HAKIKAT TUHAN DAN EKSISTENSINYA (1)

Oleh: Cakra Ningrat

Manusia yang beriman meyakini bahwa Tuhan bersifat Esa, Tunggal dan hanya Satu. Tentu saja keyakinan itu benar dan tidak perlu lagi diperdebatkan. Keadaan menjadi berbalik ketika dipertanyakan Tuhan yang mana? Suasana yang tenang akan menjadi gaduh karena masing-masing orang akan berargumen untuk membela Tuhannya berdasarkan ajaran-ajaran agamanya. Tuhan kok dibela mati-matian. Sejatinya, Tuhan tidak pernah membutuhkan pembelaan anda. Anda tidak lebih dari sebiji pasir di tengah alam jagat raya yang maha luas ini. Anda diibaratkan seperti seorang anak yang baru lahir kemarin sore bila dibandingkan dengan usia bumi yang telah dihuni oleh manusia sejak berjuta-juta tahun yang lampau.

Keyakinan manusia terhadap Ke-Esa-an Tuhan adalah keyakinan utama yang didasari oleh asumsi-asumsi dan prasangka-prasangka subjektif kolektivitas keberagaman agama. Asumsi dan prasangka ini telah terbangun sejak zaman dahulu kala oleh generasi pendahulu kita (nenek moyang). Ketika doktrin dan dogma dipaksakan untuk diterima sebagai sebuah kebenaran, maka hasil akhirnya adalah ketidakbenaran.

Semua agama tentu bertujuan “baik” dan semua agama mengajarkan yang “benar.” Namun bila ingin mencapai “kebenaran mutlak,” maka kita harus melampaui batasan-batasan agama. Kita harus bisa membebaskan diri dari belenggu doktrin dan dogma yang menakutkan, yang membenarkan diri sendiri dan menyalahkan agama orang lain, yang boleh jadi hanya hasil rekayasa manusia pendahulu kita berdasarkan asumsi-asumsi dan prasangka-prasangka yang dilatarbelakangi oleh rasa ketakutan dan ketidaktahuan mereka. Tidak ada parameter yang pasti yang dapat memberi kepastian bahwa pendahulu kita sudah “benar” dalam memahami kebenaran.

Sebaiknya kita jangan latah dan ikut-ikutan pada mereka, sebab segala risiko dan akibat akan kita tanggung sendiri. Tidak ada Dewa penyelamat atau juru selamat yang menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri. Segalanya berpulang kepada diri kita masing-masing, apakah tetap ingin berpegang teguh pada doktrin dan dogma agama yang belum tentu mutlak kebenarannya ataukah mencapai kebenaran mutlak atas usaha diri sendiri setelah melampaui batasan agama-agama yang kita anut.

Artikel ini murni pemikiran Cakra Ningrat. Ditulis sebagai pengantar berpikir. Dipersembahkan khusus buat peminat dan peneliti kebenaran. Artikel ini akan mengantar anda ke pintu logika pembenaran. Selanjutnya terserah anda, sebab sejatinya; kebenaran senantiasa mencari ruang dan waktu yang tepat untuk muncul dan diterima oleh para pencari kebenaran yang bijaksana.

TAK BERNAMA

Pada hakikatnya Tuhan kita tak memiliki nama. Tuhan Tak Bernama. Semua yang diciptakan Tuhan selalu diberi nama. Segala sesuatu yang ada di hadapan Tuhan adalah ciptaan-Nya. Semua ciptaan-Nya diberi nama oleh Sang Pencipta. Yang membedakan antara Pencipta dan Ciptaan-Nya adalah “nama.” Sang Pencipta Tak Bernama sementara seluruh ciptaan-Nya, Ia beri nama.

Diilustrasikan; seorang musisi menulis syair lagu dan mengaransemen musiknya. Sang musisi mencantumkan nama pribadinya selaku pencipta lagu. Pencantuman “nama” pencipta lagu menandakan bahwa pencipta lagu tersebut juga adalah ciptaan-Nya sebab ia memiliki nama. Prinsipnya; semua yang bernama adalah hamba, ciptaan-Nya. Hanya satu yang Tak Bernama, yaitu Tuhan. Dialah Sang Pencipta. Penyebab utama dari semua penciptaan.

Tidak ada sesuatu apa pun yang berada di alam semesta ini yang tak memiliki nama. Semua pasti memiliki nama, baik manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Seluruh benda; padat, cair, gas bersama seluruh unsur turunannya pasti memiliki nama.

Hal yang dilakukan oleh para ilmuwan atas setiap penemuan-penemuan baru adalah pemberian nama. Demikian halnya terhadap para pencipta lagu, pencipta puisi, penulis, pelukis, peneliti, dan sebagainya, selalu menomorsatukan pemberian nama atas semua cipta, karsa, dan karya mereka.

Pemberian nama atas sesuatu objek selalu berasal atau bersumber dari pemiliknya. “Pemilik” dapat berarti ia sebagai pencipta, penemu, atau penyebab. Oleh karena Tuhan sebagai pencipta utama, penyebab utama, dan pemilik utama tentu sangat logis dan masuk akal jika Ia Tak Bernama. Ia penyebab utama yang menciptakan dan sekaligus pemilik hukum sebab akibat. Karena Ia sebab utama akibatnya, Yang Esa itu Tak Bernama.

Sebab Yang Esa Tak Bernama akibatnya Ia menggunakan banyak nama agar manusia mengenal Ia sebagai Yang Esa. Masing-masing agama mengenal Ia dengan nama-nama tertentu. Semua nama suci yang dikenal oleh manusia adalah benar nama-Nya. Yang salah adalah manusia karena mempertentangkan nama-nama di mana mereka tidak memahami hakikat penggunaan nama tersebut. Ibarat orang buta menilai gajah atau orang buta sejak kelahirannya kemudian menjelaskan perbedaan cahaya bulan dan matahari.

EKSISTENSI TUHAN

TIDAK DIKETAHUI BAGAIMANA AWAL MUSABAB-Nya. Dia ada dengan sendiri-Nya. Ia menyatu di dalam satu kesatuan dengan bayangan diri-Nya dan kecerdasan-Nya. Sesungguh-Nya Ia Tak Bernama. Namun Ia menamakan bayangan diri-Nya dengan nama Allah, dan Ia menamakan kecerdasan-Nya dengan nama BRAHMAN.

Ia bersembunyi di dalam bayangan diri-Nya sendiri. Allah adalah zat yang meliputi, yang melingkupi, dan menyelubungi Ia sehingga Ia tidak dapat dicapai dan diketahui oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya. Karena itulah Ia gaib (tersembunyi, tidak nyata) bagi manusia. Namun Ia dapat diketahui oleh manusia karena Brahman-Nya (kecerdasan-Nya) di dalam Mencipta. Seluruh ciptaan-Nya nyata (dapat dilihat oleh mata) sehingga eksistensi keberadaan-Nya nyata meski hakikat diri-Nya gaib.

Berfirmanlah Allah: Kejadian 1:26-27

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Menurut KBBI “Kita” adalah pronomina persona pertama jamak, yang berbicara dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Pertanyaannya; apakah makna sesungguhnya “Baiklah, Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” sebagaimana firman tersebut di atas?

Secara harfiah “gambar” bermakna tiruan dan “rupa” artinya keadaan yang tampak luar (pada lahirnya). “Manusia menurut gambar dan rupa Kita” dapat ditafsirkan bahwa; secara nyata, yang tampak dari luar manusia adalah tiruan Kita. Siapakah yang dimaksud Kita? Kita adalah Tuhan Yang Tak Bernama bersama Bayangan-Nya yang dinamakan Allah. Apakah mereka tunggal atau jamak? Secara harfiah mereka jamak (lebih dari satu) namun secara hakikat sesungguhnya Tunggal, Esa, dan hanya satu. Contohnya; sebagai manusia nyata yang tampak dari luarnya, anda merupakan tiruan-Nya. Wujud badan anda hanya satu, akan tetapi ke mana pun anda bayangan anda selalu meniru anda. Anda bisa saja menggunakan kata “kita” ketika anda berbicara dengan bayangan anda, namun bukan berarti ada wujud lain atau oknum lain selain diri anda sendiri. Anda dan bayangan anda satu.

Perbedaan prinsip antara Tuhan dengan manusia sebagai tiruan-Nya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ia berwujud tapi Tak Bernama. Ia Hidup Kekal tapi Tak Bernafas (Yoga). Ia memiliki Kecerdasan. Kecerdasan-Nya dinamakan Brahman. Ilmu-Nya meliputi langit dan bumi. Ia menamakan ilmu-Nya dengan nama Kursyi. Ia memiliki bayangan Diri. Bayangan Diri-Nya Memiliki Roh Hidup Yang Kekal. Ia menamakan Bayangan Diri-Nya dengan nama Allah. Allah adalah zat. Allah adalah cahaya yang berlapis-lapis cahaya yang berpendar-pendar yang percikan-percikan kecilnya ada di semua ruang dan waktu. Cahaya Allah tak dapat dicapai oleh penglihatan mata.

Allah adalah:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS 24:35.

 

Bismillahirrahmanirrahim artinya Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dalam kalimat suci itu di manakah Tuhan bersembunyi? Dia Yang Esa dan Tak Bernama bersembunyi di dalam kata “Dengan.”

Prinsip monoteistik di dalam islam disebut tauhid. Kalimat tauhid berbunyi “laa ilaha illallah” artinya “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Di dalam kalimat itu, di manakah Tuhan bersembunyi? Dia Yang Esa Yang Tak Bernama “bersembunyi” di dalam kata “Allah.”

Wahyu pertama yang turun kepada nabi Muhammad adalah: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” QS 96:1-5.

Wahyu pertama berisi “perintah” untuk membaca dengan (menyebut) nama Tuhan. Secara spesifik dan tegas wahyu pertama tidak menyebut Allah sebagai nama Tuhan. Manusia menyebut nama Tuhan dalam banyak nama namun hakikatnya Tuhan Tak Memiliki nama. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Segumpal darah (alaqah) yang dimaksud dalam wahyu pertama adalah “otak” manusia. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf di dalamnya dipercaya dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi perkembangan psikologi kognitif otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” Dia mengklaim Diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia adalah Tuhan Yang Maha Pencipta. Dia dapat Mencipta karena Dia memiliki kecerdasan. Dia menamakan Kecerdasan-Nya itu Brahman. Karena Kemurahan-Nyalah sehingga Dia memercikkan Brahman-Nya kepada manusia. Percikan terkecil Brahman yang ada pada manusia Dia menamakan Atman.

Atman adalah percikan-percikan terkecil Brahman (Tuhan) yang berada di setiap makhluk hidup. Sifatnya sangat gaib (Parama Suksma), tidak pernah mengalami kelahiran dan kematian. Atman berfungsi sebagai sumber hidup citta (alam pikiran) dan suksma sarira (badan halus) dari segala makhluk. Menurut Bhagavad-Gita, sifat-sifat Atman adalah: tak terluka oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, kekal abadi, di mana-mana ada, tak berpindah-pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna, tak laki-laki maupun perempuan.

Sebab Kemurahan-Nyalah yang menyebabkan Atman pada manusia berbeda dengan Atman pada makhluk yang lain. Tuhan konsisten dengan rencana-Nya yang menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya agar manusia dapat “meniru.” Dia dalam mencipta. Dengan berkembangnya kecerdasan manusia di dalam sains, teknologi, dan ilmu pengetahuan, kita sependapat bahwa manusia telah dapat menciptakan apa saja termasuk bayi tabung, akan tetapi manusia tidak dapat menciptakan “hidup.” Hidup adalah sesuatu yang berhubungan langsung dengan Atman. Ketika Atman “ada” maka saat itu pula roh Allah akan hadir menyelubunginya atau meliputinya.

Menurut hipotesis penulis, Atman dalam alquran disebut Asma (bahasa Arab: Al-Asma). Asma secara harfiah artinya NAMA. Manusia dapat saling mengenal antara satu dengan lainnya karena adanya nama. Nama berkaitan langsung dengan identitas diri pribadi seseorang. Peribahasa melayu menyebutkan; gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Faktanya memang seperti itu bahwa manusia lahir, hidup lalu mati dan pada akhirnya hanya meninggalkan nama. Sebabnya? Karena pemberian yang pertama dari Tuhan kepada manusia adalah pemberian nama. Dia memberi nama Adam kepada manusia ciptaan-Nya. Pemberian yang kedua dari Tuhan kepada Adam adalah “pengajaran dengan perantaraan kalam. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”  QS. 2:31.

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.” Kalam (bahasa Arab) secara harfiah artinya “kata.” Dia Yang mengajarkan kepada Adam (manusia) nama-nama benda seluruhnya. Nama-nama adalah kata-kata. Kalam. Pengajaran yang diberikan kepada manusia diserap sebagai pengetahuan untuk selanjutnya dikembangkan terus hingga manusia dapat mencapai peradaban tertingginya seperti saat sekarang ini.

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Setiap manusia terlahir di bumi ini, hal pertama yang dilakukan orang tuanya adalah memberi nama kepada anaknya. Yang kedua mengajari anak tentang nama-nama benda. Itu berarti manusia telah meniru apa yang telah dilakukan Tuhan terhadap Adam. Manusia mengembangkan pengetahuannya dalam proses belajar-mengajar dengan perantaraan kalam (kata-kata).

Sebagaimana dalam frasa “Dengan Nama Allah” telah disebutkan bahwa Tuhan Yang Tak Bernama bersembunyi di dalam kata “Dengan,” Atman-Nya bersembunyi di dalam nama pribadi manusia dan roh Allah bersembunyi di dalam napas hidup manusia. Orang-orang ateis bisa saja mengingkari Tuhan, sebab Tuhan bersembunyi di dalam kata “dengan.” Menurut ilmu bahasa kata “dengan” disebut kata penghubung konjungsi subordinatif. Subjeknya yakni Tuhan Yang Tak Bernama senantiasa berada di luar diri manusia namun tidak ada satu pun manusia yang bisa lepas dari-Nya.

Teis atau ateiskah anda, sepanjang anda memiliki nama pribadi yakinlah kalau Atman-Nya bersembunyi di balik nama yang anda gunakan. Tentu saja Ruh Allah bersembunyi di dalam napas anda. Udara yang anda hirup senantiasa menyebut suku kata AL dan udara yang anda hembuskan selalu menyebut suku kata LAH. Napas yang kita hirup dan hembuskan biasa dikatakan napas masuk dan keluar. Sebutan ini kurang tepat sebab dapat dianggap pengingkaran terhadap keabadian ilahi dalam napas dan denyut nadi kehidupan kita.

Sesungguhnya napas yang dihirup dan dihembuskan senantiasa berputar-putar melingkar berlawanan dengan arah jarum jam. Gerakannya berputar ke kiri  sebab jantung berada di sebelah kiri rongga dada manusia. Gerak napas berputar melingkar ke arah kiri secara konstan tidak berubah-ubah sehingga membentuk huruf “O” yaitu “Om” sebuah aksara suci dan sakral dalam agama hindu. Atman-Nya berada tepat di tengah-tengah lingkaran Om. Atman dan Om merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagaimana ALLAH dan Asma-Nya

Dengarkanlah sloka dalam Bhagavad Gita berikut ini:

  • Dari penciptaan, wahai Arjuna, Aku adalah permulaan dan akhir serta juga pengetahuan, dari segala ilmu pengetahuan Aku adalah ilmu tentang sang Diri (Atman), dan dari mereka yang berdiskusi Aku adalah dialektika. (Bgv.10-32).

Note: Bhagavad Gita adalah kitab suci umat hindu. Ditulis oleh Resi Agung Viyasa (Abiyasa) dalam bentuk sloka. Kitab ini berisi dialog-dialog antara Dewa Krisna dan Arjuna. Dialog ini sebagai suatu penggambaran dialektika yaitu hal berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki atau mengungkap suatu masalah. Tentu saja dengan perantaraan kalam atau kata-kata. Dewa Krisna diyakini sebagai manifestasi kepribadian Brahman. Brahman adalah Kecerdasan dan Pengetahuan Tuhan Yang Tak Bernama. Karena itu Krisna menyebut diri-Nya “Aku adalah ilmu tentang sang Diri (Atman)” sebab Atman, adalah percikan terkecil Brahman.

  • Dari semua alfabet, Aku adalah huruf A dan dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk, Aku juga adalah waktu yang tiada hentinya dan Aku adalah pengembara yang menghadap segala penjuru terkecil (Bgv. 10-33).

Penjelasan: Huruf A yang dimaksud adalah Allah. Kata majemuk maksudnya Asma Allah atau Atman Om. Waktu yang tiada hentinya bermakna napas hidup. Pengembara yang menghadap segala penjuru maksudnya pada seluruh umat manusia dan makhluk hidup lainnya yang ada di seluruh penjuru di muka bumi ini.

  • Di antara ucapan suci, Aku adalah aksara tunggal Om, di antara persembahan Aku adalah persembahan meditasi hening (japa) (Bgv. 10-25).

Kembali pada gerakan napas yang berputar-putar ke kiri berlawanan arah jarum jam secara hakikat gerakan itu disebut tawaf. Jauh sebelum datangnya islam, kaum pagan sudah melaksanakan tawaf di Ka’bah yang berada di kota suci Mekah Arab Saudi. Dulunya kota Mekah dinamakan Bakkah.

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS 3:96).

Ka’bah (bahasa Arab) berasal dari akar kata Bait. Ka’bah sering disebut Ka’batullah atau Baitullah yang berarti Rumah Allah. Rumah Allah bukan berarti Rumah Tuhan, sebab Allah bukan Tuhan. Allah hanyalah bayangan dari Tuhan Yang Tak Bernama. Selain Ka’batullah, Rumah Allah lainnya adalah badan manusia yang hidup atau manusia yang masih bernapas.

Non muslim (nasrani) keliru jika menuduh umat islam memuja berhala. Juga sama kelirunya asumsi umat islam yang melakukan tawaf dengan berharap mendapat amal-pahala untuk kehidupan akhirat di surga. Ka’bah, bangunan batu yang berbentuk kubus yang diselimuti kiswah hitam bukan berhala pemujaan. Ka’bah adalah simbol Atman (Asma) yang ada di dalam diri manusia. Manusia tawaf dengan berjalan kaki berputar ke kiri berlawanan dengan arah jarum jam dengan memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali. Gerakan tawaf membentuk Aksara Tunggal Nan Suci Om, yang juga merupakan akar napas masuk dan keluar yang disebut Allah. Allah tawaf kepada Asma-Nya (nama-Nya) dan Om tawaf kepada Atman-Nya. Manusia hanya memperagakannya tapi tak mengetahui hakikatnya.

Ka’bah; bangunan yang berbentuk kubus memiliki empat sudut atau pojok yang disebut rukun yaitu rukun Aswad, rukun Iraqi, rukun Yamani dan rukun Syami. Pada dinding rukun Aswad terdapat Hajaratul Aswad (batu hitam), Multazam dan pintu Ka’bah. Di dalam diri manusia hakikat pintu Ka’bah adalah hidung yang merupakan pintu masuk dan keluarnya napas manusia.

Multazam dikenal sebagai tempat yang paling mustajab untuk memanjatkan doa. Doa adalah permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Doa merupakan perbuatan baik yang bersumber dari dalam hati. Firman-Nya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. 2:186)

Tawaf sebanyak tujuh kali dimulai dari dekat Hajar Aswad dari arah rukun Yamani dengan mengangkat telapak tangan di depan Hajar Aswad. Disunahkan (jika memungkinkan) singgah mengusap dan mencium Hajar Aswad. Secara hakikat Hajar Aswad (batu hitam) di dalam diri manusia adalah Faring, yaitu percabangan dua saluran yakni tenggorokan (saluran pernapasan) dan kerongkongan (saluran pencernaan). Faring berfungsi untuk mengatur makanan/minuman supaya tidak masuk ke tenggorokan. Faring terletak di leher manusia. Firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,” (QS. 50:16).

Berdasarkan informasi Alquran maka jelaslah bagi kita bahwa posisi Atman-Nya (Asma-Nya) lebih dekat dari urat leher manusia yaitu otak. Otak merupakan sumber kesadaran dan kecerdasan maka pahamilah hakikat Tuhan dan eksistensi-Nya melalui logika anda. Bila logika anda telah mencapai kebenaran, maka kebenaran itu akan menerangi hati anda guna memperteguh serta menguatkan keyakinan anda terhadap hakikat Tuhan Yang Esa, Dia Yang Tak Bernama.

Bila muslim masih bersikap skeptis terhadap hakikat Ka’bah dan tawaf sebagaimana uraian di atas itu berarti muslim masih terbelenggu oleh doktrin dan dogma agamanya. Muslim tersebut belum mampu melampaui batasan agamanya. Jika begitu untuk tujuan apakah muslim berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali bolak-balik antara bukit Shofa dan bukit Marwah? Muslim bisa melakukannya meski tanpa berwudu dan bagi perempuan bisa melakukannya meski dalam keadaan kotor karena haid dan nifas.

Bukit Shofa dan Marwah hanya berupa gundukan kecil yang berada di dalam kompleks Masjidil Haram di dekat Ka’bah. Bukit Shofa berjarak setengah mil dari Ka’bah atau 804,5 meter dan bukit Marwah 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah 3.150 meter atau 3,15 Km. ritual Sa’i dalam ibadah haji dan umrah menurut agama islam untuk mengenang peristiwa pencarian air oleh Siti Hajar untuk putranya Ismail. Hajar berjalan, berlari-lari kecil atau berjalan cepat dari bukit Shofa ke bukit Marwah bolak-balik sebanyak tujuh kali untuk mencari air minum. Pada hitungan ke tujuh secara ajaib air pun menyembur keluar dari permukaan tanah. Air itu bersumber dari mata air yang dinamakan zamzam. Hingga saat ini air zamzam masih terus mengalir dan menjadi sumber air minum bagi penduduk kota Mekkah.

Semua muslim tentu saja mengetahui peristiwa ini atau kisah Siti Hajar bersama putranya Nabi Ismail dan air zamzam, sebab sudah diajarkan oleh ustadz dan guru agama islam saat muslim masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kisah-kisah seperti ini terutama dalam Kurikulum Pendidikan Agama islam untuk Sekolah Dasar dan diajarkan hingga ke seluruh pelosok tanah air Indonesia. Karena itu muslim jangan menegur dan mengoreksi saya sebab saya juga mengetahui hikmah dari kisah dan pengajaran agama itu. Apa yang muslim ketahui pasti saya juga mengetahuinya, akan tetapi apa yang saya ketahui saya pastikan tidak ada (belum) muslim ketahui.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2:158).

Dalam sudut pandang hakikat, sesungguhnya sa’I berkaitan langsung dengan ilmu Tuhan yang berhubungan dengan penciptaan. Bolak-balik (putar balik) antara bukit Shafa dan Marwah pada hakikatnya untuk membentuk angka 1 yang tegak berdiri. Berlari-lari kecil menandakan adanya energy terpusat yang mendorong sehingga air menyembur keluar. Tujuh kali bolak-balik adalah rumus Tuhan tentang penciptaan.

Hakikat sa’i pada diri manusia adalah proses penciptaan (anak) manusia. Bukit Shafa dan Bukit Marwah dianalogikan sebagai Dua Bukit yaitu Buah Dada wanita. Berjalan cepat dan berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali dianalogikan sebagai nafsu syahwat yang memiliki sifat ingin cepat-cepat, tergesa-gesa, dan terburu-buru, sehingga akhir dari kesudahannya adalah keluarnya air mani.

Kehadiran Ismail yang masih bayi dalam peristiwa Siti Hajar di bukit Shafa dan Marwah secara hakikat untuk mempertegas bahwa ritual Sa’i adalah sebuah ritual yang menggambarkan proses penciptaan manusia. Air zamzam di dalam diri manusia secara hakikat adalah air mani. Bukit Shafa dan Marwah (buah dada wanita) hakikat yang terkandung di dalamnya sesungguhnya adalah air susu. Air mani disebut berulang-ulang dalam Alquran. Air mani sumber penciptaan manusia dan air susu sebagai sumber kekuatan (energi) pertama manusia saat lahir di dunia ini hingga ia dapat tumbuh menjadi besar dan kuat.

Diorama abstrak bukit Shafa dan Marwah sebagai manifestasi dari buah dada wanita yang merupakan sumber keluarnya air susu ibu untuk bayinya dan air zamzam sebagai manifestasi dari air mani yang dipancarkan oleh laki-laki memberi pelajaran bagi manusia bahwasanya Tuhan Suci dari segala macam nafsu, termasuk nafsu tertinggi dan alami manusia, syahwat. Di dalam Alquran dan Alkitab, Tuhan melarang Adam dan Hawa untuk mendekati pohon kayu yang terkutuk itu yang bermakna sebagai alat kelamin laki-laki disebabkan karena adanya rangsangan dari wanita. Kata “mendekati” dapat diartikan sebagai “rangsangan seksual” oleh karena Adam dan Hawa memakan “buah” pohon kayu itu yang diartikan sebagai melakukan hubungan kelamin, menyebabkan mereka terusir dari surga. Pengusiran dari surga memberi indikasi “ketidakhadiran” Tuhan dalam setiap hubungan seksual yang dilakukan oleh manusia. Hubungan seksual adalah murni keinginan manusia untuk melakukannya. Alkitab menyebut pohon kayu itu sebagai pohon pengetahuan yang baik apabila dilakukan oleh sepasang laki-laki dan perempuan yang terikat oleh perkawinan yang sah guna mendapatkan keturunan yang kelak akan mewarisinya. Sebaliknya, hubungan seksual dipandang sebagai pengetahuan yang jahat bila dilakukan dengan tujuan melampiaskan hasrat birahi secara bebas dan tak bertanggung jawab. Hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, tidak peduli dilakukan antara orang lain atau antar sedarah semenda selalu saja menimbulkan risiko hadirnya manusia baru di muka bumi ini. Disebut sebagai pengetahuan yang jahat sebab kenikmatan sesaat yang sirna dalam sekejap namun mengandung risiko yang berkepanjangan yang bisa saja menurunkan gen-gen yang jahat secara berkesinambungan dan turun temurun.

Dalam artikel terdahulu saya, yang saya beri tajuk Legal Opinion, saya mengemukakan teori hukum God Compilation of Law. Dasar pemikiran teori ini bahwa; Hukum Tuhan dikompilasi ke hukum alam dan hukum alam dikompilasi oleh manusia ke dalam hukum positif dan hukum ajaran agama. Semua hukum yang ada dalam ajaran agama adalah hukum Tuhan yang dikompilasi melalui hukum alam. Artikel ini (dan berikutnya) saya mengemukakan satu bentuk pemikiran baru dalam filsafat. Aliran baru ini saya namakan sebagai “Filsafat Penggenapan.” Filsafat penggenapan ini didasari oleh satu pemikiran bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan selalu digenapkan untuk mencapai keseimbangan. Keseimbangan dapat tercipta apabila memiliki daya tarik-menarik demi untuk menjaga keseimbangan tersebut. Kekuatan utama yang menjaga, menopang dan menyanggah keseimbangan itu selalu berada di tengah mengantarai kedua unsur yang digenapkan. Dia memelihara dan melindungi ciptaan-Nya itu, semua ciptaan-Nya memiliki nama. Dengan demikian Ia Tak Dapat Disamai, Tak Dapat Diserupai, Tak Dapat Dicapai dan Tak Terjangkau oleh pemikiran manusia.

Islam memegang teguh prinsip tauhid (pengesaan Tuhan) dalam kalimat Laa Ilaha Illallah yang artinya Tidak ada Tuhan selain Allah. Kalimat ini ambigu. Makna yang pertama dapat berarti “tidak ada Tuhan (lain) selain Allah.” Makna yang kedua memiliki arti “tidak ada Tuhan selain (dalam) Allah.” Secara hakikat makna yang kedua memiliki arti yang benar, sebab Allah adalah bayangan Tuhan. Allah menyelubungi Tuhan dan Tuhan berada di dalam Allah. Pandangan ini didasari oleh pernyataan Allah di dalam Alquran QS 3:318, sebagai berikut:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam ilmu bahasa dikenal istilah kata ganti atau disebut dengan pronominal merupakan kata yang digunakan untuk menggantikan orang atau benda. Kata ganti orang pertama tunggal: aku, saya, daku, ku. Kata ganti orang kedua tunggal: kamu, anda, engkau, kau, dikau, mu. Kata ganti orang ketiga tunggal: dia, beliau, ia, nya. Ayat di atas menyebut: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.” Jelas bagi kita bahwa “Dia” yang dimaksud adalah pronomina ketiga tunggal yaitu Tuhan Yang Tak Bernama. Kelanjutan ayat tersebut “Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kebenaran pernyataan Allah di atas bersifat mutlak oleh karena didukung oleh saksi-saksi yaitu: Para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Orang-orang berilmu yang dimaksud dalam ayat ini adalah Cakra Ningrat dan anda yang membaca artikel ini. Siapa pun anda, tidak peduli agama anda, bila anda memahami hakikat Tuhan dan eksistensi-Nya bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Tak Memiliki Nama, maka anda masuk dalam kategori orang yang berilmu. Ilmu anda telah melampaui batasan doktrin dan dogma agama anda.

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS 2:163).

Tritunggal yang dalam bahasa latin disebut Trinitas adalah doktrin Iman dalam agama kristen yang mengakui Satu Allah Yang Esa, namun hadir dalam tiga pribadi Allah; Bapa, Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya memiliki esensi yang sama, kedudukan yang sama, kuasa yang sama dan sama kemuliaannya. Sejak awal abad ketiga, doktrin Tritunggal telah dinyatakan sebagai “satu kebenaran Allah di dalam tiga pribadi dan satu substansi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Doktrin ini menjadi pegangan bagi semua aliran kekristenan baik katolik, protestan, maupun ortodoks.

Semua umat kristen tahu bahwa doktrin Tritunggal Allah bukan ajaran Yesus Kristus. Kristin juga tahu tidak ada satu pun ayat dalam perjanjian lama dan perjanjian baru, baik secara eksplisit maupun implisit yang menyebut Allah dalam Tiga Kepribadian yang berbeda namun menjadi satu di dalam diri Yesus Kristus.

Perjanjian lama adalah Kitab yang merekam semua perbuatan-perbuatan Allah ditulis secara kanonik oleh berbagai macam penulis yang berbeda, di zaman yang berbeda, sejarah yang berbeda, status sosial di masyarakat yang berbeda dan kedudukan mereka yang berbeda-beda di hadapan Allah. Jika doktrin Tritunggal Allah tidak tertulis di dalam injil Matius, injil Markus, injil Lukas, dan injil Yohanes maka sudah dapat dipastikan doktrin Tritunggal Allah tidak terdapat di dalam Alquran. Injil dan Alquran tidak mungkin “bertentangan,” sebab berasal dari Tuhan yang sama, yaitu Tuhan Yang Tak Memiliki Nama, tetapi ulah manusia selalu saja mempertentangkan kedua kitab itu. Pertentangan ini disebabkan karena ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan kebodohan spiritual yang didasari oleh perasaan dengki. Kedengkian telah membutakan hati nurani manusia dan menutup pintu logika akal sehat mereka. (Berlanjut ke bagian 2 dengan judul yang sama).

Iklan

20 thoughts on “HAKIKAT TUHAN DAN EKSISTENSINYA (1)

  1. Yth. Pati, Ruhtanpanama, Muhammad Sobirin, Wordwidewrite, Kabayan, ANDwhyAsk, M. Nurhadi, Admin dan warga setia blog SPTM.

    Assalamu Alaikum WR. WB

    Pak Pati yang “sadar,” saya yakin dan optimis anda akan jadi orang yang “tercerahkan.” Terima kasih pada Ruhtanpanama, penghayatan anda cukup mendalam. Saya pun sependapat dengan Pak Muhammad Sobirin, kecuali pada point terakhir, sebab saya pastikan tidak ada pemimpin agama, alim ulama, dan pendeta yang dapat berkomunikasi, apalagi mengetahui keberadaan Satrio Piningit.

    Pak Wordwidewrite mengutip QS 5:45. Itu hukum Taurat yang diperuntukkan khusus untuk orang Israil. Kalau mau mengetahui hukum Taurat yang lengkap saya sarankan membaca Kitab Keluaran dan Imamat. Kitab itu ditulis oleh Nabi Musa As. Hukum Taurat berkaitan dengan QS 5:45 telah diperhalus oleh Nabi Isa As. Lihat injil Matius 5:39-41. Firman Allah pada QS 5:45 hanya untuk membuktikan bahwa Alquran membenarkan Taurat tapi tidak untuk dilaksanakan oleh umat islam. Sebaiknya anda lebih jeli, lebih hati-hati, dan lebih cerdas lagi dalam mempelajari Alquran.

    Umat islam yang hidup dalam negara kesatuan Republik Indonesia harus tunduk pada hukum positif yang berlaku di negara ini. Umat islam tidak boleh kaku menafsirkan ayat-ayat Alquran secara harfiah semata, tetapi harus memahaminya secara hakikat. Dengan dicantumkannya pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam dasar negara Pancasila dan empat sila berikutnya yang tidak bertentangan dengan Alquran, maka secara hakikat negara ini sudah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Alquran. Umat islam tidak usah bermimpi ingin mendirikan daulah islamiyah karena keinginan itu tidak diridhai Allah. Janganlah berfikir yang aneh-aneh pak, apalagi berpikir sempit dan picik!

    Saudara Kabayan, anda keliru jika berasumsi Satrio Piningit adalah sosok pewahyuan keyakinan dan kepercayaan Nusantara. Sungguh sangat keliru anda. kita semua mengetahui Satrio Piningit karena adanya Jangka Jayabaya. Kita semua mengetahui bahwa Jayabaya adalah raja Kediri yang beragama hindu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pewahyuan Satrio Piningit adalah pewahyuan hindu dan bukan pewahyuan kepercayaan nusantara atau aliran kepercayaan sebagaimana asumsi anda.

    Kita semua mengetahui dalam agama hindu tidak dikenal adanya figur atau tokoh sentral setaraf nabi di dalam agama samawi, atau Sidharta Gautama dalam agama buddha, Zarathustra dalam agama majusi (Zoroaster), Lao Tse dalam agama Tao, Kong Fu Tse dalam agama Konghucu. Oleh karena agama islam, kristen dan buddha “menjanjikan” kedatangan satu sosok utama dan di dalam hindu juga diyakini akan muncul reinkarnasi X Wisnu, yaitu Kalki Awatara, maka kuat dugaan apa yang dikatakan oleh Jayabaya adalah satu sosok yang ditunggu oleh tiga agama yang berbeda.

    Jujur saya katakan bahwa saya meyakini kebenaran kitab suci weda. Saya meyakini kebenaran ajaran hindu, meskipun ajaran hindu didasari oleh mitos-mitos dan cerita kuno, tapi saya meyakini kebenarannya, sebab saya menemukan relevansinya dengan Alquran sebagai kitab suci saya. Saya juga meyakini kebenaran ajaran kepercayaan nusantara, baik yang ada di Jawa, Sunda, Sulawesi Selatan, Batak, Sumatra, dll. Kenapa? Karena saya paham dengan rahasia kekuatan alam yang bertumpu pada gunung.

    Periodisasi wahyu Tuhan pada agama terbagi tiga yaitu: periodisasi Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Alquran. Pada periodisasi PL, Tuhan menyampaikan wahyu-Nya tanpa perantara. Pada periodisasi PB dengan perantaraan Roh Kudus-Nya. Dan pada periodisasi terakhir, Tuhan menyampaikan wahyu-Nya dengan perantaraan malaikat Jibril As kepada Nabi Muhammad.

    Bagaimana dengan agama hindu dan kepercayaan Nusantara (agama lokal tradisional)? Bagaimana cara Tuhan menyampaikan wahyu kepada agama itu? Wahyu Tuhan disampaikan dengan perantaraan alam. Oleh karena intelektualitas leluhur kita masih sangat terbatas dan budaya baca tulis belum berkembang di masa itu, maka indra-indra leluhur hanya bisa menangkap wahyu Tuhan bila disampaikan dalam bentuk cerita-cerita. Belakangan cerita-cerita dikembangkan dalam bentuk ilustrasi-ilustrasi, gambar-gambar dan patung-patung.

    Cakra Ningrat dengan tegas menolak semua agama yang muncul di muka bumi ini setelah periodisasi Alquran, tapi saya menerima kebenaran kepercayaan nusantara, meskipun setelah periodisasi Alquran pada batas-batas tertentu. Batasannya: islam masuk ke Nusantara sekitar abad 15 M, saya menerima semua keyakinan nusantara sebagai sebuah kebenaran bila keyakinan itu sudah berkembang sebelum abad 15 M.

    Tidak terlalu sulit bagi saya untuk menyimpulkan maksud dan tujuan cerita-cerita atau mitos-mitos yang ada dalam keyakinan kepercayaan nusantara. Contoh konkrit “sumpah” Ki Sabdo Palon yang akan mengembalikan agama islam ke agama asalnya Buddha. Jika anda menafsirkan sumpah itu secara harfiah, anda pasti tersesat dan bingung sendiri. Yang paling celaka jika anda saja sudah bingung tetapi ikut-ikutan membingungkan orang lain yang tak tahu apa-apa. Jangan-jangan andalah yang akan dimakan jin dan syetan.

    Kesimpulan atau inti dari “sumpah” Ki Sabdo Palon hanya satu yaitu; Buddha Maitreya akan muncul di Nusantara yang kita cintai ini! Buddha Maitreya TIDAK AKAN MUNCUL di negeri asal agama Buddha yakni India atau di negara-negara lain yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha, tetapi Buddha Maitreya akan muncul di Indonesia. Ki Sabdo Palon tidak mau agama Buddha punah di nusantara ini ketika Buddha Maitreya datang.

    Sumpah Ki Sabdo Palon sangat bertuah. Faktanya apa? Lihat umat hindu di Bali yang memiliki corak tersendiri yang berbeda dengan hindu di negara lain. Hindu Bali adalah sinkretisme hindu-buddha. Ini murni karena adanya pengaruh kuat dari Ki Sabdo Palon. Hindu Bali tidak meyakini munculnya Buddha Maitreya di nusantara ini, tapi yang mereka yakini adalah munculnya CIWA BUDDHA. Ciwa adalah Siwa yaitu dewa yang bersenjatakan trisula.

    Kabayan harus bijak, sebab setahu saya orang yang memegang teguh kepercayaan nusantara selalu bersikap rendah hati, Kabayan tidak perlu bertanya di mana Admin saat Gunung Merapi meletus, di mana Admin waktu tsunami Aceh, di mana Admin waktu gempa Jogja, Padang, Bengkulu, dan Tasikmalaya. Memangnya Kabayan di mana? Kalau Mbah Marijan yang bodoh itu kan sudah mati, karena enggan mengungsi saat merapi meletus. Tetapi Extra Joss masih tetap menayangkan Mbah Marijan sebab kontraknya belum habis.

    Sinambung sudah enam tahun, sejak September 2010 sampai sekarang erupsi terus. Letusannya menakutkan semua orang di Karo. Di mana kamu Kabayan?

    ANDwhYask sudah dan M. Nurhadi, kalian berdua menulis komentar yang cukup panjang namun sayang isinya kosong, bertele-tela lagi! Tidak jelas substansinya apa! Kalian berdua sokta. Catat itu! Jangan simpan di hati yah, nanti kamu tersinggung lalu marah padaku, tapi simpan di pikiran agar mendapat manfaat yang positif. Positifnya apa? Lebih banyak lagi berlogika.

    Saya setuju dengan gagasan Admin untuk membuat blog baru. Saya nyatakan kesediaan saya ikut Admin. Di blog baru anda, saya tidak lagi menggunakan nama samaran saya Cakra Ningrat tetapi saya akan menggunakan nama asli saya yang sesungguhnya. Saya juga siap untuk bertemu langsung, bertatap muka, berdialog, dan berdiskusi dengan Admin, dan siapa pun yang ingin sharing dengan saya.

    Semua artikel saya di SPTM jangan disimpan di blog baru anda, kecuali artikel “Hakikat Tuhan dan Eksistensinya.” Saya akan menulis artikel-artikel khusus untuk blog baru anda yang temanya sudah keluar dari tema Satrio Piningit. Sejujurnya saya juga sudah jenuh membicarakan atau membahas Satrio Piningit, sosok yang tidak pernah bisa kita ketahui, apa lagi untuk bersilaturahmi menemuinya.

    Wasalam.

    Cakra Ningrat.

  2. assalamualaikum. wr..wb..
    salam hormat buat pak cakra dan admin
    salam sejahtera dan tercerahkan buat kita semua 🙂

    Sebelumnya km mohon maaf kpda tim admin, dgn kerendahan hati kmi memohon dan bertanya,,
    1. seingat kami dahulu memang yg mulia guru yaman albughry berpesan kepada admin untuk menjaga kebersihan tulisan2 dalam blog ”SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL” ini, dan alhamdulillah menurut kami sebagai pengunjung setia yg bersaksi menyaksikan tim admin telah melaksanakan tugas ini dgn baik dan benar, buktinya tim admin ingin lebih, menyaring, membersihkan dan menyegarkan dengan membuat blok terbaru.,yaitu ” GENTA KEBENARAN ” untuk itu kami mohon dblok terbarunya ini, klo bisa selalu berada teratas saat diserching, agar mempermudah kmi kunjungi..
    2. pertanyaan kami apakah semua tulisan2 dalam blog ini sudah di bukukan dan beredar dikalangan masyarakat? jk sudah, apa nama bukuny dan dmna kmi bisa dapatkan mohon penjelasannya tim admin.. 🙂
    terimakasih..
    wassalam..

  3. Assalamu’alaikum WR.WB

    Terimakasih telah menanggapi komentarnya, namun maksud dari Hukum Taurat yg saya bahas, sesuai dengan apa yang ada dalam Al Qur’an.

    Mengenai Hukum dalam NKRI tentu Bapak CN lebih mengerti, Dasar Negara ini Yang paling utama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Sejarah meriwayatkan berdirinya Negara ini, jika dilihat sebelum kemerdekaan, untuk wilayah Tatar Sunda, Raja-Raja (Adipati/Tumenggung) semua berkiblat ke Timur (Mataram) semua tetap dalam kekuasaan penjajah, Sampai setelah Kemerdekaan beralihlah kepeminpinan ini dari kalangan militer yang banyak sejarah gelapnya, Apapun kejadiannya semua sudah berlalu, termasuk Pemberontakan DI TII , G 30SPKI. Pandangan Bapak CN dugaannya Hukum Islam ini berusaha ingin saya terapkan dalam Hukum Negara, bukan kesana Tujuannya, Tidak ada Khalifah Islam di Negara lagi bahkan didunia terputus sejak Khalifah Utsmani Turki dengan Sejarah Panjang Sejak Masih Ada Nama Yunani. Semua ingin punya Tatanan Dunia yang baru, ingin perdamaian ingin kesejahteraan, ingin kemakmuran, Namun yang terjadi pertikaian peperangan kemaksiatan, dan Peringatan Alam yang nyata manusia kebanyakan tetap mengabaikan, banyak manusia beranggapan bencana Alam ini hal biasa. Bukankah Tuhan yang menundukan (mengendalikan) Alam ini? Peringatan Terakhir adalah Kiamat. Apakah manusia bisa menghindarinya? Manusia yang dianggap modern hanya bisa membuat Film, menyombongkan diri pencegahan bencana, tapi begitulah manusia dengan upaya hidupnya beraneka ragam.

    Bahasa Hukam ada istilah Praduga entah itu sama dengan Dugaan, Bahasa Ilmiah juga ada Hipotesa, Bahasa Awam Asumsi, dan ternyata Satrio Piningit ini belum berhenti ceritanya, dalam kontek Dugaan yang berubah menjadi keyakinan tanpa ada pembuktian atau teruji. Bapak CN menggiring dengan Literatur yang beragam dari berbagai kitab, bila saya bisa memberi kesaksian dan pembuktian hanya beberapa orang yang sudah sulit lagi untuk ditemui dan entah masih hidup apa tidak, Keyakinan Saya Satrio Piningit ini memang sudah muncul, menampakan dirinya beliau adalah Malaikat yang turun kebumi dengan Wujud manusia, dalilnya perumpamaan Nabi Muhammad bersaksi bertemu dengan Malaikat Jibril sampai mendekat dari ufuk timur(mengiringi cahaya terbit matahari) sampai jarak dua busur di Pagi hari. Malaikat tercipta dari Cahaya dengan kekuasaan Allah diperintah Turun ke Bumi menjadi manusia apakah Satrio Piningit ini sulit untuk dipahami? Wangsit Siliwangi mengatakan “Keturunan-Keturunannya akan didatangi dan ditolong dalam kesusahan tapi hanya yang punya dasar (Alas Sembahyang) dan melakukan kebajikan, artinya sanggup menjalankan hidup dengan dasar Solat dan Setiap Aspek kehidupan dengan Sunnah/Hilmah yg ada dalam Kitab, Bukan sekedar solat lalu keluat Mesjid masuk kantor bisa disuap, atau kembali kepasar mengurangi timbangan, diwaktu luang sibuk Maksiat. Dalil lain mengatakan sstiap manusia ada pendampin (Malaikat) Ilmu yang dipahami hanya malaikat pencatat kebaikan dan keburukan.

    Tuhan Yang Maha Awal dari segalanya, Matahari Bumi Bulan dan Semesta alam diciptakan-Nya menjadikan waktu bagj manusia, apa bila Seluruh Alam ini dimusnahkan Dimanakah perhitungan waktu ??? Atau adakah waktu tercipta sebelum Adam Turun ke Bumi ??? Begitulah Sang Waktu Diciptakan, setelah Alam diciptakan dan Keabadian Tuhan Yang mengawali segalanya, dan sanggup mengakhiri Segalanya dengan Janji kembali kepada Keabadian dengan dua pilihan Surga dan Neraka.

    Apakah masih sulit pula untuk dipahami? Jika saya beri perumpamaan sebuah Roti bulat diciptakan, dengan berbagai macam bahan, lalu dibiarkan beberapa hari sampai menjadi basi sehingga tumbuh jamur lalu timbul belatung, jika sampai masanya tercium bau busuk roti itu pun akan hilang dari tempatnya, Bumi ini ibarat roti itupula, semua kehidupan dan bahannya dari semua unsur yang ada dibumi ini, Sedangkan Jiwa adalah Hal Ghaib, setiap diri mengenal hidup dari Jasadnya, namun ketika Tidur adakah yang bisa mengendalikannya? Hanya mimpi? Bukankah tidur itu separuh pertemuan Dengan Allah? Dia menggemgam Jiwa manusia. Apakah Sulit manusia memahami Sang Pencipta Alam dan Pencipta Jiwa, Apakah Jiwa Malaikat, Jin, dan Manusia sama? Yang Jelas Jasadnya yang berbeda.

    Saya menantikan kelanjutan tulisan Bapak CN ini akan kemana lagi arahnya. Andai saja dari Tulisan Komentar ini ada yang tidak berkenan, anggaplah sebuah Nasihat/Pesan kebaikan.

    Wassalam

  4. Kepada Yth. Sdr. Wordwidewrite dan M Nurhadi

    Assalamu Alaikum wr.wb

    Artikel Cakra Ningrat “Hakikat Tuhan dan Eksistensinya” (Bag 1) mendapat tanggapan dari Bp. Nurhadi dengan 1 tanggapan dan Bp. Wordwidewrite dengan 3 tanggapan. Seluruh tanggapan itu tidak akan ditampilkan oleh Admin.

    Admin sudah mengatakan sebelumnya bahwa artikel Cakra Ningrat hanya pada Bag. 1 yang ditampilkan di blog SPTM ini, untuk bagian selanjutnya akan dibuatkan di blog tersendiri (Genta Kebenaran). Ironisnya, wordwidewrite dan M Nurhadi sudah menanggapi artikel yang belum tuntas dibacanya, sebab bagian 2 dan selanjutnya belum diposting.

    Jadinya Wordwideweb dan Nurhadi menjadi bahan guyonan dan tertawaan tim Admin. Kenapa? Karena mereka menanggapi artikel yang belum tuntas dibacanya. Lucu kan? Dasar mereka itu penuh nafsu dan buta. Merasa benar sendiri dan menganggap semua orang salah. Tanggapan seperti itu tidak layak ditampilkan di blog ini. Tanggapan dari orang-orang yang ingin memaksakan ukuran bajunya dikenakan terhadap orang lain.

    Wasalam
    Admin

  5. Yang Terhormat Bapak Cakra, seperti biasanya Anda menyuguhkan sebuah kebenaran mutlak, tanpa mengesampingkan logika, dari semua tulisan tulisan bapak cakra, saya menarik suatu kesimpulan bahwa sesungguhnya Tuhan menanam di planet yang dinamakan bumi dan akan memanen jiwa jiwa yang bersih yang pada akhirnya jiwa jiwa tersebut akan ikut dalam rencana Tuhan untuk mengatur alam semesta, karena saya ngga meyakini, bahwa surga tempat pemberhentian terakhir manusia.
    Peran manusia tidak hanya berhenti di surga, itu hanya awal, Saya meyakini bahwa manusia punya peranan besar di alam semesta yang begitu luas, masih banyak planet planet yang kosong menanti kita untuk kita kelola bersama sama dengan Tuhan.

    • Yth. Bp. Yulisetiyanto

      Pertanyaan Bp sangat-sangat mendalam dan tentu saja tidak mudah bagi saya untuk menjawabnya. Secara prinsip anda benar bahwa Tuhan akan memanen jiwa-jiwa yang bersih, memilih manusia-manusia pilihan-Nya untuk didekatkan dengan diri-Nya. Kita tidak tahu “parameter” apa yang digunakan sebagai tolok ukur untuk menetapkan “jiwa-jiwa yang bersih.” Semua itu menjadi hak prerogatif Tuhan Yang Esa.

      Yang menjadi prinsip utama bagi kita adalah Tuhan Yang Maha Pencipta bersifat Esa, Tunggal atau Satu. Untuk membedakan Sang Pencipta dan yang diciptakan adalah semua yang Dia ciptakan selalu “digenapkan” atau berpasang-pasangan. Alam semesta termasuk seluruh planet dan bumi yang dihuni oleh manusia saat ini adalah ciptaan-Nya yang pertama. Seluruh ciptaan-Nya yang pertama akan Ia hancurkan sehancur-hancurnya hingga tak bersisa (kiamat atau pralaya) sebab Ia akan memulai dengan penciptaan-Nya yang kedua (penggenapan).

      Sebelum ciptaan-Nya yang pertama Ia hancurkan, maka Ia memilih-milih manusia yang memiliki jiwa yang bersih yang Ia persiapkan kelak akan menempati atau menghuni sebuah kawasan yang akan Ia ciptakan pada penciptaan-Nya yang kedua. Kitab-kitab suci menamakan kawasan itu dengan sebutan “surga.” Di mana dan bagaimana kehidupan di surga secara pribadi saya juga tidak tahu.

      Saya sering mendengar begitu banyak ulama, ustadz, kiyai, pendeta, dan pastor yang menerangkan bagaimana keadaan, keindahan, dan kesenangan hidup di surga dengan dikelilingi bidadari-bidadari cantik. Pertanyaannya dari mana mereka tahu semua itu? Apakah mereka sudah melihatnya? Ternyata mereka hanya membaca dari kitab-kitab suci kemudian mereka meraba-raba dengan imajinasi subjektif mereka yang picik, dangkal, dan sangat terbatas tentang “surga.” Saya pribadi tidak percaya dengan perkataan mereka.

      Sama halnya dengan Bp Yulisetiyanto yang mengatakan masih banyak planet-planet kosong yang menanti kita untuk kita kelola bersama-sama dengan Tuhan. Ini adalah asumsi anda pribadi yang tak berdasar. Tidak satu pun manusia yang dapat mengetahui apa yang direncanakan Tuhan pada penciptaan-Nya yang kedua, sebab tidak satu pun yang mengetahui penciptaan-Nya yang pertama. Apa yang kita lihat dan saksikan bersama saat ini hanyalah mata rantai proses yang amat sangat panjang dari awal adanya penciptaan Tuhan yang pertama. Semua yang kita lihat dan yang kita ketahui seluruhnya akan dihancurkan. Bagaimana kesudahan setelah kehancuran itu, jujur saya katakan tidak ada yang tahu. Bila ada yang merasa tahu, tanpa disadari orang itu telah menempatkan dirinya sebagai sekutu Tuhan. Hindarilah orang itu sebab dia telah menyampaikan kebohongan besar!

      Demikian tanggapan saya semoga anda tercerahkan

      Cakra Ningrat.

      • Memang benar sekali Bp Cakra, itu hanya asumsi saya pribadi, murni dari dalam diri saya,dan memang benar asumsi saya tidak bedasar tetapi bukan mengamini perkataan kyai ataupun ustad, karena memang dasarnya saya kurang begitu suka dengan cara cara yang disampaikan oleh para ustad khususnya di indonesia yang umumnya selalu mengkotak kotakan.
        Terima kasih atas pencerahan dari Bp Cakra dan semoga Bp Cakra tetap di blog ini dan menulis dan membagikan kepada semua agar mendapat pencerahan. AMIN

  6. BAGAIMANA MANUSIA BISA INGAT TANPA DIBERI PERINGATAN?

    TUDUHAN ORANG KAFIR TERHADAP NABI MENGENAI KEBANGKITAN DIANGGAP SIHIR
    M.NURHADI21 Sep 2016
    ​Allah SWT berfirman:
    وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗۤ اَحْمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

    “Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.””

    (QS. As-Saff: Ayat 6)

    APA YANG DIANGGAP SIHIR?

    AL-QUR’AN ATAU KEHADIRAN NABI ISA DENGAN NAMA MUHAMMAD?

    BUKTI NYATA APA JIKA SELAIN AL-QUR’AN DAN ADANYA NABI TERAKHIR DENGAN NAMA MUHAMMAD?

    KETETAPAN ADANYA KEBANGKITAN NABI TERAKHIR TERTULIS DALAM TAURAT, KITAB YANG WAHYU NYA LANGSUNG DIBERIKAN KEPADA NABI MUSA.

    Allah SWT berfirman:
    نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَسْتَمِعُوْنَ بِهٖۤ اِذْ يَسْتَمِعُوْنَ اِلَيْكَ وَاِذْ هُمْ نَجْوٰٓى اِذْ يَقُوْلُ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا

    “Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan engkau (Muhammad), dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.””

    (QS. Al-Isra’: Ayat 47)

    اُنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوْا لَكَ الْاَمْثَالَ فَضَلُّوْا فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَبِيْلًا

    “Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan untukmu (Muhammad); karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).”

    (QS. Al-Isra’: Ayat 48)

    LAKI-LAKI YANG DIANGGAP KENA SIHIR, APAKAH MAKSUDNYA SELAIN NABI YANG TELAH DIBANGKITKAN DENGAN CARA KELAHIRAN?

    APAKAH KARENA TELAH DIANGGAP WAFAT DAN TERLAHIR KEMBALI DIANGGAP SIHIR?

    Allah SWT berfirman:
    اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ ۘ اِذْ اَيَّدتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِ ۙ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِيْ الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۚ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْـكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰٮةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۚ وَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـئَـةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَـنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًۢا بِاِذْنِيْ وَ تُبْرِئُ الْاَڪْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْ ۚ وَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْ ۚ وَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَاۤ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

    “Dan ingatlah, ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulqudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, laIu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah, ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatIah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.””

    (QS. Al-Ma’idah: Ayat 110)

    APAKAH YANG DIANGGAP SIHIR DI AYAT INI?
    Allah SWT berfirman:
    وَ هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَ يَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ؕ وَلَئِنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَـقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِنْ هٰذَاۤ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

    “Dan Dialah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.””

    (QS. Hud: Ayat 7)

    ORANG KAFIR MENGANGGAP MUKZIJAT ADALAH SIHIR

    Allah SWT berfirman:
    وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً اَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيْمٍ

    “Dan orang-orang kafir itu senantiasa ragu mengenai hal itu (Al-Qur’an), hingga saat (kematiannya) datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau azab hari Kiamat yang datang kepada mereka.”

    (QS. Al-Hajj: Ayat 55)

    Allah SWT berfirman:
    قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِلِقَآءِ اللّٰهِ ؕ حَتّٰٓى اِذَا جَآءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوْا يٰحَسْرَتَنَا عَلٰى مَا فَرَّطْنَا فِيْهَا ۙ وَهُمْ يَحْمِلُوْنَ اَوْزَارَهُمْ عَلٰى ظُهُوْرِهِمْ ؕ اَ لَا سَآءَ مَا يَزِرُوْنَ

    “Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.”

    (QS. Al-An’am: Ayat 31)

    APAKAH MAKSUD DENGAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH?

    APA BEDANNYA KEMBALI KEPADA ALLAH?

    ITU ADALAH HAL YANG SAMA, APANYA YANG BEDA SELAIN WAKTU?

    Allah SWT berfirman:
    كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاکُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

    “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

    (QS. Al-Baqarah: Ayat 28)

    HITUNGLAH

    MATI 2X

    HIDUP 2X

    TERAKHIR DIKEMBALIKAN

  7. YTH. Cakraningrat

    Mengenai keadaan di Negeri Kita saat ini,,saya semakin takut dan semakin merasakan kedekatan akhir zaman. Bumi pertiwi yang begitu indah akan nuansa bhineka tunggal ika kini perlahan hilang karena langkah2 politik yang tidak waras di negeri ini. berbagai macam isu sara di lemparkan hanya untuk kepentingan politik.
    Bermula dari Pilpres hingga saat ini pilkada DKI, berbagai kasus sara dilemparkan dengan dalih agama hanya untuk kepentingan politik.
    Boleh kah saya beserta keluarga yang kebingungan ini meminta saran dan tanggapan Yth. Cakraningrat mengenai hal-hal berikut:
    1. Bagaimana tanggapan Bpk. Cakra mengenai Bpk. Ahok?
    2. Bagaimana cara pandang Bpk. Cakra mengenai surat al-maidah 51 yang saat ini digunakan sebagai alat politik?
    3. Adakah saran dari Bpk. Cakra untuk saya dan keluarga agar bisa bertahan dalam transisi jaman ini?
    Sedari awal artikel tentang SPTM muncul -> Yaman Al Bughury -> Cahyo Nayaswara sd saat ini Bpk. Cakra beserta admin yang mengawal keutuhan artikel SPTM. saya selalu mampir kesini untuk sekedar menenangkan hati saya. dan saat ini hati saya sangat kacau karena sedih melihat persahabatan kawan2 saya hancur akibat pro/kontra Ahok dan surat al-maidah 51.
    betapa sedih hati ini melihat persahabatan yg kami jalin pupus begitu saja. Mohon Tanggapan dari Yth. Bpk. Cakra agar sedikit menenangkan hati saya ini.

    Terima Kasih

    • Yth. Bp. Rhattorion, Admin dan semua warga setia blog SPTM

      Assalamu Alaikum wr.wb.

      Salam sejahtera bagi kita sekalian.

      Basuki Tjahya Purnama alias Ahok adalah seorang pemimpin muda yang cerdas, visioner, dan jujur. Ahok bukan tipikal pemimpin yang memanfaatkan jabatan dan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Ahok tidak memiliki perilaku dan sikap mental etatisme dan ia tidak suka pada bawahan yang menjilat atasan, ia benci pada perilaku curang, tidak peduli kaum marginal yang dianggap “curang” karena mendiami lahan milik Pemda atau bantaran sungai akan dikejarnya dan disapu bersih. Kaum marginal digiring ke tengah, diberi tempat tinggal yang lebih layak, hunian yang lebih baik, tidak peduli mereka suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman dengan lingkungan barunya. Orang-orang yang berpikir rasional tentunya memandang positif kepemimpinan semacam ini, bahkan berasumsi bahwa Jakarta membutuhkan orang seperti Ahok. Tetapi bagi humanisme tentunya akan bersebrangan dengan Ahok.

      Satu dari sedikit pemimpin masyarakat yang berani secara terbuka, lugas, vulgar, dan ketus dalam memimpin pemerintahan adalah Ahok. Motivasinya untuk melawan kecurangan yang selama ini dilakukan oleh para pecundang. Tipikal pemimpin semacam ini banyak dijumpai di perusahaan-perusahaan swasta yang memperlakukan bawahannya atau stafnya atau pekerjanya sebagai orang upahan. Entah disadari atau tidak oleh Ahok, tetapi faktanya Ahok memperlakukan Aparatur Sipil Negara yang bekerja dalam lingkup Pemda DKI Jakarta sebagai orang upahan dan dianggap wajar bila mendengar perkataan-perkataan yang ketus yang keluar dari mulutnya.

      Berbicara “ketus” bagi Ahok adalah hal biasa karena sudah merupakan bentuk kepribadiannya. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Para bawahannya pun selaku orang upahan, yang digaji oleh negara menganggap keketusan Ahok sebagai satu hal yang wajar-wajar saja. Yang penting sistem pemerintahan berjalan dengan baik sebagaimana aturan perundang-undangan yang berlaku. Hanya saja perkataan-perkataan yang “ketus” tidak elok jika didengar oleh masyarakat, sebab masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beretika, beradab, memiliki tata krama dan sopan santun dalam pergaulan antar sesama manusia.
      Kadang terasa miris hati ini mendengar perkataan-perkataan yang ketus yang diucapkan oleh siapa pun apalagi seorang pemimpin masyarakat seperti Ahok. Bukan hanya persoalan diksi tetapi intonasi suara yang ia gunakan pun terkesan angkuh dan sombong. Percaya diri atau yakin pada diri sendiri boleh-boleh saja yang tidak bagus adalah menepuk dada dengan menonjolkan sifat “keakuan.”

      Barangkali karena sifat “ke-aku-an” inilah sehingga Ahok kebablasan menyitir Surah Al-Maidah ayat 51 pada sebuah acara di Kepulauan Seribu. Jangankan Ahok yang jelas-jelas orang nasrani, umat islam saja tidak boleh menggunakan Al-Maidah 51 untuk kepentingan politik sesaat.
      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51).

      Ayat di atas tidak bisa diartikan secara harfiah. Kata “pemimpin” pada ayat tersebut tidak bisa dimaknai sebagai pemimpin politik (presiden, gubernur, walikota, bupati, dsb). Siapa pun yang menafsirkan ayat di atas secara harfiah akan terjebak di dalam lorong yang gelap, sebab ayat di atas harus diartikan secara hakikat.
      Cakra Ningrat berpandangan:
      1. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu).” Secara hakikat “pemimpin” yang dimaksud adalah pemimpin “agama” dan bukan pemimpin politik. Alquran menggunakan kata ulang “pemimpin-pemimpin (mu)” maksudnya pemimpin dari golongan orang Yahudi dan pemimpin dari golongan Nasrani, sebab ajaran agama Yahudi berbeda dengan ajaran agama Nasrani. Meskipun Islam, Yahudi, dan Nasrani sama-sama agama samawi (langit), agama serumpun Abrahamik dan sama-sama berasal dari Nabi Ibrahim As, akan tetapi prinsip-prinsip ajarannya berbeda. Untuk tertibnya ajaran-ajaran Tuhan, maka umat islam “dilarang” mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai “pemimpin” agama mereka (islam).

      2. “sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.” Kata “sebahagian” pada kalimat itu tidak bisa diartikan bahwa orang Yahudi pemimpin orang Nasrani atau orang Nasrani pemimpin orang Yahudi. Kata “sebagian” berhubungan dengan ALKITAB, maksudnya “sebagian” dari alkitab adalah Perjanjian Lama dan “sebagian”nya lagi Perjanjian Baru. Karena PL lebih dulu turunnya dari PB maka PL dianggap “pemimpin” bagi PB. Makna “pemimpin” pada ayat ini maksudnya adalah kanonisasi alkitab.
      Alkitab Ibrani (PL) diimani oleh orang Yahudi hingga saat ini di mana dalam PL terdapat kitab suci Taurat yang ditulis oleh Nabiullah Musa Alaihissalam dan kitab suci zabur (Masmur) yang ditulis oleh Nabiullah Daud Alaihissalam yang diakui kebenarannya oleh Alquran. Di dalam PB terdapat kitab suci Injil yang juga diakui kebenarannya oleh Alquran. Orang Nasrani beriman kepada PL dan PB. Kedua kitab ini dihimpun menjadi satu kesatuan di dalam alkitab.
      “sebagian mereka adalah pemimpin” maksudnya adalah PL, karena itulah PL ditempatkan pada bagian depan alkitab. “Bagi sebagian yang lain” maksudnya adalah PB, oleh sebab itu PB ditempatkan pada bagian kemudian. Sadar atau tidak, tahu atau tidak tahu semua orang Nasrani juga tunduk pada ketentuan ayat ini. Faktanya, tidak ada seorang pun di antara orang-orang kristen yang berani menolak PL dan hanya mau menerima PB atau menempatkan PB di depan PL. Alquran telah menetapkan; PL (“sebagian mereka” maksudnya sebagian dari alkitab”) adalah “pemimpin” bagi sebagian yang lain” maksudnya adalah PB. Secara implisit Alquran memandang alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh yang di dalamnya terdapat PL dan PB dimana PL adalah “pemimpin” bagi PB. Karena itu, Cakra Ningrat dengan tegas mengatakan “beriman, tunduk dan percaya” pada kebenaran alkitab sejak dulu, sekarang, dan selamanya.

      3. “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.“ Ayat ini mengatur soal tempat peribadatan kepada Tuhan. Orang yahudi beribadah di sinagoga, orang kristen di gereja, dan orang islam di masjid. Apabila ada orang yang menyebut dirinya sebagai muslim kemudian masuk ke sinagoga dan mengikuti ibadah yang dipimpin oleh rahib yahudi maka orang itu sudah termasuk ke dalam golongan orang yang beragama yahudi. Bilamana ada seorang yang beragama islam, kemudian mengikuti misa di gereja yang dipimpin oleh pendeta atau pastor, maka orang itu sudah termasuk sebagai orang nasrani.
      Sadar atau tidak, tahu atau tidak tahu dengan maksud ayat ini tetapi umat yahudi dan nasrani telah melaksanakan kehendak ayat ini. Bagaimana dengan orang islam? Pun demikian, orang islam tidak mungkin mau masuk ke sinagoga atau gereja untuk beribadah.

      4. “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim” Zalim (bahasa Arab) artinya meletakkan suatu perkara bukan pada tempatnya. Orang zalim adalah orang yang tidak diberi petunjuk oleh Allah. Mereka menempatkan suatu perkara bukan pada tempatnya sebab mereka tidak mendapat petunjuk Allah.
      Bukan hanya Ahok yang masuk dalam kategori zalim, tetapi semua orang islam juga termasuk zalim bilamana menggunakan ayat Al-Maidah 51 tidak secara proporsional, termasuk bila digunakan untuk kepentingan politik sesaat. Ahok TIDAK menistakan agama islam, tetapi ia “menistakan” dirinya sendiri. Segalanya kembali kepada masyarakat apakah masih mau “memilih” orang yang sudah menistakan dirinya sendiri atau memilih alternatif figur lainnya.
      Cakra Ningrat hanyalah seorang hamba Allah. Allah memberi petunjuk kepada siapa pun hamba-Nya yang Ia kehendaki. Alquran adalah bacaan mulia yang sangat terjaga kerahasiaannya. Alquran tidak bisa diartikan secara harfiah karena makna sebenarnya justru tersembunyi di dalam hakikat. Memaknai Alquran secara harfiah hanya menimbulkan permusuhan yang disebabkan oleh adanya ego, nafsu di dalam diri manusia. Pahamilah Alquran di dalam makna hakikat, sebab di dalam hakikatlah letak kebenarannya. Di dalam hakikatlah anda akan melihat nilai universalitasnya bahwa Alquran bukan hanya diperuntukkan bagi umat islam, tapi untuk seluruh alam semesta termasuk di dalamnya umat manusia.

      Cakra Ningrat mengajak kepada kita semua terutama warga setia blog SPTM ini agar mengambil hikmah dan pelajaran dari semua kejadian ini. Jika Ahok tidak lancang mulut menyitir QS. Al-Maidah ayat 51 maka kegaduhan politik di DKI Jakarta tidak akan terjadi. Jika kegaduhan tidak terjadi maka Bp. Rhattorion tidak akan bertanya. Ada pepatah melayu mengatakan “gayung bersambut kata berjawab.” Maka terjawablah pertanyaan Bp. Rhattorion sehingga warga setia blog ini dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kejadian ini.

      Bapak Rhattorion bersama keluarga yang saya kasihi. Saat ini kita semua hidup di penghujung masa akhir zaman. Masa yang menimbulkan kekacauan dan ketidaktenangan umat manusia. Keadaan ini berbanding lurus dengan pergolakan alam yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Ketahuilah bahwa semua ini adalah tanda-tanda dari-Nya. Tanda apa? Tanda bahwa langit akan menyampaikan berita besar-Nya. Hanya itu yang saya ketahui pak. Berita apa? Jujur saya katakan kalau saya juga tidak tahu.

      Dalam masa transisi ini berusahalah untuk selalu berniat baik. Dari niatan yang baik akan melahirkan pemikiran yang baik. Dari pemikiran yang baik menyebabkan terjadinya perbuatan yang baik. Baik terhadap diri bapak dan keluarga maupun terhadap orang-orang yang ada di sekitar bapak.

      Janganlah latah dan ikut-ikutan mengikuti perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan orang-orang kebanyakan. Banyak belum tentu baik. Baik belum tentu benar. Benar belum tentu dapat dianggap sebagai kebenaran. Kebenaran hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Tiada kebenaran selain kebenaran itu sendiri.

      Keselamatan manusia sifatnya pribadi-pribadi. Orang per orang. Nafsi-nafsi. Tiada seorang pun yang dapat memberi jaminan atas keselamatan orang lain. Semuanya berpulang ke diri masing-masing. Jagalah diri bapak, sebab tidak ada yang dapat menjaga bapak kecuali diri bapak sendiri. Setelah itu jagalah keluarga bapak (istri dan anak-anak). Jangan berpikir dan berasumsi terlalu jauh, sebab yang jauh akan didekatkan. Yang gelap akan berubah terang. Yang samar-samar akan dijelaskan. Yang gaib akan nyata.

      Sang pemimpin dan sang penyesat telah muncul! Semisal Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Semisal Gatot Brajamusti. Dan masih, masih, masih banyak lagi yang akan muncul! Ketika semua sang penipu dan sang penyesat telah muncul, barulah langit mengabarkan berita besar-Nya. Saat itulah Dia “memunculkan” Diri-Nya Sendiri. Dia yang selama ini kita sebut sebagai Satrio Piningit (Satria yang menyembunyikan diri-Nya).

      Dalam masa-masa penantian ini, dalam masa-masa transisi ini marilah kita satukan diri kita dalam ikatan kebersamaan dan persaudaraan. Kita semua patut bersyukur karena adanya blog SPTM yang sudah berjasa mempersatukan kita di wadah ini. Di sinilah kita bisa sharing, saling berbagi pengetahuan, saling mengisi, saling nasihat menasihati untuk sebuah kebaikan.

      Demikian pandangan kami, semoga anda tercerahkan.
      Wasalam

      Cakra Ningrat.

      • Terima Kasih atas tanggapan Yth Bp. Cakra. sesuai yg saya harapkan tanggapan bapa semakin meyakinkan hati saya akan sebuah kebenaran sejati.dan saya sangat bersyukur telah masuk ke dalam warga blog ini.

        semoga Tuhan selalu melindungi kita dan saudara2 kita.

  8. Assalamu’alaikum wr.wb

    Ada kajian ringkas mengenai Hakikat Tuhan dan Eksistensinya.

    Tuhan mempunyai Sifat ABADI.

    Waktu tercipta dari diciptakannya Alam.

    Tuhan pencipta RUANG DAN WAKTU.

    Tuhan mengawali Penciptaan Ruang dan Waktu. Dan berkuasa juga mengakhiri segalanya. Itulah Akhir kehidupan menuju keabadian.

    Surga dan Neraka itu Kekal.
    Mengertikah manusia diberi kesempatan hidup dalam dunia ini? Selain untuk bertaqwa?

    Manusia dihidupkan diantara ruang dan waktu, dan akan kembali kepada Tuhannya dengan keabadian. Konsekwensi terhadap jalan yang ditempuh didunia menentukan Surga atau Neraka sebagai tempat terakhir kembali.

    Kesempatan hidup di Akhir Zaman dengan batas waktu, gunakanlah sebaik-baiknya. Di Akhirat penyesalan tidak akan berguna.

    Zaman akan berakhir.. !!

  9. Assalamu’alaikum pak,
    Saya mau tanya yg ada kaitannya dg artikel sebelumnya. Kapan proses penciptaan Tuhan itu selesai, hingga proses selanjutnya sudah menjadi hukum sebab akibat & sunnatullah.
    Salam
    Terima kasih pak cakra

  10. Kepada Yth: seluruh warga setia blog SPTM.
    Assalamu Alaikum wr.wb.
    Salam sejahtera buat kita semua…

    Admin menginformasikan kepada semua warga setia blog ini bahwa sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 11 Desember 2016, Bp. Cakra Ningrat mengunjungi Admin di Jl. Rawamangun Jakarta Pusat. Kunjungan itu bertujuan untuk lebih memantapkan persiapan hadirnya blog baru “Genta Kebenaran” yang digagas oleh Admin. Kenapa?

    Menurut Cakra Ningrat: “kita semua tidak bisa main-main dengan artikel “Hakikat Tuhan dan Eksistensinya” sebab artikel itu membicarakan masalah jati diri pribadi Tuhan Semesta Alam Yang Maha Esa dan Tak Bernama. Kepada hamba-Nya Musa Nabiullah, Dia Yang Esa Tak Bernama menyebut diri-Nya “AKU ADALAH AKU” (‘Eheyeh ‘Asyer ‘Eheyeh). Itulah fakta bahwa Dia Tak Bernama.

    Disebabkan oleh karena ketakutannya kepada Yang Esa Tak Bernama maka penulis artikel “Hakikat Tuhan dan Eksistensinya” akan mencantumkan NAMA aslinya. Pencantuman nama asli penulis harus diartikan sebagai bukti nyata keseriusan dan kesungguhan penulis dalam mengungkap Hakikat Tuhan Dan Eksistensinya.

    Admin meminta kepada warga setia blog ini untuk bersabar dan bersabar. Artikel “Hakikat Tuhan Dan Eksistensi-Nya” (bagian 1) yang sudah anda baca di blog ini akan dikupas lebih dalam lagi oleh penulisnya. Dengan begitu tentunya kita semua akan dapat mengetahui dengan jelas eksistensi penulis artikel, sebab hanya penulis yang memiliki hak untuk merevisi (menambah dan mengurangi) materi tulisannya.

    Cakra Ningrat mengatakan “Blog SPTM adalah blog samar-samar. Sosok Satrio Piningit adalah sosok yang samar-samar. Dikatakan sosok itu “tidak ada” tetapi diyakini “ada.” Disebut “ada” tetapi “tidak dilihat.” Karena kita tidak melihatnya bukan berarti sosok itu tidak “ada.” Karena semua samar-samar maka saya juga menggunakan nama samaran saya Cakra Ningrat. Kenapa? Karena Admin dan warga juga menggunakan nama samaran, sehingga kita semua berada dalam keadaan samar-samar.”

    GENTA KEBENARAN adalah blog yang jelas dan terang benderang. Penulis harus menggunakan nama aslinya berdasarkan KTP, Admin juga harus menggunakan nama asli. Kontak personnya harus jelas! Pembaca harus bisa berinteraksi langsung dengan penulis, baik lewat E-mail dan atau sarana lainnya. Bisa bertatap muka, berdiskusi, bercakap-cakap, dan berjumpa langsung.

    Tidak boleh lagi ada yang samar-samar karena kadang sesuatu yang samar-samar itu hanya menambah kebingungan kita yang dasarnya memang sudah bingung.

    Wasalam
    Admin.

  11. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Yth. Bp. Cakra Ningrat,
    Ysh. Admin.

    Saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu karena sebagai orang timur (kalau ada orang barat) kita mempunyai etika, tata krama serta adat istiadat yang tetap harus kita jaga dan junjung tinggi.
    Nama saya MAW ( nama pelaku kriminal biasa disingkat oleh polisi, dan saya juga masih kriminal di depan Allah karena banyak ayat yang masih saya korupsi), dll nya kalau kita semakin dekat dan intens bertegur sapa.
    Berdasar pada petunjuk dari yang mempunyai langit dan bumi serta isinya dan tidak ada keraguan di dalamnya, ada beberapa hal dalam artikel yang kurang sama atau kurang sesuai, terutama tentang Tuhan tidak bernama. Saya yakin bahwa Tuhan itu Esa dengan kualitas Maha sehingga saya yakin bahwa Tuhan yang bapak maksud sama dengan yang saya maksud.
    Di dalam petunjuk yang telah dijadikan buku dan diberi nama Al Qur’an dalam surat Thaha ayat 8 (QS 20:8), ada nama Tuhan. Mohon apakah bisa untuk dijadikan pertimbangan.
    Mungkin apa yang saya sampaikan terlalu ‘mbulet’ tapi begini cara kebanyakan dari bangsa kita dalam menyampaikan maksud dan tujuan. Semoga ke depan lebih terarah dan singkat.
    Mohon maaf dan terima kasih.
    MAW

    *”Salam” saya dahulukan sebelum “kepada” karena yakin ada pembaca dan saya juga uluk salam untuk semua.

    • Kepada Yth. Bapak MAW
      Assalamu Alaikum wr.wb

      Tentu saja “Tuhan” yang saya maksudkan sama dengan “Tuhan” yang dimaksudkan oleh bapak, karena hanya ada Satu Tuhan. Bahwa Tuhan Yang Satu, dikenal oleh manusia dalam berbagai macam nama namun hakikatnya Tuhan Yang Esa itu Tak Memiliki Nama.

      Bapak mengutip QS 20:8 yang artinya: Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik).

      Sebagai seorang muslim, tentu saja sejak di bangku Sekolah Dasar kita sudah mengetahui bahwa Asmaul Husna adalah 99 nama Allah yang baik, agung, mulia sesuai dengan sifat-sifat-Nya yaitu:
      1. Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih
      2. Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang
      3. Al-Malik artinya Yang Maha Merajai
      4. Al-Quddus artinya Yang Maha Suci
      Dst. Sampai 99
      Dari arti 99 Asmaul Husna tentunya dapat diketahui bahwa nama-nama tersebut “mengacu” kepada nama-nama sifat-Nya, dengan kata lain bukan nama “pribadi” Allah (Tuhan). Allah adalah Allah. Tuhan adalah Tuhan. Asmaul Husna adalah nama-nama dari sifat-sifat-Nya.

      Umat yang beragama lain mengenal dan meyakini adanya Tuhan Yang Esa, tetapi mereka tidak mengenal Allah dan tidak mengakui Allah sebagai Tuhan. Apakah mereka salah? Tidak, mereka tidak salah, sebab Allah bukan “Nama” Tuhan. Bila Allah “bukan” nama Tuhan apalagi Asmaul Husna-Nya. Nama “apapun” yang telah diketahui oleh manusia hanyalah sebuah “penamaan” dari Tuhan Semesta Alam namun hakikatnya Tuhan Tak Memiliki Nama.

      Bapak MAW bisa saja tidak setuju dengan pendapat saya, bukan berarti saya salah! Bisa saja bapaklah yang tidak memahami tulisan saya. Sudah saya katakan bila ingin memahami hakikat dan eksistensi Tuhan, maka seharusnya pemikiran kita melampaui batasan ajaran agama-agama yang kita anut selama ini. Bukan agama yang menyelamatkan kita, tetapi Tuhan.

      Demikian tanggapan saya (CN)

      • Yth. Bp. Cakra Ningrat,

        Terima kasih telah membalas komentar saya.

        Apa yang saya sampaikan adalah sebuah usulan, bukan untuk melakukan vonis bahwa tulisan bapak salah. Saya tidak berani melakukan itu, melihat kapasitas bapak yang sudah terbukti. Saya salin sekali lagi

        “Mohon apakah bisa untuk dijadikan pertimbangan.”

        Karena saya kurang memahami (karena kemampuan dan kapasitas manusia berbeda) maka saya membuat usulan dengan maksud untuk lebih memahami. Itulah tujuan saya menulis.

        Sekarang saya menjadi lebih paham setelah mendapat jawaban dari bapak.

        Terima kasih dan mohon maaf.

        Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

        MAW

  12. Admin telah menerima kiriman artikel “Hakikat Tuhan dan Eksistensi-Nya” (Bagian 2) dari Bp. Cakra Ningrat untuk dipajang di blog ini. Dengan berbagai pertimbangan, Admin menunda rencana pembuatan blog baru “Genta Kebenaran” agar dapat lebih fokus membina blog ini. Kepada warga setia blog SPTM, Admin mengucapkan Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan yang mubarak ini. Selamat membaca artikel HTDE Bag.2 semoga anda tercerahkan.
    Wasalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s