LEGAL OPINION

Download Artikel

LEGAL OPINION TERHADAP PERJANJIAN LAMA

PERJANJIAN TUHAN DENGAN KAIN/QABIL (BAG. 2)

Oleh: Cakra Ningrat

PENGANTAR:

Pada bagian pertama telah diungkap bagaimana Tuhan mengawali penciptaanNya dari SIFAT MENURUT. Wujud nyata sifat menurut pada alam semesta ini adalah BINTANG. Dari sifat menurut, Tuhan menciptakan SIFAT MELAWAN. Wujud nyata sifat melawan pada alam semesta ini adalah MATAHARI. Matahari melawan kegelapan maka terbitlah fajar, teranglah bumi. Manusiapun bangun untuk “melawan“ tidurnya. Mereka bangkit melakukan aktivitas dan mencari rezeki serta karunia Tuhan, dan sebagainya. Matahari tidak akan mungkin terus menerus melawan. Jika tiba waktunya matahari akan menurut. Matahari akan masuk kembali ketempat peraduannya. Sifat melawan akan kembali kepada awal penciptaannya yakni sifat menurut. Bumi digelapi oleh malam. Bintang gemintang bersinar terang menghiasi angkasa raya pertanda masuknya waktu “sifat menurut”. Manusiapun harus menurut dengan tidur/istirahat akibat kantuk yang tak tertahankan. Alqur’an mengatakan.

“Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (3 : 190).

Ummat islam diwajibkan mengerjakan shalat (sembahyang) sebanyak lima kali dalam sehari semalam dimana waktu pelaksanaannya telah ditetapkan sesuai firmanNya sebagai berikut:

1. “ Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat “ (QS 11 : 114)

Kata “tepi” memiliki dua makna yaitu tepi pada bagian awal dan tepi pada bagian ahir. Tepi siang (awal) waktunya jam 1200. Bila jam telah menunjukkan pukul 1200 maka ummat islam sudah bersiap-siap melaksanakan shalat dhuhur. Tepi siang (ahir) waktunya jam 1500 pertanda waktu telah masuk pelaksanaan shalat azhar. Jam 1800 pertanda waktu telah memasuki bagian permulaan dari pada malam. Ummat islam melaksanakan shalat magrib.

2. “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, (dan dirikanlah pula sholat subuh). Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh malaikat (QS 17 : 78).

Yang dimaksud sesudah matahari tergelincir adalah bilamana bianglala yang berwarna merah sudah tidak tampak lagi oleh mata kita di batas pandang cakrawala (ufuk barat). Waktunya jam 1900, ini adalah pertanda mulai masuknya waktu untuk shalat isha. Batas waktu shalat isha sampai gelap malam. Kata gelap malam dapat dimaknai sebagai waktu sebelum anda tidur. Sebelum matahari (fajar) terbit, pada jam 0500, ummat islam bangun untuk mendirikan shalat subuh.

Firman yang menyebut “sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh para malaikat” tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena firman di atas hanya mempertegas bahwa “subuh” atau jam 0500 pagi adalah batas waktu “SIFAT MENURUT” terhitung dimulai sejak jam 1900 atau waktu shalat isha. Adapun waktu SIFAT MELAWAN” adalah jam 0600 waktu permulaan pagi sampai dengan waktu permulaan malam jam 1800. Selisih waktu antara subuh dan permulaan pagi adalah satu jam demikian pula selisih waktu antara permulaan malam (magrib) dengan waktu tergelincirnya matahari juga adalah satu jam.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita harus bersikap arif, bijak dan kritis menggunakan logika kita masing-masing sebelum mengklaim sepihak diri sendiri sebagai pihak yang paling benar tanpa memahami substansi yang sangat mendasar atau inti masalahnya. Celakalah diri anda jika anda menyebut orang lain “salah” sementara anda juga bingung atau ragu untuk mengatakan bahwa diri anda “benar”. Karena itu; janganlah terlena dengan mulut manis ustadz atau untaian kalimat-kalimat indah yang anda baca di buku-buku karangan para ahli agama. Kalaupun anda tetap pada klaim subyektif anda maka jawablah pertanyaan di bawah ini:

Dalam alqur’an difirmankan: Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS 4 : 103).

Waktu-waktu shalat telah ditentukan sebanyak lima kali sehari semalam. Pertanyaannya; kenapa Tuhan menempatkan waktu-waktu shalat tersebut di dua surah dan ayat yang berbeda yaitu S11:114 dan S17:78 ???.

Silahkan anda jawab atau tanyakan kepada ustadz atau cari jawabannya di buku-buku karangan. Saya menjamin anda tidak akan mungkin mendapatkan sebuah jawaban yang pasti dan benar-benar dapat membuat intelektual anda tercerahkan.

A. SIFAT MENURUT

Cakra Ningrat memberi pendapat hukum bahwa: Penentuan waktu shalat pada surah dan ayat yang berbeda sebagaimana firmanNya di dalam alqur’an; karena Tuhan ingin menyampaikan pesan bahwa yang pertama-tama diciptakan Tuhan dalam penciptaan awal adalah SIFAT MENURUT. Wujud “sifat menurut” di alam semesta ini adalah BINTANG-BINTANG. Waktu “sifat menurut” di alam semesta ini adalah WAKTU MALAM. Firman Tuhan dalam alkitab (Kejadian 1 : 2) “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-melayang di atas permukaan air”. Dari firman tersebut dapat dikatakan kalau Roh Allah, air dan bintang-bintang memiliki SIFAT MENURUT. Oleh karena mulanya bumi ini gelap gulita maka “sifat menurut” memiliki waktu pada bagian MALAM. “Awal waktu sifat menurut ditandai dengan masuknya waktu shalat isha dan ahir waktu sifat menurut ditandai dengan masuknya waktu pelaksanaan shalat subuh.

Sifat menurut memiliki dua pengertian yaitu menurut untuk kebaikan dan menurut untuk kejahatan. Pada malam hari banyak tempat maksiat dibuka untuk memberi kemudahan dan kebebasan orang MENURUT pada pemuasan hawa nafsunya selain itu banyak juga orang yang MENURUT pada tipu muslihat syetan untuk berbuat kejahatan baik dengan cara berbisik penuh dengan bujuk rayu maupun dengan ilmu-ilmu sihir atau santet.

Untuk melindungi diri kita dari kejahatan malam alqur’an mengatakan: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan mahlukNya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS 113 : 1 – 5).

Firman di atas memberi penegasan kepada kita agar kita tidak ragu-ragu memposisikan TUHAN dan ALLAH pada posisinya masing-masing. Firman di atas memberi perintah kepada kita: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, ….”. Firman tidak menyebut: Katakanlah; “Aku berlindung kepada Allah yang menguasai subuh, …..”. Tapi firman memerintahkan kita untuk mengatakan: Katakanlah “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh….”. Kenapa? Karena TUHAN YANG MAHA MENCIPTAKAN. Cakra Ningrat tidak mengatakan Tuhan menciptakan Allah akan tetapi Cakra Ningrat mengatakan Allah adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan Tuhan. Allah memproteksi dan menjaga kerahasiaan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Tuhan ada di dalam Allah. Tapi Allah bukan Tuhan. Sungguh amat sangat tipis jaraknya bagaikan sehelai rambut dibelah tujuh akan tetapi justru ketipisannya itulah yang dapat menjauhkan anda dari jalan yang benar yaitu jalan menuju Tuhan.

Syetan mengetahui kalau Allah bukan Tuhan karena itu syetan sama sekali tidak takut apalagi gentar kepada Allah. Fakta hukum yang dapat kami kemukakan adalah betapa banyaknya orang-orang yang merasa dekat dengan Allah atau memuja dan menyembah Allah sebagai Tuhan yang justru melakukan kemaksiatan dan membuat kerusakan secara nyata. Bahkan kebanyakan dari mereka yang justru mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang diajarkan oleh syetan yang mereka kerjakan secara sadar dengan memperatasnamakan Allah.

Firman Tuhan pada surat Al Falaq (113:1-5) bukanlah sebuah bacaan biasa atau ucapan biasa yang perlu dikatakan oleh manusia. Firman di atas bersifat perintah, akan tetapi perintah itu tidak ditujukan kepada manusia. Perintah itu ditujukan kepada ALAM hususnya pada WAKTU MALAM. Waktu adalah bagian yang tak terpisahkan dengan ALAM SEMESTA ini. Perintah itu telah dilaksanakan dengan baik oleh alam sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya.

Guna mempertebal SIFAT MENURUT PADA KEBAIKAN, alqur’an menganjurkan kepada ummat islam untuk melaksanakan SHALAT MALAM. Sebagaimana firmanNya: Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS 17 : 79).

Penggunaan kata “mudah-mudahan” pada firman di atas dapat dimaknai sebagai sesuatu yang tidak dapat memberi kepastian bahwa bila seseorang sering melaksanakan shalat tahajjud lantas Tuhan harus menempatkan mereka ketempat yang terpuji. Shalat malam semata-mata hanya bertujuan agar orang yang melaksanakannya dapat mempertebal “sifat menurut pada kebaikan”. Hal ini didasari oleh firman Tuhan berikut ini:

“Hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Juga orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (QS 25: 63 – 64).

Orang-orang yang baik adalah orang yang memiliki SIFAT MENURUT PADA KEBAIKAN. Kepribadian orang itu adalah memiliki sifat dan bersikap rendah hati serta selalu mengucapkan kata-kata yang baik. Sifat menurut kepada kebaikan tidak hanya milik ummat islam saja, akan tetapi semua orang bisa saja masuk dalam kategori itu meskipun orang itu tidak beragama islam dan tidak pernah melaksanakan shalat malam.

SHALAT bukan tolok ukur sebuah Kebenaran. Tidak ada satupun ayat di dalam alqur’an baik secara terang-terangan maupun samar-samar yang dapat mengarahkan fikiran kita untuk menyimpulkan bahwa orang yang mendirikan shalat adalah orang yang benar. Shalat bertujuan agar orang yang mendirikannya atau melaksanakannya dapat tercegah dari perbuatan jahat atau mencegah diri dari berbuat jahat.

Difirmankan di dalam alqur’an:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29:45).

Firman di atas dengan jelas menyebutkan bahwa shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.

B. SIFAT MELAWAN

Wujud nyata sifat melawan di alam semesta ini adalah MATAHARI. Pada siang hari manusia bangkit melawan tidur dengan melakukan aktivitas untuk hidup dan kehidupannya. Dalam alqur’an (Allah berfirman) “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51:56).

Makna “Jin” pada firman di atas adalah tingkat panasnya matahari pada jam 12.00 sampai dengan jam 15.00. Ummat islam wajib melaksanakan shalat di dua tepi siang yaitu shalat dhuhur pada jam 12.00 dan azhar pada jam15.00. Meskipun seluruh ummat islam melaksanakan shalat pada jam-jam itu, akan tetapi shalat tersebut tidak akan dapat mengurangi derajat panas teriknya matahari.

Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah sebab firman tersebut berkaitan dengan panas teriknya matahari antara dhuhur dan azhar atau waktu JIN. Manusia harus bisa menerima kenyataan tersengat oleh Jin atau terbakar oleh panas teriknya matahari sebagai bentuk kepasrahan manusia kepada apa yang diciptakan Tuhan. Pada jam-jam yang telah ditentukan Jin harus menyengat dan membakar karena pada awalnya memang seperti itulah yang diciptakan Tuhan. Hanya dengan tingkat panas seperti Jin itu saja yang dapat menyebabkan air di lautan menguap ke atas menjadi uap air di udara. Bila uap air ini sudah menyatu dalam bentuk gumpalan air maka air itu kembali diturunkan ke bumi dalam bentuk hujan.

Difirmankan: dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.(QS 45:5)

Sekali dalam sepekan ummat islam melaksanakan shalat Jum’at. Waktunya setelah masuk waktu “Jin” atau sekitar jam 12.30 – 13.00 siang. Dalam alqur’an difirmankan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka betebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karuniah Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS 62:9-10)

Pada hakekatnya shalat Jum’at bertujuan agar ummat islam dapat mengaplikasikan SIFAT MENURUT yang ada di dalam dirinya pada saat berlangsungnya waktu JIN. Agar “sifat menurut” manusia tidak salah arah di waktu berlangsungnya waktu “sifat melawan” maka telah difirmankan: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang (membisikkan) kejahatan ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS 114:1-6).

Firman di atas tidak ditujukan kepada manusia untuk mengatakannya atau mengucapkannya. Firman tersebut bersifat perintah dan perintah itu ditujukan kepada alam. Bukan manusia yang harus melaksanakan perintah itu. Yang melaksanakan perintah itu adalah ALAM hususnya yang mengatur waktu pada SIANG HARI. Perintah itu telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang dikehendaki oleh TUHAN SANG PENCIPTA sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya.

Firman Tuhan dalam surah An-Nass (114: 1-6) banyak menyebut kata “manusia” oleh karena hanya pada siang hari saja manusia banyak melakukan aktivitas jual-beli dengan kata lain mengurus kehidupannya. Adalah sebuah ketidaklaziman dan tidak dapat dipungkiri bahwa dalam berintraksi terhadap sesamanya manusia (habluminannas) sangat sering manusia melupakan Tuhan bahkan acapkali meniadakan Tuhan. Ini disebabkan karena syaitan yang biasa bersembunyi membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia sehingga seorang bawahan menggantungkan nasibnya kepada atasannya, seorang prajurit kepada komandannya, murid kepada gurunya, menteri kepada presiden, dsb.

Firman yang mengatakan “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia” tidak bisa dimaknai secara harfiah. Demikian pula terhadap kata “Jin” tidak bisa diartikan sebagai suatu sosok gaib atau dimaknai sebagai panas teriknya matahari. Kata “Jin” yang dimaksud pada ayat ini adalah tingkatan “panasnya” dari NAFSU DUNIAWI dan AMBISI manusia. Nafsu yang ada di dalam diri manusia tersebut terkadang mendapat pengaruh atau penguatan dari manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya.

Manusia bisa saja menggantungkan semua pengharapannya kepada sesamanya manusia baik menggantungkan nasibnya maupun rezekinya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, namun hal itu tidak akan memberi pengaruh sedikitpun terhadap existensi Tuhan. Ini disebabkan karena Tuhan telah memerintahkan alam yang memiliki kekuasaaan pada WAKTU SIANG untuk memproteksi diri-Nya.

PERINTAH TUHAN KEPADA ALAM SEMESTA

Berdasarkan pada prinsip-prinsip hukum “penggenapan” maka alam semesta terdiri atas dua alam yaitu alam langit dan alam fana. Alam langit adalah alam yang tidak diketahui oleh manusia (gaib) sedangkan alam fana adalah alam yang diketahui oleh manusia (nyata). Dunia nyata beserta seluruh isinya adalah alam fana termasuk seluruh alam ruang angkasa, bintang-bintang, matahari dan bulan dsb sepanjang dapat dilihat atau diketahui oleh manusia dikategorikan termasuk di dalam wilayah alam nyata.

a. Perintah Tuhan kepada alam langit (gaib)

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.” (QA 112: 1-4).

Firman di atas merupakan perintah Tuhan kepada alam langit. Perintah itu sama sekali tidak ditujukan kepada manusia. Manusia tidak akan mungkin memahami dengan benar perintah itu sebab tidak ada manusia yang memahami alam langit dengan sebenar-benarnya. Meskipun begitu, ummat islam bisa saja mempelajari atau menafsirkannya akan tetapi dapat dipastikan bahwa apa yang mereka pelajari dan tafsirkan tidak dapat dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Referensi Langit

Dalam alqur’an difirmankan “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. (QS 17:1).

Masjidil Haram terletak di kota Mekkah dan Masjidil Aqsha terletak di Palestina. Kedua kota itu terpisah oleh jarak sepanjang ribuan kilo meter, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bila kita MENJALANINYA secara nyata (phisik) dengan mengendarai Unta. Oleh karena Tuhan MEMPERJALANKAN hambaNya yaitu Nabi Muhammad maka waktu yang dibutuhkan hanya hitungan detik saja. Perjalanan di malam hari ini dikenal dengan nama ISRA’. Pada malam itu juga perjalanan nabi Muhammad di lanjutkan dari Al Masjidil Aqsha di Palestina naik ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Perjalanan menuju langit dikenal dengan nama MI’RAJ. Ummat islam memahami mi’raj berdasarkan kisah atau riwayat yang diceritakan oleh sahabat-sahabat nabi. Sampai saat ini ummat islam masih berbeda pendapat tentang perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini. ada yang mengatakan nabi diperjalankan dengan jasadnya, namun ada juga yang berpendapat nabi diperjalankan secara batin. Isra’ dan Mi’raj adalah doktrin yang diimani oleh seluruh ummat islam.

Cakra Ningrat berpendapat; Isra’ dan mi’raj memiliki kedudukan hukum yang berbeda. Isra’ memiliki dasar hukum alqur’an, berarti berlaku untuk seluruh ummat manusia sedangkan Mi’raj dasar hukumnya hadist (kisah atau riwayat) nabi, berarti peruntukannya semata-mata hanya untuk internal ummat islam saja. Ummat islam tidak boleh menyalahkan ummat lain bila mereka menolak kebenaran alam langit termasuk perintah-perintah shalat sebagaimana yang diriwayatkan oleh nabi Muhammad. Ibadah shalat yang dilaksanakan oleh Ummat islam bukanlah sebuah KEBENARAN yang bersifat universal. Shalat tidak memberi jaminan keselamatan bagi yang melaksanakannya oleh karena shalat hanya bertujuan agar mereka yang mengerjakannya dapat terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat bukan satu-satunya cara untuk mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan tercela atau yang dilarang oleh aturan, baik oleh aturan agama maupun etika, budaya, norma dan hukum positif.

Firman yang menyebut “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena pada saat turunnya ayat tersebut Masjidil Haram di Mekkah belum ada dan Masjidil Aqsha di Palestina juga belum ada. Jika kedua mesjid itu belum ada, pertanyaannya adalah “apa yang dimaksud telah Kami berkahi sekelilingnya ?”. Penggunaan kata “TELAH” menandakan sesuatu yang sudah terjadi dalam bentuk lampau, akan tetapi fakta hukumnya Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha belum ada saat firman ini diturunkan. Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha hanyala AKIBAT. Patut bagi kita semua untuk mencari tahu apa yang menjadi SEBAB yang selama ini sengaja dirahasiakan Tuhan. Kita harus berangkat dari dasar hipotesa yang sama bahwa sedangkan yang ada di bumi saja dirahasiakan Tuhan apalagi yang di langit!.

Cakra Ningrat berpendapat bahwa yang menjadi SEBAB adalah karena terdapatnya BAIT Allah (Baitullah). Bait Allah inilah yang “telah” diberkahi di sekelilingnya kemudian dinamakan Al Masjidil Haram dan Al Masjidil Aqsha. Berangkat dari prinsip dasar hukum “PENGGENAPAN”, terdapat dua Bait Allah yang ada di Mekkah dan Bait Allah yang ada di Betelehem.

“Dalam alqur’an difirmankan: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat baribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS 3:96).

Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena firman menyebut “rumah yang MULA-MULA dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah). Jika ada yang MULA-MULA atau yang PERTAMA maka pasti ada yang KEDUA. Pertanyaannya dimanakah Bait Allah yang kedua ? Al Kitab menerangi kita dalam kitab Kejadian 28: 10-22 pada bagian MIMPI YAKUB DI BETEL. Firman tersebut adalah sebagai berikut:

Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan memakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara, dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi ini akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata: ”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.

Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.” (Kej. 28:10-22)

Bait Allah (Baitullah) atau Ka’batullah yang ada di Mekkah dan Bait Allah yang ada di Betelehem memiliki kedudukan hukum yang sama karena sama-sama diberkahi di sekelilingnya. Bait Allah yang ada di Mekkah dibangun oleh nabi Ibrahim bersama putranya Ismail, pada bangunan itu terdapat tanda-tanda yang nyata sebagaimana difirmankan dalam alquran sebagai berikut:

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) maqam Ibrahim, barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS 3:97)

Berbeda halnya dengan Bait Allah yang ada di Betelehem. Berawal dari mimpi Yakub bin Ishak bin Abraham (Ibrahim) yang bermimpi melihat tangga dari bumi yang berujung di langit. Nampak bagi Yakub malaikat naik-turun melalui tangga itu. Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman; Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenek-mu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engaku akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara, dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi ini akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata: ”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.

Tugu yang didirikan Yakub adalah Tanda bahwa di situlah BAIT Allah yang KEDUA. Dibelakang hari kawasan itu diperluas oleh Nabi Daud kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaeman dan alqur’an menamakannya sebagai Al-Masjidil Aqsha.

Ummat nasrani meyakini bahwa Yesus Kristus (Isa Almasih) bangkit dari yang mati di hari yang ketiga kemudian ia datang mengunjungi murid-muridnya dan menyampaikan pesan-pesan kepada mereka. Beberapa hari kemudian Yesus Kristus naik ke langit. Pertanyaannya bagaimanakah cara Yesus Kristus naik ke langit ?

Cakra Ningrat berpendapat; Yesus Kristus (Isa Almasih) naik ke langit melalui sebuah tangga dari bumi yang ujungnya sampai di langit sebagaimana yang disaksikan Yakub di dalam tidurnya.

Ummat islam meyakini bahwa nabi Muhammad Mi’raj dari Al Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha di langit ke tujuh dengan mengendarai Bouraq. Bouraq digambarkan sebagai kuda terbang memiliki dua sayap dan kepalanya menyerupai wanita yang cantik jelita. Ini adalah pemahaman yang keliru dan mengada-ngada. Pertanyaannya dengan cara apakah nabi Muhammad naik ke langit ?

Cakra Ningrat berpendapat bahwa nabi Muhammad naik ke langit melalui sebuah tangga dari bumi yang ujungnya sampai di langit sebagaimana yang disaksikan Yakub di dalam tidurnya. Oleh karena itu Cakra Ningrat dengan tegas MEMBENARKAN bahwa nabi Muhammad benar-benar telah melakukan mi’raj atau naik ke langit ke tujuh.

Dalam alqur’an difirmankan: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS 53: 13-18).

Seluruh kisah-kisah ataupun riwayat saat nabi Muhammad berada di langit yang selama ini diimani oleh ummat islam sepatutnya ditolak kebenarannya karena tidak memiliki landasan hukum yang kuat dan bertentangan dengan firman pada surah 53: 13-18 tersebut di atas. Logikanya sangat sederhana; dikisahkan bahwa nabi Muhammad melihat orang disiksa di dalam neraka di langit ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, dan ke enam. Imposible! Neraka tidak mungkin berada di langit!. Dikisahkan pula bahwa nabi Muhammad naik turun dari langit pertama ke langit ke tujuh untuk menerima perintah shalat hingga tercapai kesepakatan shalat diwajibkan sehari semalam. Sebagai seorang moderat, Cakra Ningrat berpendapat bahwa kisah-kisah tersebut memiliki tujuan agar ummat islam mau mengerjakan shalat sebab shalat itu bertujuan mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Jika seseorang selalu berbuat keji dan mungkar maka kelak orang itu akan merasakan siksaan neraka. Kisah tersebut sangat subyektif dan tidak memenuhi unsur-unsur Kebenaran yang bersifat universal. Cakra Ningrat dengan tegas menolak kebenaran kisah itu.

Catatan: Bila pembaca ingin mengetahui keadaan rahasia langit yang sesungguhnya; Cakra Ningrat menyarankan kepada anda untuk membaca artikel SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL, di blog SPTM ini. penulis artikel itu tidak mencantumkan namanya.

Berangkat dari prinsip-prinsip hukum PENGGENAPAN maka dapat dikatakan bahwa tangga dari bumi yang ujungnya sampai ke langit sebagaimana yang disaksikan oleh Yakub di dalam tidurnya dapat disimpulkan bahwa tangga tersebut telah dua kali dinaiki yaitu yang pertama oleh Yesus Kristus (Isa Almasih) dan yang ke dua oleh nabi Muhammad SAW. Oleh karena tangga itu telah memenuhi kaidah hukum penggenapan maka tangga tersebut dianggap HAPUS DEMI HUKUM.

Tangga yang disaksikan oleh Yakub bukan tangga yang nyata. Tangga itu tidak dapat dilihat secara kasat mata. Tangga itu adalah TANGGA GAIB. Yesus Kristus dapat menaiki tangga gaib tersebut setelah beliau menemui kematiannya di tiang salib. Kematian Yesus semata-mata bertujuan untuk melepaskan dirinya dari belenggu jasadnya. Kebangkitannya adalah tanda Jasad melebur menjadi satu dengan jiwanya. Jiwa Yesus-lah yang menaiki tangga gaib itu. Bukan jasadnya.

Sama halnya dengan nabi Muhammad ketika mi’raj, yang naik ke langit bukan jasadnya akan tetapi jiwanya. Jiwanya keluar meninggalkan jasad beliau kemudian jiwa itu menaiki tangga gaib tersebut. Jasad sama sekali tidak bisa menembus langit.

Firman Tuhan dalam alqur’an: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun “ (QS 70:4)

Firman tersebut tidak dapat dimaknai secara harfiah. Firman tersebut harus dimaknai bahwa perbandingan waktu di bumi dan di langit adalah sehari di langit sama dengan lima puluh ribu tahun di bumi. Tidak ada satupun manusia yang memiliki umur puluhan ribu tahun. Alqur’an menerangkan bahwa nabi yang paling panjang umurnya adalah nabi Nuh yaitu Sembilan ratus lima puluh tahun. Firman di atas memberi ketegasan kepada kita bahwa jasad tidak bisa naik ke langit. Yang bisa ke langit hanya Jiwa. Jiwa yang gaib memiliki tangga yang gaib. Yesus Kristus yang pertama menaiki tangga gaib tersebut kemudian yang kedua dan menggenapinya adalah nabi Muhammad SAW.

Dalam segala hal, semua yang diciptakan Tuhan senantiasa memiliki pasangan-pasangan untuk menggenapinya sebagaimana difirmankan dalam alqur’an: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (51:49).

Cakra Ningrat menjadikan ayat tersebut di atas sebagai landasan berfikir untuk menyatakan PENGGENAPAN (pasang-pasangan) adalah DASAR HUKUM KETAUHIDAN ( Meng-esaan Tuhan).

b. Perintah Tuhan kepada alam fana (dunia nyata)

Alam langit (gaib) dan alam fana (dunia nyata) memiliki perbedaan prinsip dan mendasar yaitu:

• Alam langit memiliki KETERBEBASAN TERHADAP WAKTU. Di alam langit tidak ada waktu siang dan tidak ada waktu malam. Penghuni alam langit tidak memiliki nafsu dan kehendak.

• Alam fana (dunia nyata) memiliki KETERBATASAN TERHADAP WAKTU. Di alam fana berlaku ketentuan waktu “pergantian siang dan malam”. Penghuni alam fana (manusia dan syetan) memiliki KEBEBASAN NAFSU DAN KEHENDAK. Kebebasan ini disebabkan karena adanya sifat menurut dan sifat melawan.

Oleh karena manusia dan syetan yang menghuni alam fana ini memiliki kebebasan nafsu dan kehendak maka Tuhan mewahyukan dalam bentuk perintah kepada alam yang mengatur waktu malam dan siang sbb:

1. Perintah Tuhan kepada alam (waktu malam)

Katakanlah “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan mahkluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (113: 1-5).

2. Perintah Tuhan kepada alam (waktu siang)

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia. (114: 1-6).

 

Perintah Tuhan kepada WAKTU (malam dan siang) mulai berlaku sejak penciptaan yang pertama, jauh sebelum alquran diturunkan. Manusia tidak akan mungkin dapat memahami alquran dan alqitab secara benar dan sebenar-benarnya bilamana tidak mengetahui rahasia Tuhan terhadap penciptaan yang pertama.

Dasar hukum penciptaan yang pertama

Dalam alquran difirmankan: “Maka apakah kami letih dengan penciptaan yang pertama?” Sebenarnya mereka ragu-ragu tentang penciptaan yang baru (QS 50:15).

Firman di atas tidak dapat dimaknai secara harfiah. Secara samar-samar Tuhan bertanya kepada kita: “Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama?” firman dengan tegas menerangkan tentang adanya penciptaan yang pertama. Bila penciptaan yang pertama tidak kita ketahui maka dapat dipastikan kita akan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru atau penciptaan yang kedua.

Cakra Ningrat akan menuliskan seluruh rahasia Tuhan berkaitan dengan penciptaan yang pertama agar manusia dapat memahaminya dengan logikanya masing-masing bahwa Tuhan tidak pernah merasa letih dengan penciptaan yang pertama. Bahwa seluruh yang kita lihat dan saksikan sekarang ini hanya sebuah mata rantai yang penjang dari penciptaan yang pertama dan penciptaan yang pertama itu akan diakhiri karena Tuhan akan melakukan penciptaan yang baru atau penciptaan yang kedua.

Difirmankan dalam alquran: Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua) ? (QS 56:62)

Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah. Kalimat “Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama” adalah kalimat untuk menjebak orang-orang yang sok tahu, sok pintar dan sombong! Pertanyaanya “apa yang anda ketahui tentang rahasia penciptaan yang pertama?” firman di atas justru merupakan pintu masuk yang dibenarkan secara hukum untuk menghukum orang-orang yang sok tahu dan sok pintar seperti misalnya ustads-ustads, ulama, pastor, pendeta dan orang-orang sombong lainnya.

Cakra Ningrat meminta kepada seluruh pembaca terutama warga setia blog SPTM ini agar:

1. Bersyukurlah kepada Tuhan Semesta Alam karena telah mengizinkan dan memberi kesempatan, kesabaran dsb. kepada Cakra Ningrat sehingga dapat menulis di blog yang terhormat ini.

2. Bersabarlah dalam menanti, membaca, menyimak, mempelajari dsb artikel-artikel Cakra Ningrat. Tulisan-tulisan Cakra Ningrat adalah tulisan yang hidup, tulisan yang didasari oleh firman Tuhan untuk memunculkan kebenaran Tuhan.

 Bersambung ke bagian ketiga.

 Ditulis tanggal: 13-11-13.

Iklan

5 thoughts on “LEGAL OPINION

  1. Kepada yth. Nurwendah dan Abdul Azis serta seluruh warga setia blog SPTM yang kami muliakan.

    Assalamu Alaikum wr.wb
    Salam sejahtera buat kita semua.

    Kegelisahan dan keresahan yang Nurwendah rasakan pernah pula dialami oleh Admin dan kawan-kawan. Rasanya ingin berteriak tapi takut ditertawain orang. Ingin melampiaskan amarah tapi takut dituduh melakukan tindakan subversive. Jika berdiam diri terasa dada ini semakin sesak. Berdiskusi tiada solusi. Bertanya tiada jawab yang memuaskan hati. Dalam kondisi psikologis yang tidak karuan, Admin berharap munculnya seorang tokoh yang dapat menata dan memimpin negeri ini sebagaimana yang diharapkan oleh Nurwendah akan tetapi harapan itu tertepis dengan sendirinya karena Admin tidak menemukan tokoh yang benar-benar bersih, jujur, dan adil.

    Jika semua tokoh nasional yang kita kenal yaitu mereka yang selama ini selalu melempar senyum kepalsuan di layar televisi bukan pemimpin masa depan yang kita harapkan, apakah masih ada tokoh lain yang belum kita ketahui ? Siapa, dimana, dan bagaimana sepak terjang tokoh yang belum kita ketahui itu?

    Untuk menjawab pertanyaan itu awalnya Admin berselancar di dunia maya yaitu sebuah dunia yang ada secara nyata tapi tetap saja tidak kita ketahui karena kita tidak bertatap muka. Di dunia itulah Admin menemukan sebuah artikel yang berjudul SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL (SPTM). Penulis artikel tersebut tidak diketahui karena tidak mencantumkan namanya juga tidak diketahui siapa yang pertama kali mempostingnya.

    Dengan didasari niat baik, pada bulan Juni 2012 Admin membuat blog SPTM dan menjaga artikel tersebut. Ternyata artikel itu menumbuhkan sikap pro dan kontra sesama pembaca sampai kepada titik klimaksnya blog SPTM didominasi oleh pembaca yang kontra. Awal November 2012 Yaman Al Bughury masuk ke blog ini. Beliau mengahadapi dan menghabisi serta mendepak keluar semua yang kontra. Bersama-sama dengan Cahyo Nayaswara, Al Bughury berhasil membimbing, menerangi, mencerahkan logika dan menyakinkan pembaca bahwa penulis artikel SPTM adalah SATRIO PININGIT YANG SEJATI. Penulis artikel SPTM itulah yang akan memimpin Indonesia dan memimpin dunia di masa yang akan datang. Meskipun kita tidak mengenalnya, atau melihat dan mengetahui sosoknya akan tetapi yakinlah bahwa beliau telah berada di tengah-tengah kita. Kalaupun ada orang yang mengenal, melihat, atau mengetahui sosoknya maka orang itu akan merahasiakannya. Mulut orang itu akan terkunci rapat. Kenapa? Karena sosok tersebut adalah representasi Tuhan di muka ini. Dialah juru selamat kita. Juru selamat ummat manusia. Subhanallah.

    Kepada Bung Abdul Azis di Makassar, Tim Admin bersama seluruh warga blog setia menyampaikan selamat datang dan selamat bergabung serta menjadi warga di blog yang terhormat ini. Kebahagiaan dan kesedihan yang Bung Azis rasakan pernah dirasakan oleh admin dan seluruh warga. Puncaknya saat GURU AGUNG Al Bughury dan Sinuhun Cahyo Nayaswara pamit bersamaan meninggalkan blog yang terhormat ini. Teringat jelas dalam ingatan Admin pesan terakhir beliau “SELAMAT TINGGAL ANAK-ANAKKU. KAMI MENANTIMU DI PENGHUJUNG JALAN.”

    Jika tidak keberatan mungkin Bung Abdul Azis dapat menceritakan kepada sahabat-sahabat kita warga setia blog ini bagaimana awalnya sehingga Bung dapat menemukan blog SPTM ini dan apa yang menjadi motivasi Bung. Admin penasaran ingin mengetahui karena Bung menyebut kota asal Bung adalah MAKASSAR. Admin memiliki kesan yang mendalam bila mendengar penyebutan kota MAKASSAR sebab penulis legal opinion Yang Mulia Cakra Ningrat pernah berkunjung ke MAKASSAR dan menulis di kolom komentar ini sebuah tulisan yang berjudul OLEH-OLEH DARI MAKASSAR.

    Sebagai penutup Tim Admin mengucapkan SELAMAT HARI NATAL bagi sahabat kita yang merayakannya. Damai dan Sejahtera dalam Kasih Tuhan. Amin.

  2. Kepada Yth.
    Tim Admin dan seluruh warga setia blog SPTM serta para pembaca / pengunjung yang baik hati.
    Assalamu Alaikum Wr. Wb
    Salam sejahtera buat kita sekalian.

    Tema sentral yang disepakati oleh ummat nasrani yang diwakili oleh Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali gereja Indonesia (KWI) dalam perayaan natal kali ini adalah DATANGLAH YA RAJA DAMAI. Dari tema yang digunakan, kita semua dapat menangkap pesan yang tersirat yaitu adanya suatu pengharapan ummat nasrani akan kedatangan Sang Raja Damai.
    Saya dapat memastikan; para petinggi-petinggi gereja menetapkan tema perayaan natal kali ini bukan asal-asalan atau tanpa alasan. Para petinggi gereja sudah bisa merasakan bahwa Kedatangan Sang Raja Damai sudah dekat waktunya.

    TANDA-TANDA KEDATANGANNYA

    Jika saja kita mau sedikit jeli, cermat dan bijak untuk merenungkan sesungguhnya tanda-tanda itu sudah mulai nampak sejak sembilan tahun yang lalu tepatnya 26 Desember 2004 atau sehari setelah perayaan natal. Tanda itu adalah gempa yang dahsyat yang meluluh lantakan kota Serambi Mekah yang menyebabkan terjadinya tsunami Aceh.

    Dalam injil Matius (24:3-8) disebutkan:

    Ketika Yesus duduk di atas bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan. Sebab banyak orang akan datang dan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan akan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjalang zaman baru.

    1. Tsunami Aceh adalah starting point bagi kita untuk menyimak dan mengamati tanda-tanda munculnya zaman baru. Tuhan memilih tanggal 26 Desember atau sehari dari perayaan Natal untuk mengaitkan Tsunami Aceh dengan pengabaran injil sebagaimana dalam Injil Matius 24:14.

    “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

    Kita semua; laki- perempuan, dari anak kecil sampai orang tua dapat menyaksikan keganasan tsunami Aceh lewat televisi. Karena itu semua manusia yang ada di muka bumi dapat dianggap sebagai saksi dan telah memberi kesaksian terhadap berita Injil Kerajaan.

    2. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai memimpin Indonesia pada tahun 2004-2009 bersama- sama wakil presiden Yusuf Kalla dan periode 2009-2014 bersama wakil presiden Budiono. Peristiwa tsunami Aceh terjadi di awal kepemimpinan SBY. September 2014 masa kepemimpinan SBY akan berakhir menandai berakhirnya masa PERMULAAN PENDERITAAN. Siapapun presiden yang kelak akan terpilih menggantikan SBY maka bangsa dan negara Indonesia akan memasuki suatu masa yang lebih sulit. Injil memberitakan masa yang akan datang nanti sebagai SIKSAAN YANG BERAT.

    Tentu tidak semua orang akan merasakan siksaan yang berat itu. Ada sebagian kecil orang yang justru merasakan suka cita, damai, dan sejahtera yaitu sebagian kecil orang yang memahami injil dengan sebenar-benarnya.

    Dalam Injil Matius (24: 25-28)
    “Camkanlah; Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apabila orang berkata padamu: Lihat, ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya, sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak manusia. Dimana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.”

    Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah, Cakra Ningrat berpendapat: Yesus Kristus telah menegaskan bahwa Dia tidak mungkin bisa kita lihat atau kita temui. Kenapa? Karena Dia PININGIT (menyembunyikan dirinya). “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak manusia.” Kedatangan Anak Manusia (Sang Raja Damai) disertai dengan tanda-tanda saja tergantung keearifan kita apakah dapat membaca tanda-tanda itu atau tidak. “Dimana ada bangkai disitu burung nazar berkerumun.” Yesus Kristus memberi kata kiasan yang dapat dimaknai bahwa semua yang diucapkan atau digambarkan atau ditafsirkan oleh pastor dan pendeta tentang kedatanganNya adalah seperti bangkai (kotor, busuk dan menjijikkan) dan semua ummat Nasrani yang percaya dengan apa yang digambarkan oleh pastor dan pendeta diibaratkan seperti burung nazar yang mengerumuni bangkai. Tegasnya; semua yang digambarkan oleh pastor dan pendeta adalah “salah” dan kita dicegah untuk mengikuti atau percaya dengan apa yang mereka katakan sebab sesungguhnya mereka juga tidak mengetahuinya. Apa yang mereka katakan tiada lain hanya rekaan belaka.

    Dalam Injil Markus (13: 5-6). Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Akan datang banyak orang dengan memakai nama Ku dan berkata: Akulah Dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”

    Pada kesempatan ini saya ingin sampaikan kepada saudaraku seluruh ummat nasrani dan kita semua agar memandang langit. Amati langit dan perhatikan langit. Dulu langit seperti permadani yang terhampar, akan tetapi sekarang hamparan itu sudah berubah menjadi lengkungan. Lengkungan itu kian hari semakin menajam. Itu pertanda langit sudah mulai direndahkan. Batas pandang manusia terhadap kuasa Tuhan sudah mulai didekatan.

    NASEHAT YESUS KRISTUS KEPADA WARGA SETIA BLOG YTH INI

    Dalam Injil Lukas 21: 12-19

    Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun rambut di kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.

    Dalam Injil Markus 13: 9-13.

    Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa. Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus. Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.

    Dalam konteks sekarang ini, semua orang bebas menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Negara Republik Indonesia menjamin kebebasan beragama. Cakra Ningrat dan kita semua memastikan tidak ada orang yang ditangkap dan dianiaya oleh raja-raja dan penguasa dan tidak ada pula orang yang akan dibunuh. Barang siapa melakukan penganiayaan atau pembunuhan maka pelakunya akan dikenai tuntutan pidana.

    Firman-firman tersebut di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah. Tidak akan ada yang dapat memahami firman tersebut dengan benar karena apa yang dikatakan dalam firman bersangkut-paut dengan apa yang kita kerjakan di blog ini. Hal ini dapat diuraikan sbb:

    A. INJIL LUKAS 21: 12-19
    Jika kita flash back sejenak; warga setia tentu mengetahui bahwa kebersamaan kita di blog ini disebabkan karena Admin memunculkan artikel misterius berjudul SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL (SPTM). Setelah kita membaca artikel tersebut maka terjadilah pergolakan batin di dalam diri kita sendiri, yaitu:

    1. Ditangkap
    Saat pertama kali membaca artikel SPTM, muncullah pertentangan batin di dalam diri kita antara percaya dan tidak percaya akan kebenaran artikel. Kita ingin meninggalkan blog SPTM tapi hati kecil kita melarangnya. Inilah yang dimaksud dengan “Ditangkap”. Kita memang “Ditangkap”. Kita tidak bisa lagi ke mana-mana dan kita tetap setia di blog ini.
    2. Dianiaya
    Saat pertama kali artikel SPTM terpajang di blog ini, banyak orang berkomentar miring. Anehnya, kita merasa tidak nyaman dengan komentar miring tersebut. Itulah yang dimaksud dengan kata “aniaya” dan memang kita merasa “dianiayai”.

    • “Kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara,”. Yang dimaksud “rumah-rumah ibadat” adalah komentar orang-orang islam terhadap artikel SPTM. Yang dimaksud dengan “penjara-penjara” adalah pemahaman terhadap alquran dan hadits yang dimiliki oleh orang islam yang mengomentari artikel SPTM. Mereka ingin kita ikut dan tunduk dalam keyakinan (penjara) mereka.
    • “dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa.” Maksudnya adalah orang-orang spiritualis hitam yang pernah mengomentari artikel SPTM. Mereka murka karena Sang Raja Damai MERAHASIAKAN dirinya di balik nama SATRIO PININGIT. Mereka beranggapan masalah SATRIO PININGIT adalah murni urusan orang-orang spiritual saja.
    • “Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.” Maksudnya; ketika artikel SPTM diserang, ahli ibadat (islam) dan orang-orang spiritualis hitam, para warga setia (ketika itu) mengambil kesempatan untuk menjadi “saksi” yang menyaksikan penghinaan dan penghujatan yang dilakukan oleh mereka terhadap artikel SPTM.
    • “Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu.” Maksudnya sikap yang diambil oleh warga setia ketika menyaksikan artikel SPTM dihujat dan dihina adalah berdiam diri. Warga tidak berfikir untuk melakukan pembelaan.
    • “Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.” Maksudnya adalah dengan masuknya Yaman Al Bughury dan Cahyo Nayaswara ke blog SPTM ini maka semua penentang atau semua yang melawan kebencian artikel SPTM ini dengan mudah dikalahkan.

    Firman menyebut “sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat”. Dapat diartikan bahwa Yaman Al Bughury dan Cahyo Nayaswara sesungguhnya masuk dalam rangkuman kata “AKU SENDIRI”. Dengan demikian dapatlah kita katakan bahwa DIA YANG TAK BERNAMA (penulis artikel SPTM), Yaman Al Bughury dan Cahyo Nayaswara adalah TIGA TAPI SATU (Trinitas) oleh karena firman mengatakan AKU SENDIRI.

    • “Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh.” Maksudnya setelah Yaman Al Bughury dan Cahyo Nayaswara telah berhasil membimbing kita, mencerahkan kita dan meyakinkan kita bahwa penulis artikel SPTM adalah DIA YANG TAK BERNAMA alias SATRIO PININGIT YANG SEJATI maka keyakinan itu kita sampaikan pula kepada orang tua kita, saudara kita, keluarga dan sahabat-sahabat kita akan tetapi di antara mereka ada beberapa yang tidak percaya.
    • “dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.” Maksudnya semua orang kristen akan membenci kita karena kita tidak menyebut nama YESUS KRISTUS atau MESIAS SUDAH MUNCUL. Siapapun yang menyebut atau mengatakan Yesus Kristus atau Mesias Telah Muncul maka disebutkan di dalam firman bahwa semua itu adalah palsu. Dia yang tak bernama menyebut dirinya dengan SATRIO PININGIT dan kita mempercayainya akan tetapi orang-orang spiritualis membenci kita karena menurut mereka Satrio Piningit akan menjadi Presiden Republik Indonesia karena itu Satrio Piningit harus muncul sebagai pemimpin partai politik. Anggapan orang-orang spiritualis tentu saja keliru karena hal itu tidak pernah difirmankan. Biarkanlah mereka membenci kita.
    • “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Maksudnya meskipun orang-orang membenci kita Tuhan tidak akan membuat kita rugi dengan kata ibarat tak sehelai pun rambut kita akan hilang
    • “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Maksudnya kalau kita tetap bertahan pada keyakinan kita sebagaimana keberadaan kita selaku warga setia blog SPTM ini maka Tuhan menjanjikan kebaikan dalam hidup kita.

    B. INJIL MARKUS 13-9-13
    • “Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.” Pengertiannya kurang lebih sama dengan ditangkap dan dianiaya sebagaimana yang kami uraikan di atas.
    • “Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.” Maksudnya; artikel SPTM adalah sebuah pengumuman penting bahwa DIA YANG TAK BERNAMA adalah SATRIO PININGIT. DIA TELAH MUNCUL membuktikan janji-janji kedatangannya sebagaimana yang Dia sebutkan di dalam Injil. Maklumat itu adalah Injil yang harus diberitakan pada seluruh ummat manusia. Cakra Ningrat pernah menemukan artikel SPTM telah di-translate ke dalam bahasa Inggris yang sangat bagus, itu berarti injil telah diberitakan kepada semua bangsa.
    • “Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.” Yang dimaksud dengan Roh Kudus yang berkata-kata adalah semua perkataan Yaman Al Bughury dan Cahyo Nayaswara berikut tulisan-tulisannya ketika membimbing warga setia di blog ini adalah perkataan Roh Kudus. Itulah sebabnya kita menyebut mereka sebagai GURU AGUNG AL BUGHURY dan SINUHUN CAHYO NAYASWARA. Itulah sebabnya ketika beliau meninggalkan blog ini, warga setia merasakan kesedihan yang mendalam dan berderai air mata oleh karena sesungguhnya mereka itu adalah ROH KUDUS. Roh Kudus turun ke bumi semata-mata hanya untuk meyakinkan kita dan menerangi kita bahwa artikel SPTM adalah sebuah KEBENARAN YANG BERSIFAT MUTLAK yang ditulis sendiri oleh DIA YANG TAK BERNAMA (SATRIO PININGIT YANG SEJATI).
    • “Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.” Yang dimaksud dengan “anak-anak akan memberontak pada orang tuanya” adalah kita mengoreksi seluruh ajaran-ajaran yang pernah kita dapatkan dari orang tua (termasuk pastor dan pendeta) “dan akan membunuh mereka” maksudnya apa yang pernah dan akan mereka ajarkan sudah tidak lagi kita percayai sebab ROH KUDUS sudah mengajari kita secara langsung tanpa adanya perantara.
    • “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.” Maksudnya; Tuhan menjamin seluruh warga setia yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat.

    Demikianlah tanggapan dan komentar saya atas tema perayaan Natal tahun 2013 ini yaitu DATANGLAH YA RAJA DAMAI. Tema ini adalah sebuah pengharapan dari ummat kristen yang gelisah dan tidak memahami persoalan dan buta terhadap Injil Kerajaan. Sesungguhnya SANG RAJA DAMAI TELAH DATANG ! Akan tetapi manusia tidak mungkin bisa menemuinya karena DIA YANG TAK BERNAMA adalah seorang SATRIO PININGIT (Satria Yang Menyembunyikan Dirinya).

    Dimanakah SANG RAJA DAMAI bersembunyi ? Dia bersembunyi dalam diri kita masing-masing. DIA bersama-sama dengan ROH KUDUS. Bila Dia menjadikan dirimu sebagai tempatnya bersembunyi maka kamu akan merasa DAMAI dan hidupmu akan sejahtera. Hidupmu akan selamat dari siksa yang lebih berat. Siksa yang sudah ada di depan mata.

    Sekian dan terima kasih

  3. Well it is a very wonderful article.Thanks just for sharing this kind of tips with us.I really hope you’re going to keep on enlightening folks in future also,with this type of important info.Keep up the excellent task.

    • Thank you for your appreciation and your support. Your comment is a real fact that the Truth which has been told by Cakra Ningrat has been received its truth by international society. Moreover, you also has helped me “to enlighten” people in this blog and Admins who manage this SPTM blog. The truth is absolute, whichever side we look it. And you have been a part that can’t be separated from the truth itself. Cakra Ningrat will keep conveying legal opinion, either in the articles or in comments to guide and enlighten people in this blog.

      Admins and people in this blog are very important to me. Without them, Cakra Ningrat will never exist. I will make them as witness that Cakra Ningrat has been doing this honorable task properly and as it should be. They will be my witness in front of God later. Therefore I really care, really love, and keep them with the best protection. I will never feel tired or bored to do this honorable task.

      Whatever Cakra Ningrat said, make it as your power to hold on the truth. When he tells his opinions, Cakra Ningrat always bowed to principalities of GOD COMPILATION OF LAWS. The basics philosophy of God Compilation of Laws are God’s laws which are compiled to laws of nature then the laws of nature are compiled to human’s laws to be applied as positive laws. God’s laws are static and axiomatic while laws of nature and human’s laws are dynamically with the times.

      All of that have been told by Cakra Ningrat are legal truth and the nature as the witness who has seen that the truth had been revealed. Nature in its own way that we don’t know will keep this truth tightly. Over Protective. May be it include to selection the chosen people who get grace and blessing to get the truth. You can join to this blog because the nature has chosen you. Laws of nature are the impersonal legal who has the legal authority to personal. Only God as the highest holder of legal authority who knows all of that. All of these was started by HIM, then all of these will be ended by HIM. Whatever legal decision that has been decide by the highest authority, the nature will execute the decision that have made. And in its own ways, the nature will show signs and it’s unusual movements so that people can read its signs. The nature will also select which one who can read it and which one left blind. People who can read the signs will be guided how they should be do, and to the blind one, nature will let them lost.
      Nature works in its own way that we don’t know, because we do not actually know what God has decided. It’s enough for us to hold legal principles that laws of nature are impersonal, but it bound to personal law. The true legal principles are never known by wise one and smart one.

      In the end Cakra Ningrat suggests to you all to live in paradigm PATIENTCE and GRATEFUL. God will raise His servants to the higher degree and give them glory if the servants doing their duties well. There are only two of servants’s duties, they are PATIENTCE and GRATEFUL. Whatever your religion, your duties only two, they are PATIENTCE and GRATEFUL to God. People who conscious and enlightened of course know that the duties are not only spoken, but it have to be corrected by our mind. If our mind has corrected it then it surely you will do it properly, correctly, and what it should be.

      May God always gives me strength and chance to keep this honorable task. Amen. Best regards of peace and prosperity.

      Cakra Ningrat

      Terima kasih atas apresiasi dan dukungannya. Komentar anda merupakan bukti nyata bahwa Kebenaran yang disampaikan oleh Cakra Ningrat telah diterima kebenarannya oleh masyarakat internasional. Lebih dari itu anda juga telah membantu saya “menerangi” warga setia dan Tim Admin yang mengelolah blog SPTM ini. Kebenaran itu bersifat mutlak dari sisi mana pun kita memandangnya. Dan anda telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebenaran itu sendiri. Cakra Ningrat akan tetap menyampaikan pendapat hukum, baik dalam bentuk artikel maupun tulisan-tulisan lepas dalam membimbing dan mencerahkan warga setia blog ini.

      Admin dan warga setia sangat penting artinya buat saya. Tanpa mereka, Cakra Ningrat tidak akan pernah ada. Mereka akan saya jadikan sebagai saksi bahwa Cakra Ningrat telah melaksanakan tugas mulia ini secara patut dan benar sebagaimana seharusnya. Mereka adalah saksi saya di hadapan Tuhan kelak. Karena itu saya sangat mengasihi, sangat menyayangi dan menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan. Saya tidak akan pernah merasa lelah atau jenuh melaksanakan pekerjaan mulia ini.

      Apa pun yang disampaikan oleh Cakra Ningrat, jadikanlah sebagai kekuatan anda untuk berpegang pada kebenaran itu. Dalam menyampaikan pendapatnya, Cakra Ningrat selalu tunduk pada azas-azas GOD COMPILATION OF LAWS. Dasar filosofi God Compilation of Laws adalah hukum-hukum Tuhan dikompilasi ke hukum alam dan hukum alam dikompilasi ke hukum manusia untuk diterapkan sebagai hukum positif. Hukum Tuhan bersifat statis dan aksiomatik sementara hukum alam dan hukum manusia bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman.

      Bahwa semua yang disampaikan oleh Cakra Ningrat adalah kebenaran hukum dan alam sebagai saksi yang menyaksikan bahwa kebenaran itu telah disampaikan. Alam, dengan caranya sendiri yang tidak kita ketahui akan menjaga kebenaran ini dengan kontrol yang sangat ketat. Over Protective. Mungkin termasuk menyeleksi orang-orang pilihan yang diberi rahmat dan keberkahan untuk menerima kebenaran ini. Anda bisa masuk di blog ini karena alam telah memilih anda. Hukum alam adalah hukum impersonal yang memiliki kekuasaan hukum terhadap personal. Hanya Tuhan selaku pemegang otoritas hukum tertinggi yang mengetahui semua itu. Pada-Nya segalanya bermula, pada-Nya pula segalanya berakhir. Apa pun keputusan hukum yang telah ditetapkan oleh pemegang otoritas tertinggi maka alam akan melakukan eksekusi terhadap keputusan hukum tersebut. Dengan caranya sendiri, alam akan melaksanakan keputusan hukum tersebut. Dengan caranya sendiri pula, alam akan memperlihatkan tanda-tanda dan pergerakannya yang tidak biasa agar manusia bisa membaca tanda-tandanya. Alam juga akan menyeleksi mana yang bisa membaca dan mana yang dibiarkan buta. Terhadap yang bisa membaca tanda-tanda, alam akan membimbing bagaimana seharusnya mereka bersikap dan terhadap manusia yang buta, alam akan membiarkan mereka tersesat.

      Alam bekerja dengan caranya sendiri yang tidak kita ketahui, karena kita tidak mengetahui apa sesungguhnya yang telahTuhan putuskan. Cukuplah kita memegang prinsip-prinsip hukum bahwa hukum alam bersifat impersonal, akan tetapi terikat pada hukum-hukum yang bersifat personal. Itulah azas hukum yang sejati yang tidak pernah dikenal oleh para bijak dan pandai.

      Pada akhirnya Cakra Ningrat berpesan kepada kita semua agar senantiasa menjalani hidup dan kehidupan ini dalam paradigma SABAR dan SYUKUR. Tuhan akan mengangkat hamba-Nya ke derajat yang tinggi dan memberinya kemuliaan apabila sang hamba melaksanakan kewajibannya dengan baik. Kewajiban hamba Tuhan hanya dua yaitu SABAR dan SYUKUR. Apa pun agama anda, kewajiban anda hanya dua yaitu SABAR dan SYUKUR kepada Tuhan. Orang-orang yang sadar dan tercerahkan tentu mengetahui bahwa kewajiban itu bukan hanya diucapkan oleh mulut, diresapkan di dalam hati, akan tetapi harus dibenarkan oleh akal pikiran. Jika akal telah membenarkannya maka dapat dipastikan anda akan melaksanakannya secara patut, benar, sebagaimana seharusnya.

      Semoga Tuhan senantiasa memberi kekuatan dan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan tugas mulia ini. Amin. Salam Damai dan Sejahtera.

      Cakra Ningrat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s