian menceritakan kepada kita tentang rahasia alam langit yang sebenar-benarnya yaitu:
      a. Langit hanya terdiri atas langit pertama dan ketujuh. Langit dua, tiga, empat, lima, dan enam tidak ada. Tuhan bertahta di arasy. Arasy berada di atas Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha berada di depan syurga. Syurga berada di langit ketujuh. Syurga masih kosong dan belum berpenghuni.
      b. Penulis artikel tidak menyebutkan ada neraka di langit, berarti di langit tidak ada neraka. Bahwa nabi melihat orang disiksa di neraka pada langit ke 2, 3, 4, 5, dan 6 hanya untuk memberi gambaran agar nabi dapat bercerita kepada ummatnya tentang adanya siksaan neraka. Pada kenyataannya ternyata ummat islam tidak gentar apalagi takut dengan ancaman neraka.
      c. Penulis artikel tidak melihat Yesus / Nabi Isa di langit. Dia hanya melihat malaikat Jibril yang menjaga pintu syurga. Yesus / Nabi Isa yang manusia kenal namanya di dunia ini ternyata di langit Dia adalah malaikat Jibril. Dia adalah Gabriel. Dia menjaga rumah Bapa di syurga. Tidak ada yang dapat sampai kepada Bapa tanpa Dia karena Dia yang menjaga rumah Bapa di syurga di langit ketujuh.
      d. Penulis artikel melihat di langit pertama ada 124 malaikat. Manusia di dunia ini mengenal banyak dewa, di alam langit dewa-dewa itu dinamakan malaikat. Berarti dewa dewi yang dikenal dalam hindu-buddha-kong fu tse adalah benar adanya. Semua adalah ajaran yang benar yang membawa kepada kebajikan.

      Kembali kepada esensi pertanyaan Rhattorion…
      Dua kalimat syahadat (kalimat persaksian) yaitu “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah” wajib dibaca dan diyakini oleh ummat islam. Pertanyaannya; bagaimana membuktikan kebenaran kalimat persaksian tersebut, sementara saksi tidak menyaksikan apa-apa; saksi tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengetahui, sebab saksi hidup di masa sekarang ini.

      Cakra Ningrat berpendapat; satu-satunya bukti yang dapat membuktikan kebenaran kalimat syahadat (kalimat persaksian) adalah ALQUR’AN. Faktanya; Tanpa Muhammad, Alqur’an tidak akan pernah ada. Anda tidak menyaksikan Allah, juga tidak menyaksikan rasul-Nya Muhammad, tapi menyaksikan Alqur’an. Anda bersaksi mengucapkan dua kalimat syahadat dan kalimat syahadat itu termaktub di dalam Alqur’an. Karena Alqur’an bisa anda lihat, anda pegang dan anda baca sendiri, maka kalimat persaksian anda adalah kalimat persaksian yang benar dan anda adalah saksi yang benar.

      Alqur’an adalah mu’jizat Nabi Muhammad. Alqur’an bukan hanya diperuntukkan bagi ummat islam saja, akan tetapi untuk seluruh ummat manusia, meliputi seluruh alam semesta, berlaku universal hingga akhir zaman. Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir. Muhammad adalah utusan Tuhan yang terakhir. Alqur’an adalah kitab Tuhan yang terakhir. Karena itu, semua agama yang sudah ada sebelum Nabi Muhammad diutus Tuhan adalah agama yang benar. Semua kitab suci yang telah ada sebelum Alqur’an diturunkan adalah kitab-kitab Tuhan yang dibenarkan oleh Alqur’an. Alqur’an adalah batu penguji untuk menguji kebenaran kitab-kitab terdahulu. Nabi Muhammad lahir 20 April 570M dan wafat tanggal 2 Rabiul Awal 11 H bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 M, karena sakit demam dan dimakamkan di Madinah. Karena itu, agama apa pun yang muncul di muka bumi ini setelah tahun 632 M adalah agama sesat. Cakra Ningrat menegaskan; Ajaran Ahmadiyah adalah ajaran sesat! Agama Baha’i adalah agama yang sesat.

      Saya melihat Pemerintah Republik Indonesia memiliki niat, hasrat, dan kecenderungan menjadikan agama Baha’i sebagai agama resmi negara yang disejajarkan dengan islam, kristen, katolik, hindu, buddha, dan kong fu tse. Agama Baha’i didirikan oleh Baha’ullah di Persia pada abad 19. Prinsip ajaran Baha’i adalah monoteisme dan mengakui semua utusan Tuhan sebagai para “perwujudan Tuhan.” Baha’ullah adalah perwujudan Tuhan yang terakhir yang ditunggu oleh ummat islam, kristen, dan buddha. Baha’ullah menekankan perlunya persatuan dan kesatuan agama di dalam Baha’i. Agama Baha’i telah mendapat pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa karena dianggap sebagai pendukung berdirinya PBB. Status Baha’i dalam setiap penyelenggaraan Sidang Ulama PBB sebagai peserta peninjau. Pada tahun 2000, utusan internasional Baha’i Community mendapat kehormatan berpidato di depan SU PBB. Pusat kegiatan agama Baha’i di Haifa, Israil.

      Terserah pemerintah mau mengakui Baha’i sebagai agama resmi negara atau tidak. Pengakuan terhadap agama Baha’i berarti pengakuan negara terahadap Baha’ullah yang dikuburkan di Israil itu sebgai perwujudan Tuhan yang terakhir. Masya Allah. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia saat ini tengah mempersiapkan sebuah rencana strategis untuk menghapus / meniadakan kolom agama dalam E-KTP Nasional. Terserah pemerintah, mau merealisasikan rencana itu atau tidak. Jika dilaksanakan maka identitas agama yang kita anut telah dikaburkan secara resmi oleh negara. Duh Gusti, tanda-tanda apakah itu?

      Maka benarlah seperti yang dikatakan Gusti dalam artikelnya; Negaraku itu sakit, pemerintah sakit, rakyat sakit, sudah di ruang ICU gawat darurat. Rakyat sakit, memilih pemerintah sakit akhirnya negara sakit. Buta! Karena buta, mana bisa melihat dan mengetahui kalau manusia sempurna sudah ada di dekat kita, di sekitar kita, melihat dan menyaksikan kita. Dia tidak sembunyi tapi kitalah yang tidak melihatnya. Kalaupun kita melihatnya kita tidak akan mungkin mempercayainya karena kita mau dia harus seperti apa yang ada dalam gambaran kita. Orang buta mana tahu menggambar! Dasar sakit!

      Wassalam.

      Cakra Ningrat.

      • Selamat Pagi Bpk. Cakra Ningrat,

        Terima kasih atas penjelasannya, cukup mengena atas apa yang Bpk Jabarkan bagaimana saya harus bersaksi agar diterima secara hukum Tuhan, dengan cara bersaksi bahwa adanya Al-quran yang saya lihat, yang saya baca, yang saya sentuh adalah berasal dari Tuhan, yang diturunkan melalui Nabi Muhammad.

        Menanggapi rakyat yang sakit, pemerintah yang sakit, hingga negara menjadi sakit. Saya sangat merasakan demikian, namun apaboleh dikata, segala keadaan yang terjadi saat ini adalah Kehendak Tuhan. faktanya adalah yang sakit harus menjaga diri agar tidak menjadi sakit dan merawat mereka yang sakit.

        Sungguh Tenang hati saya berada ditengah-tengah SPTM ini. Salam saudara kepada seluruh warga blog SPTM, meskipun Kita tak nampak dalam fisik, tapi Tuhan mau mempertemukan kita disini.

        Terima Kasih kpd Bpk. Cakra yang selalu memberikan kami pencerahan, selalu menjaga blog ini dari segala bentuk kejahatan IBLIS.
        Terima Kasih juga kepada Admin yang telah mengatur kedisplinan blog ini. Berkat, Rahmat Tuhan selalu bersama kita…Amien….

        Wassalamu

        Rhattorion

      • Selamat buat kita semua. Sy senang dg artikel yg bpk tulis. Setidaknya 95% tugas leluhur utk mengungkap kebenaran telah di lakukan oleh bpk. Sisanya akan di benarkan oleh NURUL MUHAMMAD AULIA MUKARRAMAT. Sdh menjadi amanat bagi bpk utk mengungkap kebenaran itu lewat keahlian yg bpk punyai. Sy bangga dg perjuangan yg bpk lakukan. Berani, tegas, tepat dlm bertindak. semoga kita bisa bertemu di masa yg tepat,waktu yg tepat .SATU UNTUK SEMUA, SEMUA UNTUK SATU.

  17. assalakualaikum wr.wb….setelah membaca ulasan diatas…..kami ada sedikit pertanyaan…..apa hukumnya dalam Islam ….bila kita mencoba coba mengamalkan doa dari agama lain……….karena dulu saya pernah mencoba mengamalkan doa Bapa Kami 100x dan saat tertidur, diberi petunjuk suatu Rumah yang begitu besar, dimana anak tangganya setinggi manusia…..dan saat itu belum boleh naik oleh se “sosok” penjaga yang berpakaian putih bersih….terima kasih sebelumnya…..

    • Yth. Bp Eko Hardiyanto
      Asslamu Alaikum.
      Salam sejahtera buat kita semua.

      Semua orang nasrani mengenal dan membaca Doa Bapa Kami (The Lord’s Pray) atau Keluarga (The Family’s Pray) setiap hari seperti berikut ini:

      Matius 6:9-13
      Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

      Dalam fiqhi islam, membaca doa dalam agama orang lain yang bukan agama kita hukumnya haram atau dilarang! Dasar hukumnya Alqur’an 109:6 “la kum diinukum waliyadiin” yang artinya “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.”

      Perbuatan anda tidak dibenarkan oleh hukum, karenanya anda tidak boleh lagi mengulangi perbuatan itu dengan alasan apa pun. Tuhan telah mengatur sedemikian rupa dan untuk segala hal agar manusia tertib, disiplin, terarah, dan tetap berjalan dengan baik, sebaik-baiknya di dalam koridor “iman,” dan keyakinan agamanya masing-masing.

      Tentang mimpi anda: Anda melihat rumah yang begitu besar, dimana anak tangganya setinggi manusia… dan saat itu belum boleh naik oleh se”sosok” penjaga yang berpakaian putih bersih…

      Cakra Ningrat berpandangan: mimpi anda disebut ilham, yaitu petunjuk yang datang dari Tuhan dalam bentuk penglihatan gaib. Mimpi semacam itu akan membekas di dalam jiwa dan tersimpan lama dalam ingatan. Bekasnya tidak akan sirna dan ingatan anda tidak akan terhapus sampai anda menemukan orang yang dapat mentakbirkan (menerangkan tentang hal) mimpi anda dengan benar dan sebenar-benarnya. Mimpi anda bukan mimpi biasa dan mimpi semacam itu biasanya tidak diperuntukkan untuk manusia biasa karena Tuhan yang memberi petunjuk / penglihatan gaib kepada anda, maka tentu saja Tuhan memiliki kepentingan langsung terhadap hal itu. Tuhan memiliki kebebasan mutlak untuk memberi petunjuk kepada siapa pun hamba-Nya yang Dia Kehendaki. Tuhan memilih hamba-Nya tanpa memandang latar belakang agama dan status sosial orang itu. Doa Bapa yang anda baca hanya mengantar anda kepada satu suasana hening dan sanyuluri sebagai prasyarat untuk masuk pada satu suasana terkondisi yang “siap” menerima petunjuk suci. Tuhan memiliki kepentingan dan menganggap “penting” kepentingan-Nya itu, sehingga Dia memberi petunjuk-Nya kepada anda pribadi, akan tetapi berlaku universal untuk seluruh ummat manusia. Tentu saja termasuk warga setia blog SPTM, Tim Admin dan saya sendiri (termasuk istri dan anak-anak saya). Karenanya mimpi anda dianggap penting untuk ditakbirkan agar anda tercerahkan dan dari ketercerahan anda dapat memberi kesadaran dan ketercerahan pada kita semua. Amin.
      Cakra Ningrat mentakbirkan mimpi Bp. Eko Hardiyanto, sbb:

      1. Rumah adalah tempat tinggal atau kediaman, Alqur’an (55:72) (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. Dan alkitab menerangkan bahwa tempat tinggal yang akan kita tuju bersama adalah syurga. Rumah Besar yang anda lihat itu adalah gambaran Rumah Bapa di syurga. Rumah yang akan kita tuju dan masuki bersama. Tuhan memberi penglihatan “Rumah Besar” pada anda karena anda menyampaikan pengharapan sebagaimana yang diajarkan dalam injil (Matius 6:9-13).
      Doa Bapa Kami biasa juga disebut Doa Keluarga karena di dalam doa itu terdapat kalimat “Berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Keluarga dapat berarti diri sendiri, istri, anak-anak, ayah, ibu, dan siapa pun yang ada di dalam rumah atau tempat kediaman saat doa dibacakan. Keluarga dalam arti yang sangat sederhana dapat berarti orang-orang seisi rumah kita. Karena anda membaca Doa Bapa Kami atau Doa Keluarga, maka Tuhan memberi gambaran Rumah-Nya, atau syurga-Nya dalam gambaran RUMAH, untuk mengantar fikiran anda dalam memahami hikmah-hikmah berupa pelajaran yang sangat berharga yang terkandung dalam mimpi anda.

      2. Sosok penjaga rumah yang berpakaian putih bersih itu adalah YESUS KRISTUS. Dia menjaga rumah Bapa. Tidak ada yang bisa masuk ke rumah Bapa tanpa melalui Dia. Tidak ada yang bisa sampai kepada Bapa tanpa melalui Dia. Karena Bapa adalah Dia juga sendiri. Disebut Bapa karena Dia juga adalah Adam. Apa pun agama kita maka Adam adalah Bapa kita semua.

      Adam adalah saksi yang menyaksikan semua penciptaan Tuhan. Semua yang diciptakan Tuhan hanya ada melalui Dia. Tanpa Dia, segala ciptaan Tuhan tidak akan ada. Anda tidak akan mungkin dapat melihat dengan jelas untuk dapat mengingat wajah-Nya. Tuhan merahasiakan wajah-Nya sebab wajah-Nya adalah wajah Tuhan karena itu tidak ada satu pun manusia yang dapat mengetahui wajah-Nya yang sesungguh-sungguhnya.

      Bapa telah terlahir kembali dalam keadaan suci. Dia melahirkan diri-Nya melalui rahim perawan suci Maria kemudian Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Anak. Dia lahir, tumbuh dan berkembang secara alamiah sebagai manusia nyata. Dia memperlihatkan dan mempersaksikan mu’jizat-mu’jizat-Nya, memberi pelayanan kepada ummat dan memberi pengajaran kepada murid-murid-Nya. Dia mengakhiri hidup-Nya dengan kematian di tiang salib. Lalu Dia bangkitkan diri-Nya dari yang mati di hari ketiga. Kebangkitan-Nya adalah bukti kebenaran-Nya. Kebangkitan-Nya adalah bukti kemenangan-Nya. Dia bangkit untuk naik ke langit. Ke langit tertinggi. Langit yang ketujuh. Tempat itu dinamakan syurga. Segala atribut-atribut penamaan duniawi Dia tanggalkan kemudian Dia memakai atribut penamaan alam langit, alam yang sangat suci yaitu Malaikat Jibril Alaihissalam… Sekitar enam ratus tahun kemudian menurut perhitungan dunia, Tuhan memerintahkan Dia turun ke bumi menyampaikan wahyu Tuhan-Nya kepada Muhammad. Wahyu-wahyu itu tersusun dengan rapi, terjaga dan terpelihara sampai sekarang. Tanpa-Nya, alquran ini tidak pernah ada. Dan kita semua akan menjadi orang-orang yang fasik dan tersesat.

      Dia Bapa, Dia Anak dan Dia Roh Kudus (Ruhulqudus). Dia Tritunggal. Dia adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kita ingin menuju kepada-Nya tapi tidak mudah untuk sampai kepada-Nya. Kenapa? Karena kita harus meniti beberapa anak tangga.

      3. Anak tangga setinggi badan manusia.
      Untuk sampai ke rumah Bapa anda harus melalui jalan-Nya. Anak-anak tangga itu adalah jalan-Nya. Jalan-Nya adalah jalan Salib (Delarosa). Esensinya “delarosa” adalah jalan penebusan dosa. Kita semua memiliki dosa. Makna “dosa” adalah “nafsu” yang ada di dalam diri kita dan menguasai kita. Tingginya kekuasaan nafsu yang menguasai diri kita adalah setinggi badan kita. Iman, kepercayaan dan keyakinan kepada-Nya tidak akan dapat membersihkan “nafsu” yang ada di dalam diri kita. Iman hanya sebatas memberi ketenangan, kedamaian dan memberi penghiburan agar “nafsu” yang ada di dalam diri kita tidak mengarahkan kita kepada jalan yang membuat kita susah dan menyusahkan orang lain. Akan tetapi untuk sampai ke rumah Bapa maka anda harus memahami hakikat jalan salib sekaligus mengalaminya sendiri. Siapa pun diri kita dan apa pun agama kita maka kita semua harus menaiki anak-anak tangga setinggi badan kita. Anak-anak tangga itu adalah: sabar, ikhlas, pasrah dan tidak terbebani oleh sesuatu apa pun. Sungguh mudah mengucapkannya tapi sangat berat ketika menjalaninya. Apakah bisa?. Harus bisa! Dan pasti bisa!. Kembali pada diri kita sendiri apakah mau menjalaninya atau tidak.
      Kehidupan ini disebabkan karena adanya hukum sebab-akibat. Sebab kita memiliki nafsu maka akibatnya kita memiliki dosa. Sebab nafsu menguasai diri kita maka kita memiliki sifat-sifat nafsu yaitu; Sifat cemburu, iri hati, dengki, dan dendam. Semua manusia memiliki keempat sifat ini yang didapatkan secara turun-temurun yang oleh Buddha menyebutnya sebagai “lekatan” sementara dogma kristiani mengatakannya sebagai dosa menurun yang dibawa sejak manusia lahir.

      Sejak dahulu kala manusia sudah mengetahui “lekatan” dan “dosa” ini dan mereka telah berusaha mencari jalan untuk membebaskan dirinya mulai dengan cara yang paling sederhana dengan kontemplasi sampai kepada cara yang ekstrim dengan menyiksa diri yang oleh para bijak mengatakan sebagai cara yang tidak masuk akal.

      Sebab Yesus telah menjalani delarosa maka akibatnya kita dapat belajar kepada-Nya bahwa esensi delarosa yang sesungguhnya adalah menjalani hidup dengan sabar, ikhlas, pasrah dan tidak terbebani dengan kondisi apa pun yang akan terjadi yang akan menimpa diri kita. Bila anda tidak ingin menjalani hidup dengan sifat-sifat Yesus maka silahkan anda menjalani hidup ini dengan tetap memelihara sifat-sifat orang-orang Yahudi yang menyalib Yesus yaitu cemburu, iri hati, dengki dan dendam. Salah satu dari keduanya anda yang harus tentukan; ikut sifat Yesus atau ikut sifat Yahudi (nafsu).

      Demikian penjelasan saya semoga anda tercerahkan.

      Wassalam,

      Cakra Ningrat

      • Assalamualaikum.
        Yang saya hormati bapak Cakra Ningrat.

        Senang sekali dengan babaran bapak tentang sptm ini. Pada tahun 2013 saya bermimpi. Dalam mimpi saya melihat kearah langit ada lubang seperti sumur warnanya gelap seperti awan dan ada sedikit warna ungu atau lembayung. Di balik sumur itu saya melihat ada kotak hitam. Dan ada bangunan putih berjejer jejer.

        Dalam fikiran saya selalu terngian nama imam mahdi. Maka pada suatu saat saya searching di google dan menemukan blog ini.

        Alangkah bahagianya saya ketika membacanya. Saya seperti menemukan apa yang saya cari selama ini.

        Saya yakin artikel ini dapan menjadi rujukan bagi pencari kebenaran untuk terus berada di jalan tengah.

        Salam,

        • Kpd. Yth Bukit Lawang, Admin dan seluruh warga setia blog SPTM.
          Asslamu Alaikum wr.wb

          Mimpi adalah ilham dari Yang Maha Kuasa yang dapat dijadikan hikmah dan pelajaran bagi yang diberi ilham tersebut dan bagi yang lain dapat menjadikannya sebagai “rujukan” akan sebuah kebenaran. Ilham yang suci memiliki kedudukan setingkat “di bawah” wahyu.

          Sumur gelap sebagaimana yang anda lihat adalah pintu langit. Bangunan putih yang berjejer-jejer adalah hunian atau tempat tinggal para malaikat atau yang biasa juga disebut dengan dewa-dewa. Adapun kotak hitam yang anda lihat di balik sumur tersebut adalah ilmu-ilmu Tuhan. Dalam pikiran anda selalu terngiang nama Imam Mahdi. Hal ini dijelaskan sbb:

          1. Imam Mahdi secara fisik adalah Anak Manusia sama seperti kita. Ia makan dan minum, memiliki keluarga, dan memiliki nama sebagaimana kita semua. Imam Mahdi adalah gelar yang melekat di dalam dirinya. Yang memberi gelar itu adalah Tuhan Semesta Alam. Anak manusia itu sangat misterius. Ia tidak pernah menyebut siapa dirinya dan umat manusia tidak ada yang mengetahui siapa dirinya. Ia tidak ingin dikenal dan diketahui oleh manusia, sebab segala perbuatannya semata-mata untuk kepentingan dan kehendak Tuhan Semesta Alam.

          2. Tuhan Semesta Alam memberi ilham kepada anda yang dapat dimaknai sebagai “pesan suci” bahwa yang dapat menembus pintu langit hanya Imam Mahdi. Ia adalah Anak Manusia yang saat ini berada di antara lima miliar manusia yang menghuni bumi. Karena Bukit Lawang orang Indonesia maka dipastikan Imam Mahdi adalah warga negara Indonesia. Ia bukan orang Arab sebagaimana asumsi umat islam selama ini.

          3. Tuhan Semesta Alam memberi ilham kepada anda yang dapat dimaknai sebagai pesan suci bahwa kotak hitam yang anda lihat tersebut dulunya berisi ilmu-ilmu Tuhan, tetapi sekarang sudah kosong, sebab semua ilmu yang sangat rahasia bagi Tuhan telah dibawa turun ke bumi oleh Imam Mahdi. Tidak ada yang mengetahui Imam Mahdi kecuali Tuhan. Jangan percaya kepada siapa pun yang mengakui dirinya sebagai Imam Mahdi. Imam Mahdi selalu menjaga kerahasiaan dirinya, sebab rahasia dirinya adalah rahasia Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat memberi petunjuk kepada manusia siapa sesungguhnya Imam Mahdi. Tentunya dengan memperlihatkan kerahasiaan langit sebagaimana mimpi anda.

          4. Tugas pokok Imam Mahdi adalah “menghancurkan” kebatilan (salah) atau ketidakbenaran dan melenyapkannya setelah itu. Ia akan memunculkan kebenaran. Umat hindu menyebut Imam Mahdi sebagai Kalki Awatara, reinkarnasi terakhir Dewa Wisnu. Ia akan menghakimi manusia dan memutuskan perkara-perkara secara adil. Umat kristen menamakan Ia sebagai Yesus Kristus dan umat islam menamakan Ia sebagai Isa Almasih. Imam Mahdi memiliki kekayaan yang berlimpah dan harta yang banyak, juga memiliki sifat welas asih yang sangat besar dan kecerdasan spiritual yang tiada taranya. Umat buddha menamakan Ia sebagai Buddha Maitreya.

          5. Dalam berbagai aspek kajian dan pemikiran Cakra Ningrat berpandangan; Imam Mahdi tidak bisa diketahui oleh manusia. Bisa saja kita mengenal dan melihatnya tapi untuk mengetahui jati dirinya adalah sebuah kemustahilan. Ia tidak bisa diterawang dengan cara apa pun. Tidak bisa ditebak dan dijebak. Tidak bisa disantet dan guna-guna. Kebal terhadap semua bacaan mantra-mantra dan doa-doa yang dipanjatkan oleh siapa pun. Tidak bisa dikalahkan dengan cara bagaimana pun. Ilmunya sangat sakti.

          6. Mimpi anda “membenarkan” keyakinan saya dan keyakinan kita semua bahwa Imam Mahdi memang benar-benar telah berada di antara warga negara Republik Indonesia. Hanya saja kita tidak mengetahui di mana keberadaannya. Kedatangan Imam Mahdi menandakan kita semua telah berada di masa akhir zaman. Berusahalah untuk selalu berpikir yang benar, mengucapkan perkataan yang benar dan melakukan perbuatan yang benar, baik untuk diri sendiri, untuk keluarga (istri dan anak-anak) anda dan untuk masyarakat yang berada di dekat anda.

          Demikian penjelasan saya semoga anda tercerahakn.

  18. Yth.
    Bapa Cakra Ningrat,

    Ada Seorang Suami (bapak) mempunyai bbrp orang Anak yang masih kecil-kecil. Keseharian bapak itu menggantikan fungsi Ibu rumah tangga yakni menjaga/mengasuh anak-anak, dan juga mengerjakan pekerjaan Rumah Tangga lainnya, karena aktifitas istrinya adalah Seorang PNS yang punya Jabatan di Kantor. Para tetangga bergosip dan memberi predikat kepada bapak itu “ORANG SABAR”. Mungkin karena bapak ini tidak banyak bicara, tidak banyak beraktifitas diluar, banyak diam dirumah sehingga banyak tetangga yang menggelari bapak itu orang SABAR.

    Kalau saja ada yang bertanya kepada saya Apa Arti SABAR yang sebenarnya maka saya akan menjawab dengan tegas “saya pun belum bisa mendefenisikan Apa itu Sabar yang Sebenarnya”. Untuk itu mohon kepada Bapa Cakra Ninggrat kiranya sudi menjelaskan kepada kami Arti yang sebenarnya dari SABAR.

    Yang kedua; bukanlah hal yang langkah kita mendengar kata SYUKUR.
    Seringkali seseorang mendapat Uang atau Hadiah lainnya dengan Spontan mulutnya berkata “Syukur Alhamdulillah”, ataukah orang-orang yang lagi dengki mendengar tetangga atau seterunya mendapat musibah spontan pula mulatnya berkata “SYUKURIN”… dlm pemandangan-pemandangan seperti itu terselip Tanya dalam benak “APA dan BAGAIMANA sesungguhnya SYUKUR itu”.

    Membaca dan merenungkan tulisan Bapa Cakra Ningrat yang mengatakan kita harus lulus S2 yakni SABAR & SYUKUR tentu ini berat dilakukan jika belum tahu esensi atau yang dimaksud tersebut.

    Terimakasih kepada Bapa Cakra Ningrat untuk bersedia memberi Pencerahan kepada kami khususnya buat saya sebagai penanya tentang Sabar dan Syukur.
    Salam Sejahtera buat Admin dan Warga Blog ini.

    • Diilustrasikan bahwa: Ada Seorang Suami (bapak) mempunyai bbrp orang Anak yang masih kecil-kecil. Keseharian bapak itu menggantikan fungsi Ibu rumah tangga yakni menjaga/mengasuh anak-anak, dan juga mengerjakan pekerjaan Rumah Tangga lainnya, karena aktifitas istrinya adalah Seorang PNS yang punya Jabatan di Kantor. Para tetangga bergosip dan memberi predikat kepada bapak itu “ORANG SABAR”. Mungkin karena bapak ini tidak banyak bicara, tidak banyak beraktifitas diluar, banyak diam dirumah sehingga banyak tetangga yang menggelari bapak itu orang SABAR.

      Cakra Ningrat berpendapat bahwa; suami tersebut tidak dapat disebut sebagai orang yang sabar. Lebih tepat untuk mengatakan dia sebagai suami yang memiliki sifat “masa bodoh.” Sinonim masa bodoh adalah acuh tak acuh, apatis, cuek, dingin, tebal telinga. Sebagai suami dia telah merendahkan harkat dan martabat dirinya selaku kepala rumah tangga. Dia seorang pecundang sejati karena telah melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai suami yang memiliki kewajiban mengais rezki untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Apa pun alasannya suami tersebut telah menyalahi kodratnya sebagai seorang laki-laki.

      Orang yang memiliki sifat MASA BODOH adalah orang BODOH yang membiarkan MASA atau waktu dan kesempatan emas serta peluang-peluang terbaik bagi dirinya untuk mendapatkan kebaikan hidup berlalu begitu saja di hadapannya. Orang yang memiliki sifat masa bodoh adalah orang yang teramat sangat MALAS, bahkan hanya utnuk menggunakan akal pikirannya pun dia enggan memanfaatkannya. Orang yang bermasa bodoh dan malas PANDAI menghibur dirinya sendiri hanya dengan satu kata “NASIB.” Sering terdengar ucapan “mau bagaimana lagi, emang dari sononya (nasib) aku sudah seperti ini” yang diucapkan oleh orang-orang masa bodoh dan malas. Sungguh, mereka tidak tahu apa hakikat dan makna ucapannya itu. Orang masa bodoh dan malas memiliki kecenderungan untuk selalu mengkambinghitamkan Tuhan.

      Tuhan berfirman:
      “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS 13:11).

      Pertanyaan anda terkesan datar-datar saja, akan tetapi sungguh sangat sulit menjawabnya. Tadi malam jawaban Cakra Ningrat sudah diposting, akan tetapi tadi pagi saat saya sedang menyeruput kopi hitam di beranda belakang rumah saya, tiba-tiba saya menerima kiriman E-mail dari Admin. Katanya; tanggapan Cakra Ningrat atas pertanyaan Sdr. Rasyid tidak dapat ditampilkan karena belum menyentuh substansi masalah yang dipertanyakan.

      Sebagai orang yang “sabar,” saya harus menerima keputusan Admin dengan lapang dada. Orang sabar tidak boleh MARAH. Orang sabar harus terus menerus berlatih membiasakan diri untuk tetap TENANG dalam kondisi apa pun. Sangat manusiawi tentunya kalau saya merasa kesal, tidak nyaman bahkan tersinggung karena jawaban yang sudah saya tulis dengan bersusah payah, sudah diposting dan dibaca oleh warga SPTM lantas selanjutnya ditarik dari postingan komentar oleh Tim Admin. Untuk menjadi orang sabar memang tidak mudah karena kita harus terus menerus berlatih membiasakan diri agar tangkas menampik segala bentuk virus yang akan mengganggu neuron. Virus-virus itu adalah kekesalan, kejengkelan, ketidaknyamanan, ketersinggungan, dsb. Apabila virus ini masuk ke neuron (sel saraf) maka sel-sel ini mendapat stimulus (rangsangan) yang dapat mengganggu sistem kerja pusat di otak. Sebagai orang yang sabar tentu saya sangat piawai mengatasi virus-virus semacam ini. Caranya sangat sederhana; cari saja sisi baik dan benarnya. Jika kedua sisi itu telah ditemukan, maka imajinasi kita akan terbuka dan berkembang dengan sendirinya. Karena itu untuk menjawab pertanyaan anda, saya akan menulis artikel.

      Terima kasih.
      Wassalam
      Cakra Ningrat.

      • Terimakasih Bapa atas uraiannya, dalam tulisan bapa sy menangkap bahwa SABAR mesti diraih dengan upaya yang benar, dilatih dan diuji coba sampai benar-benar mahir/piawai menangkis segala macam virus yang akan mengganggu system kerja pusat di otak. Hingga akhirnya selalu tersenyum bahagia.
        Bapa Cakra Ningrat mengatakan akan menulis Artikel menjawab Pertanyaan yang terkesan datar-datar saja, akan tetapi sungguh sangat sulit menjawabnya. Terimakasih atas kesediaan bapa meluangkan waktunya untuk memberi pencerahan.

  19. Salam. Yth semua manusia dan mahluk yg diperkenan oleh-Nya untuk membaca posting ini. Mari renungkan.
    1. Adakah yg bisa memberitahukan bahwa sebelum ruh Adam atau Manus diciptakan, ia disebut dengan nama, sebutan, definisi, istilah apa? Buat hamba sebagai orang yang tidak berilmu seperti halnya ki sanak di sini, hamba tidak mampu mendefinisikannya, karena itu hamba katakan itu dengan ‘mati’, tepatnya mati yang pertama.
    2. Kemudian Bani Adam atau Manus Hya ditiup ruh lalu dilahirkan ke dunia. Itulah kehidupan yang ke-1. Lalu ia diwafatkan kembali menjadi kematian yang ke-2, lalu dihidupkan kembali pada hari pembalasan sebagai kehidupan yang ke-2. Maka dengan logika hamba yang sederhana, berarti ada dua kematian dan ada dua kehidupan.
    3. Adam as, atau ada yg menyebutnya dengan ‘manus’, berarti reinkarnasi dari siapa?
    Terimakasih atas perkenan admin yang sudi menayangkan posting hamba yang hina ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s