SATRIO PININGIT SANG MANUSIA SEMPURNA

The Seeker: “ada artikel yang nyambung dengan tulisan Satrio Piningit”

SATRIO PININGIT SANG MANUSIA SEMPURNA

Oleh: Gusti

 

SANG PEMIMPIN (artikel pertama)

Oh Negeriku Tercinta
Keadaanmu sakit dan menderita
Baik alam dan rakyat serta pemimpinnya
Rakyat sakit lahir ,batin ,pikiran, perasaan
Pemimpin dipilih dari rakyat untuk rakyat
Maka pemimpin adalah pilihan rakyat, karena dari rakyat
Jadi lah memimpin yang sakit yang memimpin rakyat negara sakit
Sakitlah semuanya keadaan negaraku, tanah airku

Tidak akan sembuh negaraku oleh sistem manusia sakit????
Negara , rakyat akan sembuh, Jika di pimpin oleh pemimpin yang sehat lahir batin

Hanya pemimpin, pilihan Tuhan yang mendapatkan wahyu dari-Nya yang dapat menyembuhkan, memakmurkan, menjaga negeriku rakyat nusantara……..adil, makmur, bahagia

Negeri para dewa tidak akan mencontoh kemakmuran negerinya hanya semua dengan bentuk kenikmatan ragawi dan nafsu?

Melainkan dapat mengangkat harkat martabat manusia ke tingkat yang lebih tinggi??Sebagai manusia sempurna yang sesuci dengan ciptaan kreasi dari yang maha sempurna?

Sekarang negeriku, rakyat nusantara lagi menderita sakit parah,masih dalam UGD menunggu  Mujizat dari Tuhan untuk di sembuhkan……

Tidak akan sembuh negeriku, rakyatku jika dengan cara sistem yang di ciptakan oleh manusia manusia sakit…..

Negeriku tidak mengenal demokrasi, negeriku mangenal kekuasaan tunggal(karena pemimpinnya manusia sempurna)  negeriku , negeri para dewa, para manusia adi luhung, yang kekuatannya bukan dari kecerdasan, materi ilmu pengetahuan duniawi saja.melainkan dari kesadaran yang tercerahkan, kesadaran tertinggi sempuna lahir batin.

Sempurna yang diajarkan oleh para manusia sempurna maka negeri ini akan berubah jika di pimpin dan diatur oleh manusia sempurna …… maka sempurnalah, makmurlah, adilah, sejahteralah negriku jika manusia yang tercerahkan , pilihan Tuhan, pengejewatahan Tuhan tidak muncul di permukaan bumi nusantara tercinta ini apa yang terjadi?????

Gelap, gelap, gelap selamanya….

Sungguh miris melihat keadaan ini yang bakal terjadi apakah negara ini akan dimusnahkan , termusnahakan , rata, diratakan, oleh karma buruk bangsa ini keadaan kehancuran di depan mata, apakah kalian masih sakit dan buta, tidak mengenal hal itu??????

Adakah dari sekian banyak rakyat yang sakit, segelintir orang yang  masih sehat lahir batinnya????

jika masih ada? masih ada setitik harapan untuk negeriku agar tidak hancur.

Sekarang ini pemimpin lahir dari sistim kekacauan ,Bukan pemimpin dari kehendak rakyat

Pemimpin yang tumbuh dari, propraganda untuk mengendalikan suara rakyat, Suara rakyat yang terkibuli, terpasung, oleh sistim yang datang dari luar.

Rakyat tidak berkuasa apapun atas negrinya? Inilah negri yang terjajah oleh sistim.

Suara rakyat  yang terbeli, tertipu, dipermainkan oleh sistim, dimana kuasamu, kamu tidak akan sadar karena sakit-sakit.

Pemimpin yang terpilih dari kemulyaan kesucian yang datang dari Tuhan

Di kawal oleh para leluhur mulya bangsa ini Itulah pemimpin yang sanggup mengembalikan kejayaan bangsa ini Baik lahir batin, kesempurnaan, kemakmuran, keadilan, kesejahteraan dll

Jadi berharap agar pemimpin semacam itu ada Untuk mengatur, memimpin, menjaga, negeri ini beserta rakyatnya, agar sehat dulu, baru makmur, adil , terakhir sempurna sebagai manusia.

Yang memancarkan cahaya kemulyaan, kesucian, kebijaksanaan, kecerdasan, keadilan, kedamaian, kebahagian dari dalam dirinya ?.

Tidak ambisius, tidak dapat dikendalikan oleh apapun, apalagi oleh harta, kekuasaan, uang, kepentingan pribadi, karena dia telah mencapai kesempurnaan sejati Menyatu dalam alam kenyataan sebenarnya ,menyatu dalam keabadian yang haqiqi, dialah yang memiliki bumi dan langit sebenarnya?

Memimpin dunia terlalu kecil bagi dirinya? Tidak mungkin dia memunculkan dirinya Kecuali jika manusia memohon kepadanya? Harapan begitu???????

Jika rakyat yg tersadarkan memohon kepada yang Maha Kuasa agar hadir manusia Sempurna itu di negeri ini, maka cepat atau lambat pasti muncul jika rakyat indonesia memerlukannya?

Dia tidak memerlukan gelaran, kekuasaan, nama baik, pujian, harta, termasuk pengabdian, dia telah melampaui segalanya dalam pencapaian kesempurnaan diri yang tertinggi,

Dia itu manusia yang sempurna, telah melampaunya semua, termasuk agama, kepercayaan, pikiran dualitas, keimanan, kepercayaan.

Dia telah bersaksi akan jati dirinya yang sebenar benarnya?

Dia melampaui semuanya(kesaktian, kesucian, alam cahaya, alam dualitas, agama, kepercayaan, pokoknya keadaan manusia) menyatu dengan yang abadi…… berada di alam yang sunyaluri, hening, yang sebenarnya, karena semuanya hilang ????? ada apa gerangan di alam ini ????? tidak ada yang sanggup mengutarakan? (bukan hening turunnya gelombang pikiran Lo) yang tidak ada gambaran, bentuk, suara, rasa energi, cahaya, kenangan,dia mencapai ke suatu keadaan, yang tidak dilahirkan di ciptakan.

Semoga negeriku, duniaku Negriku di-Pimpin olehnya dan ada di dunia ini, manusia semacam  itu , dia telah menyatu melebur  dengan sang pencipta, penghancur dan pemelihara dalam dirinya, dia yang bisa menggerakan kuasanya itu karena dia berkuasa atasnya…….

Dialah yang melampaui…. Tidak ada kata kata, gambaran lagi……..

Dia telah mengalami semua perjalanan sebagai manusia yang menuju ke alam sempurna, hening sunyaluri, ada dan tiada, semoga manusia semacam ini membimbing dan hadir serta berada pada masa kehidupanku agar aku sebagai manusia tercerahkan terbimbing olehnya, dari semua dogma, ajaran, kepercayaan, agama, keyakinan yang semuanya hanya dibicarakan katanya, menjadi jelas dan nyata

Karena dialah yang sanggup menerangkan, dia yang berhak untuk memberikan pencerahan , dia cahaya kehidupan untuk manusia , dunia ini memerlukan pemimpin yang betul mengalami setiap perjalan menuju kesempurnaan jati dirinya….

Dia yang di tunggu dan diharapkan…..

Dialah senyatanya Sang –HUUUUUUUU-mmmmmmmmmmm

Dia manusia tapi bukan manusia

Dia Maha Terang tapi bukan cahaya

Dia Ada tapi samar dan gaib

Manusia semacam ini tidak akan muncul dari kelompok agama, kepercayaan, atau kelompok macam apalah yang ada di dunia, dia telah meliputi alam semesta. Dia-lah yang telah mengESAkan dirinya, dia ada dimana mana? Dia yang terasing dan terpingit dari pandangan manusia sakit, rendah. Tak terjangkau oleh sebagian besar umat manusia 99.999999% jumlah manusia di bumi tidak mengenalnya??????? Kali hanya yang Maha Kuasa saja yang mengenalnya . mungkin-mungkin?

Yang masih mengandalkan, dogma, pikiran, baik buruk, benar salah, agama dll yang masih bingung, sakit, mencari, belajar,menghayati, mana bisa mengenalnya.

Dia rahasia dari yang ter-rahasia, dia gaib dari ter-gaib, dia samar tapi sangat nyata, dia manusia tapi bukan manusia karena pencapaiannya? Pasti ada dia- pasti ada dia, karena alam semesta masih ada karena dia ada juga.

 

NEGARAKU SEDANG SAKIT (artikel kedua)

Negaraku sedang sakit

Suatu negara ditentukan oleh rakyatnya, rakyatnya ditentukan oleh kualitas manusianya, manusianya ditentukan oleh kualitas pendidikan, pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya, gurunya di tentukan oleh kualitas ilmunya, ilmunya di tentukan oleh yang menciptakan ilmunya, kualitas ilmunya ditentukan oleh manusia yang telah mencapainya, kualitas pencapaian ditentukan oleh kualitas dirinya dalam pencapaian, pemahaman, pengertian, dan pengamalannya. Dialah ujung dari semua nya ? siapa dia yang sebenarnya, adalah pembimbing sempurna.

Jika pembimbing sempurna ada , maka akan mengajarkan kesempurnaan.
Membuktikan kesempurnaan, membuktian alam perbuatan nya.
Pembimbing sempurna dia yang telah sampai ke tujuan yang Haqiqi.
Hanya dialah yang mengetahuinya.

Karma perbuatan bisa terjadi karena diri sendiri, kelompok, organisasi, masyarakat, rakyat suatu negara dan manusia dunia, semua karmanya akan mempengaruhi dunia, negara lingkungan dan keseluruhan yang ada di sekitarnya? Semua berdampak. Dari tanaman karma dan pasti akan berbuah karma itu, buahnya akan sama dengan apa yang mereka tanam perbuat. Jika tanaman yang ditanam bibit unggul pasti buahnya uanggul dan lezat atau sebaliknya.

Manusia dalam hidupnya tidak akan mengetahui tujuan hidup yang  sebenarnya, jika tidak ada yang menghantarkan dan menunjuki kearah itu… manusia sebagai rakyat hanya-lah pengikut, mengikuti apa yang diajarkan dan mereka percayai…..

Masyarakat tidak untuk menjadi penentu, yang menjadi penentu adalah yang mereka percaya, yakini, imani, nah siapa yang menciptakan semua itu agar di ikuti, di yakini, di imani oleh rayat? Rakyat hanya mengikuti, membela dengan membabi buta, semua bisa dikendalikan, di hipnotis massal, apa melalui media, cetak, TV, radio, film, propaganda apapun bentuk caranya, agar mereka menjadi tertib? Terkendali , terkuasai oleh mereka yang mengendalikan,

Hanya segelitir orang yang memberontak menolak pengendalian itu, mereka menginginkan kebebasan dari pengendalian, propaganda, dogma yang mencekokinya, mereka mencari pencerahan agar mereka tercerahkan jika berhasil, jika tidak mereka yang terasing di dunia asing ini.

Keadaan negaraku ditentukan oleh karma rayaknya sendiri,  pemimpinnya, ini ditentukan oleh kualitas dirinya masing masing manusia sebagai penghuni. Apapun yang dirasakan sekarang adalah hasil dari tindakan, perbuatan karma masa lalu bangsaku, jika terus terpuruk dan jatuh rendah kualitas bangsaku, berarti bangsaku dan rakyatnya pada masa lalu menanam bibit yang jelek, buruk sekaranglah panennya?

Negara dan rakyatnya akan berubah keadaannya jika semua penghuninya rakyatnya, manusianya berubah, maka karma perubahan itu akan merubah nasib, kualitas negara dan bangsa , rakyatnya.

Rakyat hanya mengikuti perintah pemimpinnya, negaraku dari dulu menganut sistim negara tunggal otoriter, karena yang memimpin manusia adiluhung, sempurna, telah mengenal dirinya, maka dia mengenal rakyat, negara dan alamnya, bisa dilihat dari tata cara adat istiadatnya, seperti tumpengan, kerucut bukan?, hanya satu yang diatas, karena kebijaksana-annya pembagian kekuasan berdasarkan keahliannya antara para pandita yang mengurus apa? Raja mengurus apa, dsb, akan tetapi jika raja sempurna dialah yang bertanggung jawab secara penuh lahir batinnya kepada negara bangsa, rakyat, dunia, baik dunia tumbuhan, binatang, mahluk gaib, semua yang ada di daerah kekuasaan-nya dia sanggup memimpin.

Itu kalau bedasarkan manusia yang sempurna, karena dia mengetahui  semua alam, dia harus memimpin, tetapi rakyat biasa tidak mengetahuinya hanya sang raja yang sempurnalah yang tahu akan itu.

Begitu besar kuasa dan tanggung jawabnya, semuanya akan sanggup di jalani, karena dia telah sempurna…. Dengan sendirinya kekuatan, cahaya energi kesempurnaan yang ada pada dirinya akan terpancar keluar menerangi negara, rakyat, dan alamnya, untuk menghilangkan kekuatan kegelapan, kebodohan, keliaran, kekacauan negara dan rakyatnya….. karena Dia telah menyatu dengan dirinya, Dia telah sempurna dengan dirinya, apapun yang ia ucapakan langsung terjadi, apapun yang ia dengar ..mendengarkan semua getaran mahluk hidup, apa itu suara hati manusia, binatang, tumbuhan, alam gaib dsb…

Dia menjadi pemimpin untuk semua mahluk yang ada di dalam kuasanya, semuanya tunduk kepadanya karena pancaran cahaya Kesucian dan pengalaman hidupnya yang tersurat tersirat dari kekuatan energi cahaya yang terpancarkan dari dalam DiriNya……

Sungguh enak tenan memiliki pemimpin semacam itu, karena negara , rakyat akan diurus dengan sempurna, telaten, karena negara dan rakyat alam-nya merupakan perwujudan diri si pemimpin sempurna itu sendiri, pasti tidak akan mengecewakan yang di pimpinnya, semua akan terangkat terselamatkan termakmurkan terlindungi karena keberadaan dirinya itu. Pantas lah dunia kan menjadi surga karena penuh kenyamanan, kedamaian, kebahagiaan, karena pemimpin sudah mencapai keadaan itu semua.

Jika pemimpin semacam itu ada, apa perlu rakyat memberikan masukan kepada sang pemimpin, ya enggalah, dia berada jauh dari tingat kecerdasan rakyat, rakyat hanya diam saja pasti akan di sajikan keadaan, situasi, yang menyenangkan.

Bagaimana rakyat yang masih rendah kesadaran , ilmunya akan memberikan masukan kepada pemimpin yang telah sempurna, makanya jika ada pemimpin semacam ini tidak perlu ada demokrasi, wah kalau demokrasi semua rakyat berbicara tanpa sadar kualitas dirinya, ingin didengar padahal mereka lagi ngigau sakit…. Kacaulah keadaan dunia……..

Serahkan pasrahkan kepadanya, karena dia tidak memerlukan apapun dari keadaan dunia, dia telah tercukupi segala galanya, jadi perhiasan keadaan dunia tidak mungkin mengotori ,menarik dirinya???? Dan tidak menarik lagi dunia ini bagi beliau.

Kita sebagai manusia, negara, rakyat yang sangat beruntung memiliki pemimpin semacam itu. Hanya susah dan amat susah, tapi dia ADA, hanya kita yang tidak tahu saja, bagaimana akan tahu hal itu , manusia  telah di sibuk-kan oleh masalah hidupnya sendiri,tidak sempat untuk berbenah mensucikan diri, mengusir kegelapan diri, maka tidak akan berjumpa dan menjumpainya.

Kalau ingin berjumpa semua harus serempak masyarakat, manusia untuk berdoa mengharap sambil berbenah diri, merubah diri, mensucikan diri, dengan sadar tanpa paksaan, dengan kualitas meningkat masyarakat, manusia, maka gelombang keadaan sang pemimpin itu akan ketahuan ter-deteksi, dan bisa mendeteksi dimana keberadaanya, ibarat radio, tv, Hp dengan repeater dan operatornya…..

Kalau kita tidak ada hp, radio, tv sebagai alat penangkap signal-nya tapi operator memancarkan gelombang energinya, ya dablek ga tau apa apa.

Saya berharap untuk merubah keadaan suasana negeri, negara, bangsaku dan rakyatnya, dengan di pimpin dan di kendalikan oleh manusia semacam itu, barulah negara akan makmur menjadi negara yang berdasarkan kesempurnaan se-suci dengan maksud tujuan diciptakan tercipta manusia dan alam ini oleh Sang Pencipta, hanya sang pemimpin yang sudah melebur dengan Sang pencipta-lah yang sanggup merubah semuanya itu, jika tidak, ya ada masa gelam ada masa maju, ada masa gelam lagi, ada masa kebodohan lagi semuanya akan turun dengan sendirinya dan naik jika sudah mentok, dan berputar terus semacam itu, itulah keadaan bangsa yang berputar di antara karma bangsa dan rakyatnya?

Semoga ada perubahan agar kita dapat mandiri dari kesadaran sempurna bukan pandangan nilai yang di dapati dari manusia yang memuja duniawi, akan berbeda pandangan jika ada manusia sempurna karena kesempurnaan itulah yang akan diterapkan di sampaikan kepada kita semua….

Kalau ada yang mengatakan dimana ada manusia sempurna???? Ah itu karena dia tidak sempurna dan bodoh, jadi untuk membela dirinya itulah kata kata yang di ucapkan?

Ada katanya, Sebutan-nya, pasti ada wujudnya, hanya kita tidak tahu saja.

Keberadaan manusia sempurna selalu ada, kalau tidak ada, dunia ini sudah hancur, siapa yang memelihara dan menjaganya??? Ya DIA….. Yang di Pingit

Dari dunia rendah, paham rendah, pikiran rendah,tidak akan tahu, hanya manusia yang tercerahkan terpilihlah bisa mengetahuinya.

Saya harap, tunggu, mohon, pemimpin semacam ini yang tersembunyi disembunyikan dirahasiakan oleh kemulyaan kesucian kesempurnaannya dapat muncul memperkenalkan dirinya agar saya yang mengharap kehadirannya merasakakan manfaat , mengerti, memahami,sebagai manusia yang diciptakan sesuai maksud tujuan dari sang pencipta, hanya dialah yang sanggup membuka buku rahasia itu.

Buku rahasianya itu berada dalam dirinya, karena dirinya yang mengalami menulis semua kejadian pengalaman dalam perjalanan menuju kesempurnaan itu sendiri, dia menghidupi, menghayati, memahami, mempraktekan ilmunya sampai dia sampai ke tujuan yang rahasia ter-rahasia dari rahasia yang ada, bagi dia yang mencapainya sudah tidak rahasia lagi, karena dia sudah mengetahuinya.

 

MANUSIA SEMPURNA (artikel ketiga)

Negara , maju, makmur , adil, ditentukan oleh manusianya sebagai penghuninya, jika penghuninya bodoh, bebal, masing menggunakan sifat binatang (makan, main, tidur sex, hanya sejengkal dari pusar ke atas dan sejengkal dari pusar kebawah ) mana bisa dunia menjadi surga, yang ada sifat binatang , saling menghancurkan seperti di hutan. Siapa yang kuat kebuasannya dia menjadi raja.

Apa agama kepercayaan yang sudah ribuan tahun dapat mengantarkan manusia menuju pencapaian sempurna ?? berapa banyak orang beragama berkepercayaan telah lulus dalam agama-nya ( sampai ke Illahi) NoLLL …selama ini hanya sampai melihat cahaya sudah hebat. Akan tetapi dirinya masih terjebak terpenjara, oleh akal pikiran, dualitas (baik buruk, senang susah, Tuhan Hamba)

masih mencari kebenaran menurut dualitas, hanya kebenaran nisbi karena benar dan salah menyatu saling tarik menarik, manusia pada umumnya hanya baru sampai sana? Masih nyaman dengan kebenaran ilusi,…padahal apa yang mereka cari, kumpulkan dalam kehidupan ini akan menjadi kenangan belaka. Sayangnya kenangan yang mereka kumpulkan terbanyak adalah kenangan buruk,

gelap, menjadikan mata batin, hati menjadi gelap.

Coba anda pikirkan jika pada saat terjaga seakan akan nyata semuanya, ramai dunia ini dengan seakan akan nyata, tapi pada saat tidur dimana kenyataan tadi hilang sirna, termasuk diri anda sirna, dimana kenyataan tadi. Disinilah ke-fana-an dan ilusi. Apakah kebenaran ilusi yang dicari.???

Manusia awam senang dengan dogma yang di tanamkan pada dirinya. Dan senang dengan perbuatan debat kusir, semua masih dalam perjalanan tidak ada yang benar dan salah yang jelas belum sampai dan belum tahu benar sebanar benarnya itu kaya apa?

Kecuali ada yang telah sampai, maka dialah yang benar sebenarnya ? tapi siapa, kalau dia ada juga di depan anda tidak akan percaya anda, karena anda mengaku benar sendiri padahal anda masih di perjalanan? Repot kalau tertutup hati, kesadaran.

Bagaimana kalau ada sekelompok orang buta mau lari maraton di pimpin wasit buta, pada saat peluit di bunyikan dan mereka berlari, seperti ayam bubar mencari jalan sendiri sendiri, tidak sesuai dengan arah jalan menuju finish, mereka mencari jalan masing–masing, dan merasakan serta mengaku dirinya sudah ada di jalan yang telah ditentukan, padahal jalan pertandingan sepi dari pelari yang mengikuti petunjuk, maklum orang buta. Begitu pula kita dalam perjalanan jika buta pasti mengambil jalan masing masing, dan mengaku benar masing masing. Bagaimana dengan manusia sempurna ? dia tahu jalan matanya melek, cuman kasihan dia sendirian larinya tidak ada saingan, sampai ke finish pun tidak ada yang mengakui, hanya dirinya saja dan tulisan Finish menjadi saksi.

Jaga pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu, jaga perkataanmu karena akan menjadi perbuatanmu, jaga perbuatanmu karena akan menjadi kebiasaanmu, jaga kebiasaanmu karena akan membentuk nasibmu, dan nasibmu berawal dari pikiranmu.

Nah jika semua orang yang beragama, berkepercayaan sudah menguasai dirinya berarti bisa mengusai hidupnya? Apa sudah bisa hal ini saja? Bagaimana akan mengenal tuhan, diri sendiri saja tidak bisa dikenali? Bagaimana bisa mengenal kebenaran hakiki ? dualitas saja masih jadi raja,

Tuhan itu gaib, tidak serupa dengan ciptaan, makanya jangan dilogikakan, biarlah yang gaib itu tidak memiliki nama, malah dikasih nama oleh manusia jadi ribut, biarlah yang gaib itu tidak ada sifat, malah di-sama-kan sifatnya seperti ciptaan manusia jadi ribut-lah, semua di logika-kan, coba logikanya pake saja untuk yang logika yang dapat dicerna di dunia. Gunakan alat lain untuk mencapai yang gaib, jangan memakai logika tidak akan sampai. Pakai-lah yang gaib juga.. apa itu Roh anda?

Cuman sayang anda sendiri tidak kenal diri, tidak kenal roh, tidak kenal kesadaran, banyak tidak kenalnya akan diri bagaimana bisa kenal sama yang maha gaib? Buta buta

Bagaimana anda akan memanggil manusia sempurna dalam kehidupan anda jika anda pada buta tuli, apalagi otak dijejali dengan dalil dogma yang macam macam, dan semua itu sudah membentuk anda jika manusia sempurna ada dan hadir di sekeliling anda, pasti tidak akan percaya dan di percayai, pasti banyak pertanyaan? Apa benar dia? Mana buktinya? Dan buktinya itu harus sesuai dengan yang buta? Seakan akan yang buta yang menentukan dia manusia sempurna atau bukan. Atau guru ditentukan kualitasnya oleh muridnya? Dimana mana juga guru yang menentukan muridnya.

Makanya siap-siap kan diri untuk berubah, ber-bersih diri, dari kebutaan, kebodohan, kotoran, apa saja yang membelenggu diri, agar nanti jika bersih kehadiran sang manusia sempurna dapat merasakan dan meng-iya-kan kehadirannya. Manusia sempurna butuh apa? Manusia selamat dan hancur karena perbuatannya, perbuatannya di-karenakan pikiran, pikiran di-karenakan pendidikannya dan pengalamannya.

Manusia itu di iri dari semua mahluk, karena manusia sanggup mengembangkan dirinya dari begitu kuat melekat sifat binatang, sampai dia bisa membebaskan dirinya dari sifat binatang, terus meningkat sampai dia menjadi manusia, (pikiran perasaan tindakannya manusia), dia terus menguasai dan masuk kedalam dirinya sampai dia dapat mengendalikan dirinya pikirannya, rohnya, nafsunya segalanya yang ada dalam diri, sampai dirinya terang benderang, sanggup melenyapkan semua ilusi, agama ilusi, pikiran ilusi, kepercayaan ilusi,

semua baru sebatas gambaran panca indra sampai menjadi data di pikiran dan itu pun kalau ada neuron (saraf) sampai ke otak, kebenaran sampai data ke otak,kalau otaknya rusak, sarafnya rusak, tidak ada semua kenangan hilang, mana ada orang gila bertuhan, mana ada bayi bertuhan dan beragama, cuman di indonesia saja bayi beragama ( gendeng).

Apakah orang tidur , pingsan, mati suri beragama? Ya tidak. Agama khusus untuk orang waras. Tapi malahan beragama kenapa orang menjadi tidak waras???? Saya tidak tahu itu.

Manusia itu bisa melepaskan dirinya dari semua belenggu, yang manusia buat dan tanamkan sendiri, dia menjadi pemberontak, dia mencari kebebasan, kemerdekaan, dari semua belenggu, tanpa kemauan yang kuat, tanpa kecerdasan yang superjenius mana bisa sampai ketujuan, lihat alam semesta saja segitu besar dan luas apa mampu di tampung oleh otak manusia? Sedangkan manusia sempurna harus sanggup merangkum menciutkan seluruh alam semesta itu, karena dia akan masuk ke dalam alam yang hakiki yang tidak sanggup di jangkau oleh pikiran, kata-kata, ucapan, gambaran visual ? konslet nantinya

Sampailah dia meniadakan semua yang ilusi, seperti hologram, hologramnya mati? Apa yang ada, hening, suwung, blenk, lenyap semua ilusi, yang ada,.. yang abadi?

Dia akan mengembangkan dirinya dan melebarkan dirinya meliputi seluruh alam semesta? Bukannya dia dalam mengembangkan dirinya memegang agama duniawi? Ya enggalah. Agama duniawi itu kecil? Bukan untuk alam semesta, jangankan alam semesta di dunia saja tidak akan bersatu, karena semuanya ngaku yang paling benar, Jikalau semua menyaksikan sebenarnya siapa dia itu ….., dan hanya satu Dia, pasti bersatu. Karena manusia tidak ada yang bersaksi jadi seperti sekarang jadinya.

Kalau memang agama duniawi itu berlaku untuk universal, bawa saja ke alam masing-masing, tanya kenal ga dengan agamanya.? Misalnya ke alam tumbuhan, binatang, makhluk gaib, alam cahaya, terus ke mahluk luar angkasa, kenal tidak?, jawabnya TIDAK kenal. Wong bahasanya juga lain, kecerdasannya lain?

Manusia sempurna itu  sanggup mengembangkan diri dari manusia yang rendah sampai berkembang dengan sempurnanya masuk ke alam yang abadi hakiki, yang tidak dapat di jangkau oleh pikiran,kepercayaan,kesadaran, rupa , suara, agama, dia sudah terbebas. Entah dengan siapa meleburnya dia, alam yang sunyi senyap, tidak ada ilusi, tidak ada siapa siapa, dikatakan juga

salah. Tapi dia mengalami sadar, pencapaiannya, sayang tidak ada pengakuan dan membawa sertifikat dan  tanda tangan cap dari yang ada di alam sunya luri itu. Nah perjalanan semacam ini lah yang susah sekali dan amat terasa berat sekali. Tidak ada yang bisa menerangkan keadaan di alam NOL ini ..juga salah ga bisa di tulis deh…. Semoga saja manusia sempurna ini cepat lahir dan hadir…..

Gimana ya kalau hadir juga manusianya pada buta tuli, mana bisa tahu dan nerima apalagi mau di perintah olehnya……. Satu-satunya jalan, manusia yang memintanya harus melek dulu, sadar dulu, sehat dulu. Biar tidak chaos, baik chaos di dalam diri sendiri atau diluar diri.

Selama manusia buta hati pikiran, manusia sempurna tidak akan dapat menampakan dirinya, walau hadir dan nyata tetap kita tidak tahu. Bagaimana kalau Tuhan berwujud manusia turun ke dunia, ada yang percaya? yaa ga akan ….yang ada dibilang gila .kalau percaya? Benar itu. Benar sekali, karena belum pernah ada yang bertemu dengan Tuhan sebenarnya?

Semua nasib tergantung ditangan manusia-nya, kehidupan hanya pilihan. Manusia sempurna hanya menonton kelakukan orang orang buta tuli.

Sang manusia sempurna sudah menyaksikan dan menyatukan dengan kenyataan ada dan tiada, dia sudah tidak ada lagi perbedaan, dia sudah meng-Esakan dirinya, dia sudah meniadakan dunia alam semesta yang ada sekarang ini, yang hanya bayangan dari diri sang ADA di alam hening sunya luri yang tidak berubah. Maka lenyaplah bagi dirinya semua gambaran ilusi alam semesta dan semua isinya. Entah apa yang ada di dalamnya.

Makanya manusia sempurna muncul kedunia ilusi lagi dengan membawa keadaan yang hakiki, menjadikan dunia dan alam semesta yang kita kenal sebagai alam semesta ilusi hilang di hadapannya. Dia yang ada dan maha hidup abadi, manusia bisa mencapai hal ini, jelas di iri oleh yang lain. Makanya sangatlah kecil dunia alam semesta ilusi bagi dirinya?

Apa yang di ingikan dari alam ilusi,..yang repot manusia buta, alam ilusi dikira nyata, itulah yang harus di lakoni di jalani oleh manusia dalam kehidupan ini agar sampai ke alam yang senyap, hening dari semua ilusi…….

Agamanya apa manusia sempurna? yang jelas islam maksudnya selamat, selamat dari yang ilusi, dimana tinggalnya? yang jelas di jawa, bukan pulau jawa, sifat manusianya….

Saya sendiri tidak akan sanggup mengenalnya karena buta, dan belum mengenalnya. Seandainya kenalan juga entah harus bicara apa benar atau tidaknya, yang ada penolakan daripada percaya, maklum tukang tipu ada dimana mana, pikiran pasti tertipu. Hanya bisa tarik napas saja lah dalam dalam.

 

SANG PENCARI (artikel keempat)

Sang manusia sempurna, sempurna karena pencapaiannya dalam kehidupan di dunia menuju puncak tertinggi dari pencapaian manusia dalam alam hening, awang uwung suwung, beliau telah memperjuangkan segala kehidupannya untuk mencapainya kerena kerinduan yang amat sangat kepada Tuhannya. Dengan segala kepasrahan, keikhlasannya, menjalankan segala upaya perjalanan mulai jalan kepercayaan, agama, dengan bulat dan utuh. Akan tetapi Tuhan menjadi magnit yang begitu kuat bagi dirinya tanpa sadar tertarik, tersedot dalam pusaran cahaya, energi, keimanan kepada Tuhannya, menjadi jalan petunjuk yang pintas untuk menyaksikan sebenar-benarnya sang maha anonimus tak bernama, tak berwujud, yang tidak dilahirkan, tidak diciptakan, tidak sama dengan segala wujud ciptaan. Karena gelombang cinta kehendak kemauan tercurahkan kepadanya….. begitu pula sang anonimus, maha hening mendambakan jalan dan jati dirinya kepadanya,  menjadikan semuanya menjadi mudah, mulus.

Selesailah sang manusia sempurna dalam mewujudkan perjalanan sebagai ciptaan kepada tujuan yang sebenarnya, itulah sempurnanya karena perjalanan menuju ke dalam diri di luardiri untuk berjumpa dengan sang maha ada. Beliau sanggup melampau semua bentuk ciptaan yang ada di dunia, beliau sanggup melampaui kebenaran kenyataan ilusi dengan sebenarnya. Bersemayamlah beliau dalam inti sari pati hidup sebenarnya, bukan hidup berbanding dengan kematian. Dengan peleburan dirinya dengan anonimus , maha hening, blank, beliau telah membuka semua rahasia-rahasia yang ada di dunia alam semesta dan tuhannya tidak ada yang terlewatkan membuat beliau terbuka dengan jelas bagi dirinya tidak ada kerahasiaan dan kegaibannya. Dalam perjalanan hidupnya beliau sanggup meniadakan segala kepemilikannya baik itu dirinya sendiri, harta, agama, kedudukannya, segala kenikmatan duniawi, yang ada hanyalah sang hidup itu sendiri. Beliau berada dalam alam sunya ruri, tak sanggup digambarkan, diucapkan, tidak ada apa-apa tapi ada apa-apa.

Bagi manusia sempurna penguasaan diri adalah perjalan pertama yang harus dilalui. Beliau akan mengenal segala keberadaan bentuk sifat dirinya, sampai Beliau menguasai, mengendalikan dan menjadi raja bagi dirinya, lalu Beliau melewati dan melampaui….. . Terus berjalan sampai ke dalam keheningan, keberadaan yang nyata, bukan ilusi lagi. Di tempat yang abadi, tidak ada bentuk rupa keadaan, sifat, kekuatan, salah juga menyebut dan menguraikan. Maka sekembalinya dari pencapaian di dunia, beliau manusia yang bukan manusia, beliau memiliki kecerdasan tak terhingga, kesadaran tak terhingga, dalam dirinya. Beliau menguasai sebagai pencipta, pemelihara dan penghancur, (mungkin maksudnya trisula) sebagai kekuatan yang mutlak yang beliau bawa dari alam sana. Beliau tidak memerlukan apa-apa lagi, tidak ada yang menarik lagi di alam ilusi ini, karena telah menyatu dengan yang kekal.

Beliau telah melampaui alam fisik manusia,alam cahaya, alam rohani, alam gaib, alam para suci, alam para dewa dan alam-alam lainnya semua di lampaui, ingin tahu bagaimana cara melampauinya maka anda harus bertemu dengannya, bertanya dan minta diajari oleh beliau yang telah mencapainya. Ini hanya tulisan fiksi saja dari saya.

Beliau mengenal manusia dengan utuh dan sempurna sebagai mana beliau mengenal dengan utuh dirinya sendiri sebagai manusia. Apa bedanya dirinya dengan manusia lainnya secara fisik, makanya beliau mengenal bentuk keadaan manusia. Beliau yang telah sempurna, dengan kesempurnaan itulah beliau yang maha kaya, segala sesuatu yang ada adalah miliknya, dengan cahaya terpancar dari dirinya dunia mengetahui bahwa beliau sebagai tuan dan pemilik sebenar-benarnya, Beliau tidak harus memberi cap sebagai miliknya karena tidak akan kemana-mana dan memang miliknya, harta akan berdatangan kepadanya, baik yang tersimpan, yang harus diolah atau harta karun sekalipun akan mendatanginya karena beliau sebgai pemilik tunggal, bukan karena surat.

Apakah manusia semacam ini yang ditunggu oleh umat manusia dari dahulu? Dengan berbagai sebutan dari Satrio Piningit, Maitrea, Imam Mahdi, Mesias, Kalki ? Terserah manusia menyebutnya apa, beliau tidak membutuhkan gelaran, sebutan, kedudukan, apa lagi harta. Apalagi mengharapkan beliau sebagi raja, terlalu kecil kedudukan itu bagi dirinya, beliau telah mencakup alam semesta. Beliau terlindungi dan dilindungi oleh kesempurnaan pencapaiannya, jadi tidak ada manusia yang mengenalnya, kecuali oleh dirinya sendiri. Disini terpingit, terahasia, manusia tidak bisa meraba keberadaannya apalagi mereka-reka.

Apakah manusia semacam itu ada sekarang? Ada. Beliau tidak pernah mati, kita lah yang buta tuli, menjadikan tidak mengenalnya, kita tertutup mata batinnya. Beliau memegang kitab rahasia dari terahasia, kitab gaib dari yang gaib, sebagai pedoman petunjuk pencapaian kesempurnaannya, bukan kitab suci yang dicetak dipercetakan. Kita membicarakan beliau seakan-akan paling kenal, padahal tidak kenal sama sekali itu, hanya mereka-reka saja, jauh dari sebenarnya, itu lah rahasianya. Beliau ada di dalam setiap kepercayaan, agama. Beliau juga telah melampau semua kepercayaan dan agama, karena beliau telah meng-esakan dirinya sendiri dan segala sesuatu yang ada di dunia. Beliau telah meng-esakannya. Beliau memiliki berbagai sebutan, nama dari setiap masa, agama, kepercayaan. Sesungguhnya dari masa ke masa hanya Beliau seorang, orangnya itu itu saja.

Beliau itu kadang hadir di tengah manusia, kadang tidak hadir atau tidak muncul, tidak di setiap masa beliau itu hadir di lingkungan manusia, mungkin kemunculannya akan ditandai dengan chaos yang amat sangat, sampai manusa tidak bisa mengendalikan lagi. Mudah-mudahan sekarang Beliau muncul tanpa ada chaos. Tapi rasanya tidak mungkin juga ya? Aku sendiri tidak berkeingin berjumpa denganNya, abis susah. Jika berjumpa juga suka akal-akalan, bertanya-tanya karena keraguan, walau sudah diberikan jawaban terus saja ragu, takut akan keadaan diri, lebih baik beliau yang mendatangi saya, itu jauh lebih mudah daripada saya yang mencarinya.

 

 

SATRIO PININGIT         (Artikel Kelima)

Satrio Piningit sang manusia sempurna dengan berbagai sebutan, gelaran
yang di kenal di setiap masa dan jaman. Karena pencapaiannya menjadi
terpingit , ter-rahasiakan, sebagaimana ter-rahasiakannya alam
sunyaluri, alam hening, alam yang tidak dilahirkan diciptakan, ada dan
tiada, hanya manusia semacam Beliaulah yang sanggup membuka rahasia
itu.

Berkat penyatuan dan peleburannya dengan kenyataan hakiki, kekal
sebenarnya yang tidak ada bandingannya dengan ciptaan, menjadikan
Beliau berada dalam alam kekal dengan Hidup itu sendiri, bukan hidup
yang ada bandingan dengan kematian, hidup yang sebenarnya, menjadikan
Beliau tidak pernah rusak, mati, hancur, Beliau selalu ada…. Cuman
keberadaanya dirahasiakan oleh kemulyaan keadaan jati dirinya…. Beliau
adalah saksi sejarah dari keberadaan bumi dan isinya…. Mungkin Beliau
pula yang membuat semua yang ada di bumi termasuk kecerdasan,
kepercayaan, agama dan sebagainya.

Beliau tidak ada yang memerintahkan untuk berbuat sesuatu, karena
Beliau telah abadi dalam sari pati hidup yang maha hidup….. semua
sejarah umat manusia yang di agungkan di mulyakan manusia sampai
sekarang itu semua jejaknya. Beliau berada dalam setiap kurun waktu ,
budaya, umat manusia.

Bagaimana sejatinya SP sebagai manusia sempurna, karena pencapaiannya
itu menuju ke asal muasal manusia sebenar benarnya, Siapa Dia? Tidak
bernama, tidak dilahirkan, tidak berbentuk, Beliaulah yang yang tahu
sebenar-benarnya keadaan…

Dimana SP sebagai manusia sempurna itu berada, sungguh dia berada
dimana-mana karena Beliaulah yang meliputi ruang dan waktu, ada di
setiap penjuru dunia. Kalau di dunia, jika Beliau menginginkan Sebagai
SP, maka Beliau akan hadir muncul di Indonesia…. Badan manusia Beliau
bisa pake yang mana saja, akan tetapi jika kemunculannya di Nusantara,
maka akan memakai baju nusantara fisiknya…  dinusataranya dimana?,
harus lihat kebelakang sejarah, apakah jaman atlantis, jaman sunda
land, sampai nusantra, dimana? Mungkin sunda land? Orang sunda mungkin
sekarang, kenapa ?semua cerita jaman ke-emasan manusia ada pada masa
sunda land. Sesungguhnya dirinya bukan manusia biasa kebangsaan dan
jati diri suku tidak masalah, hanya jika tanah nusantra terpilih oleh
Beliau untuk muncul, maka Beliau akan muncul memakai suku dari tempat
yang akan di bangkitkan.

Jadi siapa yang bisa mengenal Beliau sejatinya, sebetulnya hanya diri
sendiri Beliau itu yang faham betul, akan tetapi pancaran cahaya
terangnya, kekuatan energi dsb semua mahluk baik itu mahluk gaib, para
suci para dewa, para nabi, mengenal siapa dia sebenarnya, Beliaulah
yang membuat semuanya ini, Beliau pula yang akan mengakhiri dan
membuat cerita baru……

wajar saja kehadiran Beliau di masa ini di harapkan di tunggu oleh
manusia, para dewa-dewi , para nabi, para suci, para malaikat, semua
alam tahu keberadaannya, hanya manusia yang tertutup kenapa? Keadaan
jati dirinya belum sanggup menerima dan kualitasnya masih di bawah
masih di kuasai ego rendah, di kuasai nafsu, dikuasai dualitas dll…..
ini khusus yang sudah mendalami lebih dalam dan dalam lagi dari
perjalanan manusia baru mengerti. Kalau masih rendah bertanya dan
bertanya ragu dan ragu akhirnya pusing, memang begitu nasibnya kalau
tidak tahu.

Jika anda sudah masuk dan berdiam di alam para dewa, para suci, pasti
mengetahuinya? Maaf bukan manusia yang baru di siapkan? Atau baru
belajar, SP itu tidak ada gurunya dan tidak ada yang sanggup jadi
guru, nah jika Beliau muncul maka semua sebutan manusia yang di tunggu
di wartakan oleh agama dan kepercayaan kepada manusia dari jaman ke
jaman dengan berbagai sebutan akan mengerucut ke 1 orang, orang ya
Beliau itu sendiri, karena Beliau sendiri yang memerintahkan untuk
penyebaran dan menunggu manusia yang sempurna itu…….. kok bisa SP
muncul di indonesia? dari dulu juga Beliau memulai dari sini,
mengakhiri dari sini, membuat cerira baru nanti dari sini, wajar saja
jika mau mengakhiri, semua yang Beliau ciptakan di masa lalu akan di
hancurkan, serta membuat cerita baru lagi untuk masa yang akan datang,
begitulah alam ilusi, Beliaulah yang mengendalikan, menguasai alam
ilusi, ada dan tiadanya? Karena Beliau sudah berada di alam yang
memang ada seadanya yang tidak berubah rubah, alam yang langgeng.
Tanpa chaos ( bencana besar ) Beliau tidak akan hadir untuk muncul di
kenal, serba rahasia.

Bagaimana kok bisa raja jaman dulu tahu akan kedatangan Beliau di
sini? Jawaban nya karena Beliau yang menceritakannya kepada raja itu,
dan raja itulah yang mewartakannya? Tinggal kita yang utak atik gatuk
7 keliling. Ga ada yang mendekati keberadaanya, hanya bisa mereba
dengan warta itu, di tafsirkannya berbagai macam, menjadikan tambah
kacau.

Jika kita berhati suci, berpikiran jernih, memancarkan cahaya sucinya
dari dalam diri, nanti Beliau akan mewartakannya kepada anda dimana
Beliau berada? Mudah bukan. Kalau anda kotor hatinya tertutup dosa,
pikiran liar, kalau ada pun anda sangkal? Itulah masalahnya.

(23/10/2014)

 

AWAL DAN AKHIR SATRIO PININGIT   (Artikel Keenam)

 

Kita sebut saja manusia sempurna Satrio Piningit yang akan muncul di
indonesia, memang dari jaman ke jaman nusantaralah awalnya segala
kebudayaan, roda cakra panggilingan terus berputar, ada jaman yang
tertinggi, ada masa manusia pada jaman kegelapan, ada satu negara
maju, negara lain miskin,dan terus berputar, setiap putaran jika
manusia di setiap negara kedudukannya bagus maka diberikan kesempatan
untuk maju dan berkembang. Demikian dengan keadaan umat manusia. Ada
kalanya di atas ada kalanya di bawah, semua saling mengisi . SP
sebagai sebutan manusia tanah jawa yang di wartakan oleh Raja kediri,
dimana raja sendiri di kasih tau oleh Beliau untuk di wartakan,
demikian dengan agama dan kepercayaan yang ada di dunia sudah
mewartakannya dengan sebutan lain, akan tetapi manusia orangnya hanya
satu orang. Dia yang ter rahasia dan sempurna rahasianya.

Apakah mungkin nusantara jadi pilihan kemunculan manusia sempurna,
jika di lirik sejarah purba dan perkembangannya mungkin,karena awal
dari manusia cerdas muncul dari sini, hanya sejarah belum mengungkap
dengan jujur saja, satu saat sang SP muncul semua kebenaran akan
muncul,karena data sejarah yang sebenarnya di simpan dengan rapi serta
di jaga dari kehancuran oleh waktu dan tangan manusia jahil.. semua
terjaga keasliannya. Satrio Piningit Manusia Sempurna (SPMS) ada di
indonesia itu tergantung apakah manusia sempurna memilih muncul di
Nusantara (indonesia) atau tidak, jika indonesia sudah jatuh pada cara
panggilingan untuk bangkit, tinggal nunggu waktu saja, karena cahaya
perubahan sudah ada dan lahir di sini. Jika tidak kita akan gelap dan
gelap keadaanya.

Saya anggap SPMS lahir di indonesia, dulu sunda land, arti makna dari
sunda ya, berarti masa kegelapan indonesia sudah ber abad-abad akan
kembali pulih dan akan memimpin dunia? Akan tetapi sekarang manusia
nya masih kebelinger, mungkin harus di sucikan dulu dengan musibah
yang besar,menyaring siapa yang bisa melanjutkan dengan tatanan dunia
baru atau yang tersingkir, yang selamat itu yang terbaik. Karena
penyaringan berhubungan dengan hukum karma masing masing manusia
indonesia, tidak ada yang bisa lari dari hukum karmanya itu. Bukan
yang lain yang menghukum akan tetapi semua perbuatannya yang akan
menghukum. SPMS bukan titisan ini itu, dia yang melingkupi semua
bermuara padanya, maka-nya kalau muncul bisa sebutan apa saja sesuai
dengan kebutuhan pada masa itu, apa di sebut dewa, Nabi, atau apa
saja, karena manusia yang lemah rendah memandangnya dia sebagai apa?
Jadilah memiliki julukan dan gelaran agar bisa di pandang beda dengan
manusia awam lemah itu. Sebetulnya bagi dia tidak ada gelaran yang
cocok lagi. Dia menyatu dengan anda semua, kalau Beliau bilang saya ya
kamu, kamu ya saya, menunjuk kemana saja begitu adanya, dia yang sudah
esa.

Mungkin kalau muncul di nusantara Satrio Piningit khususnya di jawa…..
nanti orang timur tengah nyebut apa, terserahlah dari mana
memandangnya dan anda memandangnya bisa dari mana saja, karena semua
menginginkanNya untuk mewakili kelompoknya, dia menyatu dengan
semuanya, hanya itu saja.

Karena Beliau itu terus hidup dari masa ke masa, jadi semua kekayaan
yang mana Beliau pada saat itu tampil di muka umum bisa sebagai  raja,
nabi, manusia suci apa saja, Beliau simpan semua kekayaannya karena
tidak ada yang hilang di dunia dan alam semesta hanya berubah bentuk
saja. Nah yang menjaga harta juga dengan sendirinya kepercayaan
beliau, makanya jika beliau muncul semua penjaga harta Beliau akan
menyerahkan dengan sendirinya, tidak usah dengan surat menyurat
sebagai mana manusia modern, dia dengan pancaran cahaya sudah tahu
semua itulah manusia sempurna abadi telah muncul kembali di dunia.
Akan tetapi kemunculannya itu tidak akan diri dirinya, biasanya
keinginan, jeritan, doa dari manusia yang masih sadar akan keberadaan
dirinya, dengan ketulusan keyakinan kepercayaan keimanan
kepada-nya-lah semua doa permohonan getaran itu yang akan
membangkitkan Beliau untuk muncul walau biasanya dengan huru hara
dulu, itu untuk penyaring-gan saja.

Makanya Beliau mengunakan trisula (pencipta, penghancur, pemelihara)
jadi Beliau pasti kan mengancurkan tatanan yang sudah ada dan tidak
ada manfaatnya lagi bagi kelangsungan hidup manusia yang tidak
berubah, setelah di hancurkan Beliau akan menciptakan tatanan baru,
cerita baru untuk kelangsungan kehidupan manusia, entah bagaimana
rancangannya, setelah tercipta maka Beliau akan memelihara sampai
batas waktunya. Seperti agama kepercayaan yang ada sekarang sampai
ribuan tahun bertahan,karena beliaulah yang menjaga, akan tetapi kalau
muncul dalam kehidupan umat manusia berarti masa waktu tatanan itu
akan ber akhir. Berakhirnya tatanan yang sudah dibuat mungkin manusia
menyebut kiamat, akan tetapi sebetulnya mengakhiri yang lama memulai
yang baru…. Dia yang sudah sampai ke tujuan dan yang tahu jalan cerita
semua ini akan di bawa kemana, apa maksudnya? Tugas manusia untuk
mencapai jaman keemasan harus bisa membebaskan dari semua jebakan
jebakan yang sudah ada, yang akhirnya terbebas dari semua, bisa
membayangkan jika manusia terbebas dari semua belenggu, duniawi,
ego,rasa ketakutan, keyakinan, dan lain lain. Jika bisa terbebas umat
manusia dari segala sesuatu, maka dimensi manusia akan cepat berpindah
dari 3 ke 4 ke 5 dan seterusnya, semoga saja SPMS benar-benar ada dan
muncul di indonesia pada periode sekarang. Kalau tidak muncul ya sudah
nasib bangsa ini akan tenggelam, tetapi jika betul muncul jangan
khawatir negara walau berubah sistem pemerintahannya tempat manusia
alamnya sama, berubahlah bangsaku,berubahlah negriku, berubah
rayatnya, sambutlah jaman kemulyaan,keemasan, kejayaan menjadi pusat
dari perubahan dunia pada masa datang jika SPMS itu hadir dan muncul
untuk memimpin negeri Nusantara ini…….

Bacalah dengan perasaan yang dalam , Rasakan getaran hidupnya dari
cerita ini, rasakan kekuatannya membuka semua tabir ketakutan
keresahan diri, rasakanlah Kerinduan akan kehadirannya, rasakan
pancaran energy-nya, jangan menggunakan logika , nanti saja kalau
membuat tesis. Cukup dengan rasa yang bersih hati yang tenang damai,
emosi yang menggelora merindukannya, saya pastikan anda kan merindukan
dan menangis ,tidak ada kata kata ,aku Rindu.., bimbinglah angkatlah
tunjukan ke tempat yang sangat mulya dan agung nan suci.

Sekian cerita manusia sempurna .

24/10/2014

SATRIO (PININGIT) IMAM MAHDI MUNCUL 2015 ? (TANGGAPAN KRITIS TERHADAP JABER BOLUSHI)

Download Artikel

SATRIO (PININGIT) IMAM MAHDI MUNCUL 2015 ?
(TANGGAPAN KRITIS TERHADAP JABER BOLUSHI)
Oleh: Cakra Ningrat

IMAM MAHDI hanyalah sebuah frasa. Frasa didefenisikan sebagai satuan gramatika yang berupa gabungan kata yang bersifat non prediktif atau lazimnya disebut dengan gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Dengan kata lain frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi satu batas fungsi. Fungsi tersebut merupakan jabatan berupa subyek, predikat, obyek, pelengkap, dan keterangan.

Contoh Frasa : Imam Mahdi
Contoh Sintaksis : Imam (subyek) Mahdi (predikat)

Jika dikaji secara mendalam maka frasa Imam Mahdi dikategorikan sebagai Frasa Endosentris Atributif, yaitu endosentris yang memiliki unsur pusat dan mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan.

Contoh Frasa Endosentris Atributif adalah IMAM MAHDI.
IMAM adalah unsur pusat
MAHDI adalah unsur atribut.
Kata IMAM dapat berdiri sendiri tanpa kata Mahdi oleh karena Imam adalah unsur pusat. Kata Imam dapat ditambahkan dengan kata lain seperti: Kata Mesjid untuk membentuk satu frasa: Imam Mesjid. Mesjid disebut unsur atribut untuk menerangkan unsur pusat (Imam).

Ummat islam baik golongan syiah dan sunni maupun sempalan atau pecahannya selalu berbeda pendapat tentang permasalahan IMAM MAHDI. Masing-masing pihak bersikukuh pada pendapatnya yang menyebabkan mereka terpisah dan terkotak-kotak dalam pemahaman, pengertian, dan keyakinan. Yang lebih memiriskan hati, perbedaan pendapat ini telah berurat berakar di dalam dendam. Ironisnya, kebanyakan di antara kita yang tidak tahu akar permasalahan malah ikut-ikutan menyalahkan orang lain yang tidak sepaham atau bertentangan dengan apa yang selama ini kita dengar dan fahami. Begitu mudahnya kita mengemukakan hadits nabiullah Muhammad SAW, sementara belum tentu kita faham terhadap hakikat dan maknanya.

Hadits-hadits nabi Muhammad tentang Imam Mahdi cukup banyak dan beragam, sehingga dibutuhkan kearifan dan kecerdasan untuk mengklasifikasikannya sebelum menafsirkannya. Jika ditafsirkan secara keseluruhan tanpa dilakukan pemilahan, maka hadits tersebut akan membingungkan kita sendiri. Jika bisa dianalogikan maka dapat dikatakan “Kita hanya meraba-raba di tempat yang gelap” dengan kata lain “ kita meyakini sesuatu yang sesungguhnya tidak kita ketahui.”

Penafsiran Imam Mahdi di kalangan ummat islam sangat beragam, bahkan boleh dikatakan “mengambang” oleh karena tidak adanya suatu ikatan atau pegangan yang pasti. Ini disebabkan karena tidak satupun ayat di dalam alqur’an yang merujuk kepada sosok Imam Mahdi. Satu-satunya bekal kita hanya pada hadits nabi. Namun faktanya bekal ini jadi tersia-siakan sebab kita berbeda dalam memahaminya. Memahami alqur’an dan hadits nabi berkaitan erat dengan banyak faktor, antara lain: lingkungan, kecenderungan pribadi, perkembangan masyarakat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan tentu saja tingkat kecerdasan dan pemahaman masing-masing mujtahid.

Cakra Ningrat memandang perbedaan pendapat di kalangan ummat islam tentang sosok IMAM MAHDI akar permasalahannya disebabkan karena penafsir hadits tidak menguasai linguistik. Linguistik teoritis adalah bidang penelitian bahasa (linguistik) yang dilakukan untuk mendapat kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa manusia pada umumnya. Bidang-bidang yang secara umum dianggap sebagai inti linguistik teoritis adalah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Linguistik teoritis juga terlibat dalam pencarian Universal Linguistik, sifat umum yang dimiliki semua bahasa.

Frasa IMAM MAHDI harus difahami secara linguistik lebih dulu untuk memudahkan kita menafsirkan hadits nabi Muhammad yang kelihatannya sangat sederhana namun rumit. Fakta kerumitannya dibuktikan dengan terpecah-belahnya ummat islam dalam memahaminya. Meskipun linguistik hanya ilmu bahasa, namun seringkali linguistik digolongkan ke dalam ilmu kognitif, psikologi dan antropologi.

TERMINOLOGI IMAM MAHDI

Terminologi (Bahasa latin: Terminus) atau peristilahan adalah ilmu tentang istilah dan penggunaannya. Istilah (bahasa Arab) adalah kata dan gabungan kata yang digunakan dalam konteks tertentu.

Secara etimologi Imam (bahasa Arab) artinya Pemimpin. Mahdi (bahasa Arab) artinya orang yang diberi petunjuk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Mahdi” diartikan sebagai “penunjuk jalan.” Dengan demikian terminologi Imam Mahdi adalah PEMIMPIN YANG DIBERI PETUNJUK OLEH ALLAH (TUHAN) UNTUK MENUNJUKKAN JALAN YANG BENAR, DAN LURUS UNTUK KESELAMATAN DAN KEBAHAGIAAN MANUSIA.

Berdasarkan terminologi di atas, maka dapat ditarik satu kesimpulan bahwa Imam Mahdi tidak bisa diartikan sempit atau dibatasi sebagai pemimpin islam saja oleh karena Imam Mahdi adalah PEMIMPIN UMMAT MANUSIA, meliputi ummat yang beragama hindu, buddha, konghu chu, kristen, islam, majusi, zoroasterianisme, dan aliran-aliran kepercayaan atau kebatinan dan seterusnya tanpa kecuali.

DIHARAPKAN KEMUNCULANNYA
Tidak ada satu pun dalil hukum yang dapat membenarkan bahwa ummat islam mengharapkan kemunculan IMAM MAHDI. Perkataan dan keyakinan ummat islam bukanlah sebuah jaminan hukum jika mereka menaruh harapan yang besar terhadap kemunculan Imam Mahdi. Menyebut Imam Mahdi sebagai pemimpin untuk ummat islam saja adalah sebuah kekeliruan fatal yang mementahkan seluruh argumen-argumen yang mereka kemukakan. Ummat islam terjebak dan terbelenggu pada primordialisme mereka sendiri.

HANYA SATU yang mengharapkan dan mendamba-dambakan kemunculan Imam Mahdi yaitu Allah, Tuhan Semesta Alam.

Nabi Muhammad bersabda : Andaikan dunia tinggal sehari, sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahlil baitku namanya serupa namaku, nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan (Hadits Riwayat Abu Dawud)

Ahlil Bait (Bahasa Arab) adalah istilah yang berarti “orang rumah” atau keluarga. Muslim syi’ah berpendapat bahwa Ahlil bait mencakup lima orang yaitu Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Mereka menafsirkan Imam Mahdi harus dari keturunan Sayyidina Ali. Muslim sunni berpendapat bahwa ahlil bait adalah keluarga Muhammad dalam arti luas meliputi istri-istri dan cucu-cucunya hingga kadang-kadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantunya.

Cakra Ningrat berpendapat: Kata “ahlil baitku” memiliki makna adanya sebuah kedekatan yang paling dekat dalam konteks “ilahiah” sehingga kedekatan itu tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat yang bersifat manusiawi (anak, cucu, menantu, mertua, dst). Karena kedekatannya dalam konteks “ilahiah” sehingga nabi mengatakan “lelaki dari ahlil baitku, namanya serupa namaku, nama ayahnya serupa nama ayahku.” Sebuah hubungan dalam ikatan yang tak terpisahkan.

Imam Mahdi bukan Muhammad dan Muhammad bukan Imam Mahdi. Muhammad tidak bisa disamakan dengan Imam Mahdi dan Imam Mahdi tidak bisa disamakan dengan Muhammad. Keterkaitan Imam Mahdi dengan Muhammad ibarat SEKEPING MATA UANG. Alquran diwahyukan kepada Muhammad. Imam Mahdi ditugaskan membuktikan secara nyata kebenaran alqur’an. Oleh karena alqur’an berisikan firman-firman Tuhan, Yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya yaitu injil (perjanjian baru), zabur dan taurat (perjanjian lama) maka Tuhan-lah yang paling mengharapkan dan mendamba-dambakan kemunculan Imam Mahdi untuk membuktikan kebenaran firman-firman-Nya.

Sebagai gambaran betapa besarnya harapan dan dambaan Tuhan terhadap kemunculan Imam Mahdi, sampai-sampai dikatakan oleh nabi “andaikan dunia tinggal sehari (dan terjadi kiamat), sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut (menunda terjadinya hari kiamat) demi untuk kemunculan Imam Mahdi.

Seberapa lamakah usia dunia akan dipanjangkan ?
Nabi Muhammad bersabda : Sungguh bumi ini akan dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan, dan apabila kezaliman dan kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari Ummatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana bumi telah dipenuhi sebelum itu oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun atau 9 tahun (Hadits Riwayat Thabrani).

Cakra Ningrat berpendapat; nabi Muhammad tidak mengetahui secara pasti berapa lama dunia akan dipanjangkan, dengan kata lain berapa lama Imam Mahdi memimpin kita, apakah 7, 8, atau 9 tahun. Semua itu menjadi rahasia Tuhan. Yang menjadi SEBAB kemunculan Imam Mahdi karena bumi ini telah dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan. Kezaliman dan kesemena-menaan dalam arti sempit selalu dikaitkan dengan sistem pemerintahan atau pemimpin dengan rakyat, akan tetapi dalam arti luas termasuk ummat islam yang begitu mudahnya menganggap ummat yang beragama lain sebagai ummat yang salah, musyrik, kafir, dan sebagainya, bahkan sebagian kelompok ummat islam (teroris) begitu teganya membunuh ummat lain dengan alasan demi perjuangan islam. Semua ini termasuk bentuk-bentuk kezaliman dan kesemena-menaan, sebagai SEBAB dari kemunculan Imam Mahdi, bumi yang tadinya penuh dengan kezaliman dan kesemena-menaan akan dipenuhi dengan keadilan dan kemakmuran. Terwujud tatanan masyarakat adil dan makmur di bawah kepemimpinan seorang PEMIMPIN yang bergelar Imam Mahdi.

Keadilan, sebagaimana yang dimaksudkan dalam hadits nabi Muhammad, merupakan model kepemimpinan yang hanya dimiliki oleh pemimpin yang bergelar Imam Mahdi. Imam Mahdi tidak lagi melihat manusia berdasarkan latar belakang agama mereka, sebab agama sudah sirna di muka bumi. Dalam iman kristiani disebut dengan DAMAI. Nostrodamus menyebut suasana kehidupan tanpa agama sebagai New World Religion (agama baru dunia). Penulis tidak tahu dengan kalimat apa untuk membahasakannya. Albert Einstein, seorang pencetus teori relativitas membahasakan keadaan tersebut dengan berkata: “Sesungguhnya hari ketika dunia dipenuhi dengan perdamaian dan ketentraman, dan manusia di dalamnya saling mencintai dan bersaudara tidak akan lama lagi.”
Kemakmuran sebagaimana yang dimaksudkan oleh hadits nabi Muhammad adalah satu keadaan kehidupan masyarakat yang berkecukupan namun tidak berlebih-lebihan. Iman kristiani menyebutnya dengan kata SEJAHTERA. Ini dimungkinkan akan terjadi karena kepemimpinan Imam Mahdi akan didukung oleh alam semesta dimana langit tidak akan menahan setetes pun airnya dan bumi tidak akan menahan apa pun yang akan ditanam.

Nabi Muhammad bersabda : Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari ummatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya, dan ia sama sekali tidak menghitung-hitungnya. (Hadits Riwayat Muslim dan Ahmad).

Untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, damai dan sejahtera dibutuhkan dukungan logistik yang sangat besar. Imam Mahdi tidak pernah gentar sedikit pun oleh karena Tuhan akan menurunkan seluruh perbendaharaan langit dan memunculkan semua perbendaharaan bumi, baik yang terpendam di dalam tanah maupun yang ada di dasar lautan untuk mendukung kepemimpinan Imam Mahdi.

Imam Mahdi tidak memiliki hutang budi kepada siapa pun termasuk kepada ummat islam. Andaikan dia memiliki hutang budi maka dipastikan dia tidak dapat memimpin dengan adil. Ummat islam sangat ingin membantunya tapi kesempatan itu tertutup buat mereka. Dari awal hingga akhir, hanya Tuhan yang mendukung dan membantu Imam Mahdi oleh karena hanya Tuhan saja yang mendamba-dambakan kemunculannya.

DIBANGGA-BANGGAKAN
Jika Allah, Tuhan Semesta Alam mendamba-dambakan kemunculan Imam Mahdi sebagai pemimpin ummat manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang agama mereka maka sangat wajar bila Muhammad dalam kapasitas beliau sebagai hamba dan pesuruh Allah maupun sebagai rasul Allah yang telah meletakkan dasar-dasar fundamental agama islam, logis dan masuk akal jika Muhammad membangga-banggakan Imam Mahdi. Cermatilah perkataan nabi Muhammad berikut ini:

Nabi Muhammad bersabda: Al-Mahdi bersal dari ummatku, dari keturunan anak-cucuku (Hadits Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majas dan al hakim).

Islam adalah agama terakhir. Tidak ada lagi agama yang muncul dan diakui kebenarannya setelah agama islam. Dapat dikatakan islam adalah agama akhir zaman. Imam Mahdi yang hidup di abad 21 M beragama islam, mengikuti agama Muhammad yang hidup di abad 6 M. Muhammad dan Imam Mahdi dipisahkan oleh rentang waktu selama 15 Abad. Dalam konteks bahasa manusia, titian yang menghubungkan Muhammad dengan Imam Mahdi disebut dengan “anak-cucu.” Dalam konteks bahasa “ilahiah” titian yang menghubungkan Muhammad dengan Imam Mahdi adalah alqur’an. Muhammad menerima alqur’an. Imam Mahdi membuktikan secara nyata kebenaran alqur’an. Alqur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia. Imam Mahdi adalah pemimpin untuk seluruh ummat manusia. Jika Tuhan mendamba-dambakan kemunculan Imam Mahdi maka tentu saja Muhammad membangga-banggakan Imam Mahdi sebab Imam Mahdi berasal dari ummatnya.

CIRI-CIRINYA.
Nabi Muhammad bersabda: Al-Mahdi berasal dari ummatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kehalifaan/ kepemimpinannya) berumur tujuh tahun. (Hadits Riwayat Abu Dawud dan al-hakim).

Ciri-ciri yang disampaikan nabi Muhammad sangat spekulatif. Ciri anatomi seperti itu tidak saja dimiliki oleh orang Arab dan Persia, akan tetapi banyak juga dimiliki oleh orang-orang Eropa dan Asia termasuk INDONESIA tentunya. Memang, kebanyakan orang Indonesia berhidung pesek, akan tetapi bila sosok yang bergelar Imam Mahdi ditakdirkan Allah sebagai orang Indonesia maka dapat dipastikan sosok itu memiliki ciri-ciri seperti yang dikatakan oleh nabi; keningnya lebar, hidungnya mancung dan panjang, wajah yang sempurna tanpa kekurangan sedikitpun.

Imam Mahdi adalah sebuah gelar yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam kepada seorang hamba-Nya. Sebelumnya, hamba ini tidak mengetahui sama sekali bahwa kelak di suatu waktu, dia diberi gelar oleh Tuhannya sebagai Imam Mahdi. Hamba ini salah seorang dari sekian banyak ummat Muhammad. Dia seorang muslim yang taat dan sangat mencintai alqur’an. Dia seorang hamba yang mendekati Tuhannya dengan jalan suluk (bersuluk).

Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris (syariat) agama islam sekaligus aturan-aturan esoteris (hakikat) agama islam. Jalan suluk adalah jalan yang penuh dengan pendakian dan berkelok-kelok. Tantangannya sangat berat. Hanya seorang satria tangguh yang dapat bertahan untuk mencapai puncak. Dia menjalani seorang diri tanpa guru dan pembimbing guna memuaskan hasrat spiritualnya untuk; mengenal diri, memahami esensi kehidupan, pencarian Tuhan, pencarian kebenaran sejati, mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

Berkat kedisiplinan dan ketekunannya, mengantarnya untuk tiba pada satu capaian tertinggi di dalam agama islam yaitu mendapatkan NURUL MUHAMMAD, di malam kedua puluh tiga ramadhan. Malam itu disebut sebagai malam lailatul qadr. Malam yang penuh dengan kemuliaan. Tingkat kemuliaannya setara dengan beribadat secara terus-menerus selama seribu bulan.

Itulah sebabnya nabi Muhammad mengatakan; namanya sama dengan namaku. Nama bapaknya sama dengan nama bapakku. Makna sesungguhnya adalah NURUL MUHAMMAD atau CAHAYA MUHAMMAD. Cahaya Muhammad adalah Cahaya Gaib Allah. Cahaya ini dimasukkan ke dalam diri seseorang yang kelak bertugas membuktikan kebenaran seluruh wahyu-wahyu Tuhan yang pernah disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad, mulai dari wahyu pertama di gua hira pada malam lailatul qadr sampai wahyu terakhir menjelang kematiannya. Nabi Muhammad mengakui “dia” sebagai keturunanku, sebagai anak-cucuku untuk mengungkapkan rasa bangga nabi terhadap Imam Mahdi.

Sadar bahwa apa yang didapatkannya adalah rahasia Tuhan maka wajib baginya untuk merahasiakan apa yang bersemayam di dalam dirinya. Cahaya Muhammad ada di dalam dirinya dan dia menyembunyikannya. Leluhur kita menyebut “apa yang disembunyikan itu” dengan sebutan “PININGIT.”

Dia bukan ulama, bukan ustadz, bukan pula kiyai. Dia hanya seorang hamba yang menguasai ajaran syariat, hakikat dan ma’rifat yang ditempuhnya dengan jalan suluk. Kemudian dia tinggalkan jalan itu dan menempuh jalan lain yaitu jalan yang dilalui manusia di kehidupan nyata. Dia berkeluarga. Memiliki istri dan anak. Dia mencapai status sosial tinggi di kehidupan nyata. Namun dia membenci dan sangat memusuhi ummat nasrani (kristen).

Sadar bahwa kebencian dan permusuhannya terhadap ummat nasrani dapat membahayakan keselamatan dirinya maka dia meninggalkan kehidupan nyata dan kembali ke jalannya yang pertama dengan bersuluk. Berbekal CAHAYA MUHAMMAD yang PININGIT di dalam dirinya, di jalan suluk, segala ijab terbuka. Dia memasuki dunia gaib. Seluruh wali Allah yang ada di muka bumi ini silih berganti datang menyampaikan salam dan takzim menyambut SANG PENGHULU WALI-WALI ALLAH.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya seorang diri di suatu malam. Sendiri dia menuju langit. Pintu langit terbuka menyambut JIWA SANG PENGEMBARA. Seratus dua puluh malaikat penjaga langit pertama tertegun melihat kedatangan SANG PEMIMPIN ALAM MAHSYAR. Dia mempersaksikan dirinya di hadapan para malaikat.

Dalam sekejap mata dia pun naik ke langit yang ketujuh. Di Sidratul Muntaha dia berdiri, memandang ke arah pintu syurga. Dia terdiam. Terpaku. Terpesona oleh keindahan dan kecantikan wajah malaikat Jibril alaihissalam. Jibrilpun kagum melihat sosok SANG PEMBUKTI KEBENARAN Tuhan telah hadir di hadapannya. Tak satupun kata yang terucap di antara mereka.

Di Sidratul Muntaha dia berlutut sambil menengadahkan kedua tangannya memandang Arasy tempat Tuhannya bertahta. Dia melaporkan tentang kedatangannya. Dia mendengar suara Tuhannya memerintahkan dia agar kembali ke bumi dan mengislahkannya.

(catatan: Kisah di atas bersumber dari artikel SPTM. Disajikan dalam bentuk narasi oleh Cakra Ningrat).

ISLAH
Nabi Muhammad bersabda: Al-Mahdi berasal dari ummatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam. (Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majid).

Kata “ISLAH” berasal dari bahasa Arab. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “islah” yang berarti perdamaian adalah terjadinya suasana yang aman dan rukun dalam segala bidang. Dalam arti yang lebih luas “islah” terkait dengan persatuan dan persaudaraan dalam kehidupan.

Hadits di atas menyebut kata “Al-Mahdi” dan bukan Imam Mahdi. Cakra Ningrat berpendapat: sebutan Al-Mahdi ditujukan kepada hamba Tuhan secara pribadi saat dimana beliau belum menjadi pemimpin (Imam) atau sebelum diketahui oleh ummat atau sebelum memiliki pengikut.

Sebelum diislahkan, Al-Mahdi memang membenci dan memusuhi ummat nasrani, akan tetapi Al-Mahdi diislahkan oleh Allah dalam satu malam. Yang dimaksud “dalam satu malam” sebagaimana hadits di atas adalah saat ketika Al-Mahdi naik ke langit ketujuh menghambakan diri di Sidratul Muntaha. Sebelum Al-Mahdi turun ke bumi, Allah mengislahkan atau mendamaikan hati dan jiwa Al-Mahdi agar tidak lagi membenci atau memusuhi ummat kristiani.

BAI’AT
Nabi Muhammad bersabda: Akan dibai’at seorang laki-laki antara makam Ibrahim dengan sudut ka’bah (Hadits Riwayat Ahmad).

Bai’at artinya perjanjian atau ikrar bagi penerima dan sanggup memikul atau melaksanakan sesuatu yang akan dibai’atkan (diperjanjikan). Biasanya bai’at dilakukan oleh murid kepada gurunya atau pengikut kepada pemimpinnya.

Makam Ibrahim artinya “tanda” yaitu kedua telapak kaki nabi Ibrahim yang membangun ka’bah. Makam Ibrahim berada di sisi ka’bah. Sudut ka’bah disebut “rukun.” Sudut ka’bah ada empat, yaitu Rukun Aswad, Rukun Iraqi, Rukun Syami, dan Rukun Yamani. Terlalu sulit untuk menafsirkan pada sudut (rukun) mana yang dimaksudkan oleh hadits di atas. Cakra Ningrat memastikan sudut yang dimaksud bukan pada rukun Aswad oleh karena di sudut itu terdapat “hajaratul Aswad.”

Cakra Ningrat berpendapat; sebutan makam (tanda) Ibrahim berkaitan dengan hadits sebelumnya dimana Al-Mahdi diislahkan oleh Allah atau didamaikan oleh Allah agar Al-Mahdi tidak lagi memusuhi ummat nasrani, mengingat ummat nasrani adalah juga keturunan dari nabi Ibrahim.

Pertanyaannya adalah siapakah yang dimaksud oleh hadits di atas “seorang laki-laki yang akan dibai’at ?”

Cakra Ningrat berpendapat; laki-laki yang dibai’at itu adalah seorang SAKSI YANG MENYAKSIKAN. Dia menyaksikan sosok dan wajah Al-Mahdi di salah satu sudut (rukun) ka’bah. Wajah dan sosok Al-Mahdi tergambar jelas seperti ketika kita melihat gambar seorang aktor dalam ukuran setengah badan di layar bioskop. Orang itu mengenal Al-Mahdi dan melaporkan kepada Al-Mahdi tentang apa yang dilihatnya. Lalu Al-Mahdi melakukan bai’at (perjanjian) terhadap orang itu agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apa yang orang itu lihat dan saksikan sebab yang dilihatnya adalah rahasia Tuhan Semesta Alam.

PENGIKUT
Nabi Muhammad bersabda: Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi (Hadits Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah).

Hadits di atas berkaitan dengan pengikut. Pengikut memiliki arti yang sangat penting oleh karena tanpa kehadiran mereka, Al-Mahdi tidak akan memiliki dasar hukum yang kuat dan legitimated untuk disebut sebagai Pemimpin atau Imam. Jika Al-Mahdi dipersiapkan oleh Tuhan untuk memimpin, maka dipastikan pengikut-pengikutnya juga dipersiapkan atau ditentukan oleh Tuhan. Para pengikut adalah orang-orang pilihan Allah. Mereka menjalani takdir hidupnya bukan atas dasar keinginan pribadi melainkan atas kehendak Allah, Tuhan Semesta Alam.

Mereka berbai’at kepada Al-Mahdi bahwa Al-Mahdi adalah pemimpinnya (Imamnya). Menjadi pengikut Al-Mahdi bukanlah satu perkara mudah dan gampang. Nabi Muhammad menggambarkan suasana hubungan itu dengan kalimat “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju.” Kesetiaan bukan berarti terbatas pada pengertian kesiapan melaksanakan dengan cermat seluruh perintah pemimpin, akan tetapi lebih dari itu para pengikut diwajibkan merahasiakan misteri dan jati diri pemimpinnya. Kerahasiaan sangat penting artinya bagi Imam Mahdi mengingat perjalanan hidup dan kehidupannya senantiasa diwarnai dengan gejolak perang dan aroma kematian.

Sebagaimana yang telah kami uraikan sebelumnya bahwa dalam perjalanan hidupnya Imam Mahdi menempuh dua jalan hidup yaitu bersuluk di dunia gaib dan jalan hidup di dunia nyata. Kedua jalan ini ditempuhnya secara bersamaan. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya sendiri. Ihwal tentang perang dapat dipastikan bila dia menjalaninya di dunia gaib sementara di dunia nyata dia tampil menawan seperti tidak terjadi sesuatu. Itulah sebabnya leluhur kita menyebut dia sebagai seorang satria yang tak terkalahkan namun tetap saja piningit (bersembunyi) terhadap apapun yang dia kerjakan.

Adalah sebuah kekeliruan besar yang dilakukan oleh ummat islam selama ini karena mereka menafsirkan hadits nabi secara harfiah. Mereka terjebak dalam imajinasi mereka sendiri bahwa seakan-akan Imam Mahdi harus berdiri di hadapan mereka dengan menggunakan sorban, berkhotbah memproklamirkan dirinya dan mengajak ummat islam memanggul senjata dan berperang. Sejak berabad-abad yang lalu sejarah telah mencatat begitu banyaknya orang yang mengaku dan menganggap dirinya sebagai Imam Mahdi kemudian membuat kerusakan di muka bumi dan memperatasnamakan islam lalu hidupnya berakhir dengan penghinaan. Seharusnya hal itu menjadi pelajaran berharga bagi kita yang hidup di saat sekarang ini.

Demi memuaskan ambisi dan nafsu “kemahdiannya” ummat islam kadang lupa terhadap hakekat utama agamanya sendiri yang mengharamkan segala bentuk-bentuk yang menyerupai gambar-gambar atau patung-patung. Itu berarti agama islam tidak diperbolehkan memuji yang nyata dan mengkultuskan seseorang melainkan diharuskan memuja, menyembah dan menghambakan diri kepada Allah Yang Maha Gaib, Tuhan Yang Menguasai Perkara-Perkara Gaib. Adalah suatu keharusan bagi Imam Mahdi, jika berperang di dunia gaib sebab dunia gaib adalah kegelapan. Hanya dengan memenangi perang di kegelapan Imam Mahdi dapat menerangi bumi dengan keadilan dan mengantar manusia kepada jalan yang terang.

Sadar atau tidak, ummat islam harus mengakui kalau Imam Mahdi adalah sosok yang penuh dengan misteri. Ini disebabkan karena tidak adanya ayat di dalam alqur’an yang dapat mengarahkan fikiran kita ke arah sosok itu. Satu hal yang harus kita sepakati bahwa Imam Mahdi adalah sosok yang sengaja dirahasiakan Tuhan. Sebagai ummat islam patut kiranya kita menyampaikan salam dan shalawat kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW karena beliau telah mewariskan beberapa hadits menyangkut Imam Mahdi, akan tetapi kita tidak boleh menafsirkannya secara harfiah mengingat kalimat-kalimat yang beliau gunakan cenderung bermakna ambigu dengan menggunakan tata bahasa metaforik. Dibutuhkan kecerdasan khusus dan konsentrasi yang betul-betul prima untuk melakukan penelitian, kajian dan analisis khusus terhadap hadits tersebut.

Beberapa penafsir dalam menafsirkan hadits nabi yang menyangkut Imam Mahdi sering menggunakan pendekatan yang merujuk pada pendapat ulama. Cakra Ningrat tidak menggunakan pendekatan seperti itu. Penafsiran kami lakukan secara teliti dan hati-hati melalui pendekatan linguistik sebagaimana yang telah kami uraikan di awal tulisan. Selain pendekatan linguistik, kami juga menggunakan pendekatan nalar burhani, logika dan filsafat. Ketiga pendekatan ini dapat kami uraikan sbb:

  1. Secara sederhana, nalar burhani dapat diartikan sebagai suatu aktifitas berfikir untuk menetapkan kebenaran proposisi melalui metode deduktif dengan mengaitkan proposisi antara yang satu dengan proposisi yang lain untuk membuktikan kebenaran secara aksiomatik. Secara terminologi, nalar burhani adalah nalar paradigma (kerangka) berfikir menggunakan model metodologi berfikir secara rasio, logika, dan silogisme pada proposisi-proposisinya untuk mencapai kebenaran. Yang pertama membangun prinsip-prinsip burhani adalah Aristoteles (384-322SM) yang terkenal dengan metode analitik (tahlili).
  2. Logika berasal dari kata Yunani Kuno yang berarti hasil pertimbangan akal fikiran yang diutarakan lewat kata-kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logika episteme atau ilmu logika yang mempelajari kecakapan untuk berfikir secara lurus, tepat, dan teratur. Obyek material logika adalah berfikir khususnya penalaran / proses penalaran. Obyek formal logika adalah berfikir / penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.
  3. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Dalam filsafat mutlak diperlukan logika berfikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filsafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran, dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut kita berharap akan dapat membuka wawasan berfikir yang luas, memberi kecerdasan, kesadaran dan ketercerahan diri menuju capaian sebuah kebenaran universal.

BERHAJI
Berulang-ulang kali nabi Muhammad memberi ketegasan dalam hadits-haditsnya bahwa Imam Mahdi adalah “ummatku, anak cucuku, namanya sama dengan namaku dan nama bapaknya sama dengan nama bapakku.” Ketegasan ini dapat dimaknai bahwa seluruh perilaku nabi akan sama dengan perilaku Imam Mahdi.

Dalam riwayat disebutkan nabi Muhammad memiliki istri bernama Hadijah. Hadijah memiliki peran penting dalam kehidupan nabi, bukan saja karena dia bekas majikan nabi saat nabi berniaga (berdagang), akan tetapi lebih dari itu; Hadijahlah orang pertama yang menjadi saksi atas kenabian dan kerasulan Muhammad. Saat selesai menerima wahyu pertama di gua Hira yang disampaikan oleh malaikat Jibril alaihissalam, Muhammad ketakutan. Beliau berlari pulang ke rumahnya menemui istrinya. Badannya gemetar ketakutan. Menggigil dingin. Keringatnya bercucuran, basah. Di atas tempat tidur, Hadijah memberi selimut kepada suaminya. Belum sempat beliau menceritakan kepada istrinya peristiwa “sakral” yang baru dialaminya, keringat yang membasahi tubuhnya belum juga kering di badannya, dalam keadaan tubuh yang masih dingin menggigil tiba-tiba suara yang sangat dia takuti terdengar lebih dekat lagi menghampirinya. Suara itu lebih keras, tegas dengan intonasi sedikit membentak. Wahyu kedua itu dibuka dengan kata-kata: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah !…” (QS. 73:1-2).

Hadijah adalah saksi yang menyaksikan peristiwa itu. Hadijah yakin seyakin-yakinnya bahwa suaminya benar-benar adalah seorang nabi dan rasul Allah. Keyakinan Hadijah didasari oleh ramalan-ramalan yang sudah lama santer terdengar di masa itu. Ramalan itu berasal dari rahib yahudi dan pendeta nasrani yang meramalkan tentang munculnya seorang nabi yang telah ditunggu-tunggu yang akan menerima wahyu dari langit. Ramalan itu sudah sering diceritakan jauh sebelum Muhammad lahir. Hadijah yang beragama nasrani dan memiliki usia lebih tua lima belas tahun dari Muhammad dianggap lebih mengetahui dan menguasai ramalan itu daripada Muhammad sendiri.

Merujuk pada ramalan-ramalan itu, telah tertulis dengan tinta emas dalam sejarah islam bahwa ada dua orang Bapa Pendeta yang menebak serta memastikan bahwa Muhammadlah sosok yang dimaksud dalam ramalan itu. Yang pertama adalah mantan yahudi bernama Buhaira. Dia melihat tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu dia mencium tanda itu. Saat itu Muhammad baru berusia 12 tahun. Buhaira berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga baik-baik kemenakannya dari niat jahat orang-orang Yahudi. Allah telah menakdirkan nabi terakhir berasal dari bangsa Arab, sementara semua orang-orang Yahudi menginginkan status kenabian itu selamanya milik bani israil. Bila mendapat kesempatan, orang Yahudi akan membunuh Muhammad sebelum Muhammad ditetapkan oleh Allah sebagai nabi.

Orang kedua yang memastikan kebenaran ramalan (nubuat) mengarah kepada Muhammad adalah Bapa Pendeta Nestor (Nestorius). Dikisahkan; ketika Muhammad bersama Maysarah membawa barang dagangan majikannya Khadijah ke suatu tempat. Sesampainya di sana, Muhammad bersandar di bawah sebatang pohon dekat gereja, kemudian Bapa Pendeta bertanya kepada Maysarah, siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu? Maysarah menjawab bahwa dia adalah seorang laki-laki dari suku Quraisy, keluarga pengurus al-Haram (Ka’bah). Lalu Bapa Pendeta berkata “Tidak ada seorang pun yang datang berteduh di bawah pohon tersebut, kecuali dia seorang nabi.”

Menarik untuk kita kaji dan cermati, “pohon” apakah yang dimaksud Bapa Pendeta Nestorius (Nestor) yang tumbuh di dekat gereja? Jika pohon yang ditempati bersandar dan bernaung oleh nabi Muhammad adalah pohon “Boedhi”, maka mau tidak mau, setuju atau tidak setuju ummat islam harus mengakui bahwa Siddharta Gautama adalah seorang nabi. Untuk mengetahui sejarah hidup dan ajaran-ajaran mulia nabiullah Siddharta Gautama silahkan membaca artikel “Yang Sadar dan Tercerahkan Adalah Buddha” yang ditulis oleh Cakra Ningrat dan dipajang di blog SPTM ini.

Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapat julukan dari suku Quraisy (suku tebesar di masa itu) sebagai Al-Amiin yaitu BENAR, LURUS, JUJUR dengan arti yang lebih dipertegas “orang yang dapat dipercaya.” Pedagang besar dan janda kaya Khadijah tertarik dengan julukan itu kemudian mempekerjakan Muhammad untuk menjual barang dagangannya keluar negeri Mekah. Maysarah menyampaikan kepada Khadijah perkataan Bapa Pendeta Nestor bahwa “tidak ada seorang pun yang datang berteduh di bawah pohon tersebut (dekat gereja) kecuali dia seorang nabi.” Mendengar penyampaian itu maka Khadijah meminang / melamar nabi. Takdir Allah mempersatukan mereka dalam ikatan suami istri.

Sungguh sangat ironis dan memiriskan hati akibat ulah sebahagian besar ummat islam yang lupa akan sejarah agamanya sendiri. Dengan pemahaman agama yang tidak didasari oleh pengetahuan akal dan budi luhur begitu mudahnya mereka menampik pesan-pesan leluhur seperti ramalan Jayabaya, Uga Wangsit Siliwangi, Sabdo Palon Nayo Genggong, Bagus Burham (Ronggowarsito) dan Joko Lelono tanpa didasari oleh pengetahuan yang jelas. Begitu mudahnya mulut mereka mengucapkan kata-kata “musyrik” bila mempercayai ramalan leluhur. Mereka lupa bila “Ummul Mukminin” (Ibu ummat islam) Sitti Khadijah mempersuamikan Muhammad, pada mulanya hanya didasari oleh kepercayaan dan keyakinan Khadijah kepada ramalan leluhur.

Tidak dapat dipungkiri betapa besar peran Khadijah sebagai istri, baik sebelum maupun setelah Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul Allah. Tentu saja peran dan fungsi semacam itu juga dilakoni oleh istri Imam Mahdi. Dipastikan istrinya sendiri sebagai saksi yang menyaksikan bahwa sesungguhnya suaminya adalah Al-Mahdi. Allah senantiasa akan memilih dan menetapkan dengan cara-Nya sendiri, wanita utama untuk menjadi saksi kunci dan abadi terhadap hamba-Nya yang bergelar Imam Mahdi. Sebagai wanita utama, dia akan menjaga rahasia Tuhan yang diamanahkan kepada dirinya.

Sungguh,
Betapa tingginya rahasia-Mu Ya Allah
Setinggi itulah Engkau merahasiakan Al-Mahdi-Mu

Sungguh,
Betapa dalamnya rahasia-Mu Ya Allah
Sedalam itulah Engkau merahasiakan Al-Mahdi-Mu

Biarkanlah kami mencarinya Ya Allah
dengan kekuatan akal dan fikiran kami
meski kami tidak akan mungkin
menemukan dan mengetahui wujudnya
karena Kamu sendiri yang menyembunyikan dia.

Engkau biarkan dia dalam kegelapan
Engkau biarkan dia dikejar-kejar oleh musuh-musuhnya
Engkau biarkan dia bertarung sendiri tanpa bantuan kami
Engkau biarkan dia seorang diri
Sebagaimana sendiri-Nya Engkau sebagai Tuhan kami

Engkau biarkan dia dalam kegelapan sebagaimana
Engkau dulunya membiarkan Muhammad dalam masa kegelapan jahiliyah di Mekkah
Engkau biarkan dia dikejar-kejar oleh musuh-musuhnya sebagaiamana
Engkau dulunya membiarkan Muhammad dikejar-kejar oleh orang kafir quraisy

Ya… Allah
Bukankah dulunya Engkau Sendiri Yang Memerintahkan
Muhammad hijrah dari Mekkah ke Yatsrib? (Medinah)
Bukankah dulunya Engkau sendiri yang mengetahui
betapa senangnya kaum Anshar menyambut kedatangan Muhammad?
maka jadikanlah kami seperti kaum Anshar
yang akan menyambut kemunculan Imam Mahdi-MU
Imam Mahdi-Mu adalah Satria-Mu yang bersembunyi (piningit)
Satria-Mu adalah sosok kebanggaan nabi kami

Ya… Allah
Engkaulah Tuhan Yang Esa dan Tunggal
Muhammad hanyalah hamba dan pesuruh-Mu
Dia Tidak tunggal, tidak esa dan tidak menyamai-Mu.
karena Imam Mahdi telah menggenapkan dia (Muhammad)
karena itulah sehingga engkau sangat merahasiakan
sosok dan jati diri Imam Al-Mahdi.

Ya… Allah
Janganlah Engkau takdirkan kami
sebagai orang yang mengingkarinya (Imam Mahdi)
karena kami tahu

Engkau pasti mempermalukan kami
Engkau pasti membuat kami menyesal
Engkau pasti menyiksa kami
Engkau pasti menghancurkan dan membinasakan kami.

Ya… Allah
Engkau adalah Tuhan Yang Maha Berkehendak
maka jadilah semua Yang Engkau Kehendaki
Amin…

(syair-syair atau puisi di atas hanya ungkapan perasaan penulis. Cakra Ningrat tidak memiliki kemampuan untuk merangkai kata dan menuliskannya lebih dari itu).

Nabi Muhammad bersabda: Suatu pasukan dari ummatku akan datang dari negeri Syam ke Baitullah (Ka’bah) untuk mengejar seorang laki-laki yang akan dijaga Allah dari mereka (Hadits Riwayat Ahmad).

Negeri Syam adalah sebuah daerah yang terletak di timur laut Mediterania, barat Sungai Efrat, utara Gurun Arab dan sebelah selatan pegunungan Taurus. Negeri Syam merupakan tempat dari agama samawi yaitu Yudaisme, nasrani, dan islam. Menurut pandangan islam, negeri Syam adalah negeri “kebaikan.”

Nabi Muhammad bersabda: “Kebaikan pada negeri Syam.” Kami bertanya mengapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “karena malaikat rahmah (pembawa kebaikan) mengembangkan sayap di atasnya.” (Hadits Riwayat Tirmizi).

Negeri Syam sebagaimana yang disebut pada hadits di atas tidak bisa ditafsirkan sebagai negara Libanon, Yordania, Palestina, atau Suriah, akan tetapi negeri “kebaikan” (Syam) adalah negeri yang memberangkatkan atau mengurus rakyatnya untuk pergi ke Baitullah melaksanakan ibadah haji di saat mana di waktu yang bersamaan ada pula Imam Mahdi bersama istrinya melaksanakan ibadah haji.

“Satu pasukan dari ummatku” maknanya adalah “Nafsu orang-orang yang melaksanakan ibadah haji.” Nafsu mereka (ummat Muhammad) mengejar “seorang laki-laki” yaitu Imam Mahdi. Akan tetapi “nafsu” tidak mengetahui bahwa Imam Mahdi berada di dekat ka’bah melakukan tawaf dan sa’i karena Imam Mahdi dijaga Allah dari mereka.

Berhaji adalah rukun islam yang ke lima. Wajib dilaksanakan setidaknya sekali dalam hidup bagi yang mampu. Bila Imam Mahdi sanggup berhaji berarti beliau memiliki kemampuan fisik (sehat) dan kemampuan finansial. Melaksanakan ibadah haji adalah melaksanakan ritual nabi Ibrahim. Ritual nabi Ibrahim sarat dengan nuansa gaib berkaitan dengan gangguan syetan dan jin. Di hampir semua tempat di kota suci Mekkah ada serombongan setan yang menunggu, tetapi tidak terbatas di Musdalifah dan Mina. Jauh sebelum Imam Mahdi berhaji, nabi Muhammad sudah mengetahui bila syetan-syetan akan menyerang Imam Mahdi secara berombongan dari semua arah bila beliau datang ke Mekkah.

Hadits-hadits nabi yang menggambarkan suasana ketika Imam Mahdi bersama istrinya melaksanakan ibadah haji.

  1. Nabi Muhammad bersabda: Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan makam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah (Hadits Riwayat Abu Dawud).
  2. Nabi Muhammad bersabda: Suatu kaum yang mempunyai jumlah dan kekuatan yang tidak berarti akan kembali ke baitullah (oleh penguasa) sekelompok tentara untuk mengejar mereka, sehingga apabila mereka telah sampai pada suatu padang pasir, maka mereka ditelan bumi (Hadits Riwayat Muslim)
  3. Nabi Muhammad bersabda: Seorang laki-laki akan datang ke Baitullah (Ka’bah) maka diutuslah suatu utusan (oleh penguasa) untuk mengejarnya, dan ketika mereka telah sampai di suatu gurun pasir, maka mereka terbenam di telan bumi (Hadits Riwayat Muslim)
  4. Nabi Muhammad bersabda: Sungguh, Baitullah ini akan diserang oleh suatu pasukan, sehingga apabila pasukan tersebut telah sampai pada sebuah padang pasir, maka bagian tengah pasukan itu akan ditelan bumi. Maka berteriaklah pasukan depan kepada pasukan bagian belakang, dimana kemudian semua mereka ditenggelamkan bumi dan tidak ada yang tersisa, kecuali seorang yang selamat, yang akan mengabarkan tentang kejadian yang menimpa mereka (Hadits Riwayat Muslim, Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah)
  5. Aisyah berkata: “Pada suatu hari tubuh Rasulullah bergetar dalam tidurnya. Lalu kami bertanya “Mengapa engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab “Akan terjadi sesuatu keanehan; yaitu bahwa sekelompok orang dari ummatku akan berangkat menuju Baitullah (Ka’bah) untuk memburu seorang laki-laki Quraisy yang pergi mengungsi ke Ka’bah. Sehingga apabila orang-orang tersebut telah sampai ke padang pasir, maka mereka ditelan bumi, kemudian kami bertanya: Bukankah di jalan padang pasir itu terdapat bermacam-macam orang? Beliau menjawab. Benar, di antara mereka yang ditelan bumi tersebut ada yang sengaja pergi untuk berperang, dan ada pula yang dipaksa untuk berperang, sedang ada pula orang yang sedang berada dalam suatu perjalanan, akan tetapi mereka binasa dalam suatu waktu dan tempat yang sama. Sedangkan mereka berasal dari arah (niat) yang berbeda-beda. Kemudian Allah SWT akan membangkitkan mereka pada hari berbangkit, menurut niat mereka masing-masing (Hadits Riwayat Muslim).

Hadits-hadits yang kami kemukakan di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah, akan tetapi dimaknai dalam konteks “serangan gaib” kepada Imam Mahdi saat beliau berhaji sekaligus mengunjungi negeri dan kampung halaman nabi Muhammad.

PERPECAHAN
Nabi Muhammad bersabda: “Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, sedangkan kaum nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, adapun ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Kesemuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja yang selamat.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ahmad).

Hadits di atas menyebut kata “kaum” dan bukan agama. Kaum diartikan sebagai “golongan orang-orang” (suku, bangsa, sanak saudara, kerabat, orang yang sekerja, sepaham). Ummat islam khususnya, banyak terjebak dengan hadits di atas. Mereka menganggap golongannya saja yang benar, sehingga ummat islam terpecah berkeping-keping dengan berbagai macam mashab, aliran, dan sekte-sekte. Sama halnya dengan ummat Yahudi dan nasrani, mereka terpecah dengan berbagai macam golongan. Masing-masing memberi atau melakukan klaim sepihak bahwa golongannya saja yang benar tanpa memiliki dasar hukum yang benar.

Cakra Ningrat berpendapat; hanya satu golongan yang selamat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah golongan orang-orang yang mengikuti Imam Mahdi. Imam Mahdi tidak membawa ajaran agama. Imam Mahdi hanya berjalan di atas jalan yang benar, jalan yang dibenarkan oleh semua agama-agama, yaitu jalan menuju Tuhan Yang Satu (Maha Esa).

JANJI KEMENANGAN
Nabi Muhammad bersabda: “Kalian perangi Jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran) dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum (Romawi) dan Allah berikan kemenangan.” (Hadits Riwayat Muslim).

Hadits di atas menggunakan kata “kalian.” Kalian diartikan sebagai “kita semua” termasuk penulis dan pembaca artikel ini, baik yang beragama islam maupun nasrani dan pemeluk agama lainnya. Bila ingin diselamatkan di dunia dan di akhirat maka ikutlah pada Imam Mahdi. Jadilah pengikut Imam Mahdi. Untuk ikut Imam Mahdi maka berperanglah. Perang yang dimaksud oleh hadits di atas bukan perang dengan memanggul senjata dan membunuh orang yang tidak berdosa, akan tetapi berperang melawan diri kita sendiri.

Penafsiran hadits di atas dapat kami uraikan sebagai berikut.
a. Jazirah Arab.
Jazirah Arab adalah sebuah Jazirah (semenanjung besar) di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Secara politik, yang masuk Jazirah Arab adalah Arab Saudi yang merupakan tempat kota suci Mekkah dan Madinah. Kuwait, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain. Secara umum penduduk Jazirah Arab beragama islam (sunni) sama halnya dengan muslim Indonesia penganut ahlussunnah wal jamaah (sunni).
Keselamatan kalian tidak ditentukan karena kalian golongan sunni, akan tetapi keselamatan kalian ditentukan oleh kemenangan kalian melawan dajjal. Perangilah dajjal, maka Allah akan beri kalian kemenangan.
b. Persia
Kekaisaran Persia adalah sejumlah kekaisaran yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air bangsa Persia dan sekitarnya termasuk Asia Barat, Asia Tengah dan Kaukasus. Persia identik dengan Republik Islam Iran. Umumnya bangsa Persia adalah muslim syi’ah.
Keselamatan kalian tidak ditentukan karena kalian golongan syi’ah, akan tetapi keselamatan kalian ditentukan oleh kemenangan kalian melawan dajjal. Perangilah dajjal, maka Allah akan beri kalian kemenangan.
c. Rum (Roma)
Roma adalah ibu kota Italia, ibu kota propinsi Roma dan juga ibu kota daerah lazio. Kota ini terletak di hilir sungai Tibet, dekat laut tengah. Di dalam wilayah kota Roma ada daerah kantong (enklave) berdaulat disebut Vatikan. Vatikan adalah Pusat Gereja Katolik dengan pemimpin negara Sri Paus.
Keselamatan kalian tidak ditentukan karena kalian nasrani (katolik, kristen, protestan), akan tetapi keselamatan kalian ditentukan oleh kemenangan kalian melawan dajjal. Perangilah dajjal, maka Allah akan beri kalian kemenangan.
d. Dajjal bukan hanya musuh ummat islam dan nasrani, akan tetapi musuh ummat manusia. Apa pun agama, apa pun aliran dan kepercayaan kalian, akan tetapi bukan agama, aliran, dan kepercayaan kalian yang akan membawa keselamatan pada diri kalian. Keselamatan kalian ditentukan oleh kemenangan kalian melawan dajjal. Perangilah dajjal maka Allah akan memberimu kemenangan.

Dari penafsiran di atas maka secara implisit dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya nabi Muhammad akan berlepas tangan dan tidak menjamin keselamatan ummat islam oleh karena Tuhan memperlakukan semua manusia “sama” dihadapan-Nya, sebagaimana firman-Nya di dalam alqur’an surah Al Hajj ayat 17 sbb:

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. 22:17)

Firman di atas tidak menyebut kata “agama” akan tetapi menggunakan kata “orang-orang.” Orang-orang adalah sekelompok orang yang dapat diartikan sebagai “kaum” sebagaimana hadits nabi yang menggunakan kata “kaum.” Hadits nabi tidak akan mungkin bertentangan dengan alqur’an kecuali penafsir yang membuatnya bertentangan. Untuk lebih memperjelasnya kembali kami kutip hadits tersebut:

Nabi Muhammad bersabda: “Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, sedangkan kaum nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, adapun ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Kesemuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja yang selamat.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ahmad).

Kata “ummatku” pada hadits di atas memiliki konotasi ambigu, yang bisa diartikan ummat islam saja dan bisa juga diartikan golongan ummat yang lebih luas lagi yaitu: orang-orang islam, orang-orang shabi’in, orang-orang majusi dan orang-orang musyrik.

Dalam surah al baqarah ayat 62, Tuhan Semesta Alam berfirman “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. 2:62).

Sebutan untuk orang-orang yang beriman dalam bahasa Arab disebut orang-orang mukmin. Secara etimologisnya berarti “percaya.” Perkataan iman berasal dari kata kerja “aamana yukminu” yang berarti percaya atau membenarkan. Iman bukan hanya milik ummat islam karena ummat agama lain juga memiliki iman. Dalam bahasa Yunani, iman juga disebut “pisti” yang secara etimologisnya adalah rasa percaya pada Tuhan.

Penulis tidak mengetahui kenapa Tuhan tidak menyebut dalam ayat 22:17 dan 2:62 “orang-orang islam.” Tuhan menggunakan frasa “orang-orang beriman (mukmin)” yang secara generatif tidak bisa diartikan orang-orang islam. Frasa “orang-orang beriman” bisa mengakomodir seluruh orang-orang yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut seperti orang hindu, orang buddha, orang Kong Hu Chu, orang Shinto dan lain-lain. Dalam dua ayat yang berbeda, Tuhan dua kali menyebut “orang-orang shabi’in.”

Shabi’in adalah orang-orang yang mengikuti syariat nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau yang menyembah dewa-dewa. Kedudukan hukumnya menjadi sangat jelas bahwa orang Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu, Shinto, dan agama-agama kuno lainnya terakomodir dalam kata “shabi’in” sebab mereka adalah orang-orang yang beriman juga.

Majusi adalah orang-orang yang beragama zoroaster di Persia Kuno yang kini dikenal dengan nama Iran. Nabi mereka bernama Zarathustra (zoroaster) hidup pada 618 SM. Dia menyebut Cahaya Tuhan sebagai Ahura Mazda. Orang Majusi adalah orang pertama yang mengetahui kelahiran nabi Isa as (Yesus Kristus). Sejak agama islam berkembang di Iran, pemeluk agama ini menyingkir ke Bombay-India. Mereka dikenal sebagai orang-orang Parsi. Agama ini masih ada hingga saat ini meski pemeluknya paling kecil di dunia.

Musyrik menurut syariat islam adalah perbuatan mempersekutukan Allah dengan apapun. Kemusyrikan secara personal dilaksanakan dengan mengikuti ajaran-ajaran selain ajaran Allah secara sadar dan suka rela.

“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS. 22:17)

Ummat islam terjebak dalam fatamorgana imaginatif mereka sendiri. Tanpa mereka sadari, terkadang mereka selalu mendahului kehendak Tuhan. Begitu mudahnya mereka menyebut dirinya saja yang paling benar dan agama lainnya salah. Betapa entengnya mulut mereka menyebut kata “kafir” atau “musyrik” sementara mereka sendiri tidak memahami hakikat dari kedua kata-kata itu. Tidak ada manusia yang beriman (percaya) kepada Tuhan yang pantas dikatakan kafir. Ketahuilah, sesungguhnya yang pantas dan layak untuk disebut kafir hanya satu. Dialah Ad-Dajjal.

Agama islam adalah agama yang di awal perkembangannya senantiasa diwarnai dengan peperangan. Doktrin-doktrin islam, baik yang terdapat dalam alqur’an maupun hadits-hadits nabi dianggap cukup dapat membangkitkan heroisme di dalam diri ummat islam. Hikmah dari semua itu adalah “Tuhan mempersiapkan kita melawan “DAJJAL.” Dajjal mengingkari alqur’an, karena itu Dajjal tidak gentar terhadap bacaan alqur’an. Perangilah Dajjal maka Allah akan memberimu kemenangan!.

DEFENISI DAJJAL
Nabi Muhammad bersabda: Tidak ada seorang nabi pun kecuali telah memperingatkan ummatnya tentang Dajjal yang buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah bahwa Dajjal buta sebelah matanya, sedangkan Allah tidaklah buta sebelah. Tertulis di antara kedua matanya “kafir” (yang mampu dibaca oleh setiap muslim).

Dajjal (bahasa Arab: ad-Dajjal) dalam iman islam diyakini sebagai seorang tokoh yang akan muncul menjelang akhir zaman. Dajjal disebut kafir (mengingkari Tuhan) dan jahat, pembawa fitnah dan seorang pecak (buta sebelah matanya). Secara etimologi lafadz ad-Dajjal diambil dari perkataan orang Arab, maknanya adalah dicat dengan tertutupi dan menutupi dengannya. Dalam kata ad-Dajjal berarti “mencampuradukkan” yang maknanya merancukan dan mengaduk-aduk.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa defenisi ad-Dajjal adalah: yang mencampuradukkan yang hak dan yang batil (benar dan salah) kemudian merancukan dan mengaduk-aduknya lalu menutupi dengannya maka tertutupilah kebenaran.

DEFENISI AL-MASIH ad-DAJJAL
Almasih ad Dajjal adalah sebutan yang ditujukan kepada seorang penyamar atau seorang pembohong yang mengakui dirinya sebagai nabi atau Imam Mahdi atau Mesiah atau Satrio Piningit, atau Satria Pinandito atau Joko Lelono atau Buddha Matteya atau Kalki.

Almasih ad Dajjal adalah nabi palsu, Imam Mahdi palsu, Mesiah palsu, Satrio Piningit palsu, Satria Pinanditho palsu, Joko Lelono palsu, Buddha Matteya palsu, dan Kalki yang palsu.

Sejatinya Imam Mahdi, Mesiah (ALMASIH), Satrio Piningit, Satria Pinanditho, Joko Lelono, Buddha Matteya dan Kalki maka dia tidak akan mungkin menyebut dirinya atau mengakui dirinya sebelum Tuhan memperlihatkan keajaiban langit kepada seluruh ummat manusia dan mempersaksikannya. Dia hanya satu wujud dalam banyak nama. Satu wujud dalam banyak gelar. Satu wujud dalam banyak julukan.

CIRI-CIRI AL MASIH AD-DAJJAL
Apabila anda bertemu seseorang yang memiliki bentuk phisik yang sempurna (laki-laki atau perempuan) kemudian orang itu mengakui dirinya sebagai Imam Mahdi atau Mesiah (Almasih) atau Satrio Piningit atau Satrio Pinandhito atau Joko Lelono atau Buddha Matteya atau Kalki maka ketahuilah sesungguhnya di dalam wujud phisik yang sempurna bersembunyi sosok seperti Hadits berikut ini:

Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya Al Masih Ad Dajjal seorang laki-laki pendek, berkaki bengkok, keriting rambutnya, buta sebelah matanya, dan matanya kabur tidak menonjol dan tidak cekung, jika ia memperdayai kalian maka ketahuilah Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud).

USIA DAJJAL
Nabi Muhammad bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan telah memperingatkan ummatnya tentang Dajjal, dan nabi Nuh telah memperingatkan hal itu kepada ummatnya, juga para nabi yang datang sesudahnya.” (Hadits Riwayat Ahmad).

Berdasarkan hadits di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa usia Dajjal lebih tua dari nabi Nuh alaihisslam. Pertanyaannya siapakah dia?

DAJJAL KETURUNAN ADAM
Nabi Muhammad bersabda: “Ayah dan ibu Dajjal itu melewati perkawinannya selama 30 tahun tanpa melahirkan satu anak pun. Kemudian lahirlah dari mereka seorang anak laki-laki yang buta sebelah matanya. Ia menjadi orang yang paling berbahaya dan paling sedikit manfaatnya (bagi kedua orang tuanya dan bagi ummat manusia). Kedua matanya tertidur tetapi hatinya tetap terjaga.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad).

Pertanyaannya siapakah Dajjal? Ada pendapat yang menyatakan Dajjal adalah manusia dari bani Adam. Sebagian ulama menyatakan Dajjal adalah setan. Sebagian lagi mengatakan bapaknya manusia, ibunya dari bangsa jin. Dajjal butuh makan dan minum oleh karena itu nabi Isa alaihissalam membunuhnya dengan cara membunuh manusia biasa.

Cakra Ningrat berpendapat: Dajjal adalah anak-cucu Adam dari garis keturunan Qabil (Kain) yang bernama Lamekh yang mati tenggelam di saat terjadinya “banjir semesta” di masa nabi Nuh alaihissalam. Pendapat ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad di atas “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan telah memperingatkan ummatnya tentang Dajjal, dan nabi Nuh telah memperingatkan hal itu kepada ummatnya, juga para nabi yang datang sesudahnya.” (Hadits Riwayat Ahmad). Dari hadits tersebut dapat dipertegas bahwa nabi Nuh mengenal Lamekh. Nuh adalah anak-cucu Adam dari garis keturunan Set, putra Adam yang ke tiga.

Untuk mengetahui silsilah nabi Adam kita bisa melihat perjanjian lama yang ditulis oleh nabi Musa alaihissalam.

Dalam Kitab Kejadian 4:17-24 sebagai berikut:
Kain bersetubuh dengan istrinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh, kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya. Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael dan Metusael memperanakkan Lamekh. Lamekh mengambil istri dua orang, yang satu namanya Ada dan yang satu namanya Zila. Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam di dalam kemah dan memelihara ternak. Nama adiknya Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Zila juga melahirkan seorang anak, yakni Tubal Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. Adik perempuan Tubal Kain adalah Naama. Berkatalah Lamekh kepada kedua istrinya itu:

“ Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku:
hai istri-istri Lamekh, pasanglah
telingamu kepada perkataanku ini:
Aku telah membunuh seorang laki-laki
karena ia melukai aku,
membunuh seorang muda karena
ia memukul aku sampai bengkak;
sebab jika Kain harus dibalaskan
tujuh kali lipat
maka Lamekh tujuh puluh tujuh
kali lipat.”

Kain (Qabil) membunuh Habel (Habil) dibalas tujuh kali sedangkan Lamekh membunuh orang muda dibalas tujuh puluh tujuh kali. Lamekh marah. Lamekh dendam dan benci kepada Tuhan.

Anak ketiga Adam bernama Set sebagai pengganti Habel (Habil) yang telah dibunuh oleh Kain (Qabil). Set memperanakkan Enos, selanjutnya pada generasi ke enam bernama Henokh. Dalam agama islam, Henokh dikenal dengan nama nabi Idris alaihissalam. Generasi keempat dari Henokh (Idris) atau generasi ke sepuluh dari Adam adalah Nabi Nuh alaihissalam.

Banjir semesta terjadi di masa nabi Nuh. Nabi Nuh selamat bersama putranya, sementara Lamekh bersama istri-istri dan anak-anaknya mati tenggelam. Dendam Lamekh kepada Tuhan semakin membara.

Nuh memiliki tiga orang putra, yakni Sem (Sam), Ham, dan Yafet. Dari ketiga orang inilah anak-cucu Adam dapat beranak pinak dan berkembang biak menguasai dunia nyata. Adapun yang menguasai alam barzah (gaib) adalah anak-cucu Adam dari garis keturunan Kain (Qabil) yaitu Lamekh.

Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya Dajjal tidak bisa memiliki keturunan.” (Hadits Riwayat Muslim).

Dari hadits di atas dapat dijelaskan bahwa Lamekh (Dajjal) memang sudah tidak bisa lagi menambah keturunan sebab dia adalah manusia yang sudah meninggal. Dia manusia pertama yang mengisi alam barzah. Dia penguasa alam itu. Dialah penguasa kegelapan. Dalam iman Kristiani, Dajjal dikenal sebagai ANTIKRISTUS.

Ummat islam sudah lama mengenal nama Dajjal, akan tetapi mereka tidak tahu dari mana asal muasal sosok tersebut. Sama halnya dengan ummat kristiani juga sudah lama mengenal frasa Antikristus, akan tetapi mereka juga tidak tahu dari mana asal muasal gelar itu. Sesungguhnya Dajjal dan Antikristus adalah Lamekh. Lamekh memiliki dua orang istri dan empat orang anak, tiga anaknya laki-laki dan satu perempuan. Tidak satu pun manusia yang dapat lepas dari pengaruh Dajjal dan Antikristus.

Nabi Muhammad bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada makhluk di muka bumi ini sejak Allah menciptakan Adam sampai hari kiamat yang fitnahnya lebih besar dari pada Dajjal.” (Hadits Riwayat Muslim).

Wahai ummat muslim sedunia, apabila ada yang menganggap dirinya dan mengakui dirinya serta telah memproklamirkan dirinya sebagai Imam Mahdi, nabi Isa Almasih (Mesiah), Buddha Matteyya, Dewa Kalki, Satrio Piningit, Satrio Pinanditho, dan Joko Lelono, maka ketahuilah bahwasanya kalian telah menebar fitnah yang tidak benar. Kalian adalah pengikut Dajjal. Kalianlah yang bergelar Almasih Ad Dajjal. Berapapun besarnya jumlah kalian.

ANTIKRISTUS
Sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya bahwa kata Dajjal tidak dikenal dalam alqur’an. Ummat islam mengetahui Dajjal dari hadits nabi Muhammad. Sama halnya dengan Antikristus, gelar itu tidak pernah disebut secara langsung oleh Yesus Kristus (nabi Isa Almasih) semasa hidupnya. Antikristus pertama kali disebut oleh rasul Paulus. Alqur’an mengakui rasul Paulus sebagai Ahlil Kitab.

1. Yohannes 18-19.
Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk kepada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.

1. Yohannes 2:22
Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.

1. Yohannes 4:3
Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini dia sudah ada di dalam dunia.

2. Yohannes 1:7
Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

Sebagaimana 1. Yohannes 4:3 disebutkan: “…dan sekarang ini dia sudah ada di dalam dunia.” Yang dimaksud dengan kalimat “sekarang ini dia sudah ada di dalam dunia” adalah Lamekh. Dia itulah yang dimaksud SI PENDUSTA. Lamekh adalah manusia, generasi ketujuh Adam dari garis keturunan Kain. Lamekh meninggal saat banjir semesta di masa Nuh. Roh Lamekh disebut tidak berasal dari Allah, karena dia benci, marah, dan dendam kepada Allah. Roh Lamekh adalah roh Antikristus Sang Pendusta.

Wahai seluruh ummat kristen sedunia, berhati-hatilah dan waspada oleh karena Yohannes telah mengingatkan kita bahwa Antikristus berada di antara ummat kristiani sendiri. Banyak di antara kalian (ummat kristen) adalah Antikristus.

Ummat kristiani akan menolak pendapat ini sebab mereka beranggapan bahwa selama ini mereka adalah orang-orang yang beriman dan percaya kepada Yesus Kristus. Akan tetapi jika dikatakan Imam Mahdi adalah Yesus Kristus, apakah kalian dapat menerimanya? Jika kalian menolak pendapat ini maka kalian itulah yang dimaksud oleh Yohannes sebagai Antikristus yang berada di antara kita. Anda adalah Maseas palsu. Sang pendusta.

Kepada ummat islam yang menerima Imam Mahdi tapi menolak Yesus Kristus, atau masih mempertentangkan Yesus Kristus dengan Isa Almasih maka ketahuilah bahwa roh Dajjal ada di dalam diri kalian. Andalah yang bergelar Almasih ad Dajjal. Dajjal memakai diri kalian tanpa kalian sadari untuk menebar fitnah.

(Cakra Ningrat akan menulis artikel khusus tentang Isa adalah Yesus Kristus dan Yesus adalah Isa dengan satu pemikiran, jika Al Mahdi diislahkan (didamaikan) oleh Allah dalam satu malam, maka ummat islam dan ummat kristen pasti akan didamaikan juga. Tinggal menunggu waktu saja).

BUTA SEBELAH
Nabi Muhammad bersabda: Tiadalah Allah mengutus seorang nabi pun kecuali pasti para nabi itu telah mengingatkan ummatnya akan orang yang buta sebelah dan sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah. (Hadits Riwayat Buhari, Muslim).

Kita tidak bisa menafsirkan “buta sebelah” secara harfiah bahwa yang dimaksud dengan “buta sebelah” adalah mata lahiriahnya atau mata jasadnya. Para sahabat berkata: Dajjal ini lebih menyerupai Ibnu Qathan, laki-laki dari Khuza’ah (HR. Muslim).

Nabi Muhammad bersabda: Jika dia (Ibnu Qatham) memang Dajjal maka engkau tidak akan pernah bisa membunuhnya. (HR. Muslim).

Dari hadits di atas dapat disebutkan bahwa buta sebelah tidak bisa diartikan secara fisik (jasad) oleh karena Tuhan Semesta Alam telah memberi karunia besar kepada ummat manusia berupa dua mata yang lain. Kedua mata tersebut adalah MATA HATI DAN JIWA serta MATA AKAL DAN FIKIRAN.

Mata Hati dan Jiwa memiliki arti yang sangat luas, akan tetapi tidak terbatas pada iman dan kepercayaan seseorang terhadap agama yang dianutnya.

Mata Hati dan Jiwa berkaitan juga dengan semua hal yang berhubungan dengan perasaan emosional dan hal-hal yang berhubungan dengan kondisi psikologi seseorang.

Mata Akal dan Fikiran adalah mata manusia dalam arti yang luas tetapi tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat eksakta atau yang bersifat kongkrit yang dapat diketahui dan diselidiki berdasarkan percobaan atau analisis serta dapat dibuktikan kebenarannya dengan pasti.

Sebagai ummat yang beragama (kristen dan islam) pada hakekatnya kita menerima agama kita hanya sebatas pada KEYAKINAN. Kita menerima keyakinan itu dalam bentuk dogma agama. Dogma dianggap sebagai prinsip utama yang harus dijunjung oleh semua penganut agama tersebut. Sebagai unsur dasar dari agama, istilah dogma diberikan kepada ajaran-ajaran yang dianggap telah terbukti baik, sedemikian rupa sehingga usul bantahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak menerima lagi agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keragu-raguan pribadi. Penolakan terhadap dogma berarti dianggap sebagai ajaran sesat. Dogma di dalam islam dikandung dalam aqidah islamiyah.

Cakra Ningrat berpendapat; manusia yang mempercayai Tuhan berdasarkan dogma agamanya maka manusia itulah yang disebut dengan Bermata Satu oleh karena mereka hanya menerima Tuhan hanya berdasarkan keyakinan semata. Mereka meraba-raba Tuhan dengan menggunakan satu penglihatan yaitu hanya menggunakan mata hati dan jiwanya, atau meyakini Tuhan hanya dengan satu penglihatan dianggap sama saja dengan meraba-raba atau menerka-nerka atau menebak-nebak dalam kegelapan. Kebenaran yang diyakini dalam kegelapan adalah sebuah kebenaran yang tidak memiliki kepastian hukum. Mereka yang menerima Tuhan dengan hanya sebelah mata memiliki potensi yang cukup besar dan sangat berpeluang untuk disebut sebagai Almasih ad Dajjal atau Antikristus.

Nabi Muhammad bersabda: Aku benar-benar akan memperingatkan kalian tentang Dajjal. Tidak ada seorang nabi melainkan ia pernah memperingatkan kaumnya tentang masalah tersebut. Tetapi aku akan mengatakan kepada kalian suatu ucapan yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun sebelumku. Dia itu (Dajjal) picak sedangkan Allah tidaklah picak (Hadits Riwayat Bukhari).

Picak artinya “gepeng.” Suatu benda yang keadaannya tidak sempurna, contoh; ban pada kendaraan, bola, atau kepala yang tidak sempurna bentuknya sebutannya adalah “gepeng.” Dajjal itu “picak” artinya Allah ingin manusia menggunakan akal untuk memahami Tuhannya. Bila memahami Tuhan hanya sebatas keyakinan maka keyakinan itu dianggap “picak” atau tidak sempurna. Allah Maha Sempurna dan kita harus menerima dan memahami Tuhan dengan sempurna, baik dengan keyakinan kita maupun dengan akal fikiran kita. Sempurnanya sebuah keyakinan kepada Tuhan bilamana akal dan fikiran telah membenarkannya. Itulah kebenaran mutlak yang bersifat universal.

Nabi Muhammad bersabda: “Dajjal akan keluar dari bumi sebelah Timur yang disebut Khurasan. Dajjal akan diikuti oleh kaum yang wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit.” (Hadits Riwayat Tirmidzi).

Hadits di atas tidak bisa diartikan secara harfiah. Kalimat “wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit” bermakna orang-orang yang akal fikirannya tertutup. Wajah orang-orang itu diibaratkan seperti tameng yang dilapisi kulit. Mereka yang tidak menggunakan akal dan fikirannya dalam memahami Tuhan, itulah yang disebut sebagai pengikut-pengikut Dajjal.

Nabi Muhammad bersabda: “Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Alqur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Setiap kali keluar sekelompok mereka, maka akan tertumpas sehingga muncul Dajjal di tengah-tengah mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah. Pemuda yang pandai membaca Alqur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka maknanya adalah pemuda yang hanya meyakini Alqur’an. Keyakinan mereka hanya sebatas dada, tidak melewati tenggorokan mereka artinya tidak sampai ke atas kepala menyebabkan mereka tidak memahami Alqur’an dengan akal fikirannya.

Sebutan “pemuda” pada hadits di atas bukan dalam konteks usia muda, akan tetapi lebih dimaksudkan pada “kuatnya keyakinan ummat islam kepada kebenaran alqur’an.” Betapapun kuatnya keyakinan itu, bila ummat islam tidak menggunakan akal fikirannya untuk memahaminya maka dipastikan Dajjal akan hadir di tengah-tengah mereka. Satu-satunya cara untuk memproteksi (melindungi) diri dari hasutan fitnah Dajjal adalah “gunakan akal fikiran anda dalam memahami Tuhan.” Kelemahan Dajjal hanya satu yaitu “Dajjal tidak memiliki akal dan fikiran.” Senjata kita hanya satu, “Akal dan fikiran.” Gunakanlah senjata itu.

Nabi Muhammad bersabda: “Tidak ada satu negeri pun, melainkan semua diinjak oleh Dajjal, kecuali Mekkah dan Madinah. Semua jalan yang menuju ke sana dijaga dengan malaikat dengan berbaris. Maka berhentilah Dajjal di sebuah kebun (di pinggir kota Madinah). Madinah berguncang tiga kali maka keluarlah semua orang-orang kafir dan munafik dari kota Madinah menemui Dajjal.” (Hadits Riwayat Al Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah. Hadits di atas adalah contoh sebuah keyakinan yang dibenarkan oleh akal fikiran yaitu: Madinah dan Mekkah. Di Madinah terdapat Mesjid Nabawi (mesjid nabi) di dalam mesjid itu terdapat kuburan nabi Muhammad yang disebut Raodah. Bukti kuburan nabi dapat kita saksikan dan masih terpelihara sampai sekarang. Berdasarkan alat bukti (kuburan) tersebut maka akal dan fikiran kita membenarkannya. Karena akal dan fikiran sudah membenarkannya maka Dajjal tidak bisa masuk untuk menebar fitnah dan merubahnya.

Demikian halnya terhadap Mekkah. Di Mekkah terdapat Ka’bah. Ummat islam meyakini bahwa Ka’bah dibangun oleh nabi Ibrahim. Keyakinan ini dibenarkan oleh akal dan fikiran karena adanya bukti sejarah yaitu maqam nabi Ibrahim. Dajjal tidak bisa mengubahnya dengan menebar fitnah oleh karena akal fikiran telah membenarkan berdasarkan bukti bekas telapak kaki orang yang membangunnya (nabi Ibrahim).

DAJJAL BERADA DI INDONESIA
Nabi Muhammad bersabda: “Ketahuilah bahwa dia (Dajjal) berada di Laut Syam atau Laut Yaman. Oh tidak, bahkan ia datang dari arah timur. Apa itu dari arah timur? Apa itu dari arah timur……. Dan beliau berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah timur.” (Hadits Riwayat Muslim).

Cakra Ningrat berpendapat: Arah timur yang ditunjuk oleh nabi adalah negeri kita Indonesia. Keyakinan ini berdasarkan bukti yang ada bahwa jumlah pemeluk agama islam terbanyak di dunia adalah Indonesia. Bila Imam Mahdi / Masseas ada di Indonesia, dipastikan Dajjal juga berada di Indonesia.

TAMIM ad Daari
Diriwayatkan dari Fatimah binti Qais bahwa Rasulullah menceritakan kisah Tamim ad Daari tersebut dan pengalamannya di tengah lautan ketika bertemu dengan sesosok makhluk yang terbelenggu. Rasulullah membenarkan kisah Tamim ad Daari tersebut adalah Dajjal yang keluar di akhir zaman. Di dalam kisah tersebut disebutkan bahwa Dajjal berkata: “…maka aku akan keluar dan mengelilingi dunia. Tidak ada satupun daerah kecuali aku masuki dalam waktu 40 malam, kecuali Makkah dan Thoyyibah (nama lain Madinah), karena keduanya diharamkan atasku. Setiap aku akan memasuki salah satunya, maka akan dihalangi malaikat-malaikat yang di tangan-tangan mereka tergenggam pedang-pedang terhunus menghalangku dari keduanya…” maka Rasulullah mengatakan sambil menunjuk tongkat ke tanah “Inilah yang dimaksud Thoyibah (2x), inilah yang disebut sebagai Thoyibah yakni Al Madinah. Bukankah aku pernah mengatakannya kepada kalian?” maka manusia menjawab: “Ya!” Rasulullah pun bersabda: “Sungguh sangat mengagumkan aku berita dari Tamim ad Daari ini, sesungguhnya ia cocok dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah sesungguhnya dia (Dajjal) ada di Laut Syam atau Laut Yaman. Tidak! Bahkan di arah Timur, bahkan di arah Masyriq sambil mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Timur (Hadits Riwayat Muslim).

Tamim bin Aws ad-Dari, awalnya adalah seorang pendeta Nasrani, ia tinggal di selatan Palestina dan daerah tersebut dikuasai oleh Bani al-Dar. Pertemuan pertama dengan nabi Muhammad saat ia memimpin sepuluh delegasi Bani al Dar, lalu nabi memberinya sebagian pendapatan tanah yang telah di taklukkan pihak Muslim di pertempuran Khaybar. Al Dari kemudian memeluk islam dan tinggal di Madinah. Tamim ad Daari dikenal sebagai narator pertama untuk cerita-cerita islam termasuk tentang Dajjal sebagaimana hadits di atas.

Ada beberapa kelompok islam menyebut dirinya sebagai Bani Tamim dengan identitas bendera atau Panji Hitam. Mereka siap berjihad untuk berperang membantu Imam Mahdi melawan Dajjal dan musuh-musuh islam. Tidak berlebih-lebihan jika dikatakan siapapun yang mengakui kelompoknya Bani Tamim maka kita dapat menyebut kelompok itu terjebak dengan narasi Tamim ad Daari. Tidak ada yang memahami persoalan Dajjal kecuali Imam Mahdi sendiri. Nabi Muhammad saja tidak mengetahui secara persis dimana munculnya, akan tetapi dengan isyarat-isyarat tangannya yang selalu menunjuk ke arah timur semakin menguatkan dugaan kita bahwa beliau menunjuk Indonesia.

Nabi Muhammad bersabda: Dajjal akan turun dari daerah dataran yang bergaram yang bernama Marriqanah. Maka yang banyak mengikutinya adalah para wanita, sampai seorang laki-laki pulang ke rumahnya menemui istrinya, ibu, dan anak perempuan serta saudara perempuan dan bibinya kemudian mereka ikat karena khawatir kalau-kalau keluar rumah menemui Dajjal dan mengikutinya. (Hadits Riwayat Ahmad)

WANITA
Kita tidak dapat mengetahui daerah mana yang dimaksud Marriqanah. Apakah sebutan Marriqanah sama dengan sebutan Amriqanah (bahasa Arab) untuk menyebut sebuah negara Amerika? Jika dugaan penulis benar maka bukan Amerikanya yang perlu kita kaji secara mendalam tapi “siapa” yang berada di balik Amerika. Yang berada di belakang Amerika adalah “Yahudi.”

Yahudi adalah sebuah suku dari dua belas suku yang pernah ada dari garis keturunan Yehuda putra nabi Yakub alaihissalam. Karena Yehuda memiliki keturunanan yang paling banyak maka seluruh keturunan Israil (nabi Yakub) mengacu pada sebutan “Yahudi.” Agama Yahudi adalah kombinasi antara agama dan suku bangsa.

Agama Yahudi menepis seluruh keyakinan islam dan kristen tentang Dajjal dan Antikristus. Yahudi tidak mengakui Yesus Kristus (Isa Almasih) sebagai Mesiah. Ummat Yahudi berkeyakinan, Mesiah adalah Raja dan nanti akan muncul untuk membangun kembali Bait Allah yang didirikan oleh Raja Salomo (nabi Sulaiman). Semua Yahudi yang hidup di pembuangan kembali ke Israil untuk dipimpin oleh Raja Mesiah. Israil akan menjadi pusat kerajaan Allah dimana Allah sendiri duduk sebagai Raja, yang secara unik dipegang oleh Mesiah.

Entitas suku bangsa dan agama Yahudi dikenal sangat kuat memegang teguh keyakinan bahwa golongan merekalah yang paling diberi kemuliaan dan diberkati Allah. Yudaisme umumnya memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak Mesiah palsu yang muncul dalam sejarah. Yesus dianggap sebagai yang paling berpengaruh dan paling banyak membuat kerusakan di antara semua Mesiah-Mesiah palsu yang tercatat dalam sejarah Yahudi.

Oleh karena orang Yahudi tidak segan-segan menyebut Yesus Kristus sebagai Messiah palsu maka orang-orang kristen tidak usah ragu untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudi adalah Antikristus. Kebanyakan ummat islam mengambil sikap tegas dengan mengatakan Yahudi adalah ad Dajjal.

Saling tuduh-menuduh antara Yahudi, Kristen, dan Islam terhadap permasalahan-permasalahan di ranah Gaib adalah sebuah bentuk permusuhan klasik yang sudah berjalan ribuan tahun. Karena akar masalahnya tentang Gaib (Allah) maka logis jika ummat kristen dan islam membutuhkan kehadiran seorang tokoh atau sosok yang meskipun sosok / tokoh itu gaib dimana ummat kristen dan ummat islam tidak melihatnya atau berjumpa dengannya akan tetapi kemunculannya sangat diharapkan untuk mengakhiri permusuhan ini. Namun sebelum tokoh / sosok itu muncul, manusia sangat membutuhkan adanya pencerahan pemikiran agar kita tidak berputar-putar dalam sebuah lorong bernama “kegelapan.”

Suku bangsa dan agama Yahudi tidak memasukkan “kehidupan syurga” dalam keimanan mereka. Tema sentral tujuan mereka adalah “kejayaan Israil” menguasai kehidupan manusia di dunia ini. Pemikiran Yahudi hanya semata-mata untuk kesenangan duniawi. Sangat beralasan jika nabi Muhammad mengatakan yang banyak mengikuti Dajjal adalah para wanita yaitu istri, ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan bibi kita karena wanita memiliki kecenderungan dalam kehidupan dunia yang penuh dengan perhiasan dan materi. Selain itu wanita juga memiliki kondisi emosional dalam bersikap saat mengambil keputusan, wanita selalu didominasi oleh perasaannya. Kelemahan-kelemahan wanita seperti ini selalu dimanfaatkan dan dieksploitasi oleh Dajjal dengan tujuan untuk menyesatkan mereka. Salah satu kesenangan wanita yang paling disukai Ad Dajjal adalah kegemarannya bergosip. Gosip adalah obrolan tentang orang lain, yang berhubungan dengan cerita negatif tentang seseorang atau pergunjingan. Terkadang pembicaraan gosip memberi ruang khusus kepada hal-hal yang berbau fitnah. Adalah menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk membantu memberi penguatan kepada wanita dalam melawan pengaruh-pengaruh Dajjal oleh karena laki-laki memiliki potensi akal yang lebih bagus dalam memahami Tuhan.

YAHUDI
Nabi Muhammad bersabda: “Dajjal akan keluar dari Yahudiyah Ashbahan dan 70.000 orang Yahudi memakai mahkota akan menjadi pengikutnya. (Hadits Riwayat Ahmad).

Secara geografis Ashbahan terletak di provinsi Isfahan, Iran, tepatnya di sebelah barat provinsi Khurasan. Dalam provinsi Isfahan terdapat sebuah kota bernama Isfahan. Salah satu desa dalam kota Isfahan disebut Yahudiyyah karena penduduknya khusus orang Yahudi.

Nabi Muhammad bersabda: Para pengikut Dajjal adalah dari kelompok Yahudi, Isfahan, 70.000 orang memakai thayalisah (topi penutup kepala). (Hadits Riwayat Muslim).

Kedua hadits di atas tidak bisa diartikan secara harfiah bahwa Dajjal adalah sosok nyata, berperang secara nyata dengan memimpin pengikut sebanyak 70.000 orang Yahudi Ashbahan atau Isfahan. Dajjal adalah sosok gaib yang tidak dapat dilihat mata. Pengikutnya adalah manusia nyata yang memiliki sifat yang sama dengan sifat-sifat orang Yahudi. Orang Yahudi suka memfitnah orang lain, suka berdusta dan suka berbohong. Siapapun di antara kita yang suka memfitnah, berdusta dan suka berbohong, apapun suku dan bangsa kita, serta agama apapun yang kita anut jika memiliki ketiga sifat-sifat tersebut dapat disebut sebagai pengikut setia Dajjal.

Oleh karena Dajjal adalah sosok yang gaib bagi manusia maka lawan tangguh Dajjal adalah manusia yang nyata, akan tetapi manusia itu tidak diketahui oleh ummat manusia (gaib). Orang itu bergelar Imam Mahdi / Yesus Kristus (Isa Almasih). Dia ada di Indonesia namun kita tidak mungkin dapat mengetahui dimana keberadaannya, karena itulah sehingga leluhur kita menamakannya sebagai Satrio Piningit.

GORO-GORO
Leluhur kita telah memberi pegangan kepada kita bahwa sebelum Indonesia memasuki masa keemasannya di bawah kepemimpinan Satrio Piningit (Imam Mahdi / Yesus Kristus) yang bergelar Ratu Adil, maka Jawa (Indonesia dan Dunia) akan dilanda kerusuhan dan kesurupan massal yang disebut “Goro-Goro.” Goro-goro adalah suatu keadaan yang kacau balau karena bangkitnya arwah orang-orang yang sudah meninggal dunia.

Nabi Muhammad bersabda: “Keluarlah pada hari itu seorang yang terbaik di antara yang terbaik. Dia berkata “Aku bersaksi engkau adalah Dajjal yang telah disampaikan kepada kami oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.” Dajjal berkata (kepada pengikutnya)” Apa pendapat kalian jika aku bunuh dia dan aku hidupkan kembali, apakah kalian masih ragu kepadaku?” Mereka berkata “Tidak” maka Dajjal membunuhnya dan menghidupkannya kembali…” (Hadits Riwayat Muslim).

Nabi Muhammad bersabda: “Dajjal akan menggeregaji seseorang kemudian akan membangkitkannya kembali.” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad bersabda: “Dia datang kepada satu kaum mendakwahi mereka. Mereka pun beriman kepadanya, menerima dakwahnya. Maka Dajjal memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanaman…” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad bersabda: “Dia memilliki keledai yang ditungganginya, lebar antara dua telinganya 40 hasta.” (HR. Ahmad).

Nabi Muhammad bersabda: “Sungguh Dajjal akan keluar dan bersamanya ada air dan api. Apa yang dilihat manusia air sebenarnya api yang membakar. Apa yang dilihat manusia api sesungguhnya adalah air minum dingin yang segar. Barang siapa di antara kalian yang mendapatinya, hendaknya memilih yang dilihatnya api, karena itu adalah air segar yang baik. (HR. Muslim)

Nabi Muhammad bersabda: “Di antara fitnah-fitnah Dajjal adalah bahwa bersamanya ada surga dan neraka. Padahal sesungguhnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka. Barang siapa mendapatkan cobaan dengan nerakanya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan hendaknya ia membaca ayat-ayat di awal surah Al-Kahfi (HR. Majah).

Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya bersama dia ada surga dan nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti. Sesungguhnya surganya Dajjal adalah neraka dan nerakanya Dajjal adalah surga.” (HR. Ahmad).

Nabi Muhammad bersabda: “Dia (Dajjal) mendatangi reruntuhan dan berkata: “Keluarkanlah perbendaharaanmu.” Maka keluarlah perbendaharaannya mengikuti Dajjal seperti sekelompok lebah.” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad bersabda: “Barang siapa yang mendengar tentang Dajjal hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah! Sesungguhnya ada seorang laki-laki akan mendatanginya dan ia menyangka dirinya beriman, lalu ia justru mengikutinya karena pengaruh syubhat (kerancuan yang membingungkan yang ditimbulkan Dajjal) (HR. Abu Dawud).

Nabi Muhammad bersabda: antara fitnah Dajjal adalah ia akan berkata pada orang-orang “Bagaimana menurutmu jika aku membangkitkan ayah dan ibumu lalu engkau bersaksi aku adalah Tuhanmu, apakah engkau mau?” “Iya mau,” jawab orang tersebut. Lalu dua setan menyerupai bentuk ayah dan ibunya lantas keduanya berkata “wahai anakku, ikutlah dia (yaitu Dajjal) karena dia adalah Rabbmu.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits-hadits yang kami kemukakan di atas adalah suasana kebingungan manusia saat terjadinya goro-goro. Kebingungan mereka disebabkan karena telinga mereka mendengar begitu banyaknya suara-suara gaib yang entah darimana sumber bisikan itu. Semua yang dibisikkan dan diperdengarkan berisikan fitnah, dusta dan kebohongan-kebohongan tentang kebenaran. Dajjal bersama seluruh pembantu-pembantunya yaitu roh-roh orang mati yang tersesat, setan-setan, dan jin akan dibangkitkan untuk menipu dan menyesatkan semua manusia. Setan-setan akan bercakap-cakap dengan manusia.

Nabi Muhammad bersabda: “Di antara fitnah-fitnah Ad Dajjal adalah, bahwa bersamanya ada surga dan neraka. Padahal sesungguhnya neraka adalah surga dan surga adalah neraka. Barang siapa mendapatkan cobaan dengan nerakanya, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan kehendakilah ia membaca ayat-ayat di awal surah Al Kahfi.” (HR. Ibnu Majah).

AL-KAHFI
Yang dimaksud ayat-ayat di awal Surah Al-Kahfi sebagaimana yang disabdakan oleh nabi Muhammad adalah ayat 1 sampai 8, yang terjemahannya sebagai berikut:

  1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;
  2. sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,
  3. mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
  4. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.”
  5. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.
  6. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).
  7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
  8. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.

Cakra Ningrat mengajak kepada seluruh pembaca khususnya warga setia blog SPTM agar menghayati dan mencermati, menganalisis dan mengkaji hakikat dan makna serta pesan-pesan Tuhan yang tersembunyi di balik ayat-ayat tersebut di atas untuk diambil sebuah hikmah dan pelajaran dengan menggunakan logika, akal, dan fikiran kita masing-masing. Sebagai ilustrasi kami contohkan hakikat, makna, dan pesan Tuhan yang tersembunyi di ayat ke 8 sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang rata lagi tandus.”

Pesan Tuhan yang tersirat pada ayat di atas hanya dapat kita ketahui bila kita menggunakan logika, akal, dan fikiran kita untuk menemukan hakikat dan maknanya yaitu:

    1. “Kami benar-benar akan menjadikan (pula)” maksudnya Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu akan menciptakan secara nyata (menjadikan) pula… “apa yang di atasnya” maksudnya adalah langit yang ada di atas kita sekarang. Langit akan runtuh bersamaan dengan runtuhnya tanah yang kita pijak sekarang ini.
    2. menjadi tanah yang rata lagi tandus.” Maksudnya langit akan menjadi tanah yang rata lagi tandus. Tanah yang rata lagi tandus namanya adalah PADANG MAHSYAR. Di Padang Mahsyar itulah Tuhan akan mengadili kita.

Pembaca dan ummat islam tidak dianjurkan untuk menghafal ayat 1-8 atau ayat pembuka Suratulkahfi oleh karena Dajjal bersama pengikut-pengikutnya sama sekali tidak takut apalagi gentar sedikitpun terhadap ayat-ayat atau bacaan alqur’an. Satu-satunya kekuatan kita adalah kekuatan logika, akal, dan fikiran kita sendiri. Kekuatan itu bersifat aksiomatik. Kekuatan yang kebal terhadap hasutan dan fitnah Dajjal. Kekuatan itu sebagai perlindungan diri dari segala macam tipu muslihat dan kebohongan Antikristus, Mesiah palsu, Ad Dajjal Sang Pendusta.

IMAM MAHDI ADALAH ISA (YESUS KRISTUS)
Nabi Muhammad bersabda: “Tidaklah ada Mahdi kecuali Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus).” (HR. Ibnu Majah).

Ummat islam keliru jika menganggap Imam Mahdi dan Isa Ibnu Maryam dua sosok yang berbeda. Kekeliruan yang sama jika ummat islam menganggap Isa Ibnu Maryam dan Yesus Kristus dua tokoh yang berlainan. Imam Mahdi adalah Isa Ibnu Maryam (Isa Almasih). Isa Ibnu Maryam (Isa Almasih) adalah Yesus Kristus (Maseas) karena itu Imam Mahdi adalah Yesus Kristus (Maseas).

Nabi Muhammad bersabda: “Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) itulah Imam Mahdi,” (HR. Ibnu Majah)

CIRI-CIRI YESUS KRISTUS (ISA ALMASIH)
Nabi Muhammad bersabda: “Tidak ada seorang nabi antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air walaupun ia tidak basah.” (HR. Abu Dawud).

Bandingkan hadits di atas dengan hadits yang menggambarkan ciri-ciri Imam Mahdi berikut ini:
Nabi Muhammad bersabda: “Al-Mahdi berasal dari ummatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kehalifaan) berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud dan Al Hakim).

Dari kedua hadits di atas, kita tidak menemukan perbedaan, apalagi pertentangan terhadap ciri-ciri Imam Mahdi dan ciri-ciri Yesus Kristus (Isa). Kita mendapatkan kedua hadits di atas saling melengkapi dan menggenapkan. Berdasarkan kedua hadits di atas maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri Imam Mahdi / Yesus Kristus (Isa) adalah:

“Seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung.”

Hadits menyebutkan: “Ia akan turun dengan dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air walaupun ia tidak basah.” Tidak bisa ditafsirkan secara harfiah. Hadits tersebut seharusnya ditafsirkan seperti berikut ini:

“dua lapis pakaian” maksudnya pakaian pada lapis pertama adalah GAIB yang disebut Imam Mahdi dan pakaian pada lapis kedua adalah NYATA yang disebut Yesus Kristus (Isa Al Masih).

“yang dicelup dengan warna merah” warna merah diartikan sebagai “darah.” Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pakaian pada lapis pertama (Imam Mahdi) dan pakaian pada lapis kedua (Yesus Kristus / Isa Almasih) adalah satu sosok manusia yang hidup, memiliki darah dan darahnya berwarna “merah” sama seperti manusia lainnya.

Hadits menyebutkan “kepalanya seakan-akan meneteskan air walaupun ia tidak basah.” Tidak bisa ditafsirkan secara harfiah. Penafsirannya harus tetap mengacu pada arti Mahdi dan hakikat kejadian Isa Almasih / Yesus Kristus.

Mahdi artinya: Orang yang mendapat petunjuk Allah. Hakikat kejadian Isa Almasih / Yesus Kristus adalah Ruhullah (Roh Allah) Kalimatullah (Kalimat Allah). “ kepalanya seakan-akan meneteskan air walaupun ia tidak basah” makananya “Roh Allah (Ruhullah) berada di dalam kepalanya.”

Anak manusia itu sama dengan manusia lainnya. Di dalam kepala anak manusia itu ada Roh Allah (Ruhullah). Tuhan Semesta Alam memberi petunjuk, memberi perintah dan mengendalikan langsung anak manusia itu dengan perantaraan Roh Allah (Ruhullah) yang berada di dalam kepalanya sehingga segala perkataan-perkataan yang diucapkan anak manusia itu adalah firman Allah (kalimatullah) yaitu perkataan yang benar yang akan dibuktikan kebenarannya.

Berdasarkan ciri-ciri Imam Mahdi / Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) sebagaimana yang disampaikan oleh nabi Muhammad dalam dua haditsnya yaitu “Seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung”akan semakin memperkuat dugaan kita bahwa Imam Mahdi / Isa Ibnu Maryam / (Yesus Kristus) berada di sebelah Timur tepatnya di Indonesia. Setinggi-tinggi dan sebesar-besarnya laki-laki Indonesia bila dibandingkan dengan laki-laki Arab, Israil, Eropa, dan Afrika maka tetap saja laki-laki Indonesia berada dalam postur “berperawakan tubuh sedang.”

TANDA-TANDA KEMUNCULANNYA

a. Imam Mahdi
Nabi Muhammad bersabda: “Aku kabarkan berita gembira mengenai Al Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenangan-wenangan dan kezaliman (HR. Ahmad).

b. Yesus Kristus / Isa Almasih
Dalam injil Markus 13:8
Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

Tanda kemunculan Imam Mahdi menurut hadits nabi Muhammad “ketika banyak terjadi perselisihan antar manusia dan gempa-gempa” memiliki kesamaan dengan tanda kedatangan (kemunculan) Yesus Kristus / Isa Almasih yaitu “bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan akan melawan kerajaan (banyak terjadi perselisihan antar manusia). Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat (gempa-gempa) dan akan ada kelaparan.”

Nabi Muhammad bersabda: Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa bin Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al Mahdi): “kemarilah dan imamilah shalat kami.” Ia menjawab; “Tidak, sesungguhnya kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai satu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat islam).” (HR. Muslim dan Ahmad).

Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan dikumandangkanlah shalat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam shalat) wahai Ruh Allah.” Ia menjawab: “Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami shalat kamu.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Menurut pandangan islam, hal pertama yang dilakukan Isa (Yesus Kristus) setelah turun dari langit adalah menunaikan shalat sebagaimana yang dijelaskan oleh kedua hadits di atas. Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang diimami oleh Imam Mahdi.

Pandangan ummat islam keliru bila beranggapan nabi Isa (Yesus Kristus) menjadi makmum dalam shalat yang diimami oleh Imam Mahdi. Imam dan makmum adalah dua orang sosok yang berbeda. Pandangan ini jelas bertentangan dengan hadits nabi yang mengatakan: “Tidaklah ada Mahdi kecuali Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus).” Nabi Muhammad menegaskan “Imam Mahdi dan Isa (Yesus Kristus) hanya satu sosok.”

Nabi Muhammad bersabda: “Almasih bin Maryam (Yesus Kristus) dari antara kamu yang akan menjadi imam (pemimpin) kamu.” (HR. Bukhari, Muslim).

Hadits-hadits di atas tidak bisa ditafsirkan secara harfiah. “Berperang dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat” bukan berarti berperang dengan memanggul senjata dan berdakwah. Yang dimaksud sekelompok dari ummatku” adalah Imam Mahdi bersama pengikutnya yang sudah secara terang-terangan menunjukkan jati diri dan kebenarannya. Mereka sudah mendapat kemudahan-kemudahan di berbagai tempat. Panji-panji atau lambang-lambang kelompok / komunitas “kemahdian” yang selama ini tersembunyikan sudah dikenakan secara terang-terangan yang merupakan lambang persatuan, persaudaraan, dan persahabatan mereka. Meskipun lambang-lambang atau panji-panji mereka seragam, akan tetapi ada satu di antara mereka yang merupakan pemimpin (Imam). Kebersamaan Imam Mahdi dengan pengikutnya inilah yang dikemas dalam kata “shalat.”

Nabi Muhammad bersabda: “Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) akan turun di “menara putih” (Al Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik.”

Kita tidak bisa menafsirkan hadits di atas bahwa Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam) akan turun di menara putih di Timur Damsyik (Damaskus), Suriah. Kemungkinan yang dimaksud dengan “menara putih” adalah simbol “terang” atau “menerangi.” Beberapa orang berpendapat “Menara Putih di Timur Damsyik” adalah mesjid Al Jami’. Pendapat ini jelas keliru oleh karena Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) dalam kemunculannya tidak akan berpihak atau membawa salah satu agama entah agama islam, agama kristen, atau agama lainnya.

Damsyik (Damaskus) adalah ibu kota negara Suriah yang saat ini tengah dilanda perang saudara. Ratusan ribu ummat islam dan kristen telah dibantai di negara yang dipimpin oleh presiden Bashar Al Assad. Keluarga Assad yang mendominasi pemerintahan adalah penganut faham Alawi. Agama Alawi merupakan salah satu sekte syiah yang cukup sinkretis karena juga menyerap beberapa unsur keagamaan lain di sekitarnya mulai kekristenan, zoroastrianimisme hingga paganisme (penyembah berhala). Alawi memiliki keyakian “reinkarnasi” yaitu pada saat seseorang wafat, ia dapat berubah wujud menjadi makhluk lain. Keyakinan terhadap reinkarnasi kemungkinan diadiopsi faham-faham yang berkembang di sekitar Suriah. Alawi secara harfiah berarti “mereka yang menganut ajaran Ali.”

Mengacu pada hadits nabi Muhammad yang menyebut “banyak terjadi perselisihan antara manusia” telah memenuhi syarat dengan keadaan di Damaskus (Damsyik) saat ini, akan tetapi “gempa-gempa” tidak terjadi di negara itu. “Gempa-gempa” (versi hadits) “dan terjadi gempa bumi di berbagai tempat” (versi Injil Markus) hanya terjadi di Indonesia dan memungkinkan untuk terus terjadi di negara ini mengingat Indonesia berada dalam wilayah cincin api (ring of fire), selain gempa-gempa, fenomena lain yang menarik dicermati yaitu banyaknya perselisihan antara manusia yang saban hari bisa kita saksikan di layar kaca (televisi) dan baca pemberitaannya di masmedia, akun twiter, dan jejaring sosial lainnya. Jika ad Dajjal berada di Indonesia, maka dipastikan Imam Mahdi / Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam) juga berada di Indonesia. Timur Damsyik adalah Timur Indonesia tempat dimana Sang Surya (matahari) terbit menerangi dunia yang disimbolkan sebagai “menara putih.”

Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya Isa Bin Maryam (Yesus Kristus) akan membunuh Dajjal di Bab Lud.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Mu’ain bin Hamad).

Bab Lud (Gerbang Lud) atau Lod, sebuah kota di Distrik Tengah Israil, sekitar 22 kilometer di tenggara Tel Aviv atau 3 km utara Ramallah. Kota ini menjadi tempat tinggal suku Benyamin yaitu salah satu suku dari 12 suku keturunan Israil. Di kota Lod terdapat 1 gereja yaitu Gereja Santo Georgius dan 1 mesjid, yakni Mesjid El-Chodr. Bagian tempat peribadatan membentuk kompleks bangunan, gereja dan mesjid itu masing-masing memiliki pintu masuk yang unik.

Hadits di atas tidak bisa diartikan secara harfiah. Sebutan Bab Lud (Gerbang Lud) dapat saja dimaksudkan dengan menyatunya Gereja Santo Georgius sebagai tempat peribadatan ummat kristen dengan Mesjid El-Chodr yang merupakan tempat peribadatan ummat islam yang masing-masing memiliki pintu masuk (gerbang) yang unik. Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam diimani dan sangat dimuliakan oleh ummat kristen dan islam.

Demi hukum dan keadilan; Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam dapat membunuh ad Dajjal oleh karena:

  1. Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam yang pernah secara langsung merasakan betapa kejinya fitnah Ad Dajjal. Dajjal menghasut, memprovokasi dan menebar fitnah kepada imam-imam Yahudi sehingga Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam harus disalib. (Pandangan Cakra Ningrat tentang “penyaliban” Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam, dapat dibaca pada artikel lain yang khusus membahas tantang penyaliban).
  2. Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam satu-satunya utusan Allah yang bergelar Maseas / Al Masih. Dengan gelar itu dia dapat membuktikan jati dirinya dan kebenaran sejak kelahirannya hingga wafatnya serta kebangkitannya dan saat dia diangkat naik ke langit. Sampai saat ini fitnah Ad Dajjal tidak pernah sepi dibisikkan ke dalam dada manusia untuk mendiskreditkan Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam agar ummat islam dan ummat kristen terus menerus berada dalam dua koloni yang berjauhan.

Dibunuhnya Ad Dajjal di Gerbang Lud dapat dianggap sebagai sebuah upaya kongkrit perencanaan Tuhan untuk mempersatukan dua kutub yang selama ini berjauhan. Tentu saja untuk mempersatukannya maka Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam harus lebih dulu membunuh Ad Dajjal di Gerbang Lud. Gerbang Lud adalah pintu masuk bagi Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam mempersatukan kita. Persatuan ini sangat mungkin dapat terwujud oleh karena Allah telah lebih dahulu mengislahkan Imam Mahdi di suatu malam.

Nabi Muhammad bersabda: “Demi diriku yang berada tangan-Nya, sesungguhnya Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorang pun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah dan Abu Hurairah).

Nabi Muhammad bersabda: “Sudah dekat orang yang hidup di antara kamu akan bertemu dengan Isa Ibnu Maryam (Yesus Kristus) sebagai Imam Mahdi dan hakim yang adil. Ia akan memecahkan salib dan membunuh babi.” (HR. Ahmad bin Hambal).

Penafsiran hadits di atas dapat diuraikan sbb:
a. Hakim yang adil dan pemimpin yang adil.
Sebagai hakim yang adil, Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam harus lebih dahulu adil terhadap dirinya sendiri sebelum dia menegakkan hukum dan keadilan Tuhan. Membunuh Ad Dajjal di gerbang Lud adalah sebuah bentuk keadilan bagi dirinya oleh karena fitnah Ad Dajjallah di masa lalu yang menyebabkan Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam harus mati di tiang salib. Ad Dajjal harus mati dengan lemparan tombak Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam oleh karena di masa lalu Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam pernah dilempar tombak oleh salah seorang prajurit Roma dan tepat mengenai lambungnya. Keadilan yang akan diterapkan oleh Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam adalah manifestasi diterapkannya “hukum karma” sebagai satu bentuk dari “hukum Tuhan.” Yang jahat akan dibalas kejahatannya dan yang baik akan dibalas kebaikannya. Sebagai pemimpin yang adil, dia mawujud sebagai seorang Raja: leluhur kita memberinya gelar sebagai Ratu Adil oleh karena dia hanya “menggenapi” Daud.

b. Menghancurkan salib
Salib adalah simbol “kematian” bagi Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam. Salib akan hancur dengan sendirinya oleh karena “dia yang pergi kini telah datang kembali. Dia yang naik ke langit kini telah turun kembali. Tidak perlu lagi ada “salib.” Segala ratapan kesedihan harus berganti dengan nyanyian pujian penuh kebahagiaan. Buat ummat nasrani, inilah: Nyanyian syukur karena kemenangan raja (Mazmur 21:2-8)

(21-2) TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita;
betapa besar kegirangannya karena
kemenangan yang dari pada-Mu!
(21-3) Apa yang menjadi keinginan hatinya
telah Kau karuniakan kepadanya,
dan permintaan bibirnya tidak Kau tolak. Sela
(21-4) Sebab Engkau menyambut dia dengan
berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari
emas tua di atas kepalanya.
(21-5) Hidup dimintanya dari pada-Mu;
Engkau memberikannya kepadanya,
dan umur panjang untuk seterusnya
dan selama-lamanya.
(21-6) Besar kemuliaannya karena kemenangan
yang dari pada-Mu; keagungan dan
semarak telah Kau karuniakan kepadanya.
(21-7) Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk
seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan
suka cita di hadapan-Mu.
(21-8) Sebab raja percaya kepada TUHAN,
dan karena kasih setia Yang Maha Tinggi
ia tidak goyang.

Ummat islam perlu mengetahui bahwa Zabur (bahasa Arab) adalah persamaan dengan istilah Ibrani “Zimra” bermaksud “lagu, musik.” Ia, bersama dengan zamir (lagu) dan mizmar atau mazmur merupakan derivasi zamar yang artinya “nyanyi, menyanyikan pujian.”

Dalam islam zabur (mazmur) adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada kaum Bani Israil melalui utusan yang bernama Nabi Daud (Raja Daud).

Dalam alqur’an Tuhan berfirman:

  • Dan sungguh telah Kami tulis di dalam zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang saleh (QS. 21:105)
  • Dan Kami berikan zabur kepada Daud (QS. 17:55)

c. Membunuh babi
Babi dikenal sebagai binatang yang paling serakah. Membunuh babi tidak bisa diartikan dengan membunuh binatang itu. Membunuh babi bermakna “membunuh sifat “aku,” sifat-sifat ego, nafsu duniawi dan sifat keserakahan manusia.”

d. Menolak upeti
Upeti adalah harta yang diberikan satu pihak ke pihak lainnya, sebagai tanda ketundukan dan kesetaiaan, atau kadang-kadang sebagai tanda hormat. Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam akan menolak semua pemberian (upeti) dari pihak mana pun dan oleh siapa pun, oleh karena dialah pemilik segalanya.

e. Melimpahkan harta sehingga tidak seorang pun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya.

Kalimat di atas hanya sebuah “analogi” untuk menggambarkan SIFAT KASIH TUHAN yang dibawa oleh Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam.

Nabi Muhammad bersabda: “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Isa Ibnu Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Harairah).

Tahlil adalah bacaan kalimat tauhid: Laa Ilaha Illallah yang artinya Tiada Tuhan selain Allah. Hadits di atas secara jelas dan terang-terangan menyebut Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam melaksanakan haji, sementara pada hadits-hadits menyangkut Imam Mahdi saat melaksanakan ibadah haji hanya disampaikan secara tersirat (implisit).

Oleh karena Imam Mahdi dan Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam) hanya satu sosok maka hadits di atas disatukan dengan hadits-hadits yang mengisahkan tentang Imam Mahdi yang pergi ke Mekkah melaksanakan ibadah haji.

YA’JUJ DAN MA’JUJ
Dalam alqur’an Tuhan berfirman “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS. 21:96).

Setelah Yesus Kristus / Isa Almasih membunuh Dajjal maka tugas beliau selanjutnya adalah menyelamatkan ummat manusia dari fitnah dan serangan Ya’juj dan Ma’juj. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Ya’juj dan Ma’juj sangat besar dan mengerikan. Tidak ada seorang pun manusia yang mampu melindungi dirinya dari serangan Ya’juj dan Ma’juj.

Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Magog) adalah sebutan kepada suatu kaum yang muncul di akhir zaman. Kisah tentang kaum yang muncul di akhir zaman ini terdapat dalam ajaran agama Yahudi, kristen, dan islam. Ya’juj dan Ma’juj juga muncul dalam banyak mitos dan cerita rakyat di banyak negara. Ya’juj dan Ma’juj berkaitan dengan kisah nabi Dzulkarnain sebagaimana yang diceritakan dalam surah al-Kahfi ayat 83-101.

Dzul Qarnain secara harfiah memiliki arti “pemilik Dua Tanduk” atau “Ia Yang Memiliki Dua Tanduk.” Dzul Qarnain adalah julukan seorang raja disebutkan di dalam alqur’an sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana yang membangun tembok besi yang tinggi untuk melindungi kaum lemah dari serangan Ya’juj dan Ma’juj dalam perjalanannya menuju Timur.

Sampai saat ini belum ada pendapat yang benar yang dapat mengungkap siapa sesungguhnya Dzul Qarnain. Ada yang mengatakan Dzul Qarnain adalah Raja Iskandar Yang Agung, akan tetapi tidak ada bukti otentik yang dapat mendukung pendapat tersebut. Ada juga yang berpendapat Dzul Qarnain adalah sepupu nabi Khidr dari pihak ibu yang hidup di masa nabi Ibrahim dan nabi Luth, akan tetapi pendapat ini juga terbantahkan oleh karena tidak adanya bukti-bukti yang jelas yang dapat mengungkap kebenaran pendapat itu.

Cakra Ningrat berpendapat; Dzul Qarnain dan Khidr dua sosok yang misterius yang tidak pernah ada dalam sejarah peradaban kehidupan ummat manusia. Cakra Ningrat akan menulis artikel khusus membahas tentang kedua sosok misterius itu dalam artikel yang berjudul Ya’juj wa Ma’juj / Gog Dan Ma’gog.

TANGGAPAN KRITIS TERHADAP DJABER BOLUSHI
Djaber Bolushi adalah seorang muslim syi’ah yang telah menulis sebuah buku yang berjudul “Ramalan Paling Mengguncang Abad Ini, Oktober 2015 Imam Mahdi Akan Datang,” diterbitkan oleh penerbit Papyrus Publishing, September 2007.

Semua ramalan Djaber Bolushi merujuk pada rahasia bilangan angka 19, seperti yang ditemukan oleh Syayyid Bassa Jarrar dan menggunakan perhitungan angka dengan metode al Jumal al Taqlidi dan al Jumal al Shagir. Bilangan 19 adalah jumlah huruf yang terdapat dalam kata “Basmalah.” Bilangan 19 merupakan bilangan primer dalam sistem matematika, karena terdiri dari angka terkecil 1 dan angka terbesar 9.

Menurut Bolushi, Imam Mahdi muncul pada tahun 2015 berdasar rujukan surah al isra ayat 1 sampai 7 dan ayat 104 yang berceritakan tentang Isra’ Mi’raj dan Bani Israil maka jumlahnya 1.383 kata. Jika ditambah tahun wafatnya nabi Muhammad yaitu 632 M, hasilnya 2015. Dari berbagai hadits dan riwayat yang bersumber dari keluarga nabi Muhammad, menurut Djaber Bolushi, Imam Mahdi akan datang pada hari Jum’at atau Sabtu tanggal 10 Muharram. Jika dihitung penanggalan tahun 2015, maka bertepatan tanggal 23 Oktober 2015.

Djaber Bolushi, sebagaimana keyakinan muslim syiah menganggap Imam Mahdi sudah dilahirkan. Namanya adalah Muhammad bin Hasan Al Askari, lahir pada hari Jum’at 15 Sya’ban 255 H atau 869 M. Pada masa hidupnya Imam Mahdi telah mengalami dua kali gaib. Gaib yang pertama terjadi pada tahun 265 H atau 879 M, biasa disebut gaib as sughra (gaib singkat), sedangkan gaib kedua, biasa disebut gaib al Kubra (gaib panjang) dimulai pada tahun 329 H atau 941 M. Jika dihitung dari masa gaib panjang, Imam Mahdi sudah menginjak usia 72 tahun.

Cakra Ningrat berpendapat:

  1. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat mengetahui siapa sesungguhnya Imam Mahdi kecuali Imam Mahdi sendiri bersama pengikut-pengikutnya. Urusan Imam Mahdi adalah urusan Tuhan yang merupakan Rahasia Tuhan. Manusia hanya diberi pengetahuan sebatas memahaminya dengan akal dan fikirannya dan memahami tanda-tanda kemunculannya berdasarkan hadist nabi Muhammad.
  2. Hadits-hadits nabi Muhammad tentang Imam Mahdi tidak bisa diartikan secara harfiah dan tidak bisa dipilah-pilah, akan tetapi penafsirannya harus secara utuh dan keseluruhan dengan mengenyampingkan seluruh pendapat-pendapat ulama yang pernah ada guna mencapai penafsiran yang rasional dan obyektif.
  3. Imam Mahdi harus dapat diterima secara universal tetapi tidak terbatas hanya pada ummat islam (syiah dan sunni) dan ummat nasrani oleh karena Imam Mahdi dan Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam) hanya satu sosok.    Ummat islam (syiah dan sunni) tidak bisa menerima Imam Mahdi kemudian menolak Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam demikian pula dengan ummat nasrani (kristen dan katolik) mereka tidak bisa menerima Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam / Maseas / Al Masih lantas menolak Imam Mahdi.
  4.  Gaib as sughra (gaib singkat) yang pernah terjadi atas diri Muhammad bin Hasan Al Askari hanyalah sebuah proses kematian yang disebut mati suri. Mati suri adalah saat usaha-usaha untuk menghidupkan kembali dilakukan sebelum seseorang menjadi hidup kembali. Keadaan tubuh seseorang yang mengalami mati suri secara klinis sama seperti orang meninggal. Mungkin di masa lalu orang yang mengalami mati suri sangat jarang terjadi, sehingga kematian itu dianggap sebagai suatu keajaiban, akan tetapi di masa sekarang ketika ummat manusia bertambah banyak, kejadian “mati suri” dianggap hal yang biasa dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Gaib panjang (gaib al kubra) adalah kematian yang sesungguhnya. Muhammad bin Hasan Al Askari meninggal dunia tahun 941 M atau saat ini sudah 1.073 tahun. Dipastikan beliau tidak akan bisa hidup kembali. Dipastikan Muhammad bin Hasan Al Askari TIDAK AKAN MUNCUL pada tanggal 23 Oktober 2015.
  5. Bahwa rahasia angka bilangan 19, bukanlah ditemukan oleh Sayyid Bassa Jarrar (Direktur Moon Centre for Qur’anic Studies and Research). Bassa Jarrar hanya mengadopsi dari hasil penemuan Rashad Kalifah, yang pernah menyatakan dirinya sebagai Rasul Tuhan di awal tahun 1980-an di Tucson Amerika.                 Fenomena keajaiban angka-angka 19 di dalam alqur’an sudah banyak dibahas oleh para sejarawan muslim dunia. Beberapa di antaranya berasal dari Indonesia seperti; Arifin Muttie, Salma Alif Sampayya dan KH. Fahmi Basya. Langkah-langkah kalkulasi Djaber Bolushi yang menggunakan hitung-hitungan ayat-ayat alqur’an untuk merubah masa depan dunia bahkan sampai memastikan hari, tanggal, bulan, dan tahun kedatangan Imam Mahdi, Isa Al Masih (Yesus Kristus), tabrakan asteroid, penghancuran Negara Israil dan sebagainya adalah sebuah pemikiran atau konsep berfikir yang sesat dan menyesatkan.
  6. Imam Mahdi tidak merujuk kepada seseorang yang telah meninggal dunia (mati). Imam Mahdi adalah manusia yang hidup dan menjalani kehidupannya sebagaimana manusia pada umumnya. Nama dan jati dirinya sangat rahasia demikian pula terhadadp semua sifatnya, aksi-aksinya, dan perbuatan-perbuatannya senantiasa dikemas dalam satu kesatuan yang disebut sebagai Rahasia Tuhan.

Leluhur kita menyebut anak manusia itu sebagai SATRIO, dan segala misteri atau Rahasia Tuhan yang ada dalam diri anak manusia itu disebut PININGIT (Bersembunyi) atau Yang disembunyikan oleh anak manusia itu di dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui anak manusia itu kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.

Satrio memiliki persamaan sekaligus perbedaan dengan Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam. Persamaan dan perbedaannya adalah sebagai berikut:

a. Sama-sama dilahirkan oleh wanita. Bedanya; Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam dilahirkan oleh perawan suci Maria (Maryam) sedangkan Satrio dari rahim wanita Jawa yang sudah berkeluarga atau memiliki suami. Tidak dapat kita ketahui Satrio anak ke berapa yang dilahirkan oleh wanita itu. Suami wanita itu hanya sebagai pelindung dari gangguan manusia, sama dengan fungsi Yusuf yang ada di samping Maria (Maryam).
b. Sama-sama tidak memiliki ayah. Bedanya; Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam mengetahui sejak saat kelahirannya, sementara Satrio saat berusia 33-34 tahun, Tuhan mewahyukan kepadanya.
c. Sama-sama memanggul salibnya sendiri. Bedanya; Yesus Kristus memanggul salibnya menuju kematiannya saat dia berusia 33-34 tahun, sedangkan Satrio sudah memanggul salibnya sejak saat kelahirannya. Memanggul salib bagi Satrio diartikan sebagai “terpaku” pada rencana dan kehendak Tuhan. Jalan hidup Satrio adalah jalan Tuhan yang mesti dia lalui betapapun beratnya.
d. Sama-sama menguasai dan membenarkan kitab Tuhan. Bedanya; Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam menguasai dan membenarkan Taurat (perjanjian lama), sementara Satrio menguasai dan membenarkan Al qur’an.
e. Sama-sama memiliki nama, akan tetapi namanya itu mengandung misi Tuhan yang diembankan kepada dirinya. Bedanya Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam memiliki nama “Imanuel” yang artinya Allah Beserta Kita, sementara Satrio memiliki nama “Imam Mahdi” yang artinya pemimpin yang mendapat petunjuk Allah.
f. Sama-sama dinantikan namun ternyata dia dihinakan, dianiaya, dan disakiti. Bedanya; Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam dinantikan namun dimusuhi oleh orang Yahudi, sedangkan Satrio dinantikan namun dimusuhi oleh ummat islam bahkan oleh ummat nasrani sendiri.

Bahwa orang Yahudi tidak dapat menerima Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam sebab harapan mereka berbeda dengan apa yang diinginkan Tuhan. Yahudi berpandangan Mesiah / Al Masih harus bisa mengusir kerajaan Romawi yang menguasai Israil kemudian Mesiah membangun kembali Kerajaan buat mereka sebagaimana yang pernah dilakukan Daud ketika memerangi bangsa Filistin. Kenyataannya, Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam datang bukan untuk membangun Kerajaan Israil, akan tetapi kedatangannya menjanjikan “kerajaan Tuhan” di syurga.

Sejarah akan terulang kembali untuk “menggenapkan” dimana ummat islam dan ummat nasrani tidak akan menyambut kedatangan Yesus Kristus / Isa Almasih yang kedua.

Bahwa ummat islam akan menolak Satrio (Imam Mahdi) oleh karena ummat islam berpandangan Imam Mahdi akan memimpin ummat islam melawan kaum kafir, musyrik dan Ad Dajjal sambil menunggu turunnya nabi Isa Al Masih. Kenyataannya justru Imam Mahdi akan memerangi segala bentuk-bentuk kesombongan dan keangkuhan yang ada di dalam diri ummat islam karena mereka menganggap dirinya saja yang benar atau islam saja yang benar. Perang yang akan dilakoni Imam Mahdi dalam menegakkan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” (Tidak Ada Tuhan selain Allah) dinamakan “perang semesta” mengingat Allah adalah Tuhan Semesta Alam. Perang semesta adalah perang di “dunia gaib” mengingat Allah adalah Maha Gaib. Peran ini dilakoni oleh Imam Mahdi seorang diri tanpa diketahui ummat islam. Oleh karena itu leluhur kita menyebut dia sebagai “Satrio” yang dapat diartikan sebagai “Yang tak terkalahkan.”

Bahwa ummat nasrani (kristen dan katolik) akan menolak Satrio (Yesus Kristus / Maseas / Isa Al Masih) oleh karena ummat nasrani berpandangan bahwa Kedatangan Yesus Kristus Yang Kedua (epifani atau Parousia) hanya untuk ummat yang percaya pada Kristus saja yaitu golongan mereka (nasrani). Kenyataannya, Kedatangan Yesus Kristus / Mesias atau turunnya Isa Almasih yang kedua adalah untuk menyelamatkan manusia yang dikehendaki Tuhan tanpa memandang seseorang berdasarkan latar belakang agama dan kepercayaannya.

Bahwa orang-orang Yahudi dikenal sebagai orang-orang yang bangga terhadap diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang dimuliakan Tuhan, sebagai orang-orang yang berasal dari keturunan nabi Yakub bin Ishak bin Abraham (Ibrahim). Apa bedanya mereka (Yahudi) dengan ummat islam dan ummat nasrani saat ini yang menganggap diri mereka sebagai ummat yang paling benar dan paling dimuliakan Tuhan?

Sejarah akan terulang kembali untuk mencari “penggenapannya” bahwa di masa lalu orang pertama yang mengetahui kelahiran Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam adalah beberapa orang bijak dan cerdas-cerdas. Mereka adalah orang-orang Majusi (magus) dari Timur.

Dalam Injil Matius 2:1-12 sbb:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

ORANG MAJUS DARI TIMUR
Kata “Majusi” (Arab) diadopsi dari kata “ma-gu-sy” atau “magu” kemudian menjadi “magus” setelah diserap ke dalam bahasa Yunani. Orang Majusi adalah orang-orang yang beragama zoroaster sejak zaman Persia kuno. Dalam bahasa kuno Iran Frase Magh (Magusi / majusi) bermakna “pelayan.”

Zoroasterianisme adalah sebuah agama dan ajaran filosofis yang dipelopori oleh Zarathustra yang dalam bahasa Yunani disebut zoroaster. Zarathustra berasal dari suku Media yang hidup sekitar abad 6 SM di Persia (Iran). Zarathustra dikenal sebagai seorang nabi yang mempunyai karunia untuk menyembuhkan dan sanggup melakukan berbagai mu’jizat. Di usianya yang ke tiga puluh tahun Zarathustra menerima sebuah penglihatan gaib. Ia melihat cahaya besar kemudian membawanya masuk dalam hadirat Ahura Mazda.

Dalam ajaran Zoroasterianisme, hanya ada satu Tuhan yang universal dan Maha Kuasa yaitu “Ahura Mazda.” Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala puja dan sembah ditujukan hanya kepada-Nya. Zoroasterianisme mempunyai prinsip dualisme yang mempercayai bahwa ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling beradu, yakni kekuatan “kebaikan” dan kekuatan “kejahatan.” Yang jahat diwakili Angra Mainyu atau Ahriman dan yang baik diwakili oleh Spenta Mainyu. Manusia harus selalu memilih akan berpihak pada kebaikan atau kejahatan selama hidupnya. Pada saatnya Ahura Mazda akan mengalahkan kekuatan jahat. Ahriman dan para pengikutnya akan dimusnahkan untuk selamanya. Setelah itu Ahura Mazda akan berkuasa penuh.

Zarathustra menyebut alam semesta berusia 12.000 tahun, setelah masa 12.000 tahun berakhir, akan terjadi kiamat. Masa 12.000 tahun dibagi dalam beberapa periode.

1. Periode 3.000 tahun pertama yaitu masa ketika Ahura Mazda menciptakan alam semesta. Ahriman kemudian berusaha menyerang dan menghancurkan alam yang diciptakan Ahura Mazda. Hal ini disebabkan karena kehendak Ahriman adalah menyakiti dan merusak alam ciptaan Ahura Mazda.

Kemungkinan periode pertama yang dimaksud oleh Zarathustra adalah masa antara Adam hingga Nuh. Adapun Ahriman yang dimaksud oleh Zarathustra adalah anak-cucu Adam dari garis keturunan Qabil (Kain) yaitu Lamekh.

Lamekh dan keluarganya, serta orang-orang yang mengikutinya dibinasakan oleh Ahura Mazda (Tuhan) saat terjadinya Banjir Semesta di masa nabi Nuh. Nuh adalah anak cucu Adam dari garis keturunan Set (anak ke tiga Adam). Nuh diselamatkan dalam banjir semesta dan dibiarkan melanjutkan keturunan Adam di dunia yang terang ini, sementara Lamekh dibinasakan (mati tenggelam) kemudian rohnya dibiarkan hidup dalam kegelapan. Lamekh tidak dapat melanjutkan keturunan, akan tetapi dapat menggoda manusia untuk mencari pengikut. Cakra Ningrat menyebut Lamekh inilah yang dimaksud Ad Dajjal atau Antikristus.

Filosofi Zarathustra tentang prinsip dualisme yang mempercayai dua kekuatan yang saling bertentangan dan saling beradu yakni kekuatan “baik” dan “jahat” kemungkinan berawal dari peristiwa penyebab terjadinya banjir semesta. Nuh adalah kekuatan baik yang disebut Spenta Mainyu dan Lamekh adalah kekuatan jahat yang disebut sebagai Angra Mainyu atau Ahriman.

Filosofi ini terus bertahan hingga saat ini bahkan menjadi inti ajaran semua agama. Artikel SPTM menyebut pengelompokan manusia hanya dua, yaitu golongan baik dan golongan jahat. Golongan baik akan diurapi sedangkan golongan jahat akan dikasi makan jin dan syetan. Mungkin maksud penulis artikel SPTM, golongan jahat akan dibiarkan menjadi pengikut Ad Dajjal untuk suatu ketika dibinasakan oleh Ahura Mazda.

2. Periode 3.000 tahun kedua, yaitu periode Ahura Mazda dan Angra Mainyu (Ahriman) beradu kekuatan, keduanya berusaha saling kalah mengalahkan. Dalam peristiwa inilah terjadi terang dan gelap serta siang dan malam.

Kemungkinan yang dimaksud 3.000 tahun periode kedua ini adalah saat dimana Tuhan (Ahura Mazda) mengutus nabi-nabi-Nya atau manusia-manusia utama pilihan-Nya untuk membawa dan memberikan ajaran-ajaran-Nya. Semua nabi-nabi yang diutus Tuhan memiliki misi yang sama, yaitu:

  • Memperkenalkan adanya Tuhan, Yang Menciptakan, Yang Berkuasa, Yang Mengatur, Yang Mengendalikan, Yang Memiliki, Yang Berkehendak, dst
  • Mengajarkan tata cara penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan
  • Mengajarkan tata cara yang benar dalam interaksi antara sesama manusia dan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Himpunan dari berbagai macam ajaran-ajaran para nabi di belakang hari disimpulkan dalam satu kata yang disebut “agama” dimana keyakinan dan kepercayaan akan adanya Tuhan sudah termasuk di dalamnya. Berita-berita, atau pesan-pesan atau ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan oleh para nabi dan rasul memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini sangat bergantung soal “waktu” saat mereka diutus dan “tempat atau lokasi” dimana mereka ditempatkan. Berkaitan dengan tempat atau lokasi (negara) dimana mereka diutus berhubungan erat dengan bahasa setempat yang digunakan dan penyesuaiannya dengan budaya dan norma-norma yang berlaku di wilayah itu. Tentang “waktu” diutusnya sangat bergantung dan berhubungan erat dengan tingkat kecerdasan, wawasan berfikir, dan tingkat penerimaan ummat di masa itu. Umumnya para nabi membimbing ummat dengan menggunakan alat bantu visual berupa gambar, lukisan, patung, dan bentuk-bentuk lainnya.

Dalam alqur’an Tuhan berfirman:
“Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. 6:67).

Adalah sebuah ketololan dan kemiskinan budi pekerti jika ummat islam atau ummat nasrani selalu ingin membanding-bandingkan agama yang dianutnya dengan agama orang lain. Seseorang dapat saja dikatakan sebagai orang Yahudi manakala orang itu merasa diri lebih benar dan lebih mulia atau lebih utama dibanding dengan orang lain dalam konteks “di hadapan ilahi.”

Tidak ada nabi (rasul) yang membawa ajaran-ajaran atau pesan-pesan Tuhan yang tidak merasakan penderitaan berat dan menghadapi berbagai rintangan, halangan dan tantangan. Zarathustra menyebutnya sebagai periode dimana Ahura Mazda (Tuhan) dan Angra Mainyu / Ahriman beradu kekuatan dan berusaha untuk saling kalah-mengalahkan.

Dalam alqur’an Tuhan berfirman:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagaian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS . 6:112).

Dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, Tuhan selalu ingin menunjukkan atau mengajarkan jalan yang benar kepada manusia agar mereka menjadi orang “baik,” akan tetapi Lamekh (syaitan dan jin) berusaha sekuat-kuatnya membisikkan “kata-kata indah” yang bertentangan dengan “kata-kata yang disampaikan oleh para nabi” untuk tujuan menipu dan menyesatkan mereka agar mereka menjadi orang “jahat” sebagaimana dengan dirinya. Para nabi dan Lamekh terus beradu kekuatan. Mereka terus berusaha untuk saling mengalahkan. Zarathustra memberi analogi sebagai terjadinya terang dan gelap (siang dan malam).

Nabi dalam pemahaman Yahudi dan Kristen berbeda dengan “nabi” dalam sudut pandang agama islam, meskipun ketiganya disebut sebagai agama samawi (langit). Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, nabi adalah pemimpin ummat yang dipanggil Allah untuk memperingati manusia agar mereka tidak menyimpang dari perintah-perintah Allah. Para teolog sepakat bahwa tradisi kenabian dimulai sejak masa Yosua yang muncul dan memimpin bangsa Israil memasuki Kanaan. Kemudian Samuel, Hakim terakhir memimpin Israil sebelum munculnya sistem Monarkhi. Selain Yoshua dan Samuel, ada pula nabi Natan, Elia, dan Elisa. Mereka dikelompokkan sebagai nabi-nabi awal.

Yang termasuk kelompok nabi-nabi besar adalah Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel, sedangkan yang masuk kelompok nabi-nabi kecil adalah: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagal, Zakarhia, dan Maleakhi.

Kristen umumnya mengikuti pemahaman Yahudi mengenai nabi-nabi. Sebagian aliran kristen memahami “nabi” sebagai orang yang meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang jauh ke depan.

Rasul adalah laki-laki yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada kaumnya pada zamannya. Rasul berasal dari kata “risala” yang artinya “penyampaian.” Sebelum seorang rasul menyampaikan pesan Tuhan, ia lebih dulu diangkat sebagai nabi.
Dalam alqur’an Tuhan berfirman:

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. 21:7).

Islam mengenal 25 nabi dan rasul, yaitu: Nabi Adam, Nabi Idris (Henokh) di wilayah Babil Irak, Nabi Nuh di wilayah Selatan Irak modern, Nabi Hud, di Timur Hadramaut Yaman, Nabi Saleh di wilayah Hijaz dan Syam, Nabi Ibrahim di Irak, Nabi Ismail di Qabilah Yaman, Mekkah, Nabi Luth di Sadum, Syam dan Palestina, Nabi Ishak di Al Khalib Palestina, Nabi Yakub, Bani Israil di Syam, Nabi Yusuf di Mesir, Nabi Syu’aib di Madyan, Nabi Ayyub di Haran-Syam, Nabi Zulkifli di Damaskus, Nabi Musa di Yordania Modern, Nabi Harun di Mesir, Nabi Daud di Israil, Nabi Sulaiman di Baitul Maqdis-Palestina, Nabi Ilyas (Elia) di Israil-Syam, Nabi Ilyasa’ (Elisa) di Israil-Syam, Nabi Yunus, Nabi Zakariyah, Nabi Yahya (Yohannes), dan Nabi Isa (Yesus Kristus) di Israil-Palestina, Nabi Muhammad di wilayah Arab.

Dari Abi zar Radiallahu Anhu bahwa nabi Muhammad bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu nabi,” lalu berapa jumlah rasul di antara mereka? Beliau menjawab, “tiga ratus dua belas.” (Hadits Riwayat At-Turmuzy).

Jika jumlah nabi 124.000 nabi dimana 312 di antaranya adalah rasul, apakah kita sebagai ummat islam dan ummat kristen yang hidup di akhir zaman ini akan menyombongkan diri dengan mengingkari kebenaran mereka? Tuhan berfirman:

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. 40:51).

Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam) memilih langsung 12 orang terpilih sebagai murid-murid pertama saat memulai dakwahnya atau pelayanannya. Mereka disebut rasul-rasul. Keduabelas rasul tersebut adalah; Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohannes, Filipus, Bartolomeus, Tomas, Matius, Yakobus bin Alfeus, Tadeus, Simon Orang Zelot, dan Yudas Iskariot. Oleh karena Yudas Iskariot berkhianat sebelum penyaliban dan dia menebus penyesalannya dengan kematian (bunuh diri) maka kedudukannya tergantikan oleh Matias yang terpilih berdasarkan undian.

Dua belas rasul-rasul di atas termasuk di dalam tiga ratus dua belas rasul yang disabdakan oleh nabi Muhammad. Tuhan mengakui rasul-rasul-Nya sebagaimana firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” (QS. Ghafir 40:78).

Kita; sebagai ummat islam yang masih dangkal pengetahuannya, apakah masih ingin menyombongkan diri dengan menolak mentah-mentah 124.000 nabi dan 312 rasul yang dikatakan oleh junjungan kita nabi Muhammad SAW dan dibenarkan oleh alqur’an? Fikirkan dan renungkanlah oleh karena 12 rasul yang diimani ummat nasrani dan ummat yang beragama lain sudah termasuk di antara 312 rasul yang disabdakan oleh nabi Muhammad.

Kita; sebagai ummat nasrani (katolik dan kristen) yang selalu mengklaim sepihak dirinya sebagai ummat Yang Dikasihi Tuhan, apakah masih ingin menolak kebenaran dan keagungan Muhammad? Sungguh; betapa sombong dan dangkalnya pengetahuan kita jika tidak memahami akan arti semua ini. Sungguh betapa celakanya kita, bersama istri-istri kita dan anak-anak kita jika mengatakan; alqur’an hanyalah dongengan Muhammad! Fikirkan dan renungkanlah selagi masih ada waktu….

Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Dan kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Nasrani, Yahudi, atau Majusi.” (HR. Bukhari).

Fitrah dalam hal ini berarti bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan suci, tidak memiliki dosa apapun karena bayi tidak tahu dari mana, kenapa, dan untuk apa dia lahir. Orang tuanyalah yang berperan untuk memberi pendidikan dan ajaran-ajaran moral pada tataran lebih tinggi yang berhubungan dengan ketuhanan, tata cara penyembahan, dan pemujaan sesuai dengan agama yang dianut oleh orang tuanya, apakah islam, nasrani, yahudi, atau majusi.

Cakra Ningrat berpendapat; sebutan “Majusi” pada hadits nabi Muhammad dan terdapatnya kata “Majusi” dalam alqur’an (22:17) dan dalam alkitab (Injil Matius 2:1) adalah pengakuan Tuhan terhadap eksistensi dan kebenaran agama-agama selain agama Yahudi, Nasrani, dan Islam (Samawi).

Yang termasuk dalam sebutan “Majusi” sebagaimana firman Tuhan dalam alqur’an (2:62 dan 22:17) adalah agama-agama yang muncul antara abad 6 SM (masa Zarathustra) sampai abad 6 M (masa kemunculan nabi Muhammad) meliputi agama Buddha dan Kong Hu Chu dan faham-faham religi atau aliran kepercayaan atau bisa juga disebut agama-agama tradisional.

Adapun yang termasuk dalam sebutan “Shabi’in” sebagaimana firman Tuhan dalam alqur’an (2:62 dan 22:17) adalah agama-agama yang muncul setelah “banjir semesta” (masa nabi Nuh) sampai dengan abad 6 SM (masa Zarathustra). Agama-agama ini meliputi agama Hindu, Shinto, agama Yunani, agama Tiongkok, dan agama-agama tradisional / faham-faham religi.

Dugaan ini didasari oleh pemikiran bahwa dalam haditsnya nabi Muhammad mengatakan bahwa Tuhan pernah mengutus 124.000 nabi dan 312 rasul membawa ajaran-ajaran-Nya. Setelah nabi Muhammad diutus oleh Tuhan, maka tidak ada lagi nabi dan tidak ada lagi rasul yang diutus. Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir. Oleh karena itu, siapa pun yang mengaku-ngaku nabi atau rasul setelah abad 6 M harus dianggap sebagai nabi palsu. Termasuk Mirza Ghulam Ahmad pelopor agama baru Ahmadiyah yang muncul di abad 19. Disebut agama baru oleh karena Ahmadiyah tidak mengakui Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.

Selain Ahmadiyah, agama lain yang muncul di abad 19 adalah agama Baha’i. Pada tahun 1844 Sayyid Ali Muhammad dari Shirat, Iran, yang lebih dikenal dengan gelar Sang Bab (dalam bahasa Arab “Bab” artinya “pintu”) mengumumkan bahwa dia adalah pembawa amanat baru dari Tuhan. Dia juga mengatakan bahwa dia datang untuk membuka jalan bagi wahyu yang lebih besar lagi, yang disebutnya “Dia yang akan Tuhan wujudkan.” Sang Bab memiliki pengaruh luas dan cepat berkembang di masyarakat, namun mendapat pertentangan keras dari pemerintah dan dari pemimpin-pemimpin agama. Tahun 1850, Sang Bab dihukum mati dan dieksekusi di kota Tabriz. Jenazahnya diambil oleh pengikutnya secara diam-diam dan dibawa dari Iran ke bukit Karmel (Palestina), sekarang masuk dalam wilayah Israil, atas perintah Mirza Husayn Ali, seorang bangsawan Iran pendukung fanatik Sang Bab.

Pada tahun 1852, Mirza Husayn Ali ditahan di penjara bawah tanah Siyah Cal (lubang hitam) di kota Teheran. Di dalam penjara itu dia mengaku mendapat wahyu lewat mimpi. Mirza Husayn Ali mengatakan “suatu malam dalam mimpi, firman-firman yang luhur ini terdengar dari segenap penjuru: “Sesungguhnya, kami akan memenangkanmu melalui dirimu serta penamu. Janganlah engkau bersedih hati atas apa yang menimpamu dan janganlah takut pula, sebab engkau ada dalam keadaan selamat. Tak lama lagi Tuhan akan membangkitkan harta-harta bumi, orang-orang yang akan membantumu melalui dirimu dan melalui namamu, dengan nama Tuhan telah menghidupkan kembali hati mereka yang mengenal Dia.”

Mirza Husayn Ali memilih gelar sebagai Bahaullah (dalam bahasa Arab artinya “Kemuliaan Tuhan”). Bahaullah mengakui dirinya sebagai “Dia Yang akan Tuhan Wujudkan” sebagaimana yang pernah diramalkan oleh Sang Bab (Sayyid Ali Muhammad). Bahaullah adalah pendiri agama Baha’i. Dalam ajaran Baha’i, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi ummat manusia melalui para utusan Tuhan yang disebut “Para Perwujudan Tuhan.” (Maksud Bahaullah; para nabi-nabi dan rasul-rasul). Bahaullah menganggap dirinya sebagai “Perwujudan Tuhan” yang terbaru. Dia mengaku dirinya sebagai pendidik ilahi yang telah dijanjikan bagi semua ummat manusia yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya. Dia mengatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan yang dipercaya ummat Baha’i pasti akan datang.

Dengan bahasa yang lebih halus tersirat pesan dari Bahaullah bahwa dia mengakui dirinya sebagai “Wujud Tuhan” yang ditunggu ummat islam (Imam Mahdi), ummat Kristen (Isa Almasih / Yesus Kristus), Buddha (Buddha Matteya) dan agama lainnya. Bahaullah wafat tahun 1892 di Bahji dekat Akka’ (Palestina-Israil). Akka’ menjadi kiblat agama Baha’i. Sesuai dengan wasiatnya setelah Bahaullah meninggal, kedudukannya digantikan putranya Abdul Baha’ yang wafat tahun 1921. Sesuai dengan wasitnya, Abdul Baha’ digantikan oleh cucunya bernama Soghi Effendi yang ditunjuk sebagai “Wali Agama Tuhan.” Soghi Effendi meninggal dunia tahun 1957. Pengikut agama Baha’i saat ini sekitar 6,7 juta tersebar di seluruh dunia dan mendapat pengakuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Cakra Ningrat berpendapat; Bahaullah (Mirza Husayn Ali) yang mengakui dirinya sebagai “Wujud Tuhan yang terakhir “yang ditunggu-tunggu oleh ummat Islam, Kristen, Buddha, dan agama lainnya adalah NABI PALSU atau MESIAS PALSU. Dengan demikian seluruh ajaran-ajarannya yang terhimpun dalam ajaran agama Baha’i adalah ajaran sesat yang menyesatkan. Sama dan sedemikian rupa dengan Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) yang lahir di Punjab yang mengakui dirinya sebagai Kedatangan Yesus Kristus / Isa Almasih yang kedua kalinya, Mesias yang dijanjikan dan Imam Mahdi adalah NABI PALSU atau MESIAS PALSU. Segala macam ajaran-ajarannya yang terhimpun dalam gerakan “Ahmadiyah” adalah ajaran sesat dan menyesatkan.

Mirza Husayn Ali atau Bahaullah dan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebuah PENGGENAPAN dari “wujud Ad Dajjal” di abad 19. Para pengikut Ad- Dajjal (Mirza Husayn Ali dan Mirza Ghulam Ahmad) adalah Almasih Ad-Dajjal. Mereka berhimpun dalam satu agama dan satu pergerakan sebagai sekumpulan orang-orang yang membaktikan hidupnya untuk menebar fitnah-fitnah yang keji dengan maksud menolak dan mengotori kesucian ajaran-ajaran Tuhan yang diajarkan dalam agama islam, kristen, buddha, dan agama tradisional / faham-faham religi lainnya.

Cakra Ningrat berpendapat; Kedatangan Yesus Kristus / Isa Almasih yang kedua kalinya menandakan kemunculan Imam Mahdi; Buddha Mateyya dan Dewa Kalki. Dia hanya satu sosok namun memiliki banyak nama dan gelar. Dia tidak membawa ajaran, tapi membenarkan dan meluruskan ajaran-ajaran Tuhan yang pernah dibawa oleh 124.000 nabi-nabi-Nya dan 312 rasul-rasul-Nya. Dia tidak membawa agama tapi membenarkan semua agama yang muncul sebelum agama islam untuk kemudian menghapus seluruh agama tersebut. Manusia tidak akan mungkin dapat mengetahui nama dan mengenal sosoknya oleh karena nama dan sosok itu sangat dilindungi Tuhan. Nama dan sosok itu sangat terjaga rahasianya, meski dia telah berada di samping kita atau menyapa kita, tidak akan mungkin kita dapat mengetahuinya. Dia tidak akan menyebut dirinya karena dia tidak memiliki kepentingan apapun terhadap kita. Dia ada dan bekerja untuk dan atas nama serta demi semata-mata untuk kepentingan Tuhan.

Kembali kepada ajaran-ajaran Zarathustra, meskipun Zarathustra mengajarkan monotheisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah, namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa tersebut adalah:

  • Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa atas api
  • Vohu Monah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan, ini dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik.
  • Kesmatra Vairya yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam
  • Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah
  • Haurratat dan Ameratat yaitu dewa-dewa yang berkuasa atas air dan tumbuh-tumbuhan.

Para penganut zoroastrianisme beribadah di dalam kuil yang disebut dengan kuil api. Disebut demikian karena di dalam kuil, api dibiarkan menyala terus-menerus sebagai lambang kehadiran dewa. Api bukan saja menyimbolkan kehadiran Tuhan tetapi juga sebagai simbol kesucian. Karena itu, orang Majusi atau pemeluk agama Zoroaster sering juga disebut sebagai orang-orang yang memuja api.

Dengan adanya lima dewa dalam ajaran Zarathustra dianggap cukup mengakomodir dewa-dewa yang diakui dalam ajaran Buddha dan Kong Hu Chu, demikian pula terdapat api yang dibiarkan menyala terus-menerus di dalam kuil dianggap mewakili unsur-unsur api yang ada di dalam ajaran Buddha dan Kong Hu Chu. Segala bentuk-bentuk “pedupaan” yang dikenal dalam ajaran-ajaran hindu, buddha, kong hu chu, shinto dan faham-faham tradisional lainnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari unsur api.

3. Periode 3.000 tahun ketiga yaitu masa ketika nabi Zarathustra lahir dan menerima penglihatan dari Ahura Mazda. Selanjutnya penglihatan ini kemudian disebarkannya kepada ummat manusia.

Nabi Zarathustra diperkirakan lahir dan hidup pada abad 6 SM, beliau satu masa dengan nabi Yeheskiel, nabi Kong Hu Chu dan Shidarta Gautama. Dipastikan mereka ini diberi penglihatan, diberi pengetahuan, dan diberi pemahaman oleh Tuhan Semesta Alam.

4. Periode 3.000 tahun terakhir yaitu masa munculnya seorang Saoshyant setiap seribu tahun, yang diyakini sebagai penyelamat yang akan memerintah dan memelihara bumi. Ketiga Saoshyant yang akan datang itu adalah keturunan Zarathustra yang pada akhirnya akan memimpin manusia untuk melawan Ahriman (jahat atau batil) serta para pengikutnya. Barulah setelah itu perdamaian dunia akan terwujud.

Saoshyant (bahasa zendi) bermakna “Yang Terpuji.” Keturunan Zarathustra tidak dimaksudkan sebagai keturunan biologis, akan tetapi “orang-orang terpuji” yang telah diberi penglihatan gaib dan pengetahuan oleh Ahura Mazda (Tuhan).

Cakra Ningrat berpendapat; tiga Saoshyant sebagaimana yang dimaksudkan oleh Zarathustra adalah: Yesus Kristus (nabi Isa Alaihissalam), nabi Muhammad SAW, dan Imam Mahdi.

Saoshyant yang pertama (Yesus Kristus)
Nubuat Zarathustra dalam vendidad, bagian pertama dari zend Avesta dan di Yasht, bagian kedua dari buku yang sama dinubuatkan:

“Seorang perempuan akan mandi di danau Kashva dan akan mengandung. Dia akan melahirkan seorang nabi (Isa Ibnu Maryam) yang dijanjikan Astvat-ereta atau Saoshyant (Yang Terpuji) yang akan membunuh setan, menghapuskan penyembahan berhala dan membersihkan agama majusi dari kekotorannya.”

Cakra Ningrat menafsirkan;
Perempuan yang mandi di danau Kashva adalah Maria (Maryam). Menurut keyakinan zoroasterianisme (pengikut Zarathustra), sumber air danau Kashva dari “air kehidupan.” Raja Parsi Xerxes telah menghilang ketika mandi di danau itu. Xerxes dan Khwaja Khidir (nabi Hidir) diyakini masih hidup di sana mengajarkan kebijaksanaan kepada ummat dan membimbing mereka yang tersesat jalannya. Diduga danau Kashva hanya sebuah penamaan atau peristilahan di alam gaib.

Dikisahkan dalam injil Matius 8:28 saat Yesus Kristus berjalan di daerah orang Gadara, ada dua orang kerasukan setan lalu Yesus Kristus memindahkan setan dari tubuh dua orang itu kepada babi-babi yang ada di dekatnya lalu kawanan babi itu berlari dan melompat masuk ke dalam jurang dan mati bersama setan.

Oleh karena Maria (Maryam) disebut oleh Zarathustra mandi di danau Kashva maka bayi yang akan dilahirkannya tidak akan pernah mati. Dalam iman kristiani, Yesus Kristus disebut “bangkit dari yang mati” di hari ketiga (paskah) kemudian naik ke langit dan akan datang kembali sebelum kiamat. Dalam iman islam diyakini “dia tidak mati, melainkan diangkat ke langit” dan akan turun kembali sebelum kiamat. Dalam keyakinan zoroaster dia tidak mati karena telah diberi minum “air kehidupan” saat ibunya mandi di danau Kashva. Yesus Kristus / Isa Almasih tetap hidup sebagaimana Xerxes dan Khwaja Khidir (nabi Hidir) dan akan datang kembali.

  • Pujian Zarathustra kepada Yesus Kristus dan Maria (Maryam): 

“Kami menyembah Farvashi (Yesus Kristus) dari perawan suci yang disebut Vispataur-Vairi (yang menghancurkan semuanya) karena dia (Maria) akan melahirkan beliau yang akan menghancurkan kejahatan dari daivas dan manusia, menghadapi keburukan yang dilakukan oleh gahi (setan).”

Cakra Ningrat menafsirkan:

“Menghancurkan kejahatan dari daivas dan manusia” ditafsirkan sebagai menghancurkan kejahatan rahib Yahudi dan orang-orang Yahudi di masa itu. “Menghadapi keburukan yang dilakukan oleh gahi (setan)” ditafsirkan sebagai persekongkolan buruk orang-orang Yahudi yang menyebabkan Yesus Kristus disalibkan.

Nubuat Zarathustra tentang kedatangan Yesus Kristus yang kedua atau turunnya Isa Almasih:

“Ini akan memisahkan antara Saoshyant yang jaya (Yesus Kristus) dan para penolong (sahabatnya) di saat dia membaharui dunia ini, yang (sejak itu) tidak pernah bertambah tua dan tak pernah mati, tak pernah merosot atau melapuk, senantiasa hidup dan senantiasa meningkat dan menjadi tuan dari kehendaknya. Di saat orang yang mati ruhaninya akan bangkit, di saat kehidupan dan keabadian akan datang dan dunia akan memperbaharui keinginannya. Di waktu penciptaan menjadi lestari, ciptaan yang makmur dari jiwa yang baik dan obat akan lenyap, meskipun dia boleh menyerbu dari segala arah untuk membunuh beliau yang suci, dia dan ratusan barisan keturunannya akan binasa, seperti itulah kehendak Tuhan. Ketika Astvat-Ereta (Yesus Kristus) akan bangkit dari danau Kashva (ini berarti suci dari dosa) seorang sahabat dari Ahura Mazda, putera dari (Vispataur Vairi) yang mengetahui ilmu kejayaan.” (zamyad Yast 89-90)

Cakra Ningrat menafsirkan:

  • Saoshyant yang jaya (Yesus Kristus) nanti akan datang sendiri. Dia tidak datang bersama sahabatnya. Di masa lalu di saat Yesus Kristus memberi pelayanan, dia sering berjalan dengan ditemani oleh sahabat-sahabatnya (murid-muridnya).
  • Yesus Kristus tidak pernah bertambah tua, tak pernah mati, tak pernah merosot atau melapuk. Yesus Kristus senantiasa hidup dan senantiasa meningkat dan menjadi tuan dari kehendaknya. Maksudnya memiliki kuasa keilahian.
  • Yesus Kristus akan datang “di saat orang yang mati ruhaninya akan bangkit.” Bangkit maksudnya, manusia sudah mulai mencari-cari dan bertanya-tanya dalam batinnya (seperti yang kita lakukan sekarang ini). “Di saat kehidupan dan keabadian akan datang dan dunia akan memperbaharui keinginannya” maksudnya mungkin terjadinya gejolak alam dan gempa-gempa pertanda dunia akan memperbaharui keinginannya.
  • “Di waktu penciptaan menjadi lestari” dimaksudkan sebagai penciptaan Tuhan yang kedua. “Ciptaan yang makmur dari jiwa yang baik dan obat akan lenyap” mungkin maksudnya kehidupan syurga dimana segala kesusahan akan lenyap.
  • “Meskipun dia boleh menyerbu dari segala arah untuk membunuh beliau yang suci” maksudnya mungkin Yesus Kristus dalam kedatangannya yang kedua ini, manusia-manusia (kristen dan islam) ingin membunuhnya sebagaimana yang dulu dilakukan oleh orang-orang Yahudi, akan tetapi “dia dan ratusan keturunannya akan binasa” maksudnya “mungkin” orang-orang islam dan kristen tidak akan dapat mencapai keinginannya oleh karena mereka tidak tahu Yesus Kristus berada di mana dan dalam wujud siapa, “seperti itulah kehendak Tuhan.”
  • “Ketika Astvat-ereta (Yesus Kristus) bangkit dari danau Kashva (ini berarti suci dari dosa)” mungkin maksudnya “hidup kembali” sebagai anak manusia yang suci dari dosa. Dia akan menjadi seorang sahabat dari Ahura Mazda, mungkin maksudnya dia menjadi representasi atau manifestasi Tuhan. “Putera dari Vispataur Vairi (yang menghancurkan segalanya)” maksudnya “mungkin” Kalki Avatar (sang penghancur) putera / titisan Dewa Wisnu “yang mengetahui ilmu kejayaan.”

Oleh karena Yesus Kristus / Isa Ibnu Maryam sudah dinubuatkan oleh Zarathustra, maka logis dan masuk akal bila orang-orang Majusi datang ke Betlehem saat Yesus Kristus baru saja dilahirkan oleh Maria, mereka memberi persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur. Mur adalah getah dari torehan batang dan cabang dari satu pohon yang rendah yang disebut Commiphora myrrha. Pohon ini tumbuh di Arabia Selatan dan bagian Afrika. Mur digunakan untuk minyak urapan kudus. Harum baunya. Biasa digunakan oleh perempuan sebagai wangi-wangian.

Saoshyant yang ke dua (nabi Muhammad SAW)
Dalam Bundahish 32:8 dan Bahwan Yasht 3:62:

“Saoshyant (Muhammad) yang terakhir dari para rasul di masa depan, di masanyalah alam semesta akan diganti dan hari kebangkitan akan terjadi.”

Cakra Ningrat menafsirkan:
Nabi Muhammad SAW adalah rasul yang terakhir. Tidak ada lagi nabi dan rasul setelah Muhammad. Kita yang masih hidup di saat ini dianggap hidup di masa Muhammad yang dimaksudkan sebagai alam semesta akan diganti dan hari kebangkitan akan terjadi.

  • Nubuat Zarathustra tentang kemunculan Muhammad (Saoshyant).

“Kemudian lelaki yang ideal akan muncul yang rencana-rencana cerdasnya akan bergerak, sehingga mengusir skema yang tercemar dari para pendeta palsu dan para tiran.” (Yashna 48:10).

Cakra Ningrat menafsirkan:

  • “Kemudian lelaki ideal akan muncul yang rencana-rencana cerdasnya akan bergerak” maksudnya lelaki ideal itu adalah nabi Muhammad SAW yang akan membawa ajaran-ajaran yang baru. “sehingga mengusir skema yang tercemar” maksudnya ajaran-ajaran Tuhan (Yahudi, nasrani, dan zoroaster) dianggap sudah tercemar “dari para pendeta palsu.”
  • “dan tiran” maksudnya para penguasa yang berbuat semena-mena termasuk oleh orang-orang Arab Quraisy di masa jahiliyah.

Dalam surat Sasan I Kitab Dasatir:

“Ketika mereka sangat terlena, akan bangkit seorang laki-laki dari Tewarjis (Tazis yaitu bangsa Arab). Oleh para pengikutnya, mahkota, singgasana, pemerintahan, dan agama akan digulingkan dan bukannya kuil berhala atau kuil api, di rumah Abad justru akan terlihat sebuah tempat yang ke arahnya sembahyang akan dihadapkan, namun terlucuti dari berhala-berhalanya. Dan di sekitarnya terdapat perairan payau. Dan setelah itu mereka akan menaklukkan kuil api di Madain beserta apapun di dalamnya, Yenfud dan Newak (Tus dan Balkh), serta tempat-tempat agung lainnya. Dan rasul mereka adalah orang-orang fasih lagi mendalam kata-katanya.”

Cakra Ningrat menafsirkan:

  • “Ketika mereka sangat terlena, akan bangkit seorang laki-laki dari Tewarjis” maksudnya ketika manusia bergelimang kemaksiatan, kesenangan nafsu, pemujaan-pemujaan terhadap berhala. “akan bangkit seorang laki-laki dari Tewarjis” maksudnya nabi Muhammad akan bangkit dan berseru “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah.”
  • “oleh para pengikutnya, mahkota, singgasana, pemerintahan dan agama akan digulingkan” maksudnya bukan hanya agama-agama yang diganti, akan tetapi para pengikutnya akan membentuk pemerintahan atau kekhalifaan (Daulah Islamiyah).
  • “dan bukannya kuil berhala atau kuil api” maksudnya agama islam tidak menyembah berhala dan juga tidak memuja api.
  • “di rumah Abad justru akan terlihat sebuah tempat yang ke arahnya sembahyang akan dihadapkan” maksudnya rumah Abad yaitu rumah yang dibangun oleh Abad (Ibrahim) adalah Ka’bah sebagai kiblat agama ummat islam bersembahyang.
  • “namun terlucuti dari berhala-berhalanya” maksudnya mungkin dulunya Ka’bah dipenuhi berhala, akan tetapi setelah agama islam bangkit, semua berhala yang ada di dalam Ka’bah dilucuti.
  • “dan di sekitarnya terdapat perairan payau” maksudnya di dekat Ka’bah terdapat air zam-zam yang perairannya tidak pernah kering.
  • “Dan setelah itu mereka akan menaklukkan kuil api di Madain beserta apapun di dalamnya, Yenfud dan Newak (Tus da Balleh) serta tempat-tempat agung lainnya” maksudnya perang dikobarkan (jihad fi sabilillah) mulai dari Jazirah Arab, Persia, hingga ke Eropa
  • “Dan rasul mereka adalah orang-orang fasih lagi mendalam kata-katanya” maksudnya Muhammad rasul Allah mendapatkan wahyu dan mukjizat dari Allah yaitu alqur’an.
  • Harapan Zarathustra kepada Tuhan atas kemunculan Muhammad.

“Engkau (wahai Tuhan) di dalam (kekuasaan)-Mu kuserahkan kesusahan dan keraguanku. Biarkanlah kemudian nabi yang Engkau simpan, menemukan dan memperoleh haknya (demi) kebahagiaanku. Fikiran baik-Mu dengan anugerah yang bekerja dengan ajaib, wahai biarlah Saoshyant-Mu melihat betapa karunia dan ganjaran itu akan menjadi miliknya. Kapankah wahai Mazda, orang dengan fikiran sempurna ini akan datang? Dan kapan mereka akan mengusir dari sini, dari tanah ini (yang tercemar) oleh kesenangan para pemabuk.” (Yashna 48:9).

Cakra Ningrat menafsirkan:

Nabi Zarathustra berserah diri kepada Tuhan atas rencana Tuhan mengutus nabi Muhammad sebagai rasul yang ajaran-ajarannya akan menyempurnakan, menata dan menstrukturisasi ajaran-ajaran yang dibawa oleh Zarathustra.

  • Zarathustra bertanya kepada Tuhan kapan munculnya Muhammad

1. “Kapan datang pemberi yang agung! Mereka yang pada terangnya hari memegang teguh tatanan dunia yang benar, dan maju terus menekan? Kapankah skema Saoshyant penyelamat dengan wahyunya yang luhur (muncul)? Kepada siapa pertolongan dia (yakni pemimpin mereka) mendekat, dia yang mempunyai fikiran yang baik?” (Yashna 46:3).

2. “Ini kutanyakan pada-Mu wahai Ahura (Tuhan) katakan sebenarnya, kapan pujian diberikan, bagaimana (saya harus melengkapi) doa dari dia yang seperti-Mu wahai Mazda?” “Biarlah seorang seperti-Mu mendeklarasikannya dengan sungguh-sungguh kepada kawan yang seperti aku, jadi melalui ketulusan-Mu memberikan pertolongan yang bersahabat kepada kita, sehingga dengan demikian seorang seperti-Mu bisa menarik kita ke dekat-Mu melalui fikiran baik-Mu.” (Yashna 44:1).

  • Puji-pujian Zarathustra kepada Muhammad (lebih seribu tahun sebelum kemunculannya)
  1. “Kita memuja Saoshyant, dengan pedang, dengan kejayaan.” (gatha Yashna 59:28)
  2. “Saya berhasrat mendekati orang yang membaca doa; doaku, yang karenanya memelihara fikiran, fikiran yang baik, dan kata-kata yang diucapkan dengan baik, dan perbuatan yang dilakukan dengan baik, dan kesalehan yang dermawan, bahkan dia menjaga Mathra dari Saoshyant dengan amalnya dan kedudukannya akan selalu maju dalam tatanan yang benar.” (Visparad 2:5).
  3. “Anda yang beriman keagamaan yang setiap Saoshyant (Saoshyant dan para sahabatnya) yang akan menyelamatkan (kita), seorang suci yang beramal dengan penuh makna yang nyata.” (Yashna 12:7).
  4. “Dengan lagu ini (yang sepenuhnya) dinyanyikan dan demi Saoshyant yang suci, dermawan, dan abadi.” (Yashna 46:3).
  5. “Kami mengundang Saoshyant yang dermawan abadi serta salih. Dia yang terpuji (Muhammad) dan para sahabatnya untuk menolong kami, yang paling tepat serta benar dalam bicaranya; yang paling berahlak, yang paling mulia dalam pemikirannya, yang paling agung dan perkasa.” (Visparad, 4:5).

Nabi Zarathustra pengikut Muhammad

“Saya datang kepadamu, wahai yang abadi dan dermawan, sebagai seorang pendeta yang terpuji, dan pelindung, sebagai pengikat, mengalunkan (doamu) dan sebagai pendendang atas pengorbanan dan kehormatanmu, kemauan baikmu. Wahai engkau Saoshyant yang suci, dan demi doamu yang tepat waktu untuk rahmat (maksudnya; shalat lima waktu) dan demi penyucianmu, dan demi kejayaan kita dalam menghantam musuh-musuh kita yang manfaat bagi jiwa kita (Saoshyant bersamamu) dan kesucian… Wahai yang abadi penuh kedermawanan, yang memerintah dengan benar dan membukakan (bagi semuanya) yang benar: (Ya) saya menyerahkan kepadamu daging dan jasadku ini semua rahmat kehidupanku juga.” (Visparad 5:21, 11:1, 11-20).

Cakra Ningrat menafsirkan:

- Nabi Zarathustra dapat dikatakan sebagai pengikut Muhammad, yang mengakui kerasulan Muhammad dan seluruh risalah yang dibawakannya. Perkataan Zarathustra “(Ya) saya menyerahkan kepadamu daging dan jasadku ini, semua rahmat kehidupanku juga” dapat ditafsirkan bahwa di hadapan Tuhan, Zarathustra adalah seorang muslim meskipun beliau tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, mengingat Zarathustra dan Muhammad terpisah oleh jarak waktu seribu tahun lamanya. Kadar kemusliman Zarathustra sendiri melebihi kadar kemusliman sahabat-sahabat Muhammad mengingat sahabat mengakui nabi Muhammad sebagai rasul Allah setelah adanya bukti-bukti nyata, sementara Zarathustra sudah mengakui Muhammad sebagai rasul terakhir sejak seribu tahun sebelum kelahirannya atau ketika Tuhan mewahyukan kepadanya.

- Ummat islam berpandangan 25 nabi dan rasul yang disebut namanya dalam alqur’an seluruhnya beragama islam (muslim), akan tetapi faktanya pandangan itu diragukan kebenarannya oleh karena bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Dari penelitian sejarah dan anthropologi dengan didukung bukti-bukti arkeologis ditemukan fakta bahwa sejak nabi Adam sampai nabi Isa (Yesus Kristus) ternyata mereka bukan muslim. Mereka tidak dapat dikatakan menganut agama islam mengingat agama islam belum ada. Apakah alqur’an yang salah dan ilmu pengetahuan yang benar, ataukah ilmu pengetahuan yang salah dan alqur’an yang benar?

Cakra Ningrat berpendapat; alqur’an “benar” dan ilmu pengetahuan “benar.” Kebenaran ilmu pengetahuan didukung oleh bukti-bukti yang nyata, sementara kebenaran alqur’an didukung oleh bukti-bukti yang gaib bagi manusia. Bukti “gaib” ini dapat saja menjadi bukti nyata bilamana kita mau melakukan analisis dan kajian kritis dengan kekuatan logika. Perkataan Zarathustra “(Ya) saya menyerahkan kepadamu daging dan jasadku ini, semua rahmat kehidupanku juga “ dianggap telah mewakili seluruh nabi dan rasul yang nama-namanya tercantum dalam alqur’an mengingat Tuhan yang telah mengutus Zarathustra, itu pula Tuhan yang telah mengangkat dan mengutus para nabi dan para rasul tersebut.

- Umat islam dan ummat nasrani berbeda pendapat, bahkan mereka cenderung saling mengejek, saling menyalahkan dan saling mengerdilkan disebabkan oleh ayat alqur’an berikut ini:

“Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: ‘Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’ Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata’.” (QS. 61:6)

Seorang muslim yang lahir di Punjab-India bernama Ghulam Ahmad, merasa tersanjung dan ke-ge-er-an dalam memahami ayat tersebut karena nama “Ahmad” disebut dalam ayat itu. Dia pun mengklaim dirinya sebagai “Ahmad” yang dimaksudkan dalam surah Assaff (61:6). Dia juga mengakui dirinya sebagai Imam Mahdi, Yesus Kristus yang datang untuk kedua kalinya dan Avatar (Jelmaan Dewa) agar orang-orang Hindu-India mau menerimanya. Ghulam Ahmad adalah nabi palsu dan Mesias palsu. Dia adalah perwujudan Ad Dajjal dan para pengikutnya (Ahmadiyah) disebut Almasih Ad Dajjal (Antikristus).

Cakra Ningrat berpendapat; Nabi Isa (Yesus Kristus) secara oral tidak pernah mengucapkan kata-kata “memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya “Ahmad.” Bila “benar” nabi Isa (Yesus Kristus) pernah mengucapkan kalimat tersebut maka dipastikan kalimat itu akan tertulis dalam injil. Seluruh perkataan beliau dan seluruh jejak dan langkahnya senantiasa terekam dan tertulis di dalam injil. Ummat islam tidak perlu bertegang leher dan berteriak-teriak bahwa injil yang diimani oleh ummat nasrani adalah injil palsu, apalagi sampai menuduh mereka sengaja menyembunyikan injil yang asli (barnabas). Cakra Ningrat menampik kebenaran adanya injil barnabas.

Ummat islam “salah dan keliru” jika menyalahkan ummat nasrani yang menolak kebenaran perkataan Yesus Kristus (nabi Isa) sebagaimana ayat 61:6, karena memang Yesus Kristus (nabi Isa) tidak pernah mengucapkan perkataan tersebut. Akan tetapi ummat nasrani “salah dan keliru” jika menolak kebenaran alqur’an. Penolakan terhadap alqur’an, dengan demikian dan selanjutnya dapat dimasukkan ke dalam golongan sebagai “antikristus.”

Cakra Ningrat berpendapat: Firman Tuhan dalam alqur’an (61:6) adalah ucapan Zarathustra yang diadopsi Tuhan seakan-akan nabi Isa (Yesus Kristus) yang mengucapkan kalimat itu. Tuhan ingin agar kita mengkaji dan menganalisis secara mendalam keterkaitan dan keterikatan antara Zarathustra, Yesus Kristus (nabi Isa) dan nabi Muhammad.

Dalam ajarannya, Zarathustra menyebut periode 3.000 tahun terakhir adalah masa munculnya Saoshyant setiap seribu tahun sebagai penyelamat yang akan memerintah dan memelihara bumi. Ketiga Saoshyant tersebut adalah keturunan Zarathustra. Saoshyant berasal dari kata Zendi, Persia yang artinya “Terpuji.” Ketiga Saoshyant yang dimaksud oleh Zarathustra adalah:

1. Yesus Kristus atau nabi Isa alaihissalam telah memberi petunjuk pada kita bahwa perkataan Zarathustra “benar” adalah wahyu Tuhan (Ahura Mazda). Hal ini dibuktikan dalam sejarah dengan kedatangan orang-orang Magus (Majusi) dari Timur (Persia) dimana mereka adalah para pengikut Zarathustra yang datang saat Yesus Kristus (nabi Isa) baru saja dilahirkan oleh Maria (Maryam). Pada waktu kelahirannya orang-orang Yahudi belum mengetahui bila “Emanuel” telah lahir di Betlehem. Sejarah mencatat justru para pengikut Zarathustralah yang pertama-tama mengetahui kelahiran beliau. Mereka datang menyambut kelahirannya dan memberi persembahan emas, kemenyan, dan mur. Kedatangan mereka “bukan” untuk beriman dan menjadi pengikut Yesus Kristus (nabi Isa alaihissalam) sebab para pengikut Zarathustra (orang Majusi) meyakini masih ada Saoshyant yang kedua yang dinubuatkan akan muncul.

2. Ahmad, dalam bahasa Arab artinya “Terpuji” memiliki makna yang sama dengan kata “Saoshyant” yang dalam bahasa Zendi, Parsi juga bermakna “Terpuji.” Meski tidak secara langsung diucapkan sendiri oleh Yesus Kristus (nabi Isa), akan tetapi dengan terdapatnya kata “Ahmad” dalam alqur’an (61:6) yang bermakna “terpuji” (Saoshyant) maka secara implisit alqur’an mengakui kebenaran wahyu Tuhan yang pernah diturunkan kepada Zarathustra.

Sejarah mencatat dan ilmu pengetahuan membenarkan seluruh pengikut Zarathustra beriman kepada Saoshyant kedua (nabi Muhammad) setelah nabi Muhammad meletakkan dasar-dasar agama islam. Yang mendasari pengikut Zarathustra memeluk agama islam adalah perkataan Zarathustra “(Ya) saya menyerahkan kepadamu daging dan jasadku ini, semua rahmat kehidupanku juga.” Tidak dapat dipungkiri bahwa pengikut Zarathustra masih ada yang bertahan dengan agamanya, hal ini disebabkan karena mereka menantikan kelahiran Saoshyant yang ketiga (terakhir).

Disebutkannya kata “Ahmad” dalam alqur’an oleh karena alqur’an menggunakan bahasa Arab, sebagaimana bahasa yang digunakan oleh nabi Muhammad. “Terpuji” dalam bahasa Yahudi disebut Himdath, bahasa Ibrani disebut Hamida, bahasa Yunani Parakletos dan bahasa Zendi, Parsi disebut Saoshyant.

Hikmah dari penyebutan “Ahmad” dalam alqur’an (61:6) adalah untuk menjebak Ghulam Ahmad yang merupakan personifikasi dan perwujudan dari Ad-Dajjal untuk menggenapkan Lamekh. Oleh karena itu para pengikut Ghulam Ahmad dapat disebut sebagai Almasih Ad Dajjal atau Antikristus.

3. Tuhan terkesan sangat menjaga kerahasiaan wahyu-Nya yang pernah Dia turunkan kepada Zarathustra tentang kemunculan tiga Saoshyant yang dijanjikan. Ini disebabkan karena Zarathustra berpandangan pada periode 3.000 tahun kedua, Ahura Mazda (Tuhan) dan Angra Mainyu (Ahriman) beradu kekuatan, keduanya berusaha saling kalah-mengalahkan. Dalam menghadapi Ahriman (Ad Dajjal), Ahura Mazda (Tuhan) senantiasa diwakili oleh Saoshyant, sehingga wajar dan sangat beralasan jika Saoshyant sangat dijaga kerahasiaannya oleh Ahura Mazda (Tuhan).

Tuhan memakai pengikut Zarathustra untuk menyambut kelahiran dan memberi persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur kepada Saoshyant yang pertama (Yesus Kristus / nabi Isa). Kemudian Tuhan memakai dan mengatasnamakan Yesus Kristus / nabi Isa (Saoshyant yang pertama) untuk menyampaikan pesan akan “datangnya” seorang rasul yang namanya Ahmad (Saoshyant). Ahmad adalah Muhammad rasul Allah. Muhammad adalah Saoshyant (Ahmad) yang kedua. Adapun Ahmad (Saoshyant) yang pertama adalah Yesus Kristus / nabi Isa alaihissalam. Ummat islam keliru bila berasumsi bahwa Ahmad adalah nama kecil Muhammad. Ahmad bukan nama seseorang, tapi Saoshyant (Terpuji) yang dalam bahasa Arabnya disebut Ahmad (Terpuji).

Masih dalam mata rantai Saoshyant, selanjutnya Tuhan memakai nabi Muhammad (Ahmad yang kedua atau Saoshyant yang kedua) untuk menyampaikan pesan kepada ummat manusia melalui hadits-haditsnya bahwa Saoshyant yang ketiga (terakhir) akan muncul menjelang akhir dunia ini . nabi Muhammad menamakan Saoshyant terakhir sebagai Imam Mahdi.

Dalam bahasa Arab; “Imam Mahdi” bermakna Pemimpin Yang Diberi Petunjuk. Imam Mahdi tidak dapat disebut Ahmad (terpuji) oleh karena manusia tidak dikehendaki Tuhan untuk mengetahui sosoknya dan di mana keberadaannya. Ahmad (Terpuji) yang pertama adalah Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam). Beliau telah digenapkan oleh Ahmad (Terpuji) yang kedua yaitu nabi Muhammad. Karena “Ahmad” telah digenapkan maka Imam Mahdi tidak memiliki hak untuk disebut Ahmad (Terpuji). Dalam nubuatnya (ramalannya) leluhur kita Jayabaya mengatakan: “Dia tidak ingin dipuji oleh orang setanah Jawa (Indonesia dan dunia) tapi dia hanya memilih beberapa orang saja.”

Sampai kapanpun Tuhan tetap merahasiakan keberadaan Imam Mahdi. Imam Mahdi bertugas menghancurkan Ahriman (ad Dajjal) dan seluruh pengikut-pengikutnya agar YANG MAHA TERPUJI (TUHAN SEMESTA ALAM) dapat muncul dan mempersaksikan diri-Nya sebagai satu-satunya TUHAN YANG MAHA ESA. Kemunculan Tuhan disebut sebagai Hari Berbangkit atau Hari Penghakiman.

Dan marilah kita cermati bagaimana wahyu Tuhan kepada Zarathustra tentang Imam Mahdi (Saoshyant terakhir) dan wahyu Tuhan yang berhubungan dengan hari berbangkit / penghakiman.

Saoshyant yang ke tiga (terakhir)
Saoshyant yang ke tiga atau Saoshyant yang terakhir adalah Imam Mahdi. Imam Mahdi menggenapkan Muhammad sekaligus menggenapkan Yesus Kristus Yang datang Kedua atau dalam iman islam disebut Turunnya Isa Almasih. Penggenapan-penggenapan ini di luar konteks sebagai “Yang Terpuji” (Ahmad). Orang-orang zoroasterianisme mengenal Imam Mahdi dalam sebutan Bahramsyah (Bahramshah).

- Keadaan ummat manusia sebelum Imam Mahdi muncul.

1. “Yang paling berkuasa di antara Farvarshis dari kaum beriman, wahai spitma! Adalah orang dari hukum yang primitif, atau mereka yang pada saat Saoshyant belum dilahirkan, siapakah yang memperbaiki dunia?” (Fravadin Yasht 13:17). Dalam sarosh yasht mereka disebut kawan dari Saoshyant (Sarosh yasht 4:17).

2. “Jalan ini telah diwahyukan oleh Ahura (Tuhan) sebagai fikiran Tuhan sendiri, dibuat dari perintah yang diwahyukan dari Saoshyant, kebijakan yang tertinggi. Seperti juga dari kata-kata dari perbuatan tulus dari Saoshyant tidak hanya diumumkan dan dibuat, melainkan jalan itu dijadikan hukum.” (Gatha Yashna 34:13).

Ditafsirkan sebagai hukum-hukum agama seperti pelaksanaan syariah, ibadah dan muamalah yang dijalankan oleh ummat sejak dulu sampai sekarang ini. Kawan dari Saoshyant ditafsirkan sebagai pemuka-pemuka agama, kristen maupun islam, (paus, pastor, pendeta, ulama, ustads, kiyai, dsb.).

- Nubuat Zarathustra akan kelahiran Imam Mahdi.

“Saoshyant dilahirkan di Khavniras, yang membuat jiwa yang jahat tak berdaya dan menyebabkan kebangkitan (eksistensi spiritual dan masa depan).” (Bundahish 11:5)

- Wahyu Tuhan tentang sosok Imam Mahdi (Saoshyant ke tiga).

“Kita memuja semua Farvashis yang baik, heroik, dermawan dari para wali dari Gaya Meretan (yang diciptakan pertama) sampai Saoshyant yang jaya.” Tanya: “Mazda (Tuhan) membuat proklamasi; kepada siapa itu diumumkan? Jawab: Seseorang yang suci, dan orang bumi yang berhubungan dengan langit. Tanya: Bagaimana sifatnya, Dia yang membuat emansipasi suci ini? Jawab: Dia yang terbaik dari seluruh penguasa. Tanya: Karakter yang bagaimana? (apakah dia memproklamasikan dirinya sebagai dia yang akan datang ?) Jawab: Sebagai yang suci dan terbaik, seorang penguasa, yang menjalankan kekuasaannya tanpa kekerasan dan tanpa kediktatoran.” (Yashna 19:20).

Cakra Ningrat menafsirkan:
Imam Mahdi adalah seorang yang suci dan orang bumi. Dia lahir, tumbuh, dan berkembang seperti manusia biasa yang ada di bumi. Dia berhubungan dengan langit. Maksudnya dia pernah naik ke langit. Mengetahui rahasia langit. Segala perkataan dan perbuatannya senantiasa berhubungan dengan langit. Sifatnya; Dia yang terbaik dari seluruh penguasa. Sebagai yang suci dan terbaik, seorang penguasa yang menjalankan kekuasaannya tanpa kekerasan dan kediktatoran. Dia tidak akan memproklamasikan dirinya sebagai “dia yang dinantikan.” Dia selalu menyembunyikan dirinya (piningit). Meskipun dia sebagai yang suci dan terbaik, akan tetapi dia tidak ingin dipuji. Dia bukan yang terpuji. Agar manusia tidak memujinya, maka dia terus menerus menyembunyikan dirinya. Baginya; Tuhan adalah pemilik segala kesucian yang terjaga dan pemilik segala puji-pujian yang terbaik.

-    Kekuasaan Imam Mahdi (alam gaib dan alam nyata).

Saoshyant yang akan menurunkan, dengan sepenuh perintah dari dunia, dengan pengagungan dari mahkluk-mahkluk gaib, dan dengan kepuasan dari malaikat dalam kemurtadan dan kekolotan dari segala macam yang tidak terampuni, dan penggenap dari perbaikan melalui kesinambungan agama yang murni. Dan melalui karya persaudaraan yang mulia tanpa cela, penguasa semacam itu bila dilihat di atas matahari dengan kudanya yang sangat cepat, cahaya dari zaman dahulu, dan yang menyingkirkan semua kegelapan, kemajuan pencahayaan yang memperagakan siang dan malam dari dunia, berkaitan dengan kelengkapan yang sama dari renovasi alam semesta, dikatakan bahwa dalam wahyu Mazda (Tuhan) memuji, bahwa cahaya yang besar ini pakaian ketulusan yang disukai” (Dadistan I Dinik Bab 2:13-15).

Ditafsirkan: Imam Mahdi, penguasa dua alam yaitu alam gaib dan alam nyata. Di alam gaib dia diagungkan oleh mahkluk-mahkluk gaib. Malaikat merasa puas karena dia menghapus dosa yang tidak terampuni yaitu “kemusyrikan” (kemurtadan dan kekolotan). Dia adalah seorang “penggenap” dari semua keyakinan agama yang murni. Dia menciptakan dan membangun suasana “persaudaraan” tanpa cela, tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya. Dia melakukan semua itu dengan segenap “ketulusan” tanpa berharap diberi imbalan. Dia menyingkirkan semua kegelapan dunia, berkaitan dengan kelengkapan (penyempurnaan) renovasi alam semesta.

-    Imam Mahdi memimpin perang.

“Kita menyampaikan pujian kepada Farvarshis yang baik, perkasa, dari kaum beriman yang berjuang di tangan kanan pangeran yang memerintah. Mereka datang beterbangan kepadanya, seolah mereka burung-burung yang bersayap baik. Mereka datang sebagai senjata dan perisai, menjaga di belakang dan di hadapannya, dari musuh yang tak terlihat, dari perempuan Varenya yang ditemuinya, dari pembuat kejahatan, cenderung kepada kerusakan dan dari musuh yang sungguh mematikan, Angra-Mainyu. Ini seolah ada seribu orang yang memusatkan perhatian kepada seorang, namun demikian tak ada pedang yang terhujam, atau penggada yang memukulnya, atau panah yang mengenainya, atau busur yang ditusukkan atau batu yang terlempar dari tangan yang bisa menghancurkannya” (Farfadin Yasht 63:70-72).

Cakra Ningrat menafsirkan:
Imam Mahdi berperang dan memimpin peperangan di dunia gaib, Imam Mahdi dikepung di semua arah. Di hadapan dan di belakangnya. Di samping kiri dan kanannya. Meski peperangan itu berlangsung di dunia gaib, akan tetapi nyawa Imam Mahdi menjadi taruhan sebab yang dia hadapi adalah musuh yang sungguh dapat mematikannya yaitu Angra-Mainyu. (Iblis laknatullah atau Ad Dajjal) namun Imam Mahdi selamat dan tetap jaya.

- Pengharapan Zarathustra atas kemunculan Imam Mahdi.

“Saoshyant yang jaya, semoga Fravarshis dari kaum beriman datang secepatnya kepada kita: “Semoga dia datang membantu kita.” (Farvardin Yasht 29:145).

- Pengikut Imam Mahdi menurut Zarathustra.

“Dan kawan-kawannya akan maju ke depan, sahabat dari Astvat-ereta (Saoshyant) yang menebas iblis, berfikir baik, berbicara baik, berbuat baik, mengikuti syariat yang baik, dan yang lidahnya tak pernah mengucapkan kata palsu sepatah pun.” (Zamyad yasht).

- Hari Berbangkit (Hari Penghakiman)

“Dalam tahun ke 57 dari Saoshyant mereka mempersiapkan semua yang mati dan semua manusia berdiri; siapa pun yang tulus maupun siapa pun yang jahat, setiap makhluk manusia, mereka bangkit dari titik dimana hidup berpisah. Setelah itu ketika semua makhluk hidup memakai lagi jasad dan bentuk mereka. Kemudian mereka mengelompokkan (Bara yeha bund) menjadi satu kelas tunggal.” (Bunda hish Bab 30:6-27).

KESIMPULAN
Sesungguhnya Saoshyant ke tiga yang dinanti oleh ummat zoroasterianisme bukan hanya untuk mereka, akan tetapi untuk seluruh ummat manusia. Bahramsyah (Bahramshah) juga bukan untuk orang-orang Majusi saja, Imam Mahdi tidak diperuntukkan hanya untuk ummat islam tapi untuk seluruh ummat manusia. Ummat nasrani keliru jika beranggapan Kedatangan Yesus Kristus yang kedua hanya untuk mereka saja. Kedatangan Yesus Kristus yang kedua atau turunnya Isa Almasih untuk menyelamatkan ummat manusia tanpa memandang agama apa yang mereka anut. Demikian pula terhadap munculnya Buddha Matteya, kemunculannya bukan hanya untuk tujuan mencerahkan dan mengajarkan “dhamma” kepada ummat Buddha, akan tetapi dhamma akan dibabarkan kepada seluruh ummat manusia.

Turunnya Awatara Wisnu yaitu Kalki Awatara tidak dimaksudkan hanya untuk ummat hindu saja, akan tetapi Kalki Awatara akan turun untuk menyelamatkan ummat manusia yang melaksanakan Dharma Kebenaran.

Tuhan Semesta Alam bersifat universal dari sisi mana pun kita memandangnya, oleh karena itu sosok yang akan muncul ini yang merupakan representasi atau manifestasi Tuhan harus bersifat universal, dari sisi mana pun kita memandangnya.

Begitu banyak artikel-artikel tentang Imam Mahdi yang beredar di internet atau buku-buku edisi lux yang telah diterbitkan, akan tetapi semua itu masih bersifat sektarian semata. Satu di antaranya buku yang berjudul IMAM MAHDI MUNCUL 2015 yang ditulis oleh Djabber Bolushi dan diterbitkan oleh Papyrus Publishing 2007. Seluruh materi yang terdapat dalam artikel ini merupakan tanggapan kritis penulis terhadap Djabber Bolushi yang telah banyak meresahkan ummat terutama ummat islam (sunni).

Artikel sederhana ini hanya sebuah pengantar untuk menuntun kita kepada pintu untuk berfikir yang benar dalam memahami keberadaan “sosok” yang dijanjikan Tuhan kepada kita. Sosok misteri yang oleh leluhur kita menyebutnya sebagai SATRIO PININGIT. Nabi Zarathustra mengatakan Saoshyant ke tiga (Satrio Piningit) tidak akan memproklamasikan dirinya bahwa “dialah yang dijanjikan Tuhan.”

Tentu saja kita tidak dapat menafikan bahwa ada segelintir orang yang mungkin saja hitungannya hanya berbilang jari yang telah mengetahui sosok yang selalu “menyembunyikan dirinya.” Dalam hadits nabi Muhammad SAW; segelintir orang tersebut adalah pengikut Imam Mahdi yang telah dibai’at. Berharap kepada mereka, sungguh mustahil bila mereka mau membantu kita menunjukkan siapa sesungguhnya pemimpin (imam) mereka. Dalam injil, mereka itu menggenapi murid-murid Yesus Kristus atau dalam alqur’an mereka disebut sebagai penggenapan kaum Khawariyyun. Dalam Zamyed Yast, nabi Zarathustra menyebut mereka sebagai kawan-kawan atau sahabat-sahabat Saoshyant.” Dan kawan-kawannya akan maju ke depan, sahabat dari Astvat-ereta (Saoshyant) yang menebas iblis, berfikir baik, berbicara baik, berbuat baik, mengikuti syariat yang baik dan yang lidahnya tak pernah mengucapkan kata palsu sepatah pun.”

Iblis yang selalu menyesatkan manusia di jalan yang benar akan tertebas dengan sendirinya bilamana kita berfikir baik, berbicara baik, dan berbuat baik. Mengikuti syariat yang baik tidak dimaksudkan sebagai melaksanakan shalat lima waktu atau rajin ke gereja setiap Minggu, tapi syariat yang baik adalah langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan kita yang positif dan membawa manfaat yang baik buat diri sendiri dan keluarga kita. Dan janganlah mengucapkan kata-kata palsu. Kata-kata palsu diartikan sebagai perkataan dusta atau pun fitnah. Orang yang suka berkata dusta, suka bergosip, suka bergunjing, dan senang menebar fitnah dapat dimasukkan ke dalam golongan sebagai orang yang disukai atau disenangi oleh Ad Dajjal.

PENUTUP
Cakra Ningrat dan keluarga menyampaikan salam dan takzim kepada segelintir orang yang ditakdirkan Allah sebagai pengikut Imam Mahdi. Kalianlah yang menggenapkan murid-murid Yesus Kristus. Kalian adalah saksi yang menyaksikan segala mu’jizat keilahian dari seseorang yang suci, orang bumi yang berhubungan dengan langit, yang terbaik dari seluruh penguasa yang menjalankan kekuasaannya tanpa kekerasan dan kediktatoran. (Yashna 19:20).

Dalam alqur’an (5:82) Tuhan berfirman:

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya, terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya, kamu dapati yang paling dekat persahabatannya, dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu, disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani), terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS.5:82)

Cakra Ningrat menafsirkan:

- Yang paling keras permusuhannya terhadap orang yang beriman (islam) ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Musyrik menurut syariat islam adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan apa pun. Dalam arti yang lebih luas, sikap berlebih-lebihan terhadap kehidupan dunia, terlalu mencintai seseorang atau sangat taat atau sangat takut kepada seseorang atau kekuatan lain, dapat digolongkan sebagai musyrik. Sifat-sifat orang musyrik sama dengan sifat orang-orang Yahudi yang bersikap berlebih-lebih terhadap golongannya dan entitas suku bangsanya dalam kehidupan dunia. Orang Yahudi memiliki kesamaan sifat dengan orang-orang musyrik yang tidak meyakini adanya kehidupan Akhirat.

- Dan sesungguhnya, kamu dapati yang paling dekat persahabatannya, dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Orang nasrani meyakini adanya TUHAN Allah, adanya kekuasaan Allah dan adanya kehidupan akhirat yaitu kerajaan Tuhan di syurga.

- Yang demikian itu, disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani), terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Bahwa persahabatan yang paling dekat antara orang-orang Nasrani dan orang islam disebabkan karena adanya pendeta-pendeta dan rahib-rahib (juga) yang tidak menyombongkan diri.

Cakra Ningrat berpendapat:

  1. “Persahabatan yang paling dekat” dapat diartikan sebagai sebuah ikatan yang terbina, terjalin, dan terjaga dalam sebuah hubungan persahabatan dalam nuansa keilahian. Persahabatan yang paling dekat ini dapat dianalogikan sebagaimana seperti “sekeping mata uang.”
  2. Alqur’an mengakomodir, menerima, dan mengakui peran aktif seluruh Bapa-Bapa Pendeta dan rahib-rahib Nasrani yang selama ini membimbing ummatnya sebagaimana prinsip ajaran Nasrani, secara implisit (tersirat) dan secara intrinsik (hakiki), alqur’an membenarkan ajaran-ajaran dan agama Nasrani. Hukum membenarkan ajaran-ajaran Nasrani adalah ajaran Tuhan dan agama Nasrani adalah agama Tuhan.
  3. Apabila ummat Nasrani berfikir atau melakukan perbuatan yang “bermusuhan” terhadap ummat islam seperti memperolok-olok nabi Muhammad dan atau merendahkan dan mengotori ayat-ayat suci alqur’an, maka yang salah bukan ummat Nasrani, akan tetapi para pendeta dan rahib Nasrani. Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban para pendeta dan para rahib Nasrani atas pelanggaran perbuatan mereka yang telah menyombongkan diri.
  4. Apabila ummat islam mengingkari “persahabatan yang paling dekat” dengan ummat nasrani dengan cara memperolok-olokkan Yesus Kristus (Isa Ibnu Maryam) dan tidak mengakui kebenaran Alkitab (Taurat, Zabur / Mazmur dan Injil / Perjanjian Baru) maka yang salah bukan ummat islam, akan tetapi para ulama yang telah berbuat melampaui batas-batas kepatutan.
  5. Guna membuktikan kebenaran alqur’an dan mengakhiri permusuhan antara ummat islam dan ummat nasrani sebagai akibat dari perbuatan Bapa Pendeta yang telah menyombongkan diri dan para ulama yang terbatas pengetahuannya tentang alqur’an, maka Tuhan mendambakan kemunculan seorang sosok yang bergelar Imam Mahdi / Yesus Kristus untuk mempersatukan mereka ke dalam tangan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Demikianlah artikel sederhana ini kami tuliskan, semoga membawa manfaat dan dapat menyadarkan serta mencerahkan logika dan akal fikiran kita. Amin.

Senin, 31-3-2014

(Hari Raya Nyepi)

SATRIA (PININGIT), PRESIDEN KE-7 ADALAH JOKO LELONO

Download Artikel

SATRIA (PININGIT), PRESIDEN KE-7 ADALAH JOKO LELONO
Oleh: Cakra Ningrat

Bangsa Indonesia sebentar lagi akan melaksanakan perhelatan akbar, pesta demokrasi berupa penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di DPR, DPD, DPRD Tk.I Propinsi dan DPRD Tk. II Kabupaten/ kota. Tanggal 9 April 2014 kemudian setelah itu bangsa Indonesia kembali mengikuti pemilihan umum tanggal 9 Juli 2014 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Itu berarti bangsa Indonesia akan mengikuti pemilihan umum sebanyak 2 (dua) kali.
Tentu saja hal itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 oleh karena dalam pasal 22E disebutkan:

1)      Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil setiap lima tahun sekali

2)      Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Setelah diadakan uji materi (judicial review) UU no. 42 Tahun 2008 tentang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden terhadap UUD 45 oleh Mahkamah Konstitusi maka hakim konstitusi  di satu sisi berpandangan, berberapa Pasal UU no. 42/2008 tentang pemilu Presiden dan Wakil Presiden bertentangan dengan UUD 1945, sehingga pasal-pasal tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Namun di sisi lain Mahkamah Konstitusi berpandangan bahwa pemilu serentak baru akan diberlakukan tahun 2019 dan seterusnya.

Keputusan MK No. 14/PUU-XII/2013 tanggal 23 Januari 2014 menyatakan bahwa pasal-pasal dalam UU N0. 42 Tahun 2008 tentang pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan setelah pemilu legislatif dianggap tidak berlaku lagi. Namun di sisi lain MK memutuskan pemilu serentak baru bisa dilaksanakan 2019. Jelas keputusan MK ini bertentangan dengan UU MK Pasal 4F yang memerintahkan keputusan MK berlaku sejak keputusan hakim dibacakan. Keputusan tersebut bersifat mengikat.

Bila keputusan MK ditunda pelaksanaanya ke tahun 2019 maka keputusan itu tidak mengikat. Siapapun pemimpin (Presiden) yang dihasilkan dalam pemilu kali ini sifatnya tidak mengikat, tidak legal dan tidak kontitusional. Ini semua disebabkan oleh ulah segelintir orang yang haus akan kekuasaan. Terlena oleh pangkat dan kedudukan yang menyilaukan mata. Terlena dengan empuknya duduk di kursi dan menikmati fasilitas jabatan.

Kenikmatan hidup yang berkecukupan. Kemewahan fasilitas yang termanjakan dipersembahkan dan disediakan oleh rakyat yang sebagian besar masih hidup dalam derita dan penderitaan. Rakyat yang sabar dan lugu. Rakyat yang serba salah dan bingung dalam memilih buah simalakama. Bila ikut pemilu maka ikut serta memilih pemimpin inkonstitusional. Bila tidak ikut pemilu maka membiarkan pemimpin yang inkonstutisional terpilih dan berkuasa. Namanya pesta demokrasi, maka rakyatpun tahunya ikut serta larut dalam pesta meski tidak tahu akan adanya bahaya di depan mata.

Ratusan tahun lalu, leluhur-leluhur kita sudah memprediksi bakal terjadinya bahaya yang bakal menimpa anak-cucunya. Leluhur kita menyebut bahaya besar itu sebagai GORO-GORO yang menyebabkan bangsa ini chaos. GORO-GORO atau GARA-GARA dapat diartikan sebagai sebuah kasus hukum atau perkara hukum yang keputusannya menyalahi hukum dan pelaksanaannya berdasarkan ketetapan hukum yang salah. Kita akan memilih pemimpin (Presiden) yang inkonstitusional. Kelak pemimpin yang salah akan memimpin rakyat yang salah. Inilah goro-goronya.

Oleh karena kesalahan kita sudah sangat mendasar dan menyeluruh maka leluhur-leluhur kita akan bangkit dari kuburnya. Tuhan akan membangkitakan leluhur kita dengan dasar hukum:

  1. Kita telah salah memilih pemimpin sebagai mana yang diamanahkan oleh UUD 1945 yang dibuat oleh leluhur kita. Kemerdekaan bangsa ini bukan hadiah atau pemberian akan tetapi perjuangan panjang para leluhur yang telah mengorbankan nyawa dan hidupnya dimasa lalu.
  2. Kita telah menyia-nyiakan dan mempermain-mainkan nasehat leluhur seakan-akan kita lebih tahu segalanya. Kita ingin mendapatkan pujian meski itu hanya sesaat sementara kita tidak tahu bahwa sesungguhnya kita salah dalam menerjemahkan nasehat leluhur.

Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia tidak akan mampu mengatasi dan mengamankan keadaan sebab mereka juga punya leluhur. Leluhur kita sangat banyak. Mereka seperti benang kusut karena adanya ikatan kawin-mawin di masa lalu sampai kita ini ada sekarang. Jumlah mereka lebih banyak di banding kita yang hidup saat ini.

Mereka semua merasa berhak atas diri kita. Mereka memperebutkan kita untuk dibawa ke jalan yang benar. Yaitu jalan untuk menemukan pemimpin yang benar. Tidak dapat dibayangkan kekacauan yang ditimbulkannya. Tidak ada lagi hukum yang dapat mengatur dan menertibkan keadaan itu. Sungguh mengerikan!.

Keadaan mengerikan itu sudah lama diwasiatkan oleh leluhur kita, akan tetapi kitalah yang mengabaikannya. Kita terlalu sombong dan sok tahu dalam menafsirkan nasehat-nasehat mereka. Nasehat mereka saya sebut sebagai PESAN LELUHUR. Pesan ini saya copy-paste dari blog SPTM seperti berikut ini:

Pakem yang kami uraikan ini hampir tidak pernah didengar atau dibicarakan oleh publik karena tidak pernah dipublikasikan. Pakem ini hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang jumlahnya pun sangat terbatas karena penyampaiannya hanya dilakukan secara temurun dari orangtua kepada anak-anaknya. Pakem ini disampaikan oleh Imam Masdariyanto, seorang mantan Kepala Desa di Jember, Jawa Timur. Ia memperoleh pakem ini dari ayahnya, Syamsul, seorang carik (sekretaris desa) Desa Srengat Blitar, pada 1972.
 
ROJO HERU COKRO KASIO-SIO
 
Timbule Rojo Kapisan, Besuk ing tanah Jawa ono rojo tanpa serat kang paring asma Heru Cokro, yaiku Raja kang isa ngangkat martabate bangsa. Lengsere Heru Cokro besuk yen ono gunung-gunung padha jugrug wong wadon angger wani.
 
Munculnya Raja pertama, besok ditanah Jawa ada raja tanpa serat yang bernama Heru Cokro yaitu Raja yang bisa mengangkat martabat bangsa. Lengsernya Heru Cokro kalau ada Gunung-gunung pada meletus dan wanita menjadi berani.
 
ROJO ASMORO KINGKIN ANGKORO ARTO
 
Timbule Raja Kapindho, Gara-gara anane udan salah mangsa, lintang kemukus ing wetan parane, yen parak esuk nagtanake sunare. Patondho Jawa bakal ana perkara kang luwih gede saka pagebluk wulan sura bareng karo metuni macan loreng aran Asmara Kingkin.
 
Munculnya raja kedua gara-gara adanya hujan salah musim, komet disebelah selatan pada saat hampir pagi hari memunculkan cahayanya pertada jawa akan ada perkara yang lebih besar daripada kelaparan (krisis pangan) dibulan suro bersamaan dengan keluarnya Macan belang bergelar Asmoro Kingkin.
 
Asmara Kingkin dadi raja ing tanah Jawa akeh kawula kang ora ngerti apa-apa dadi tumbaling Negara, lampus saka tangane Asmara Kingkin. Asmara Kingkin dadi raja ing Tanah Jawa misuwur tumekane monco negara.
 
Asmoro Kingkin menjadi raja ditanah jawa banyak masyarakat yang tidak tahu apa-apa menjadi tumbalnya Negara yang dilakukan oleh tangannya sendiri Asmoro Kingkin. Asmoro Kingkin menjadi raja ditanah jawa tersohor sampai keluar negeri.
 
Besuk yen wis teko titi mangsa lengsere Asmara Kingkin yo kuwi soko turune dhewe. Lan yen wis ono wong kang kerokan lan glindingan. Senuk-senuk padha mlaku yaiku pratandha lengsere Asmara Kingkin.
 
Besok pada waktunya, lengsernya Asmoro Kingkin disebabkan oleh turunan (anaknya) sendiri. Dan kalau sudah ada orang yang mengeruk dan menggilas. Senuk-senuk berjalan, itulah pertanda lengsernya Asmoro Kingkin.
 
ROJO SOKO SEBERANG
 
Timbule Raja Katelu, Besuk ing Tanah Jawa ono raja anyar kang ora disangka-sangka pawongan iku saka tanah sebrang peparap Mak Kasar. Dadi raja ing Tanah Jawa suwene mung sak umur bayem, nanging Tanah Jawa ora malah tenterem mung ndadekne kocar-kacire bangsa lan negara. Akeh wong Jawa padha keplayu metu saka negarane dewe. Raja Mak Kasar nyuwil negara kang ana sisih wetan panggone. Yoiki pratandha lengsere Raja Mak Kasar.
 
Munculnya raja ketiga, kelak ditanah jawa ada raja baru yang tidak disangka. Orang tersebut dari seberang (luar jawa) bernama Mak kasar. Menjadi Raja ditanah jawa Umurnya hanya sebentar (tanaman bayam), namun Tanah jawa jadi tidak aman (tentram) malah menjadi kacau balau, banyak orang jawa berlarian meninggalkan Tanah jawa karena Raja Makkasar Minta negara bagian Timur. sebagai pertanda jatuhnya Raja Makkasar. (Lengser keprabon)
 
ROJO TANPO NETRO
 
Timbule Raja Kapapat, Ono raja saka tanah Arab kang peparab Samsudin. Raja tanpa netra bisa maca, tanpa suku bisa mlaku ngupadi turune Heru Cokro.
 
Munculnya raja keempat, ada raja dari Arab yang bernama Samsudin. Raja tanpa mata bisa membaca, tanpa kaki bisa berjalan mencari keturunan Heru Cokro.
 
Samsudin dadi raja para kawula alit lir kados medale laron sing kurang duga, tumpang suh mabure. Opo wae digampangake. Para manggalaning praja mantra bupati ora ana ajine. Ya kuwi lengsere Samsudin.
 
Samsudin menjadi raja rakyat kecil bagaikan keluarnya laron yang berserakan, terbang tak beraturan. Apa saja digampangkan. Para abdi Negara tidak menghormati ucapan bupati. Itulah lengsernya samsudin.
 
ROJO TUNO WICORO
 
Timbule Raja Kaping Limo, Raja Samsudin nuli nimbali mego ingkang sampun kacandhak. Ature Raja Samsudin, “Panjenengan sejatine turune Heru Cakra kang bisa nentremake negara ing Tanah Jawa. Aku enggal pamit marang sliramu, aku arep bali nang negaraku. Iki wis rampung anggonku ngupadi sliramu. Ayo padha samat-sinamatan, kajen-kinajenan. Sliramu wis jumeneng dadi ratu ing Tanah Jawa, kula semanten ugi mugi-mugi saged damel sireping negari sak mentawis.
 
Munculnya raja kelima, samsudin kemudian memanggil mega/awan yang sudah didapatnya. Raja samsudin berkata “anda sebenarnya adalah keturunan Heru Cokro yang bisa mententramkan Negara tanah jawa. Aku segera pamit kepadamu, aku akan kembali ke negaraku. Ini sudah selesai pencarianku terhadapmu. Mari kita saling memperhatikan dan saling menghargai. Anda sudah menjadi ratu di tanah jawa, demikian juga saya semoga bisa menjadi damainya Negara ini sementara.
 
ROJO NOTO KUSUMO
 
Timbule Raja Kaping Enem, Bebarengan karo ki dhalang mundhut lakone lahire Batharakala, ana satriya kang sulistya ing rupa kang gentur tapane akeh prihatine anduweni gegaman saka wong tuwane jejuluk Kyai Samber Nyawa, ya kuwi raja ing Tanah Jawa peparap Nata Kusuma kang bebarengan satriya saka Tanah Sebrang sing kasusupan sukmane batharakala. Jumenenge Natakusuma dadi raja ananing negara akeh prahara. Kawula padha kaweden, yaiku pratandha lengsere Natakusuma.
 
Munculnya raja keenam, bersamaan dengan kidalang mengambil lakon lahirnya Batharakala, ada satria yang berwajah tampan yang rajin bertapa banyak prihatinnya (tingkat spiritual yang tinggi) mempunyai senjata dari orangtuanya yaitu kiyai Sambar Nyawa, inilah raja ditanah Jawa bergelar Noto Kusumo yang bersamaan dengan satria dari seberang yang ke susupan sukmanya Bhatarakala. Pada saat Noto Kusumo menjadi raja Negara banyak terjadi prahara, rakyat pada ketakutan, itulah pertanda lengsernya Noto Kusumo.
 
ROJO JOKO LELONO PRANOTO NUSWANTORO
Raja Pemuda Pengembara Penata Nusantara
 
Timbule Raja Kaping Pitu, Ing Tanah Jawa ana sawijining padepokan sisih kulone Gunung Jamur Dipo. Ana Begawan kang apeparap Begawan Srikilokilo. Begawan Sriklokilo kagungan putra kakung aran jaka Lelana.
 
Munculnya raja ketujuh, ditanah jawa ada suatu padepokan disebelah barat gunung Jamur Dipo. Ada guru bernama Begawan Srikilokilo. Begawan Srikilokilo mempunyai anak lelaki bernama Joko Lelono.

Begawan Srikilo-kilo mlayu saka Tanah jawa , kalunta-linta uripe ing negara manca. Ora pati-pati bali ing tanah Jawa yen during Raja Heru Cakra lengser kepabron saka Tanah Jawa. Sak lengsereipun Raja heru Cakra, begawa Sriklokilo bali ing Tanah Jawa madhepok ing sukuning Gunung Jamur Dipo. Nggulawentah kang putra jaka Lelana kagambleng wonten kawah candradimuka dadiyo satria pilihan kang besuke ngabdi marang Asmara Kingkin.

Begawan Srikilokilo lari dari tanah jawa, hidup terluntah-luntah diluar negeri. Tidak akan kembali ketanah jawa sebelum raja Heru Cokro lengser dari tanah jawa. Setelah lengsernya Heru Cokro, Begawan Srikilokilo kembali ketanah jawa mendirikan padepokan dikaki gunung Jamur Dipo. Mendidik sang putra Joko Lelono sehingga menjadi satria tangguh yang kelak mengabdi kepada Asmoro Kingkin.

Uripe Jaka Lelana ora beja, malah nemuhi rubida lan tansah urip kalunta-lunta kasiya-siya. Ananging Gusti Kang Maha Kuwasa kang njangkung satindake Jaka Lelana kang besuke bakal dadi Raja ing Tanah Jawa ngganti lengsere Raja Natakusuma.
Hidup Joko Lelono kurang beruntung, selalu menemui halangan, terluntah-luntah dan selalu tersia-siakan, tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa yang membimbing perjalanan Joko Lelono yang kelak akan menjadi Raja ditanah jawa menggantikan Raja Noto Kusumo.

PENAFSIRAN CAKRA NINGRAT
Rojo Heru Cokro Kasio-sio adalah presiden ke-1 Ir. Soekarno
Rojo Asmoro Kingkin Angkoro Arto adalah presiden ke-2 Soeharto
Rojo Soko Seberang adalah presiden ke-3 B.J. Habibie
Rojo Tanpo Netro adalah presiden ke-4 Abdul Rahman Wahid
Rojo Tuno Wicoro adalah presiden ke-5 Megawati Soekarno Putri
Rojo Noto Kusumo adalah presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono

Pesan leluhur mengatakan:

Munculnya raja keenam, bersamaan dengan kidalang mengambil lakon lahirnya Batharakala, ada satria yang berwajah tampan yang rajin bertapa banyak prihatinnya (tingkat spiritual yang tinggi) mempunyai senjata dari orangtuanya yaitu kiyai Sambar Nyawa, inilah raja ditanah Jawa bergelar Noto Kusumo yang bersamaan dengan satria dari seberang yang kesusupan sukmanya Bhatarakala. Pada saat Noto Kusumo menjadi raja Negara banyak terjadi prahara, rakyat pada ketakutan, itulah pertanda lengsernya Noto Kusumo.

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (Rojo Noto Kusumo) dilantik dan diambil sumpahnya tanggal 20 Oktober 2004 di depan sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Bersamaan dengan itu kidalang mengambil lakon lahirnya Batharakala. Bersamaan dengan itu pula ada satria dari seberang yang kesusupan sukmanya Batharakala.

Apa yang dimaksud Batharakala dan siapakah yang dimaksud satria dari seberang yang kesusupan sukmanya Batharakala. 

Dalam pewayangan Jawa. Batharakala disebutkan sebagai putera Bathara Guru dengan istrinya Dewi Uma. Hubungan terlarang keduanya terjadi di atas kendaraan Lembu Nandini. Sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, Bathara Guru menyumpah-nyumpah bahwa tindakannya seperti perbuatan “Butho” (bangsa raksasa) seketika itu juga Dewi Uma yang tengah mengandung berubah menjadi raksasa dan berganti nama sebagai Batari Durga. Batara Guru mengusir Batari Durga dari kayangan kemudian Batari Durga melahirkan anak yang juga raksasa dan dinamakan “kala.”

Dalam dunia raksasa tidak dikenal adanya norma-norma perkawinan. Batharakala pun menjadikan Batari Durga sebagai isterinya. Keduanya selalu membuat onar marcapada (bumi) karena mereka dendam pada Bathara Guru. Karena khawatir dengan kerusakan yang ditimbulkannya maka Bathara Guru mengakuinya sebagai anak dan memberinya nama sebagai Batharakala. Batharakala meminta makanan dan Bathara Guru memberinya makanan yaitu manusia dengan aturan-aturan dan ketentuan yang diatur oleh Bathara Guru. Untuk menghindari diri dari dimangsa oleh Batharakala harus diadakan upacara-upacara ruwatan. Di dalam pedalangan untuk lakon-lakon seperti itu disebut lakon murwakala atau lakon ruwatan.

Raksasa Batharakala memiliki wajah yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Suka memakan manusia. Bila ada manusia yang akan mendapatkan karma jahat maka pasti dia berurusan dengan Batharakala. Batharakala bersifat memaksa semua orang untuk tunduk pada batas usianya. Dimana ada kematian, di situ ada Batharakala. Selain sebagai waktu “kala” juga berarti hitam.

Kembali kepada para leluhur yang mengatakan “munculnya raja ke enam bersamaan dengan ki dalang mengambil lakon lahirnya Batharakala.” Pesan ini mengandung nilai kebenaran universal. Fakta hukumnya; Hanya dua bulan setelah dilantik, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, di luar perkiraan semua orang gempa dan tsunami Aceh terjadi. Bencana itu disusul dengan bencana-bencana lainnya. Sampai saat ini bencana terus berlanjut hingga berakhirnya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Sudah ratusan ribu nyawa melayang, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain mati begitu saja menjadi santapan lezat Dewa Batharakala.

SATRIA DARI SEBERANG KESUSUPAN SUKMANYA BATHARAKALA.

  • Satria dimaksud adalah seorang pemuda. Pemuda bukan berarti anak muda. Umur 20 ke bawah dianggap anak-anak. Umur 20-40 disebut anak muda. Umur 40-60 digolongkan Pemuda. Usia 60-80 dinamakan orang tua. 80-up disebut manula atau sepuh. Satria diartikan sebagai seorang laki-laki yang gagah, berani, cerdas dan kuat.

Dari seberang diartikan sebagai tempat Satria itu berasal. Kita tidak tahu di seberang laut mana Satria itu berada. Kita hanya bisa memastikan bahwa Satria itu tidak berada di pulau Jawa sebagai asal munculnya pesan leluhur ini. Bisa saja Satria itu berasal dari tempat yang sama dengan ROJO SOKO SEBERANG, yaitu MAKASSAR.

  • Satria yang berada di seberang pulau Jawa itu kesusupan sukmanya Batharakala. Sukma diartikan sebagai jiwa atau roh. Jiwa Satria disusupi oleh jiwa atau roh Batharakala. Bila Batharakala yang menang maka yang disusupi akan mati dimakan oleh raksasa kejam, seram dan menakutkan. Bila Batharakala yang kalah maka yang mengalahkannya disebut SATRIA (Yang Tak Terkalahkan). Kemenangan Satria disebabkan karena dia bersenjatakan TRISULA WEDA. Senjata itu milik Bathara Guru (Dewa Siwa), atau ayah dari Batharakala.

Batharakala harus menjalani karmanya sendiri. Jika awalnya dia berulah membuat onar di muka bumi untuk menarik perhatian dan diakui sebagai anak oleh Bathara Guru (Dewa Siwa), maka sekarang Batharakala harus terus berulah membuat masalah dan memakan korban untuk menarik perhatian orang agar orang-orang mengakui SATRIA DARI SEBERANG SEBAGAI SATRIA (PININGIT) SEJATI yang telah mengalahkannya.

ROJO JOKO PRANOTO NUSWONTORO.

Munculnya raja ketujuh, di tanah Jawa ada suatu padepokan di sebelah barat gunung Jamur Dipo. Ada guru bernama Begawan Srikilo-kilo. Begawan Srikilo-kilo mempunyai anak lelaki bernama Joko Lelono.

Gunung Merapi yang kita kenal sekarang ini awalnya hanya tungku perapian. Di dekatnya ada dua orang empu kakak beradik bernama Empu Rama dan Permadi membuat keris pusaka Tanah Jawa. Para dewa sudah memperingatkan pada kedua empu tersebut agar memindahkan kegiatannya, tetapi keduanya bersikeras menolak. Keduanya teguh pada pendiriannya untuk membuat pusaka di tengah pulau Jawa. Karena sudah diperintahkan dan mereka tetap menolak maka para dewa mengangkat gunung Jamur Dipo yang berada di laut selatan dan dijatuhkan ke perapian. Empu Rama dan Empu Permadi terkubur hidup-hidup. Untuk mengenang peristiwa itu maka gunung Jamur Dipo yang jatuh di perapian disebut dengan nama GUNUNG MERAPI. Roh kedua empu yang mati diangkat sebagai raja terhadap mahkluk-mahkluk halus yang menempati gunung merapi.

Gunung Jamur Dipo adalah intisari (saripati) yang merupakan cikal bakal atau asal muasal Gunung Merapi. Dapat dikatakan Gunung Jamur Dipo merupakan Gunung Sari (inti)daripada Gunung Merapi. Di sebelah barat GUNUNG SARI (Gunung Jamur Dipo) itulah berdiri sebuah padepokan yang merupakan tempat tinggal Joko Lelono. Joko Lelono adalah putera tunggal atau titisan dari Guru Agung yang bernama Begawan Srikilo-kilo. Begawan Srikilo-kilo adalah  nabi Hidir alaihissalam. Mahaguru dari guru segalanya.

Begawan Srikilo-kilo lari dari tanah Jawa, hidup terluntah-luntah di luar negeri. Tidak akan kembali ke tanah Jawa sebelum raja Heru Cokro (Soekarno) lengser dari tanah Jawa.

Begawan Srikilo-kilo tidak suka bahkan sangat membenci Heru Cokro (Soekarno) karena Presiden Soekarno membiarkan orang-orang atheis (tidak mempercayai Tuhan) yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) menguasai tanah Jawa dan orang-orang Jawa.

Setelah lengsernya Heru Cokro, diperkirakan antara tahun 1967-1969, nabi Hidir alaihissalam (Begawan Srikilo-kilo) sudah berada di Indonesia mendirikan padepokan di kaki Gunung Jamur Dipo atau di kaki GUNUNG SARI.
Begawan Srikilo-kilo mendidik sang putera Joko Lelono sehingga menjadi satria tangguh yang kelak mengabdi kepada Asmoro kingkin.

Asmoro Kingkin diartikan sebagai “gemar berperang.” Kegemaran ini melekat dalam diri pribadi Presiden Soeharto. Karir militernya mulai menanjak sejak perang melawan agresi kedua Belanda Tahun 1948 di Yogyakarta bersama-sama dengan Panglima Jendral Soedirman. Tahun 1962, Presiden Soekarno mengangkat Soeharto sebagai panglima perang Operasi Mandala untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Pusat Komando Operasi bertempat dan berkedudukan di Makassar. Menetapkan dirinya selaku panglima perang menumpas G 30 S/PKI hingga ke akar-akarnya. Saat menjabat presiden memerintahkan perang untuk merebut Timor-Timur. Memerintahkan perang melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sejarah mencatat, Soeharto akan membungkam, menumpas dan memerangi siapapun yang bersebrangan atau tidak mendukungnya. Pemerintahannya disebut fasis otoriter yang dikemas dalam sebuah sistem yang disebut “demokrasi pancasila.”

Pengabdian Joko Lelono kepada Asmoro Kingkin dimaksudkan sebagai satu bentuk kepribadian yang melekat dan menyatu dalam kehidupannya yang senantiasa diwarnai dengan aroma perang sejak masa kecil, dewasa hingga Joko Lelono dapat mengalahkan Batharakala. Selain sebagai dewa waktu, Batharakala juga diartikan sebagai hitam. Dalam iman kristiani, Batharakala diartikan sebagai MALAIKAT KEGELAPAN. Oleh karena Satria tangguh telah mengalahkan malaikat kegelapan (penguasa kegelapan) maka di suatu waktu kelak segalanya menjadi terang benderang. Saat itulah kita akan mengenal siapa yang sesungguhnya satria kebanggaan seluruh dewa-dewa, Maha Putra, Putra Tunggal Begawan Srikilo-kilo (titisan nabi Hidir alaihissalam).

“Hidup Joko Lelono kurang beruntung, selalu menemui halangan, terluntah-luntah dan selalu tersia-siakan.”

Itu disebabkan karena semua orang memusuhinya. Tidak ada yang mendukungnya. Segala bentuk-bentuk penghinaan telah diterimanya. Segala bentuk-bentuk penderitaan telah dirasakannya. Namun begitu Joko Lelono tetap tangguh, kuat, tabah, dan sabar dalam menjalani takdir hidupnya. Dia sangat cerdas, banyak akal dan panjang akal dalam bersiasat. Disebut Joko Lelono (pemuda pengembara) karena kegemarannya mengembara. Dia gemar berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari satu alam ke alam lain. Dia tidak piningit (bersembunyi), justru sebaliknya dia aktif dan sangat reaktif. Dia memiliki naluri yang sangat bagus, insting yang sangat tajam terhadap pergerakan siapapun yang dianggapnya musuh atau memusuhinya. Dia selalu memberi sinyal-sinyal tentang kehadiran dan keberadaanya, akan tetapi hanya anak-anak indigo saja yang mampu menangkap sinyal gelombang elektromagnetik yang dipancarkannya.

  • Dikatakan hidupnya kurang beruntung tapi selalu untung pada akhirnya
  • Selalu menemui halangan tapi semua aral yang merintangi jalannya bisa dilaluinya dengan selamat
  • Dianggap hidupnya terluntah-luntah tapi tinggal di dalam mahligai istana dengan penuh fasilitas dan segala kemewahan
  • Disebut selalu tersia-siakan tetapi mendapatkan pelayanan dan penghormatan melebihi pejabat apapun
  • Itu semua disebabkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa selalu membimbing perjalanan Joko Lelono yang kelak akan menjadi Raja di tanah Jawa menggantikan Raja Noto Kusumo.

Dia disebut ROJO JOKO LELONO PRANOTO NUSWANTORO
Pemuda pengembara penata Nusantara
Pemuda pengembara pembawa sifat Keagungan Tuhan
Pemuda pengembara pembawa sifat Kemuliaan Tuhan
Pemuda pengembara yang mengabdikan dirinya hanya pada Tuhan.

Demikian penafsiran kami terhadap PESAN LELUHUR sebagaimana yang Admin blog SPTM harapkan. Diduga pesan leluhur yang kami kaji dan tafsirkan di atas sudah berusia ratusan tahun melebihi usia ramalan Ronggowarsito yang kita kenal selama ini. Cakra Ningrat berpendapat, pesan leluhur tersebut berasal dari leluhur kita yang memiliki latar belakang keyakinan agama Hindu atau sinkretisme Syiwa-Buddha. Terkesan pesan ini “terpinggirkan” padahal di dalam pesan itu banyak terpendam mutiara hikmah yang dapat kita petik untuk kita jadikan pelajaran yang sangat berharga. Pesan ini menjadi aktual untuk diperbincangkan mengingat banyaknya pendapat-pendapat orang-orang yang menyebut dirinya memiliki keahlian akan tetapi kajian dan penafsirannya terkesan seperti hand phone usang yang berganti casing.

Demi menjunjung tinggi asas rasionalitas dan obyektifitas artikel ini, dianggap patut tentunya bila “pesan leluhur” kita sandingkan dan perbandingkan dengan Ramalan Ronggowarsito.

Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873) seorang pujangga besar dan terlahir di tanah Jawa. Nama aslinya adalah BAGUS BURHAM, di masa mudanya pernah nyantri dan berguru agama islam pada Kiyai Imam Besaire, di pondok pesantren Gerbang Tinatar, Tegalsari-Ponorogo. Mendapat pencerahan di sungai Kedungwati sehingga dikenal sebagai pemuda alim yang pandai mengaji. Puncak karir Bagus Burham saat diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa BAGUS BURHAM (Ronggowarsito) meramalkan ada 7 Satrio yang dikemudian hari memimpin wilayah seluas wilayah bekas kerajaan “Majapahit” yaitu:

  1. SATRIO KINUNJURO MURWO KUNCORO. Ditafsirkan sebagai Soekarno
  2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Ditafsirkan sebagi Soeharto
  3. SATRIO JINUMPUT SUMELAATUR. Ditafsirkan sebagai B.J Habibie
  4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Ditafsirkan sebagai Abdul Rahman Wahid
  5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Ditafsirkan sebagai Megawati
  6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Ditafsirkan sebagai Susilo Bambang Yudhoyono. Semua penafsir memiliki pandangan yang sama bahwa Presiden dapat saja selamat memimpin bangsa ini bilamana dapat bersinergi dengan Satrio Piningit.

Cakra Ningrat berpendapat penafsiran mereka sungguh sangat keliru. Bagaimana mungkin presiden dapat bekerja sama dengan sosok yang tidak diketahuinya. Penafsir terjebak dengan kata-kata “pambukaning Gapuro” menuju zaman keemasan. Mereka menganggap kemunculan Satrio (piningit) sebagai satu perkara mudah dan gampang.

PAMBUKANING GAPURO diartikan sebagai pembuka pintu gerbang. Gerbang yang dibuka itu bukan di awal masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, akan tetapi di ahir masa jabatannya atau 20 Oktober 2014, barulah gerbang itu terbuka yang menandakan bangsa Indonesia telah memasuki suatu masa atau zaman yang disebut sebagai zaman Kalabendu.

“Jaman Kalabendu werdinipun, estu Bebendu wahananeki, keh Jalma saluyeng rembug, dumadya prang lair batos.”

Jaman Kalabendu (diartikan) seNYATAnya seperti hukuman atas perbuatan buruk atau kekalutan keadaannya, banyak manusia saling bertengkar, menjadikan perang lahir dan bathin.

Jaman Kalabendu inilah yang ditafsirkan sebagai GORO-GORO. Aroma bau busuk goro-goro sudah mulai terasa sekarang ini dengan torehan segudang prestasi yang dilakukan oleh Komisi Pemberantas Korupsi dengan menangkapi para pembual, penipu, dan perampok uang rakyat. Menarik untuk dicermati prestasi yang telah diukir oleh putera dari MAKASSAR (Ketua KPK) yang telah menangkap dan memenjarakan:

  • JENG PUTRI INDONESIA (Angelina Sondakh)
  • SANG PENGADIL TERTINGGI YANG PEMADAT (Akil Mochtar, Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia)
  • SANG RATU (Ratu Atut Chosyiah, Gubernur Banten & dinastinya)
  • SANG PUTRA YANG MAU JADI PRESIDEN (Anas Urbaningrum)

Silahkan pembaca tafsirkan sendiri hikmah apa atau misteri apa yang terkandung di balik simbol-simbol atau julukan yang saya berikan terhadap keempat orang itu. Silahkan pembaca gothak- gathik- gathuk dan simpulkan sendiri.

7.   SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU

Pinandito diartikan sebagai seorang yang sangat alim seperti begawan namun bukan begawan, seperti ulama namun bukan ulama, seperti pendeta namun bukan pendeta, seperti pastor namun bukan pastor, seperti bikku namun bukan bikku, tegasnya seseorang yang sangat dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa, mewakili Tuhan (khalifatullah) didampingi (sinisihan) wahyu.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU adalah: SATRIA (PININGIT) SEBAGAI REPRESENTASI (MEWAKILI) TUHAN, DIDAMPINGI WAHYU. Setiap perkataan dan perbuatannya adalah wahyu. Semua yang dia lakukan semata-mata atas kehendak dan perintah Tuhan. Pemimpin itu tidak memiliki kepentingan kecuali apa yang dianggap penting oleh Tuhan. Pemimpin itu adalah Wahyu Tuhan, yang berjalan.

Pemimpin itu adalah Satria tangguh. Dia adalah Joko Lelono. Putera Begawan Srikilo-kilo. Satria perkasa andalan para dewa. Satria pandai dan pemberani yang dikagumi oleh para malaikat. Padepokannya disebelah baratnya GUNUNG SARI (Gunung Jamur Dipo). Dia akan memimpin bangsa Indonesia memasuki Jaman Kalasuba, Jaman Kalasumbaga dan Jaman Kalasutara. Gambaran suasana atau keadaan nusantara dan bangsa Indonesia yang akan ditata oleh Joko Lelono dapat diuraikan sbb:

a.   Jaman Kalasuba tegesipun, jaman suka wahananira keh jalmi, antuk kabungahan estu, rena lejar sakehing wong.

Jaman Kalasuba yang artinya, jaman suka ria keadaannya banyak orang mendapat kegembiraan, semua orang lega dan bahagia.

b.   Jaman Kalasumbaga puniku, werdi jaman misuwur wahananineki, keh jalma gawe misuwur, mrih kasusra ing kalakon.

Jaman Kalasumbaga itu artinya, jaman terkenal keadaannya, banyak orang mendapatkan nama, tercapai keinginan menjadi terkenal.

c.   Jaman Kalasutara rannipun, werdi jaman Alus wahananoreki, akeh jalma sabiyantu, ing budining karahayon.

Jaman Kala sutara artinya jaman halus keadaannya, banyak orang membantu, agar bertingkah laku menuju keselamatan.

Ketiga jaman di atas itulah yang dimaksud dengan jaman keemasan. Jaman keemasan hanya dapat terjadi apabila bangsa Indonesia sudah melalui jaman Kalabendu (goro-goro). Jaman keemasan itu dapat terwujud oleh karena Joko Lelono telah mengalahkan Batharakala, sang penguasa “Waktu Kegelapan.”

Interval waktu antara Kalabendu, Kalasuba, Kalasumbaga dan Kalasutara dapat dikatakan relatif singkat. Rentang waktunya tidak begitu lama sebagaimana yang selama ini kita bayangkan oleh karena Joko Lelono telah berhasil mengalahkan Batharakala (Dewa Kegelapan).

Dalam hukum sebab-akibat, bila “penguasa kegelapan” telah tersingkir maka dipastikan “penguasa terang” akan muncul menerangi kita. Saat itulah kita semua akan mengetahui, melihat dan menyaksikan siapa sesungguhnya Joko Lelono-Satrio Pinanditho Sinisihan Wahyu. Pemimpin Masa Depan Indonesia Jaya. Pemimpin yang akan menata nusantara menuju masyarakat adil dan makmur, masyarakat yang damai dan sejahtera di dalam Kasih Tuhan, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, toto tentrem kerto raharjo.

Demikian penafsiran kami terhadap Pesan Leluhur dan Ramalan Bagus Burham (Ronggowarsito). Semoga artikel ini dapat memberi kebaikan, membawa manfaat yang positif serta dapat mencerahkan kita semua. Amin.

Penutup:
Penulis bersikap skeptis dan masih menyisakan beberapa pertanyaan sbb:

  1. Leluhur kita berpesan, hanya 7 (tujuh) orang raja yang akan memerintah Indonesia. Jumlah ini sama dengan umlah yang diramalkan oleh Bagus Burham (Ronggowarsito) dengan sebutan 7 (tujuh) orang Satrio. Kenapa harus tujuh, bukan delapan, sembilan, atau sepuluh dan seterusnya.
  2. Jika BENAR memang hanya 7 (tujuh) orang raja atau Satrio, berarti saat ini kita sudah berada di dalam era “menjelang ahir zaman.” Kemunculan Raja atau Satrio ketujuh nanti, berarti sekaligus menandakan masa Ahir zaman.
  3. Jika BENAR saat-saat sekarang sudah masuk masa menjelang ahir zaman, lantas kapan waktu kemunculan tokoh yang dinanti oleh seluruh agama? Masing-masing agama sudah memiliki pakem tersendiri terhadap kemunculan tokoh pujaan mereka yang selama ini mereka nanti-nantikan. Ummat islam menanti kemunculan IMAM MAHDI, ummat Kristiani menanti turunnya YESUS KRISTUS (Isa Al-masih), ummat Hindu menunggu DEWA KALKI dan ummat Buddha menanti kehadiran BUDDHA METTEYYA.

Beberapa ahli yang memiliki kompetensi di bidangnya berpendapat: Satrio (piningit) merupakan personifikasi perwujudan nyata dari semua tokoh pujaan yang dinanti oleh ummat manusia. Setelah kemunculannya, Satrio (piningit) diberi julukan sebagai RATU ADIL oleh karena dalam kepemimpinannya dia mengaplikasikan sifat-sifat feminim Tuhan. Sifat-sifat feminim Tuhan diartikan sebagai sifat KASIH. KASIH TUHAN tidak diperuntukkan untuk satu golongan saja, tapi untuk seluruh ummat manusia yang dikehendaki Tuhan. Karena itulah Dia dijuluki RATU (sifat feminim Tuhan). Satrio (piningit) akan memperlakukan manusia secara ADIL tanpa melihat latar belakang agama mereka sebab Satrio (piningit) memiliki kedudukan/ tempat di atas semua agama-agama dan aliran kepercayaan.

Pendapat para ahli mendapat pertentangan dari sebagian kecil orang-orang spiritual dan orang-orang dangkal pengetahuan. Umumnya mereka membatasi bahwa Satrio (piningit) hanya sebatas duduk sebagai presiden saja, sementara orang-orang yang dangkal pengetahuannya menolak Satrio (piningit) dengan alasan nama atau gelar atau julukan Satrio (piningit) tidak dikenal dalam keyakinan agama yang mereka anut.

4.   Cakra Ningrat akan melakukan hipotesa sendiri terhadap sosok fenomenal Satrio (piningit) guna menjembatani perbedaan pendapat yang tengah berkembang. Satrio (piningit) bukan hanya milik suku Jawa, Madura, Makassar, Dayak, Sunda, Papua, dsb, tapi menjadi milik dan masalah bagi seluruh suku-bangsa yang ada di bumi dengan berbagai macam latar belakang agama dan kepercayaan mereka. Kajian dan penafsiran Cakra Ningrat akan ditulis dalam bentuk artikel dan diposting di blog SPTM ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberi kemudahan dan kekuatan kepada kami guna mengungkap misteri sosok fenomenal sejagad raya dengan harapan agar kita semua  memiliki visi yang sama dalam memandang kebenaran-Nya. Amin. (Kamis, 13-2-2014).

LEGAL OPINION

Download Artikel

LEGAL OPINION TERHADAP PERJANJIAN LAMA

PERJANJIAN TUHAN DENGAN KAIN/QABIL (BAG. 2)

Oleh: Cakra Ningrat

PENGANTAR:

Pada bagian pertama telah diungkap bagaimana Tuhan mengawali penciptaanNya dari SIFAT MENURUT. Wujud nyata sifat menurut pada alam semesta ini adalah BINTANG. Dari sifat menurut, Tuhan menciptakan SIFAT MELAWAN. Wujud nyata sifat melawan pada alam semesta ini adalah MATAHARI. Matahari melawan kegelapan maka terbitlah fajar, teranglah bumi. Manusiapun bangun untuk “melawan“ tidurnya. Mereka bangkit melakukan aktivitas dan mencari rezeki serta karunia Tuhan, dan sebagainya. Matahari tidak akan mungkin terus menerus melawan. Jika tiba waktunya matahari akan menurut. Matahari akan masuk kembali ketempat peraduannya. Sifat melawan akan kembali kepada awal penciptaannya yakni sifat menurut. Bumi digelapi oleh malam. Bintang gemintang bersinar terang menghiasi angkasa raya pertanda masuknya waktu “sifat menurut”. Manusiapun harus menurut dengan tidur/istirahat akibat kantuk yang tak tertahankan. Alqur’an mengatakan.

“Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (3 : 190).

Ummat islam diwajibkan mengerjakan shalat (sembahyang) sebanyak lima kali dalam sehari semalam dimana waktu pelaksanaannya telah ditetapkan sesuai firmanNya sebagai berikut:

1. “ Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat “ (QS 11 : 114)

Kata “tepi” memiliki dua makna yaitu tepi pada bagian awal dan tepi pada bagian ahir. Tepi siang (awal) waktunya jam 1200. Bila jam telah menunjukkan pukul 1200 maka ummat islam sudah bersiap-siap melaksanakan shalat dhuhur. Tepi siang (ahir) waktunya jam 1500 pertanda waktu telah masuk pelaksanaan shalat azhar. Jam 1800 pertanda waktu telah memasuki bagian permulaan dari pada malam. Ummat islam melaksanakan shalat magrib.

2. “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, (dan dirikanlah pula sholat subuh). Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh malaikat (QS 17 : 78).

Yang dimaksud sesudah matahari tergelincir adalah bilamana bianglala yang berwarna merah sudah tidak tampak lagi oleh mata kita di batas pandang cakrawala (ufuk barat). Waktunya jam 1900, ini adalah pertanda mulai masuknya waktu untuk shalat isha. Batas waktu shalat isha sampai gelap malam. Kata gelap malam dapat dimaknai sebagai waktu sebelum anda tidur. Sebelum matahari (fajar) terbit, pada jam 0500, ummat islam bangun untuk mendirikan shalat subuh.

Firman yang menyebut “sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh para malaikat” tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena firman di atas hanya mempertegas bahwa “subuh” atau jam 0500 pagi adalah batas waktu “SIFAT MENURUT” terhitung dimulai sejak jam 1900 atau waktu shalat isha. Adapun waktu SIFAT MELAWAN” adalah jam 0600 waktu permulaan pagi sampai dengan waktu permulaan malam jam 1800. Selisih waktu antara subuh dan permulaan pagi adalah satu jam demikian pula selisih waktu antara permulaan malam (magrib) dengan waktu tergelincirnya matahari juga adalah satu jam.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita harus bersikap arif, bijak dan kritis menggunakan logika kita masing-masing sebelum mengklaim sepihak diri sendiri sebagai pihak yang paling benar tanpa memahami substansi yang sangat mendasar atau inti masalahnya. Celakalah diri anda jika anda menyebut orang lain “salah” sementara anda juga bingung atau ragu untuk mengatakan bahwa diri anda “benar”. Karena itu; janganlah terlena dengan mulut manis ustadz atau untaian kalimat-kalimat indah yang anda baca di buku-buku karangan para ahli agama. Kalaupun anda tetap pada klaim subyektif anda maka jawablah pertanyaan di bawah ini:

Dalam alqur’an difirmankan: Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS 4 : 103).

Waktu-waktu shalat telah ditentukan sebanyak lima kali sehari semalam. Pertanyaannya; kenapa Tuhan menempatkan waktu-waktu shalat tersebut di dua surah dan ayat yang berbeda yaitu S11:114 dan S17:78 ???.

Silahkan anda jawab atau tanyakan kepada ustadz atau cari jawabannya di buku-buku karangan. Saya menjamin anda tidak akan mungkin mendapatkan sebuah jawaban yang pasti dan benar-benar dapat membuat intelektual anda tercerahkan.

A. SIFAT MENURUT

Cakra Ningrat memberi pendapat hukum bahwa: Penentuan waktu shalat pada surah dan ayat yang berbeda sebagaimana firmanNya di dalam alqur’an; karena Tuhan ingin menyampaikan pesan bahwa yang pertama-tama diciptakan Tuhan dalam penciptaan awal adalah SIFAT MENURUT. Wujud “sifat menurut” di alam semesta ini adalah BINTANG-BINTANG. Waktu “sifat menurut” di alam semesta ini adalah WAKTU MALAM. Firman Tuhan dalam alkitab (Kejadian 1 : 2) “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-melayang di atas permukaan air”. Dari firman tersebut dapat dikatakan kalau Roh Allah, air dan bintang-bintang memiliki SIFAT MENURUT. Oleh karena mulanya bumi ini gelap gulita maka “sifat menurut” memiliki waktu pada bagian MALAM. “Awal waktu sifat menurut ditandai dengan masuknya waktu shalat isha dan ahir waktu sifat menurut ditandai dengan masuknya waktu pelaksanaan shalat subuh.

Sifat menurut memiliki dua pengertian yaitu menurut untuk kebaikan dan menurut untuk kejahatan. Pada malam hari banyak tempat maksiat dibuka untuk memberi kemudahan dan kebebasan orang MENURUT pada pemuasan hawa nafsunya selain itu banyak juga orang yang MENURUT pada tipu muslihat syetan untuk berbuat kejahatan baik dengan cara berbisik penuh dengan bujuk rayu maupun dengan ilmu-ilmu sihir atau santet.

Untuk melindungi diri kita dari kejahatan malam alqur’an mengatakan: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan mahlukNya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS 113 : 1 – 5).

Firman di atas memberi penegasan kepada kita agar kita tidak ragu-ragu memposisikan TUHAN dan ALLAH pada posisinya masing-masing. Firman di atas memberi perintah kepada kita: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, ….”. Firman tidak menyebut: Katakanlah; “Aku berlindung kepada Allah yang menguasai subuh, …..”. Tapi firman memerintahkan kita untuk mengatakan: Katakanlah “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh….”. Kenapa? Karena TUHAN YANG MAHA MENCIPTAKAN. Cakra Ningrat tidak mengatakan Tuhan menciptakan Allah akan tetapi Cakra Ningrat mengatakan Allah adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan Tuhan. Allah memproteksi dan menjaga kerahasiaan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Tuhan ada di dalam Allah. Tapi Allah bukan Tuhan. Sungguh amat sangat tipis jaraknya bagaikan sehelai rambut dibelah tujuh akan tetapi justru ketipisannya itulah yang dapat menjauhkan anda dari jalan yang benar yaitu jalan menuju Tuhan.

Syetan mengetahui kalau Allah bukan Tuhan karena itu syetan sama sekali tidak takut apalagi gentar kepada Allah. Fakta hukum yang dapat kami kemukakan adalah betapa banyaknya orang-orang yang merasa dekat dengan Allah atau memuja dan menyembah Allah sebagai Tuhan yang justru melakukan kemaksiatan dan membuat kerusakan secara nyata. Bahkan kebanyakan dari mereka yang justru mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang diajarkan oleh syetan yang mereka kerjakan secara sadar dengan memperatasnamakan Allah.

Firman Tuhan pada surat Al Falaq (113:1-5) bukanlah sebuah bacaan biasa atau ucapan biasa yang perlu dikatakan oleh manusia. Firman di atas bersifat perintah, akan tetapi perintah itu tidak ditujukan kepada manusia. Perintah itu ditujukan kepada ALAM hususnya pada WAKTU MALAM. Waktu adalah bagian yang tak terpisahkan dengan ALAM SEMESTA ini. Perintah itu telah dilaksanakan dengan baik oleh alam sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya.

Guna mempertebal SIFAT MENURUT PADA KEBAIKAN, alqur’an menganjurkan kepada ummat islam untuk melaksanakan SHALAT MALAM. Sebagaimana firmanNya: Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS 17 : 79).

Penggunaan kata “mudah-mudahan” pada firman di atas dapat dimaknai sebagai sesuatu yang tidak dapat memberi kepastian bahwa bila seseorang sering melaksanakan shalat tahajjud lantas Tuhan harus menempatkan mereka ketempat yang terpuji. Shalat malam semata-mata hanya bertujuan agar orang yang melaksanakannya dapat mempertebal “sifat menurut pada kebaikan”. Hal ini didasari oleh firman Tuhan berikut ini:

“Hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Juga orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (QS 25: 63 – 64).

Orang-orang yang baik adalah orang yang memiliki SIFAT MENURUT PADA KEBAIKAN. Kepribadian orang itu adalah memiliki sifat dan bersikap rendah hati serta selalu mengucapkan kata-kata yang baik. Sifat menurut kepada kebaikan tidak hanya milik ummat islam saja, akan tetapi semua orang bisa saja masuk dalam kategori itu meskipun orang itu tidak beragama islam dan tidak pernah melaksanakan shalat malam.

SHALAT bukan tolok ukur sebuah Kebenaran. Tidak ada satupun ayat di dalam alqur’an baik secara terang-terangan maupun samar-samar yang dapat mengarahkan fikiran kita untuk menyimpulkan bahwa orang yang mendirikan shalat adalah orang yang benar. Shalat bertujuan agar orang yang mendirikannya atau melaksanakannya dapat tercegah dari perbuatan jahat atau mencegah diri dari berbuat jahat.

Difirmankan di dalam alqur’an:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 29:45).

Firman di atas dengan jelas menyebutkan bahwa shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.

B. SIFAT MELAWAN

Wujud nyata sifat melawan di alam semesta ini adalah MATAHARI. Pada siang hari manusia bangkit melawan tidur dengan melakukan aktivitas untuk hidup dan kehidupannya. Dalam alqur’an (Allah berfirman) “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51:56).

Makna “Jin” pada firman di atas adalah tingkat panasnya matahari pada jam 12.00 sampai dengan jam 15.00. Ummat islam wajib melaksanakan shalat di dua tepi siang yaitu shalat dhuhur pada jam 12.00 dan azhar pada jam15.00. Meskipun seluruh ummat islam melaksanakan shalat pada jam-jam itu, akan tetapi shalat tersebut tidak akan dapat mengurangi derajat panas teriknya matahari.

Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah sebab firman tersebut berkaitan dengan panas teriknya matahari antara dhuhur dan azhar atau waktu JIN. Manusia harus bisa menerima kenyataan tersengat oleh Jin atau terbakar oleh panas teriknya matahari sebagai bentuk kepasrahan manusia kepada apa yang diciptakan Tuhan. Pada jam-jam yang telah ditentukan Jin harus menyengat dan membakar karena pada awalnya memang seperti itulah yang diciptakan Tuhan. Hanya dengan tingkat panas seperti Jin itu saja yang dapat menyebabkan air di lautan menguap ke atas menjadi uap air di udara. Bila uap air ini sudah menyatu dalam bentuk gumpalan air maka air itu kembali diturunkan ke bumi dalam bentuk hujan.

Difirmankan: dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.(QS 45:5)

Sekali dalam sepekan ummat islam melaksanakan shalat Jum’at. Waktunya setelah masuk waktu “Jin” atau sekitar jam 12.30 – 13.00 siang. Dalam alqur’an difirmankan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual-beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka betebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karuniah Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS 62:9-10)

Pada hakekatnya shalat Jum’at bertujuan agar ummat islam dapat mengaplikasikan SIFAT MENURUT yang ada di dalam dirinya pada saat berlangsungnya waktu JIN. Agar “sifat menurut” manusia tidak salah arah di waktu berlangsungnya waktu “sifat melawan” maka telah difirmankan: Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang (membisikkan) kejahatan ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS 114:1-6).

Firman di atas tidak ditujukan kepada manusia untuk mengatakannya atau mengucapkannya. Firman tersebut bersifat perintah dan perintah itu ditujukan kepada alam. Bukan manusia yang harus melaksanakan perintah itu. Yang melaksanakan perintah itu adalah ALAM hususnya yang mengatur waktu pada SIANG HARI. Perintah itu telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang dikehendaki oleh TUHAN SANG PENCIPTA sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya.

Firman Tuhan dalam surah An-Nass (114: 1-6) banyak menyebut kata “manusia” oleh karena hanya pada siang hari saja manusia banyak melakukan aktivitas jual-beli dengan kata lain mengurus kehidupannya. Adalah sebuah ketidaklaziman dan tidak dapat dipungkiri bahwa dalam berintraksi terhadap sesamanya manusia (habluminannas) sangat sering manusia melupakan Tuhan bahkan acapkali meniadakan Tuhan. Ini disebabkan karena syaitan yang biasa bersembunyi membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia sehingga seorang bawahan menggantungkan nasibnya kepada atasannya, seorang prajurit kepada komandannya, murid kepada gurunya, menteri kepada presiden, dsb.

Firman yang mengatakan “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia” tidak bisa dimaknai secara harfiah. Demikian pula terhadap kata “Jin” tidak bisa diartikan sebagai suatu sosok gaib atau dimaknai sebagai panas teriknya matahari. Kata “Jin” yang dimaksud pada ayat ini adalah tingkatan “panasnya” dari NAFSU DUNIAWI dan AMBISI manusia. Nafsu yang ada di dalam diri manusia tersebut terkadang mendapat pengaruh atau penguatan dari manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya.

Manusia bisa saja menggantungkan semua pengharapannya kepada sesamanya manusia baik menggantungkan nasibnya maupun rezekinya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, namun hal itu tidak akan memberi pengaruh sedikitpun terhadap existensi Tuhan. Ini disebabkan karena Tuhan telah memerintahkan alam yang memiliki kekuasaaan pada WAKTU SIANG untuk memproteksi diri-Nya.

PERINTAH TUHAN KEPADA ALAM SEMESTA

Berdasarkan pada prinsip-prinsip hukum “penggenapan” maka alam semesta terdiri atas dua alam yaitu alam langit dan alam fana. Alam langit adalah alam yang tidak diketahui oleh manusia (gaib) sedangkan alam fana adalah alam yang diketahui oleh manusia (nyata). Dunia nyata beserta seluruh isinya adalah alam fana termasuk seluruh alam ruang angkasa, bintang-bintang, matahari dan bulan dsb sepanjang dapat dilihat atau diketahui oleh manusia dikategorikan termasuk di dalam wilayah alam nyata.

a. Perintah Tuhan kepada alam langit (gaib)

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.” (QA 112: 1-4).

Firman di atas merupakan perintah Tuhan kepada alam langit. Perintah itu sama sekali tidak ditujukan kepada manusia. Manusia tidak akan mungkin memahami dengan benar perintah itu sebab tidak ada manusia yang memahami alam langit dengan sebenar-benarnya. Meskipun begitu, ummat islam bisa saja mempelajari atau menafsirkannya akan tetapi dapat dipastikan bahwa apa yang mereka pelajari dan tafsirkan tidak dapat dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Referensi Langit

Dalam alqur’an difirmankan “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. (QS 17:1).

Masjidil Haram terletak di kota Mekkah dan Masjidil Aqsha terletak di Palestina. Kedua kota itu terpisah oleh jarak sepanjang ribuan kilo meter, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bila kita MENJALANINYA secara nyata (phisik) dengan mengendarai Unta. Oleh karena Tuhan MEMPERJALANKAN hambaNya yaitu Nabi Muhammad maka waktu yang dibutuhkan hanya hitungan detik saja. Perjalanan di malam hari ini dikenal dengan nama ISRA’. Pada malam itu juga perjalanan nabi Muhammad di lanjutkan dari Al Masjidil Aqsha di Palestina naik ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Perjalanan menuju langit dikenal dengan nama MI’RAJ. Ummat islam memahami mi’raj berdasarkan kisah atau riwayat yang diceritakan oleh sahabat-sahabat nabi. Sampai saat ini ummat islam masih berbeda pendapat tentang perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini. ada yang mengatakan nabi diperjalankan dengan jasadnya, namun ada juga yang berpendapat nabi diperjalankan secara batin. Isra’ dan Mi’raj adalah doktrin yang diimani oleh seluruh ummat islam.

Cakra Ningrat berpendapat; Isra’ dan mi’raj memiliki kedudukan hukum yang berbeda. Isra’ memiliki dasar hukum alqur’an, berarti berlaku untuk seluruh ummat manusia sedangkan Mi’raj dasar hukumnya hadist (kisah atau riwayat) nabi, berarti peruntukannya semata-mata hanya untuk internal ummat islam saja. Ummat islam tidak boleh menyalahkan ummat lain bila mereka menolak kebenaran alam langit termasuk perintah-perintah shalat sebagaimana yang diriwayatkan oleh nabi Muhammad. Ibadah shalat yang dilaksanakan oleh Ummat islam bukanlah sebuah KEBENARAN yang bersifat universal. Shalat tidak memberi jaminan keselamatan bagi yang melaksanakannya oleh karena shalat hanya bertujuan agar mereka yang mengerjakannya dapat terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat bukan satu-satunya cara untuk mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan tercela atau yang dilarang oleh aturan, baik oleh aturan agama maupun etika, budaya, norma dan hukum positif.

Firman yang menyebut “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena pada saat turunnya ayat tersebut Masjidil Haram di Mekkah belum ada dan Masjidil Aqsha di Palestina juga belum ada. Jika kedua mesjid itu belum ada, pertanyaannya adalah “apa yang dimaksud telah Kami berkahi sekelilingnya ?”. Penggunaan kata “TELAH” menandakan sesuatu yang sudah terjadi dalam bentuk lampau, akan tetapi fakta hukumnya Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha belum ada saat firman ini diturunkan. Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha hanyala AKIBAT. Patut bagi kita semua untuk mencari tahu apa yang menjadi SEBAB yang selama ini sengaja dirahasiakan Tuhan. Kita harus berangkat dari dasar hipotesa yang sama bahwa sedangkan yang ada di bumi saja dirahasiakan Tuhan apalagi yang di langit!.

Cakra Ningrat berpendapat bahwa yang menjadi SEBAB adalah karena terdapatnya BAIT Allah (Baitullah). Bait Allah inilah yang “telah” diberkahi di sekelilingnya kemudian dinamakan Al Masjidil Haram dan Al Masjidil Aqsha. Berangkat dari prinsip dasar hukum “PENGGENAPAN”, terdapat dua Bait Allah yang ada di Mekkah dan Bait Allah yang ada di Betelehem.

“Dalam alqur’an difirmankan: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat baribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS 3:96).

Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena firman menyebut “rumah yang MULA-MULA dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah). Jika ada yang MULA-MULA atau yang PERTAMA maka pasti ada yang KEDUA. Pertanyaannya dimanakah Bait Allah yang kedua ? Al Kitab menerangi kita dalam kitab Kejadian 28: 10-22 pada bagian MIMPI YAKUB DI BETEL. Firman tersebut adalah sebagai berikut:

Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan memakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara, dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi ini akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata: ”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.

Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.” (Kej. 28:10-22)

Bait Allah (Baitullah) atau Ka’batullah yang ada di Mekkah dan Bait Allah yang ada di Betelehem memiliki kedudukan hukum yang sama karena sama-sama diberkahi di sekelilingnya. Bait Allah yang ada di Mekkah dibangun oleh nabi Ibrahim bersama putranya Ismail, pada bangunan itu terdapat tanda-tanda yang nyata sebagaimana difirmankan dalam alquran sebagai berikut:

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (diantaranya) maqam Ibrahim, barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS 3:97)

Berbeda halnya dengan Bait Allah yang ada di Betelehem. Berawal dari mimpi Yakub bin Ishak bin Abraham (Ibrahim) yang bermimpi melihat tangga dari bumi yang berujung di langit. Nampak bagi Yakub malaikat naik-turun melalui tangga itu. Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman; Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenek-mu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engaku akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara, dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi ini akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata: ”Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.

Tugu yang didirikan Yakub adalah Tanda bahwa di situlah BAIT Allah yang KEDUA. Dibelakang hari kawasan itu diperluas oleh Nabi Daud kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaeman dan alqur’an menamakannya sebagai Al-Masjidil Aqsha.

Ummat nasrani meyakini bahwa Yesus Kristus (Isa Almasih) bangkit dari yang mati di hari yang ketiga kemudian ia datang mengunjungi murid-muridnya dan menyampaikan pesan-pesan kepada mereka. Beberapa hari kemudian Yesus Kristus naik ke langit. Pertanyaannya bagaimanakah cara Yesus Kristus naik ke langit ?

Cakra Ningrat berpendapat; Yesus Kristus (Isa Almasih) naik ke langit melalui sebuah tangga dari bumi yang ujungnya sampai di langit sebagaimana yang disaksikan Yakub di dalam tidurnya.

Ummat islam meyakini bahwa nabi Muhammad Mi’raj dari Al Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha di langit ke tujuh dengan mengendarai Bouraq. Bouraq digambarkan sebagai kuda terbang memiliki dua sayap dan kepalanya menyerupai wanita yang cantik jelita. Ini adalah pemahaman yang keliru dan mengada-ngada. Pertanyaannya dengan cara apakah nabi Muhammad naik ke langit ?

Cakra Ningrat berpendapat bahwa nabi Muhammad naik ke langit melalui sebuah tangga dari bumi yang ujungnya sampai di langit sebagaimana yang disaksikan Yakub di dalam tidurnya. Oleh karena itu Cakra Ningrat dengan tegas MEMBENARKAN bahwa nabi Muhammad benar-benar telah melakukan mi’raj atau naik ke langit ke tujuh.

Dalam alqur’an difirmankan: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS 53: 13-18).

Seluruh kisah-kisah ataupun riwayat saat nabi Muhammad berada di langit yang selama ini diimani oleh ummat islam sepatutnya ditolak kebenarannya karena tidak memiliki landasan hukum yang kuat dan bertentangan dengan firman pada surah 53: 13-18 tersebut di atas. Logikanya sangat sederhana; dikisahkan bahwa nabi Muhammad melihat orang disiksa di dalam neraka di langit ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, dan ke enam. Imposible! Neraka tidak mungkin berada di langit!. Dikisahkan pula bahwa nabi Muhammad naik turun dari langit pertama ke langit ke tujuh untuk menerima perintah shalat hingga tercapai kesepakatan shalat diwajibkan sehari semalam. Sebagai seorang moderat, Cakra Ningrat berpendapat bahwa kisah-kisah tersebut memiliki tujuan agar ummat islam mau mengerjakan shalat sebab shalat itu bertujuan mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Jika seseorang selalu berbuat keji dan mungkar maka kelak orang itu akan merasakan siksaan neraka. Kisah tersebut sangat subyektif dan tidak memenuhi unsur-unsur Kebenaran yang bersifat universal. Cakra Ningrat dengan tegas menolak kebenaran kisah itu.

Catatan: Bila pembaca ingin mengetahui keadaan rahasia langit yang sesungguhnya; Cakra Ningrat menyarankan kepada anda untuk membaca artikel SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL, di blog SPTM ini. penulis artikel itu tidak mencantumkan namanya.

Berangkat dari prinsip-prinsip hukum PENGGENAPAN maka dapat dikatakan bahwa tangga dari bumi yang ujungnya sampai ke langit sebagaimana yang disaksikan oleh Yakub di dalam tidurnya dapat disimpulkan bahwa tangga tersebut telah dua kali dinaiki yaitu yang pertama oleh Yesus Kristus (Isa Almasih) dan yang ke dua oleh nabi Muhammad SAW. Oleh karena tangga itu telah memenuhi kaidah hukum penggenapan maka tangga tersebut dianggap HAPUS DEMI HUKUM.

Tangga yang disaksikan oleh Yakub bukan tangga yang nyata. Tangga itu tidak dapat dilihat secara kasat mata. Tangga itu adalah TANGGA GAIB. Yesus Kristus dapat menaiki tangga gaib tersebut setelah beliau menemui kematiannya di tiang salib. Kematian Yesus semata-mata bertujuan untuk melepaskan dirinya dari belenggu jasadnya. Kebangkitannya adalah tanda Jasad melebur menjadi satu dengan jiwanya. Jiwa Yesus-lah yang menaiki tangga gaib itu. Bukan jasadnya.

Sama halnya dengan nabi Muhammad ketika mi’raj, yang naik ke langit bukan jasadnya akan tetapi jiwanya. Jiwanya keluar meninggalkan jasad beliau kemudian jiwa itu menaiki tangga gaib tersebut. Jasad sama sekali tidak bisa menembus langit.

Firman Tuhan dalam alqur’an: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun “ (QS 70:4)

Firman tersebut tidak dapat dimaknai secara harfiah. Firman tersebut harus dimaknai bahwa perbandingan waktu di bumi dan di langit adalah sehari di langit sama dengan lima puluh ribu tahun di bumi. Tidak ada satupun manusia yang memiliki umur puluhan ribu tahun. Alqur’an menerangkan bahwa nabi yang paling panjang umurnya adalah nabi Nuh yaitu Sembilan ratus lima puluh tahun. Firman di atas memberi ketegasan kepada kita bahwa jasad tidak bisa naik ke langit. Yang bisa ke langit hanya Jiwa. Jiwa yang gaib memiliki tangga yang gaib. Yesus Kristus yang pertama menaiki tangga gaib tersebut kemudian yang kedua dan menggenapinya adalah nabi Muhammad SAW.

Dalam segala hal, semua yang diciptakan Tuhan senantiasa memiliki pasangan-pasangan untuk menggenapinya sebagaimana difirmankan dalam alqur’an: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (51:49).

Cakra Ningrat menjadikan ayat tersebut di atas sebagai landasan berfikir untuk menyatakan PENGGENAPAN (pasang-pasangan) adalah DASAR HUKUM KETAUHIDAN ( Meng-esaan Tuhan).

b. Perintah Tuhan kepada alam fana (dunia nyata)

Alam langit (gaib) dan alam fana (dunia nyata) memiliki perbedaan prinsip dan mendasar yaitu:

• Alam langit memiliki KETERBEBASAN TERHADAP WAKTU. Di alam langit tidak ada waktu siang dan tidak ada waktu malam. Penghuni alam langit tidak memiliki nafsu dan kehendak.

• Alam fana (dunia nyata) memiliki KETERBATASAN TERHADAP WAKTU. Di alam fana berlaku ketentuan waktu “pergantian siang dan malam”. Penghuni alam fana (manusia dan syetan) memiliki KEBEBASAN NAFSU DAN KEHENDAK. Kebebasan ini disebabkan karena adanya sifat menurut dan sifat melawan.

Oleh karena manusia dan syetan yang menghuni alam fana ini memiliki kebebasan nafsu dan kehendak maka Tuhan mewahyukan dalam bentuk perintah kepada alam yang mengatur waktu malam dan siang sbb:

1. Perintah Tuhan kepada alam (waktu malam)

Katakanlah “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan mahkluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (113: 1-5).

2. Perintah Tuhan kepada alam (waktu siang)

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia. (114: 1-6).

 

Perintah Tuhan kepada WAKTU (malam dan siang) mulai berlaku sejak penciptaan yang pertama, jauh sebelum alquran diturunkan. Manusia tidak akan mungkin dapat memahami alquran dan alqitab secara benar dan sebenar-benarnya bilamana tidak mengetahui rahasia Tuhan terhadap penciptaan yang pertama.

Dasar hukum penciptaan yang pertama

Dalam alquran difirmankan: “Maka apakah kami letih dengan penciptaan yang pertama?” Sebenarnya mereka ragu-ragu tentang penciptaan yang baru (QS 50:15).

Firman di atas tidak dapat dimaknai secara harfiah. Secara samar-samar Tuhan bertanya kepada kita: “Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama?” firman dengan tegas menerangkan tentang adanya penciptaan yang pertama. Bila penciptaan yang pertama tidak kita ketahui maka dapat dipastikan kita akan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru atau penciptaan yang kedua.

Cakra Ningrat akan menuliskan seluruh rahasia Tuhan berkaitan dengan penciptaan yang pertama agar manusia dapat memahaminya dengan logikanya masing-masing bahwa Tuhan tidak pernah merasa letih dengan penciptaan yang pertama. Bahwa seluruh yang kita lihat dan saksikan sekarang ini hanya sebuah mata rantai yang penjang dari penciptaan yang pertama dan penciptaan yang pertama itu akan diakhiri karena Tuhan akan melakukan penciptaan yang baru atau penciptaan yang kedua.

Difirmankan dalam alquran: Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua) ? (QS 56:62)

Firman di atas tidak bisa dimaknai secara harfiah. Kalimat “Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama” adalah kalimat untuk menjebak orang-orang yang sok tahu, sok pintar dan sombong! Pertanyaanya “apa yang anda ketahui tentang rahasia penciptaan yang pertama?” firman di atas justru merupakan pintu masuk yang dibenarkan secara hukum untuk menghukum orang-orang yang sok tahu dan sok pintar seperti misalnya ustads-ustads, ulama, pastor, pendeta dan orang-orang sombong lainnya.

Cakra Ningrat meminta kepada seluruh pembaca terutama warga setia blog SPTM ini agar:

1. Bersyukurlah kepada Tuhan Semesta Alam karena telah mengizinkan dan memberi kesempatan, kesabaran dsb. kepada Cakra Ningrat sehingga dapat menulis di blog yang terhormat ini.

2. Bersabarlah dalam menanti, membaca, menyimak, mempelajari dsb artikel-artikel Cakra Ningrat. Tulisan-tulisan Cakra Ningrat adalah tulisan yang hidup, tulisan yang didasari oleh firman Tuhan untuk memunculkan kebenaran Tuhan.

 Bersambung ke bagian ketiga.

 Ditulis tanggal: 13-11-13.

LEGAL OPINION TERHADAP PERJANJIAN LAMA

Download Artikel

PERJANJIAN TUHAN DENGAN KAIN/QABIL (BAG. 1)

Oleh: Cakra Ningrat

PENGANTAR:

Luput dari perhatian semua orang sejak zaman dahulu kala hingga sekarang ini bahwa Tuhan pernah mengikat perjanjian dengan Kain (Qabil). Manusia menganggap terbunuhnya Habel (Habil) oleh Kain sebagaimana yang diceritakan dalam alqur’an dan alkitab sebagai pembunuhan biasa sehingga tidak perlu mendapat kajian hukum yang mendalam. Para ahli agama juga tidak tertarik membicarakannya karena menganggap semua orang juga sudah mengetahui cerita ini. Kalaupun dibicarakan, ahli agama juga tidak tahu pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa itu.

Cakra Ningrat memiliki pendapat yang berbeda dengan semua ahli agama samawi (yahudi, kristen dan islam) serta seluruh ummat manusia. Cakra Ningrat berpendapat; tragedi pembunuhan antara Kain dan Habel adalah sebuah misteri yang harus diungkap. Jika misteri ini tidak diungkap maka misteri ini akan bersifat kekal. Tidak ada yang kekal kecuali Tuhan!. Seluruh misteri yang selama ini terpendam jauh didasar tanah harus diangkat ke permukaan untuk dibuka kemudian kita lihat bersama-sama. Misteri hanyalah sebuah kegelapan. Bila anda masuk dalam kegelapan maka anda akan tersesat yang pada ahirnya anda tergelincir dan terperosok jauh ke dalam sebuah jurang yang bernama kegelapan.

Kegelapan menyebabkan sulitnya manusia menemukan kebenaran sejati. Klaim sepihak terhadap kebenaran yang dilakukan manusia selama ini dengan bersandar pada keyakinan agamanya masing-masing justru hanya menambah jauhnya jarak akan kebenaran itu sendiri. Manusia tidak boleh marah apalagi benci kepada kegelapan malah sebaliknya manusia justru dituntut harus bersifat arif dan bijak dalam memahami kegelapan oleh karena kegelapan itu tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi ada yang menciptakannya. Yang menciptakan kegelapan adalah Tuhan!. Pertanyaannya bukan kenapa? Tapi darimana dan bagaimana caranya serta untuk apa sehingga Tuhan menciptakan kegelapan kemudian mengangkat penguasa kegelapan?. Jika Tuhan menciptakan kegelapan apakah Tuhan juga menciptakan yang terang?. Siapakah yang lebih dulu diciptakan apakah yang gelap atau yang terang?. Lantas bagaimanakah cara Tuhan memisahkan keduanya?.

Legal Opinion (pendapat hukum) akan menjawab tuntas seluruh pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan hukum dan untuk kepentingan hukum agar tidak ada lagi manusia yang mengatakan “kami tidak tahu” saat hari hukum tiba. Yang dimaksud hari hukum adalah hariNya Tuhan. Itulah hari yang sangat mengerikan dan menakutkan!. Ummat kristen menyebutnya sebagai “hari penghakiman” dan ummat islam mengenalnya sebagai “hari pembalasan”. Tidak ada yang mengetahui kapan waktunya kecuali yang Empunya Hari, Sendiri. Kita hanya sebatas menduga dengan mengamati fenomena alam dan kondisi sosiologis, psikologis ummat manusia pada umumnya hususnya rakyat Indonesia.

Manusia memiliki sikap yang berbeda-beda dalam menanti datangnya “hari Tuhan”. Ummat islam bersikap biasa saja dan cenderung tidak tertarik membicarakannya. Para ahli agama mereka (ustadz, kiyai dan ulama) lebih senang menyampaikan da’wah yang berkisar pada permasalahan syariah, muamalah dan hal-hal yang bersifat duniawi. Mereka menyampaikannya dengan gaya dan retorika sebagai ciri khas kreasi dan kreativitasnya masing-masing. Umumnya mereka mengedepankan penampilan yang cenderung fashionable guna menarik simpati dan perhatian ummat. Kelak mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap kebenaran subyektif yang mereka sampaikan.

Ummat nasrani menanti datangnya “hari Tuhan” dengan penuh pengharapan dan rasa suka cita, ibarat pengantin perempuan yang menantikan mempelai laki-laki, yang akan datang menjemputnya. Mereka meyakini Yesus Kristus yang selama ini mereka rindukan akan turun ke bumi memilih mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengangkatnya untuk hidup dalam kekekalan di rumah Bapa di Syurga dalam kerajaan Allah. Para ahli agama mereka (pendeta dan pastor) cenderung memberi pengharapan yang sangat berlebih-lebihan kepada ummatnya. Pengharapan yang bersifat dogmatis. Pengharapan itu hanyalah seperangkat pendapat yang bersifat kategorik dan autoritatif. Kelak mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal sebagai bentuk pertanggungjawaban hukum terhadap kebenaran subyektif yang mereka sampaikan dan mereka imani selama ini.

Dalam menyikapi datangnya “hari Tuhan” atau hari Penghakiman/hari Pembalasan Cakra Ningrat berpendapat agar kita tidak bersikap biasa-biasa saja atau mengacuhkannya. Juga janganlah kita menyikapinya secara berlebih-lebihan. Sebaiknya kita mengambil sikap WASPADA dengan mengedepankan logika berfikir kita masing-masing. Kita patut mewaspadai “hari Tuhan” oleh karena manusia adalah sasaran dan obyek yang akan dihakimi. Manusia adalah sasaran dan obyek pembalasan Tuhan. Anda tidak perlu memikirkan soal amalan dan dosa karena Tuhan Yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa-dosa manusia KECUALI dosa yang disebabkan karena anda MEMPERSEKUTUKAN Tuhan.

PEMIKIRAN TENTANG TUHAN

Ummat islam mengenal kalimat tauhid dengan sebutan Laa ilaha illallah. Kalimat tauhid adalah kalimat prinsip yang meng-Esa-kan Tuhan yang artinya “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Apakah anda akan mengatakan didalam keyakinan anda bahwa ALLAH adalah TUHAN?. Jika anda berkeyakinan bahwa Allah adalah Tuhan maka anda telah mempersekutukan Tuhan dengan Allah!.

Allah adalah Allah dan Tuhan  adalah Tuhan. Kita tidak bisa menerima begitu saja kalimat tauhid “tidak ada Tuhan selain Allah” secara harfiah tanpa memahami eksistensinya. Dalam alqur’an  surat An-Nur ayat 35 telah dijelaskan defenisi tentang Allah adalah:

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula disebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Allah bukan Tuhan. Allah adalah cahaya Tuhan yang juga dapat dimaknai sebagai bayangan Tuhan. Allah dan Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan meskipun pada hakekatnya mereka terpisah. Allah adalah dzat yang tidak mawujud. Tuhan mawujud. Bagaimana mungkin Allah yang tidak mawujud dapat menciptakan alam beserta seluruh isinya yang mawujud?. Tuhan-lah yang menciptakan segala sesuatunya yang mawujud dengan perantaraan Allah-Nya yang tidak mawujud itu.

Apabila ummat islam tetap berkeyakinan bahwa Allah adalah Tuhan dan tidak melepas keyakinannya itu maka orang itulah yang akan merasakan pembalasan Tuhan di “hari Tuhan”. Ummat islam tidak akan mungkin dapat berlindung kepada Allah karena Allah telah mengeluarkan Pernyataan bahwa Allah bukan Tuhan. Pernyataan dimaksud telah tertulis jelas, terang dan tegas didalam alqur’an Surat Al Imran ayat 18 sebagai berikut:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Pernyataan di atas adalah pernyataan penting yang datangnya dari Allah sendiri, dimana Allah mengingkari dirinya sebagai Tuhan. Jika Allah adalah Tuhan tentu ayat di atas akan berbunyi “Allah menyatakan tidak ada Tuhan melainkan Allah” atau “Allah menyatakan tidak ada Tuhan melainkan Aku”.  Ayat di atas berkata “Allah menyatakan tidak ada Tuhan melainkan Dia”. Kata “Dia” adalah kata tunjuk. Allah menunjuk “Dia”. Allah adalah subyek yang menunjuk dan “Dia” adalah obyek yang ditunjuk. Obyek yang ditunjuk inilah yang dimaksud dengan Tuhan. Tuhan Yang menegakkan keadilan.

Agar ummat islam tidak ragu-ragu menerima kebenaran pernyataan Allah tersebut maka Allah melanjutkan lagi pernyataannya dengan kalimat “para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Para malaikat dan orang yang berilmu membenarkan pernyataan Allah bahwa Allah bukan Tuhan. “Dia” adalah kata tunjuk. “Dia” inilah yang dimaksud dengan Tuhan. Allah bersama para malaikat dan orang-orang yang berilmu menyatakan bahwa “Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Cakra Ningrat adalah orang berilmu meskipun hanya sebatas ilmu hukum turut serta bersama-sama Allah dan para malaikat menyatakan bahwa Allah BUKAN Tuhan. “Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan DIA. Kata “Dia” inilah yang dimaksud Tuhan, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sebagai orang hukum Cakra Ningrat berpendapat: “Dia (Tuhan) Yang Menegakkan Keadilan” memiliki alasan hukum yang jelas bagi diriNya jika Dia bermaksud hendak menegakkan keadilan dihari penghakiman/pembalasan karena keadilan itu untuk DiriNya Sendiri bahwa Dia adalah Tuhan dan bukan Allah. Dia yang Ada begitu saja. AKIBATNYA, “Yang Esa itu tidak bernama”.

Apakah ketuhanan Allah dan ketuhanan Yesus, salah didepan hukum?. Cakra Ningrat berpendapat; ketuhanan Allah dan Yesus memiliki jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan Tuhan sehingga ketuhanannya tidak memiliki sifat yang kekal. Ketuhanan Allah dan Yesus berfungsi sebagai perisai untuk memproteksi Tuhan yang sebenar-benarnya, Tuhan.

Manusia bisa saja mengingkari Allah dan Yesus sebagai Tuhan. Bisa menuhankan  berhala-berhala dan segala macam dewa bahkan mengingkari adanya tuhan sekalipun akan tetapi tidak ada satupun manusia yang hidup di dunia ini yang bisa lepas dari hukum Tuhan yang dinamakan sebagai hukum alam dan hukum karma. Hukum alam yang berhubungan langsung dengan manusia adalah tua, sakit dan mati sedangkan hukum karma adalah hukum alam inpersonal yang mengontrol ketat perbuatan baik dan perbuatan jahat manusia semasa hidupnya dan terus berlanjut hingga keturunannya yang ketujuh. Kita akan saksikan bersama-sama bagaimana Tuhan menciptakan hukum alam dan hukum karma dalam artikel Cakra Ningrat yang berjudul “Perjanjian Tuhan dengan Nuh, Hud dan Saleh”.

Itulah sebabnya ajaran Buddha menepis segala bentuk-bentuk pemikiran transendental manusia tentang Tuhan sebab Buddha Gotama telah lebih dulu memahami adanya sebuah wilayah yang disebut nibbana (nirwana) yaitu suatu bentuk keadaan yang tak terdefenisikan. Kalaupun murid-muridnya atau orang-orang dimasa itu mengejar pertanyaan tentang adanya sosok adikuasa (Tuhan), Sang Buddha lebih memilih diam. Diamnya Sang Buddha adalah sebuah sikap bijak dan penuh welas asih yang sepatutnya kita tiru. Bahwa beliau lebih memilih diam karena beliau telah mengetahui bahwa semua tuhan-tuhan yang dikenal oleh manusia (Allah, Yesus, Dewa-Dewa dan sebagainya) bersifat tidak kekal. Buddha Gotama pernah membabarkan dhamma didepan dewa-dewa yang menanti waktu untuk kelahiran berulangnya adalah bukti nyata bahwa tuhan-tuhan ataupun sosok adikuasa yang telah dikenal oleh manusia tetap mengalami kelahiran berulang mengikuti siklus kelahiran manusia sehingga manusia mengenal tuhan-tuhan tersebut karena mengikut pada agama yang dianut oleh orang tua mereka.

Kebenaran universal yang diajarkan oleh guru agung Buddha Gotama bukan karena mewarisi kebenaran itu dari orang tuanya. Alih-alih mewarisi malah tahta dan harta selaku pewaris tunggal pun beliau tinggalkan. Hal yang lebih frontal dan radikal melawan keyakinan dan meninggalkan orang tua pernah juga dilakukan oleh generasi pendahulu Buddha Gotama yaitu Abram (Abraham/Ibrahim). Apa yang dilakukan kedua tokoh utama ummat manusia memiliki kesamaan yaitu pencarian kebenaran universal, bedanya Abram melakukan Pencarian Kebenaran terhadap hakekat Tuhan Yang Menciptakan sedang Shidatta Gotama melakukan pencarian kebenaran terhadap hakekat yang menyebabkan manusia menderita. Kita akan lihat bersama kebenaran bahwa Shidatta Gotama adalah kelahiran berulang Abram dalam artikel Cakra Ningrat yang berjudul “Perjanjian Tuhan Dengan Abraham (Ibrahim)”.

Kontemplasi yang dilakukan oleh Shidatta Gotama dibawa pohon boedhi di Gaya selama enam tahun tidak boleh dimaknai secara harfiah saja. Pohon kayu boedhi memiliki dimensi alkitabiah sebagai pohon pengetahuan baik dan jahat. Dibawah pohon pengetahuan itulah Shidatta Gotama mendapatkan penyadaran dan pencerahan yang sempurna. Dibawah pohon pengetahuan itulah Buddha Gotama menemukan apa yang dicarinya yaitu kebenaran universal. Sangat beralasan jika Cakra Ningrat menuliskan artikel yang pertama “Yang Sadar dan Tercerahkan adalah Buddha” dan menempatkan artikel itu sebagai fondasi kuat yang diatasnya dibangun sebuah paradigma baru dalam bentuk Legal Opinion guna mereformasi bahkan merestorasi secara menyeluruh pemahaman kita selama ini terhadap hakekat Tuhan. Kita melakukan reformasi paradigma itu secara diam-diam untuk diri kita sendiri dan keluarga kita (istri dan anak-anak) karena tidak ada yang dapat menyelamatkan diri kita kalau bukan diri kita sendiri.

Fondasi sebuah bangunan selalu menggunakan bahan alam yang banyak disediakan oleh alam seperti batu kali, pasir dan semen. Galian fondasi adalah upaya yang serius dan mendalam untuk mencari kebenaran yang berada dibawah tanah. Batu kali dapat dianalogikan sebagai ajaran Buddha, pasir pantai adalah perjanjian lama dan semen adalah alqur’an. Ketiganya musti disatukan guna menghasilkan fondasi yang kuat, kokoh dan permanen. Itulah sebabnya Legal Opinion yang kami sampaikan sangat logis dan tidak mungkin bisa diruntuhkan karena dibangun diatas dasar fondasi yang benar.

Dua ribu lima ratus tahun yang lalu, Buddha Gotama mengatakan; pada hakekatnya manusia hidup adalah menderita. Penderitaan ini disebabkan karena adanya lekatan nafsu. Disebabkan karena nafsu selalu tidak terpuaskan pada ahirnya manusia selalu mengalami siklus kelahiran berulang. Ahir zaman adalah hari ahir untuk mengahiri kelahiran berulang. Itu adalah hari dimana keadilan ditegakkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Jika anda menginginkan Tuhan Yang Maha Perkasa mengahiri kelahiran berulang anda bersamaan dengan diahirinya segala apa yang ada dimuka bumi ini silahkan mengacuhkan atau menyepelekan Legal Opinion ini. Akan tetapi jika anda menginginkan Tuhan Yang Maha Bijaksana membantu anda atau menolong anda mengahiri kelahiran berulang anda silahkan ikuti terus, cermati dan fahami Legal Opinion ini. Lekatan nafsu dapat dilepas dengan mudah dari diri kita bilamana kita memahami bagaimana Tuhan menciptakan nafsu tersebut.

KAIN (QABIL) MEMBUNUH HABEL

Logika hukum akan mempertanyakan “kenapa pembunuhan itu terjadi?. Apa motifnya dan untuk kepentingan apa!”. Kain adalah saksi pelaku dan Habel adalah korban. Pembunuhan itu terjadi secara spontanitas atau terjadi begitu saja sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai pembunuhan berencana. Motif pembunuhan karena saksi pelaku merasa cemburu, irihati, dengki dan dendam. Mengungkap motif pembunuhan berarti mengungkap misteri penciptaan Tuhan. Tidak ada misteri yang tidak diungkap. Tidak ada misteri yang bersifat kekal. Yang kekal hanya satu. TUHAN.

Tuhan berkepentingan atas pengungkapan misteri PenciptaanNya yang pertama sebelum penciptaanNya yang pertama diahiri. Kita semua yang hidup saat ini dengan segala kemudahan karena kemajuan tekhnologi hanyalah mata rantai yang sangat panjang sebagai akibat dari sebab adanya penciptaan yang pertama. Tuhan akan mengahiri penciptaanNya yang pertama oleh karena Tuhan akan melakukan penciptaan yang kedua untuk menggenapinya. Ummat nasrani mengenal penciptaan Tuhan yang kedua sebagai “hari kebangkitan” sedangkan ummat islam menyebutnya sebagai “hari berbangkit”. Hari itu, Tuhan begitu amat dekatnya dengan manusia. Tuhan berdiri didepan lautan manusia dan manusia berdiri dihadapan Tuhan. Meski begitu, manusia tetap tidak akan dapat melihat wajah dan sosok Tuhan, oleh karena semua kepala hanya tertunduk. Hari itu manusia terdiri atas dua golongan saja yaitu golongan baik dan jahat.

Manusia yang berdiri pada barisan golongan jahat adalah manusia yang memiliki sifat cemburu, irihati, dengki dan dendam yang ia warisi dari Kain. Kain mendapatkan sifat itu dari Hawa, perempuan yang melahirkannya. Karena semua manusia dilahirkan oleh perempuan maka tidak ada satupun manusia yang bisa terbebas dari keempat sifat-sifat tersebut. Bukti bahwa Hawa yang menurunkan sifat-sifat itu dapat kita lihat dalam kitab Kejadian 4:1-2.

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN”. Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain, dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.

Perkataan Hawa “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” tidak boleh diterima atau diartikan secara harfiah oleh karena dibalik kalimat itu ada pesan Tuhan yang tersembunyi untuk kita semua. Sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam artikel terdahulu bahwa Tuhan menciptakan Adam kemudian dari tulang rusuk kiri Adam, Tuhan menciptakan Hawa lalu melalui Hawa Tuhan menciptakan nafsu birahi dan hawa nafsu. Ada dua pesan Tuhan yang ingin disampaikan yaitu:

  1. Kalimat “Aku telah melahirkan seorang anak laki-laki” bermakna; hawa nafsu yang tadinya Tuhan ciptakan melalui Hawa dimana nafsu tersebut telah diturunkan kepada anak laki-lakinya yang pertama yang bernama Kain. Karena nafsu telah diturunkan kepada Kain berarti didalam diri Hawa masih terdapat “nafsu birahi (syahwat)”. Jika Kain telah mewarisi nafsu, kelak diapun akan mewarisi syahwat.
  2. Kalimat “dengan pertolongan TUHAN” bermakna; hanya dengan bantuan dan pertolongan Tuhan, manusia bisa terbebaskan dari nafsunya oleh karena Tuhan yang pernah mengikat perjanjian dengan Kain.

Untuk mengungkap misteri pembunuhan Kain terhadap Habel dengan benar dan obyektif kita tidak boleh menggunakan alkitab saja atau alqur’an saja akan tetapi kita harus menggunakan kedua kitab Tuhan tersebut sebagai sumber hukum. Perbedaan prinsip dari kedua kitab itu adalah penonjolan sifat dan karakter tokoh yang dikisahkan. Alkitab menonjolkan karakter Kain sementara alqur’an menonjolkan karakter Habil. Melihat perbedaan ini, Cakra Ningrat justru sangat mengagumi kepandaian dan kecerdasan Tuhan dalam menyembunyikan misteri PenciptaanNya. Sungguh celakalah manusia yang membangga-banggakan kebenaran agama yang dianutnya.

Dalam kitab kejadian 4:3-7

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga memper-sembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNYa. Lalu hati Kain sangat panas dan mukanya muram. Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?. Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?. Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip didepan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya”.

Korban yang dipersembahkan Habel adalah anak sulung kambing-dombanya sedang Kain memberi korban persembahan berupa hasil pertaniannya (buah-buahan). Tuhan hanya menerima korban yang dipersembahkan oleh Habel. Firman Tuhan kepada Kain “mengapa hatimu panas dan mukamu muram?”. Firman ini tidak bisa dimaknai secara harfiah oleh karena ada pesan Tuhan yang tersembunyi dibalik FirmanNya. “Hati panas” menandakan sifat “nafsu” yang CEMBURU dan IRIHATI. Kain cemburu dan irihati kepada Habel karena korban persembahan Habel saja yang diterima Tuhan. “Muka muram” menandakan sifat “nafsu” yang sudah sampai pada keadaan DENGKI dan DENDAM.

Hawa nafsu memiliki empat sifat terkondisi yaitu cemburu, irihati, dengki dan dendam. Keadaan terkondisi dari sifat cemburu dan irihati adalah HATI PANAS. Semua orang yang cemburu dan irihati dapat merasakan kalau hatinya panas. Apabila rasa cemburu dan irihati tidak cepat dikendalikan maka keadaannya akan meningkat kelevel dengki dan dendam. Keadaan terkondisi dari sifat dengki dan dendam adalah MUKA MURAM. Kita dapat melihat orang yang dengki dan dendam memiliki muka yang muram dan tidak berseri. Apabila manusia telah panas hatinya dan mukanya muram maka ada dosa yang mengintip didepan pintu; dosa itu sangat menggoda. Jika manusia tidak mampu menguasai godaannya maka manusia pasti terjebak dalam perbuatan “melanggar hukum”. Dosa yang dimaksudkan didalam firman Tuhan adalah nafsu AMARAH. Orang yang marah adalah orang yang tidak mampu menguasai dirinya.

Kain adalah personifikasi “nafsu” yang diciptakan Tuhan dari Hawa-nafsu. Hawa identik dengan kata “suhu” dalam satu keadaan tertentu. Suhu memiliki banyak tingkatan mulai yang paling dingin, sejuk, biasa saja, hangat dan panas. Dalam kitab kejadian 3:20 dikatakan:

Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Semua yang hidup (manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan) memiliki nafsu. Yang membedakan kita adalah tingkatan hawa-nya. Kain adalah “nafsu” yang berhawa “panas”. Ini diwujudkan dalam sifat-sifat cemburu, irihati, dengki dan dendam.

Dalam alqur’an surah Al-maidah 5:27

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil) ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.

Qabil (Kain) yang telah dikuasai oleh nafsu amarah mengatakan “Aku pasti membunuhmu”. Orang yang sudah dikuasai nafsu amarah adalah orang yang selalu mencari jalan pintas untuk menyelesaikan suatu permasalahan disebabkan karena orang itu sudah tidak lagi menggunakan fikiran akal sehatnya. Berkata Habil “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. Perkataan Habil menunjukkan sikap dirinya yang tenang dan tidak terpengaruh dengan rencana jahat Qabil (Kain). Ketenangan itu justru memberinya kecerdasan untuk menggiring Qabil ketopik permasalahan “korban” siapa yang diterima Tuhan. Hanya korban orang-orang yang bertakwa yang diterima Tuhan.

Kita tidak bisa menerima kata “orang bertakwa” secara harfiah oleh karena kata takwa sangat subyektif dan tidak terukur. Karakter Habil yang ingin ditonjolkan oleh alqur’an dengan berlindung di balik kata “takwa” sesungguhnya adalah sifat Habil yang SABAR. Sikap Habil yang tidak terpengaruh dengan Qabil yang sedang dikuasai nafsu amarah adalah bukti kesabarannya. Habil tidak menjawab perkataan Qabil yang marah malah sebaliknya dengan kepintarannya Habil justru ingin mengembalikan Qabil kedalam topik yang sebenarnya.

Jangan menghadapi orang marah dengan cara marah oleh karena anda akan hancur dan menyesal. Marah memiliki karakter “buta”. Orang yang marah cenderung selalu mencari jalan pintas karena fikrannya buta. Hadapilah marah dengan sabar. Orang yang sabar adalah orang yang pintar. Sabar dan pintar sama dengan telur dan ayam, sangat sulit menjawabnya jika ditanyakan manakah yang lebih duluan?. Kita dapat menyaksikan orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya setidaknya dia memiliki dua potensi dasar didalam dirinya yaitu sabar dan pintar. Entah mana yang duluan; apakah orang itu sabar disebabkan karena kepintarannya ataukah orang itu pintar disebabkan karena kesabarannya. Keberhasilan dan kesuksesan seseorang membutuhkan waktu yang panjang. Sama halnya untuk mengatakan seseorang sabar dan pintar serahkanlah kepada sang waktu yang akan mengujinya yang pasti sabar yang dimaksudkan oleh alqur’an berbeda dan bukan berarti masa bodoh. Habil tidak bermasa bodoh dengan membiarkan dirinya akan dibunuh oleh Qabil akan tetapi Habil mengemukakan argumentasi hukum menandakan Habil orang yang pintar.

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Q.S. 5:28)

Kita tidak bisa memaknai ayat diatas secara harfiah oleh karena ada pesan Tuhan dibalik perkataan Habil yang ingin disampaikan kepada kita. Karakter yang akan ditonjolkan oleh alqur’an adalah sifat Habil yang kedua yaitu IHLAS. Meskipun Qabil menggerakkan tangannya untuk membunuh Habil akan tetapi Habil tidak akan menggerakkan tangannya untuk membunuh Qabil. Itu berarti; ihlas tidak akan pernah mengharapkan balasan sekalipun itu balasan dari Tuhan. Bagaimana mungkin anda mengharapkan balasan atas keihlasan anda dari Tuhan yang anda tidak ketahui?. Ihlas bukan ucapan atau perkataan semata. Ihlas bukan juga pengharapan. Ihlas adalah bentuk dari sebuah ketenangan jiwa.

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”. (Q.S. 5:29)

Karakter Habil yang ingin ditonjolkan oleh ayat di atas adalah sifat Habil yang PASRAH. Pasrah bukanlah sebuah perasaan yang dapat diungkap melalui perkataan ataupun ucapan. Pasrah adalah bentuk dari sebuah keadaan atau suasana hati yang damai. Tiga sifat yang ditonjolkan oleh alqur’an yang dimiliki oleh Habil yaitu; sabar, ihlas dan pasrah. Ketiga sifat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. SABAR

Sabar terletak didalam darah manusia karena itu hanya orang yang hidup saja yang memungkinkan disebut sabar. Sifat sabar adalah sifat nyata seseorang artinya orang lain dapat melihat dan menyaksikan sifat tersebut oleh karena sifat sabar adalah sifat yang terukur. Tolok ukur untuk menilai seseorang memiliki sifat sabar adalah:

Pertama; Orang sabar harus pintar. Kepintaran menjadi persyaratan mutlak oleh karena hanya kepintaran saja yang dapat membedakan seseorang memiliki sifat sabar atau sifat masa bodoh. Sifat masa bodoh adalah sifat yang dimiliki orang bodoh yang membiarkan “masa” atau waktu berlalu dengan sia-sia. Orang sabar adalah orang yang pintar memanfaatkan waktu kesabarannya, orang pintar adalah orang yang sabar menantikan waktu untuk menunjukkan hasil kepintarannya.

Kedua;  Orang sabar harus mampu meredam amarah orang lain sebagai pembuktian bahwa dirinya terbebas dari nafsu amarah. Hanya orang yang tidak memiliki nafsu amarah yang mampu membebaskan orang lain dari amarah. Orang sabar mampu mengelola amarah orang lain untuk kemudian mengarahkannya kepada jalan yang tidak membahayakan.

2. IHLAS

Sifat ihlas terletak didalam jiwa seseorang. Orang yang memiliki sifat ihlas adalah orang yang memiliki ketenangan jiwa. Wajah orang itu dapat dikatakan berseri-seri.

3. PASRAH

Sifat pasrah terletak didalam hati seseorang. Orang yang memiliki sifat pasrah adalah orang yang memiliki kedamaian hati.

Ketenangan jiwa dan kedamaian hati adalah satu bentuk keadaan seseorang yang normatif dan tidak terukur. Tidak ada yang mengetahui kecuali orang yang memiliki sifat-sifat itu sendiri.

Alkitab menonjolkan karakter Kain (Qabil) yang penuh Nafsu. Sifat dan penampakan nafsu dapat diuraikan sebagai berikut:

1. MARAH

Marah terletak didalam darah manusia. Marah adalah sifat nyata seseorang artinya dapat dilihat dan disaksikan oleh orang lain. Marah adalah api yang berkobar-kobar yang dapat membakar apa saja yang ada dihadapannya atau didekatnya. Orang yang suka marah identik dengan orang bodoh. Karena kebodohannya sehingga nafsu bisa begitu mudah menguasai dirinya dan menggerakkan dirinya untuk melakukan suatu perbuatan yang membuat dirinya menyesali perbuatannya itu.

2. MUKA MURAM

Muka muram adalah satu kondisi yang terukur, dapat dilihat dan disaksikan sebagai refleksi penampakan dari keadaan jiwa seseorang yang memiliki sifat dengki dan dendam.

3. HATI PANAS

Hati panas adalah satu kondisi yang terukur, dapat dilihat dan diketahui sebagai refleksi dari pembiasan dari keadaan hati seseorang yang memiliki sifat cemburu dan irihati.

Selanjutnya dikisahkan dalam Alkitab Kejadian 4:8

Kata Kain kepada Habel, adiknya; “Marilah kita pergi ke padang” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu lalu membunuh dia.

Alqur’an surah Almaidah 5:30

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.

Dengan tegas alqur’an mengatakan HAWA NAFSU (AMARAH) sudah menguasai diri Qabil (Kain) sehingga dia menganggap mudah melakukan pembunuhan atas saudaranya. Alqur’an tidak menjelaskan modus dan locusnya, Alkitab menerangkan Kain (Qabil) melakukan pembunuhan itu dengan cara memukul dan locus peristiwa terjadi disebuah padang.

Alqur’an surah Almaidah 5:31

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?”. Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.

Kata “menyuruh” pada ayat 5:31 tersebut harus dimaknai “petunjuk” sebagai bentuk upaya pertolongan Tuhan, kepada Qabil/Kain untuk mengubur saudaranya. Karena petunjuk Tuhan dilaksanakan oleh Qabil/Kain maka petunjuk itu harus dimaknai sebagai “pengetahuan” yang diturunkan Tuhan kepada manusia (Qabil/Kain) dengan perantaraan burung gagak. Selain sebagai pengetahuan, burung gagak ini dapat juga dimaknai sebagai “gagasan” atau “ide/rencana” yang dalam bahasa agama disebut sebagai “niat”. Manusia yang menganut faham animisme dan dinamisme sampai saat ini menjadikan burung gagak sebagai simbol petunjuk Sang Penguasa Alam. Mitos-mitos tentang burung gagak menyebar secara merata dan dipercaya oleh suku-suku tradisional. Orang islam tidak boleh menuduh mereka orang musyrik dan orang nasrani juga tidak boleh mengaggap mereka orang fasik oleh karena keyakinan mereka memiliki dasar yang kuat dalam alqur’an, hususnya pada ayat 5:31 ini.

Setelah Habil dikuburkan ternyata persoalan belum selesai. Alkitab menerangkan kepada kita semua dalam Kejadian 4:9-10

Firman Tuhan kepada Kain (Qabil): “Dimana Habel, adikmu itu?”.Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adiku?.” FirmanNya: “Apakah yang telah kau perbuat ini?”. Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.

Benar, jasad Habil telah dikuburkan oleh kakaknya akan tetapi darahnya berteriak-teriak kepada Tuhan dari tanah. Firman menyebut “dari tanah” bukan “dari dalam tanah”. Apakah benar darah bisa berteriak?. Tidak benar! Darah tidak mungkin bisa berteriak. Firman menggunakan bahasa kiasan yang tidak boleh diartikan secara harfiah. Firman itu harus dimaknai sebagai sebuah pesan Tuhan yang bersembunyi dibalik Firman bahwa manusia itu diciptakan dari tanah dan hendaknya manusia memiliki sifat seperti tanah yaitu SABAR.

Sifat sabar hanya dimiliki oleh manusia yang hidup oleh karena “sabar” terletak didalam “darah” artinya sifat itu dapat dilihat dan disaksikan oleh orang lain. Orang yang memiliki sifat sabar adalah orang yang sangat dekat kepada Tuhan, karena itu untuk dapat disebut sebagai orang yang sabar, manusia harus terlebih dahulu lulus dari ujian atau pencobaan Tuhan. Ujian kesabaran untuk pertamakalinya dilakukan Tuhan secara nyata kepada Abram (Abraham/Ibrahim), ujian yang berhubungan langsung dengan darah manusia.

Abram memiliki istri bernama Sarah. Melihat suaminya sangat ingin memiliki anak dan menyadari bahwa dirinya mandul maka Sarah menyarankan Abram mengawini Hagar (Hajar), budaknya. Dari perkawinannya dengan Hagar, Abram memiliki anak bernama Ismael (Ismail). Abram sangat senang dengan kelahiran Ismael dan rasa sayang Abram terhadap Hagar juga semakin bertambah. Melihat kenyataan itu, Sarah cemburu kepada Hagar. Dia mengusir Hagar bersama putranya. Karena telah dipropokasi oleh Sarah, Abram dengan penuh rasa galau dan AMARAH membawa Hagar dan putranya yang masih bayi pergi jauh meninggalkan Kanaan menuju ke sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi orang. Tempat itu penuh dengan bebatuan dan bukit-bukit cadas. Negeri itu bernama Mekkah. Mekkah yang kosong, tandus dan tak berpenghuni. Jangankan manusia, hewan dan tumbuhan saja tidak bisa hidup di negeri itu karena tidak terdapatnya air sebagai sumber utama kehidupan. Di negeri itulah Abram membuang Hagar dan putranya Ismael, lalu dia kembali ke Kanaan. Abram menyerahkan kepada alam untuk melaksanakan keinginan jahatnya membunuh Hagar dan Ismael.

Alam tidak merespon keinginan jahat Abram, malah yang terjadi justru sebaliknya, alam menghidupkan Hagar dan Ismael serta memberi kehidupan semua mahluk hidup lainnya. Tuhan memerintahkan alam untuk membuka “mata air” didekat kaki sibayi (Ismael) yang terus menerus menangis kehausan. Hagar sangat senang melihat kenyataan itu dan berteriak-teriak dalam bahasa Ibrani dengan berkata “zami-zami” yang artinya “mari-mari”. Belakangan manusia menyebut air itu sebagai air zam-zam.

Alam memperdengarkan teriakan Hagar kepada burung gagak. Mendengar teriakan itu burung gagak datang mengunjungi sumber air kemudian diikuti oleh ribuan burung-burung lainnya yang terbang berombongan menuju tempat tersebut. Melihat kenyataan itu, manusia yang tinggal jauh dari Mekkah mengetahui gejala alam bahwa apabila burung gagak diikuti oleh rombongan burung-burung lainnya terbang kesuatu tempat maka dapat dipastikan kalau di tempat itu terdapat air untuk kehidupan.  Berdatanganlah manusia dari negeri yang jauh menuju Mekkah dan menetap di Mekkah. Hagar dan Ismael adalah penghuni pertama Mekkah. Selama bumi ini masih ada, mata air zam-zam tidak akan pernah berhenti mengeluarkan airnya untuk kehidupan manusia hususnya yang hidup di tempat itu oleh karena mata air itu adalah penggenapan dari mata air yang pernah menenggelamkan bumi ini yang menyebabkan seluruh manusia mati kecuali yang berada di atas bahtera Nuh saat peristiwa banjir semesta.

Sekitar dua belas tahun kemudian Abram mendengar kabar berita bahwa telah banyak orang yang masuk dan berdiam di Mekkah, disebabkan karena adanya seorang ibu bersama bayinya yang menangis kehausan membuat ibunya itu berlari-lari mencari air buat bayinya. Saking paniknya ibu itu berlari-lari antara dua bukit Syafa dan Marwah ternyata didekat tumit bayi itu muncul sebuah mata air. Mata air itulah yang menyebabkan manusia berdatangan ketempat itu. Abram meyakini bahwa ibu dan bayi itu adalah istri dan putranya. Tanpa berfikir panjang lagi, Abram mempersiapkan perjalanan menuju Mekkah. Dibutuhkan waktu berhari-hari dari negeri Kanaan ke Mekkah dengan mengendarai unta. Sepanjang perjalanan air mata Abram mengalir terus. Perasaannya dipenuhi rasa syukur, senang, bahagia dan kerinduan yang mendalam terhadap istri dan anaknya bercampur menjadi satu dengan perasaan heran dan menyesali dirinya yang pernah bernafsu dan berniat jahat dengan meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang gersang.

Hagar adalah wanita yang sabar dan tidak banyak menuntut. Kesabaran Hagar adalah sifat bawaan lahiriah mengingat dirinya hanya seorang budak. Budak tidak boleh bertanya, tidak boleh menuntut meskipun akan dibunuh, budak harus menerimanya dengan sabar. Kesabaran Hagar diturunkan kepada putranya Ismael. Hagar dan Ismael merasa senang dengan kedatangan Abram karena sebelumnya mereka berdua sudah tidak pernah lagi berharap akan dikunjungi oleh Abram.

Rasa suka cita dan kegembiraan, kesenangan meluap-luap dihati Abram melihat kenyataan istrinya Hagar masih hidup dan putranya Ismael tetap tumbuh sehat dan lebih bagus dari anak-anak seusianya kala itu. Belum habis rasa suka citanya, suatu malam Abram bermimpi menyembelih putranya, Ismael. Abram menepis dan tidak menghiraukan mimpi itu karena Abram telah sangat mengasihi putranya. Abram tidak ingin lagi melakukan kesalahan atau kekeliruan dalam menyikapi istri dan anaknya. Mimpi dengan cerita yang sama terulang kembali, menyembelih putra tunggal yang dia kasihi. Mimpi kedua ini membuat Abram bertanya-tanya didalam dirinya “jangan-jangan mimpi ini adalah sebuah petunjuk dari Tuhan yang telah memberi kehidupan kepada putranya”. Abram merasa yakin bahwa mimpi itu, benar dari Tuhan, setelah mimpi itu terulang kembali untuk yang ketigakalinya.

Mimpi itu harus dilaksanakan secara nyata oleh Abram oleh karena Tuhan ingin agar Abram memiliki sifat SABAR. Rencana penyembelihan ini diterima dengan IHLAS oleh Ismael dan Hagar oleh karena didalam darah ibu dan putranya itu telah terdapat sifat SABAR yang merupakan bawaan lahir mereka. Kesabaran mereka telah diuji oleh alam sejak awal pembuangan sampai masa penantian dan kedatangan Abram. Penyembelihan terlaksana dengan baik sesuai rencana Tuhan, meski pada ahirnya Ismael digantikan dengan seekor domba (kibas, biri-biri). Darah domba yang keluar akibat sembelihan parang Abram, memancing nafsu yang ada didalam darah Abram keluar mengikut pada darah domba. Karena nafsu telah keluar dari darah Abram, sebagai gantinya muncullah sifat SABAR. Darah Habil yang tadinya berteriak-teriak dari dalam tanah, telah diakomodir dan ditampung oleh Abram maka jadilah Abram sebagai orang yang SABAR sebagaimana Habil yang SABAR.

Terlalu sulit untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan, jika Abram tidak memiliki sifat SABAR secara nyata didalam darahnya mengingat perintah-perintah Tuhan yang akan dia kerjakan bersifat nyata. Perintah Tuhan yang pertama kepada Abram setelah peristiwa penyembelihan adalah membangun Ka’bah. Ka’bah adalah bangunan batu alam yang tersusun berbentuk kubus. Dibangun oleh Abram dengan dibantu oleh putranya Ismael. Setelah membangun Ka’bah, Abram tinggal beberapa lama di Mekkah, kemudian kembali ke Kanaan bersama istrinya Hagar dan putranya Ismael melanjutkan lagi kehidupannya. Kita akan saksikan bersama-sama bagaimana kehidupan Abram dalam artikel “Perjanjian Tuhan dengan Abraham (Ibrahim).

Ummat islam meyakini bahwa ka’bah adalah rumah Allah (Baitullah). Rumah Allah bukan berarti rumah Tuhan, bukan pula sebagai simbol tentang Tuhan. Ka’bah tidak lebih dari sekedar simbol KASIH TUHAN kepada manusia yang hidup. AIR ZAM-ZAM adalah mata air kehidupan yang merupakan wujud nyata Kasih Tuhan kepada Hagar (Hajar) dan Ismael (Ismail) yang sabar. Kebenaran universal tentang Kasih Tuhan dalam wujud air zam-zam (mata air kehidupan) dapat diartikan sebagai rezeki yang menghidupi manusia. Rezeki Tuhan tidak boleh dibatasi dalam pengertian “Uang” oleh karena “Uang” tidak lebih dari sekedar sebagai alat tukar semata. Rezeki Tuhan harus diartikan sebagai “ditumbuhkannya bulir-bulir padi dan tanaman gandum dari tanah serta dimunculkannya mata air-mata air guna memenuhi kebutuhan utama manusia yang hidup yaitu makan dan minum”. Selama air zam-zam masih mengalir, manusia tidak perlu hawatir tidak bisa makan dan minum.

Anda tidak mungkin menemukan kebenaran mutlak didalam ka’bah akan tetapi anda akan menemukan kebenaran sejati manakala anda dapat mengerti dan memahami betapa besar KASIH TUHAN kepada manusia, sebagaimana firmanNya dalam alqur’an surah Almaidah 5:32

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

Selanjutnya marilah kita saksikan bagaimana besarNya Kasih Tuhan kepada Habel, yang telah dibunuh oleh saudaranya sebagaimana penjelasan Alkitab kejadian 4 : 11-12.

Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila Engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.

Kita tidak bisa menafsirkan firman Tuhan di atas secara harfiah, mengingat terdapatnya pesan penting dibalik firman tersebut. Kain “terbuang jauh dari tanah” maknanya “orang yang penuh dengan hawa nafsu jauh dari sifat SABAR sebagaimana sifat tanah”. Semua manusia yang hidup berpotensi memiliki sifat SABAR, hanya saja sifat sabar itu terpendam jauh didalam diri manusia. Ini disebabkan karena firman menyebut “tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu dari tanganmu”. Itu sebabnya sifat sabar berada dibawah dan tersembunyi. Tidak mudah untuk menyebut seseorang memiliki sifat sabar. Ada rentang waktu yang panjang yang diwarnai oleh ujian dan pencobaan-pencobaan yang mesti dijalani atau dilalui oleh seseorang sebelum orang itu menyandang predikat sebagai orang yang sabar.

Acap kali manusia sulit membedakan antara “Sabar” dengan “Masa bodoh” sehingga manusia terjebak dengan sendirinya dalam upaya mencapai tingkat kesabaran. Meskipun manusia ingin berusaha mencapai kepada sifat sabar maka hasilnya tidak akan sepenuhnya bisa diperoleh sebab telah difirmankan “Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberi hasil sepenuhnya lagi kepadamu”. Mustahil manusia dapat disebut “SABAR” tanpa bantuan dan pertolongan Tuhan, oleh karena sifat sabar itu adalah sifat Tuhan. Orang yang sabar adalah orang yang dekat kepada Tuhan dan Tuhan dekat kepadanya karena sabar adalah sifatNya. Semua nabi-nabi dan rasul-rasul Tuhan, harus melalui perjalanannya masing-masing untuk sampai kesebuah terminal ahir yang disebut SABAR, setelah itu barulah Tuhan akan memberikan muji’zat kepadanya sebagai pembuktian akan kedekatan mereka.

Orang yang penuh dengan hawa nafsu adalah orang yang memiliki sifat terburu-buru dan tergesa-gesa sebab telah difirmankan “engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi”. Anda bisa menyaksikan sendiri bagaimana sifat orang yang penuh hawa nafsu. Orang itu tidak memiliki ketenangan, orang itu seperti seorang pengembara dan pelarian yang diburu-buru dan dikejar-kejar oleh musuh yaitu hawa nafsunya sendiri.

CLAUSUL PERJANJIAN ANTARA TUHAN DAN KAIN

Clausul perjanjian ini termuat didalam Alkitab Kejadian 4 : 13-16 sebagai berikut:

Kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapanMu, seorang pelarian dan pengembara di bumi, maka barang siapa yang bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku”.

Firman Tuhan kepadanya: “Sekali-kali tidak!. Barang siapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat”. Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barang siapapun yang bertemu dengan dia. Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, sebelah timur Eden.

Karakter Kain yang ditonjolkan oleh Alkitab adalah sifatnya yang MELAWAN Tuhan, dengan cara MEMBANTAH perkataan Tuhan. Karakter Kain sama dengan karakter iblis yang ditonjolkan oleh alqur’an yaitu MELAWAN dengan cara MEMBANTAH perkataan Tuhan saat iblis diperintahkan bersujud kepada Adam.

Dalam kejadian awal, alqur’an menceriterakan karakter iblis dan malaikat sebagaimana terdapat pada ayat-ayat sebagai berikut:

  1. (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat “sujudlah kamu kepada Adam” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2 : 34).
  2. (Ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud, kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah” (QS 17 : 61).
  3. Apabila Aku telah menyempurnakan kejadian (Adam), dan sudah meniupkan kedalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud, “Maka bersujudlah para malaikat itu bersama-sama (QS 15 : 29-30).
  4. Ingatlah ketika Kami berkata kepada malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam” lalu mereka sujud, kecuali iblis adalah dia dari (golongan) jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (QS 18 : 50).

Ummat islam keliru dalam memahami ayat-ayat di atas karena mereka menafsirkannya secara harfiah sehingga terekam dalam ingatan mereka bahwa malaikat dan iblis lebih dulu diciptakan Tuhan dari pada Adam. Setelah Adam diciptakan mereka diperintahkan untuk bersujud. Para malaikat menaati perintah dengan bersujud sedang iblis melawan perintah Tuhan. Ummat nasrani juga keliru karena menganggap iblis sebagai malaikat pembangkang, sementara jika kita kaji secara cermat dan mendalam tidak ada satupun firman Tuhan dalam alkitab yang menerangkan tentang kehadiran malaikat dan iblis dalam kejadian awal.

Ayat-ayat di atas tidak bisa ditafsirkan secara harfiah oleh karena terdapat pesan Tuhan yang bersembunyi dibalik firman. Sebutan malaikat pada hakekatnya Tuhan ingin berpesan bahwa Dia menciptakan SIFAT MENURUT dan sebutan iblis pada hakekatnya adalah SIFAT MELAWAN. Ketika Tuhan menciptakan sesuatu bersifat MELAWAN maka sesuatu itu harus MENURUT dengan terus menerus MELAWAN sampai dengan batas yang Dia Kehendaki dan apabila Tuhan menciptakan sesuatu dengan sifat MENURUT maka sesuatu itu harus MENURUT dengan terus menerus MENURUT sampai kapanpun. Itu berarti sifat MENURUT lebih dulu diciptakan Tuhan kemudian sifat MELAWAN oleh karena sifat MELAWAN harus MENURUT dengan cara MELAWAN.

Iblis MELAWAN, dengan argumentasi sebagai berikut:

  1. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu tidak sujud (kepada Adam) ketika Aku memerintahkanmu?”. Iblis menjawab “Aku lebih baik dari padanya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS 7 : 12).
  2. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya engkau tidak bersama mereka yang sujud”. Iblis berkata, “Aku tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau menciptakannya dari tanah liat kering, dan lumpur hitam yang diberi bentuk  (QS 15 : 32-33).
  3. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu dari golongan yang tinggi?”. Iblis menjawab, “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, dan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS 38 : 75-76).

Kita tidak bisa menafsirkan ayat di atas secara harfiah sebab secara logika mana mungkin Tuhan menciptakan sesuatu kemudian sesuatu yang diciptakannya itu hanya untuk melakukan  bantahan-bantahan terhadap diriNya?. Iblis menyebut dirinya diciptakan Tuhan dari api itu berarti iblis berada diatas oleh karena sifat api selalu mengarah keatas. Iblis BENAR kalau tidak mau sujud kepada tanah (Adam) mengingat tanah berada dibawah.

Alqur’an menyebut kata “iblis” untuk merahasiakan penciptaan Tuhan bahwa sesungguhnya yang dimaksud “iblis” pada ayat diatas adalah MATAHARI. Matahari adalah api yang sangat panas. Matahari harus MENURUT untuk terus menerus MELAWAN sampai hari kiamat tiba. Jika matahari tidak melawan maka bumi ini akan gelap gulita dan kehidupan di bumi tidak akan pernah ada. Adapun kata “para malaikat” pada ayat-ayat tersebut di atas adalah untuk merahasiakan penciptaan Tuhan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan kata “para malaikat” (Kata jamak) adalah Tuhan menciptakan BINTANG-BINTANG.

Manusia tidak akan mungkin mampu menatap (melawan) matahari oleh karena matahari bersifat MELAWAN. Akan tetapi jika anda menatap bintang-bintang di langit maka bintang-bintang itu seakan membalas tatapan anda dengan kedipannya. Itu disebabkan karena bintang-bintang bersifat MENURUT.

Alkitab juga merahasiakan kata “MATAHARI” tanpa alasan yang jelas. Ini dapat kita lihat pada kitab kejadian 1 : 14-16:

Berfirman Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda menerangi bumi. Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.

Kita bisa saksikan bersama bagaimana firman Tuhan di atas selalu menghindar untuk menyebut kata MATAHARI. Bukan hanya itu, bahkan sebutan kata BULAN juga dihindari oleh karena bulan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari cahaya matahari.

Meskipun alqur’an dan alkitab merahasiakan sifat melawan MATAHARI akan tetapi ada saja golongan manusia yang mampu menembus dinding rahasia ini. Mereka itu adalah orang-orang yang beragama shinto. Manusia Jepang adalah manusia yang memuja matahari. Mereka berkeyakinan bahwa kaisar (raja) mereka adalah titisan dewa matahari. Sejarah dunia mencatat bagaimana kuatnya Jepang, negara pulau kecil Asia dengan penduduk yang sedikit akan tetapi diera 1940-an mampu menguasai dan menjajah negara-negara di Asia Fasifik. Jepang bersekutu dengan Kanselir Jerman Adolf Hitler yang menguasai seluruh daratan Eropa. Hitler adalah seorang pemuja matahari. Jepang dan Jerman dikalahkan oleh pasukan sekutu dalam perang Dunia II yang membawa berkah tersendiri bagi negara-negara lain untuk merdeka, tentunya termasuk Indonesia. Meskipun Jepang kalah dan hancur akibat bom atom tentara sekutu yang meluluh lantakkan Nagasaki dan Hirosima akan tetapi sejarah menyaksikan betapa cepatnya Jepang bangkit dan bangun kembali. Ini semua dapat terjadi karena adanya spirit kekuatan “melawan” (matahari) didalam darah orang-orang berkebangsaan Jepang. Jepang adalah negara kreditor (pemberi pinjaman) terbesar bagi Indonesia sampai saat ini.

Ummat islam sangat mengenal adanya mahluk gaib yang bernama iblis, jin dan syetan akan tetapi mereka bingung dan tidak memahaminya. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah menciptakan ketiga mahluk tersebut. Tuhan hanya menciptakan sifat MELAWAN dalam wujud MATAHARI. Ayat-ayat alqur’an di bawah ini lebih memperjelas bahwa sebutan iblis dan jin awalnya adalah sifat “MELAWAN” (MATAHARI) sebagai berikut:

a.  IBLIS

1.  Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari syurga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. (QS 15 : 34-35).

Maknanya: matahari akan tetap bersinar sampai hari kiamat tiba.

2.  Dia (Iblis) berkata, “ Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?. Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil”. (QS 17 : 62)

3.   Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di bumi, dan pasti aku akan menyesatkan semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis  diantara mereka”. (QS 15 : 39-40).

Makna kedua ayat tersebut: Semua manusia memiliki “SIFAT MELAWAN” kecuali orang yang ihlas. Yaitu mereka yang memiliki jiwa yang tenang.

4.  Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. (QS 34 : 20).

Ayat 34 : 20 di atas tidak bisa diartikan secara harfiah. Ayat di atas justru menyimpulkan bahwa semua manusia menyangka bahwa iblis benar-benar ada dan iblis benar-benar pernah diciptakan Tuhan, kecuali sebagian orang yang beriman atau orang yang percaya kepada Legal Opinion ini bahwa IBLIS TIDAK ADA dan TIDAK PERNAH DICIPTAKAN TUHAN..

b.   JIN

1.   Ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat “sujudlah kamu kepada Adam”. Maka sujudlah  mereka, kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin. (QS 18 : 50).

Maknanya: iblis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari jin. Mereka sama-sama memiliki “sifat melawan” yang diciptakan Tuhan dalam wujud matahari.

2.   Dan Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas. (QS 15 : 27).

3.   Dia menciptakan jin dari  nyala api. (QS 55 : 15)

Makna kedua ayat tersebut adalah: Tuhan menciptakan matahari (jin) dari api panas yang menyala-nyala. Kebenaran ini didukung oleh ilmu pengetahuan. Prominensa adalah salah satu ciri khas matahari, berupa bagian matahari menyerupai lidah api yang sangat besar dan terang yang mencuat keluar dari bagian permukaan serta seringkali berbentuk lop (putaran). Prominensa disebut juga sebagai filamen matahari karena meskipun juluran apinya yang sangat terang bila dilihat diangkasa yang gelap, namun tidak lebih terang dari keseluruhan matahari itu sendiri. Area terdalam matahari disebut Inti, memiliki suhu panas sekitar 15 juta derajat Celcius (27 juta derajat Fahrenheit).

Berdasarkan perbandingan/diameter, bagian Inti berukuran seperempat jarak  dari pusat ke permukaan dan 1/64 total volume matahari. Kepadatannya adalah 150g/cm3. Suhu dan tekanan yang sedemikian tingginya memungkinkan adanya pemecahan atom-atom menjadi elektron, proton dan neutron. Neutron yang tidak bermuatan akan meninggalkan inti menuju bagian matahari yang lebih luar. Sementara itu, energi panas didalam inti menyebabkan pergerakan elektron dan proton sangat cepat dan bertabrakan satu dengan yang lain menyebabkan reaksi fusi nuklir (sering juga disebut termonuklir). Inti matahari adalah tempat berlangsungnya reaksi fusi nuklir helium menjadi hidrogen. Energi hasil reaksi termonuklir di inti berupa sinar gamma dan neutrino memberi tenaga sangat besar sekaligus menghasilkan seluruh energi panas dan cahaya yang diterima di bumi. Energi tersebut dibawa keluar dari matahari melalui radiasi.

Radiasi matahari lebih dikenal sebagai cahaya matahari adalah campuran gelombang elektromagnetik yang terdiri dari gelombang elektromagnetik infra merah, cahaya tampak, sinar ultraviolet. Semua gelombang elektromagnetik ini bergerak dengan kecepatan 3,0×108 m/S.  Oleh karena itu radiasi atau cahaya memerlukan waktu 8 menit untuk sampai ke bumi. Matahari juga menghasilkan sinar gamma, namun frekwensinya semakin kecil seiring dengan jaraknya meninggalkan inti.

Matahari adalah bola raksasa yang terbentuk dari gas hidrogen dan helium. Matahari termasuk BINTANG berwarna putih yang berperan sebagai pusat tata surya. Seluruh komponen tata surya termasuk 8 planet dan satelit masing-masing planet-planet kerdil, asteroid, komet dan debu angkasa berputar mengelilingi matahari. Disamping sebagai pusat peredaran, matahari juga merupakan sumber energi untuk kehidupan yang berkelanjutan. Panas matahari menghangatkan bumi dan membentuk iklim, sedangkan cahayanya menerangi bumi serta dipakai oleh tumbuhan untuk proses fotosintetis. Tanpa matahari, tidak ada kehidupan di bumi karena banyak reaksi kimia yang tidak dapat berlangsung.

4.   Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. (QS 72 : 8)

Maknanya: Posisi matahari ditempat yang sangat tinggi akan tetapi belum mencapai langit.

5.  Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (QS 72 : 9).

Maknanya: Matahari (jin) mengetahui hakekat dirinya dan tujuan Tuhan menciptakannya.

6.   Dan sesungguhnya diantara kami ada orang-orang yang saleh dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS 72 : 11).

Maknanya: Semua manusia memiliki sifat melawan hanya saja tingkatannya yang berbeda-beda.

7.  Dan sesungguhnya diantara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan nyang lurus. (QS 72 : 14)

Maknanya: Manusia yang memiliki sifat melawan ada yang beragama islam ada juga yang bukan orang islam.

8.  Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya, hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. (QS 72 : 19).

Maknanya: Banyaknya manusia yang memiliki sifat melawan sampai-sampai mereka berdesak-desakan mengelilingi nabi Muhammad saat nabi bersembahyang.

9.  Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan alqur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah  selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (QS 46:29).

Maknanya: Rombongan manusia yang memiliki sifat melawan memperhatikan dengan seksama saat alqur’an dibacakan oleh nabi lalu mereka kembali kepada kaumnya (kelompoknya atau suku-sukunya atau kerabat keluarganya) untuk mengabarkannya.

10.  Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (alqur’an)”, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan alqur’an yang menakjubkan”, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali  tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.. (QS 72 : 1-2)

11.  Dan sesungguhnya kami tatkala mendengarkan petunjuk (alqur’an), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan (QS 72 : 13).

Makna kedua ayat tersebut adalah: Sekelompok manusia yang memiliki sifat melawan dimasa hidupnya nabi Muhammad telah tunduk dan menerima kebenaran alqur’an.

12.   Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. (QS 27 : 39).

Maknanya: Ifrit adalah penamaan segolongan manusia yang memiliki sifat melawan dan penyembah berhala dimasa nabi Sulaiman.

13.   Dan bahwasanya ada beberapa orang lelaki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa lelaki diantara jin, maka jin-jin menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS 72 : 6).

Maknanya: Laki-laki penakut/pengecut berlindung kepada laki-laki yang memiliki sifat melawan lebih kuat yang menyebabkan laki-laki itu semakin merasa hebat dan besar kepala. Contoh: laki-laki yang berlindung  kepada preman, centeng, jawara atau aparat/oknum polisi dan tentara.

14.     Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman) “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya  kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”. Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain), dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”, Allah berfirman, “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS 6 : 128).

Maknanya: Dihari kebangkitan; manusia telah dipisahkan dengan sifat melawannya (jin). Jika (sifat melawan) yang diciptakan dari api akan disatukan kembali keasal penciptaannya yaitu api (neraka). Setelah itu manusia menantikan keputusan Sang Pencipta. Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.

15.   Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepada kamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberimu peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?. Mereka berkata “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS 6 : 130).

Maknanya: Manusia yang tetap memiliki sifat melawan sampai hari kiamat akan dinamakan jin. Ciri-cirinya manusia itu terlalu mengejar kehidupan dunia dengan cara berlebih-lebihan dan melampaui batas. Manusia yang telah dipisahkan sifat melawannya dengan dirinya sebelum hari kiamat akan disebut sebagai manusia. Ciri-ciri manusia ini lebih mengharapkan perjumpaannya dengan Tuhan dibanding kesenangan kehidupan dunia yang menipu.

Legal Opinion ini menempatkan alqur’an dan alkitab sebagai dasar hukum dalam memberi pendapat hukum. Dari seluruh ayat-ayat alqur’an tentang iblis dan jin dapat disimpulkan tidak terdapat dasar hukum yang kuat untuk menyebut bahwa Tuhan pernah menciptakan iblis dan jin. Bila manusia tetap beranggapan bahwa Tuhan menciptakan iblis dan jin terhitung sejak Legal Opinion ini disampaikan maka anggapan atau pendapat/pemahaman dan atau perkataan manusia tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum dalam pasal melakukan perkataan (perbuatan) yang tidak menyenangkan terhadap Tuhan.

Manusia  hususnya (ummat islam) tentu saja memahami bahwa iblis dan jin adalah mahluk hina, kotor, menjijikkan dan menyesatkan. Pertanyaannya; apakah pantas tangan Tuhan bekerja untuk menciptakan mahluk seperti itu?. Wajarkah mahluk seperti itu pernah berada di hadapan Tuhan Yang Maha Suci?. Jagalah mulut anda bung!. Mulutmu adalah harimaumu. Jangan dengar dan jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh ustaz, kiyai, ulama, pendeta dan pastor. Mereka tidak tahu apa-apa TENTANG RAHASIA PENCIPTAAN TUHAN. Celakanya lagi, mereka itu akan cuci tangan melepas tanggungjawab dengan balik menuduh kalian bahwa kalianlah yang bodoh karena mau mempercayai perkataan mereka.

Iblis dan jin tidak pernah ada karena tidak pernah diciptakan Tuhan. Pada kejadian awal, Tuhan hanya menciptakan SIFAT MENURUT. Wujud sifat menurut adalah penciptaan BINTANG-BINTANG. Sifat menurut dalam wujud bintang-bintang dirahasiakan Tuhan dalam ungkapan kata “para malaikat”. Malaikat pada waktu itu belum ada, karena memang belum diciptakan!. Setelah sifat menurut diciptakan, Tuhan menciptakan lagi SIFAT MELAWAN. Wujud sifat melawan adalah penciptaan MATAHARI. Ilmu pengetahuan mengatakan; matahari termasuk bintang berwarna putih yang berperan sebagai pusat tata surya. Pendapat itu benar, karena matahari (sifat melawan) diciptakan Tuhan dari bintang (sifat menurut). Sifat melawan dalam wujud matahari dirahasiakan Tuhan dalam ungkapan kata “iblis adalah golongan jin”, maksudnya tingkatan panasnya matahari (api). Matahari yang baru terbit dan matahari yang akan terbenam tingkatan panas apinya dapat ditahan oleh manusia, derajat panasnya dirahasiakan dalam kata “iblis” sedangkan panas teriknya matahari disiang bolong, derajat panasnya dirahasiakan dalam kata “jin”.

Seluruh manusia memiliki SIFAT MENURUT dan SIFAT MELAWAN didalam dirinya. Kebenaran universal ini dapat dibuktikan dalam keadaan kita sehari-hari. Apabila malam tiba, ketika BINTANG-BINTANG berkedap-kedip diangkasa adalah pertanda waktu bahwa manusia HARUS MENURUT. Entah jam berapa rasa kantuk mendera anda, yang pasti anda harus tidur!. Kenapa anda harus tidur?. Karena anda menurut. Jika anda melawan untuk tidak tidur beristirahat maka anda akan merusak kesehatan diri anda sendiri. Apabila MATAHARI telah terbit di ufuk timur maka itulah pertanda anda harus bangun dan bangkit dari tidur. Entah jam berapa, yang pasti anda harus bangun. Kenapa anda harus bangun?. Karena anda MENURUT. Anda menurut untuk MELAWAN. Bangkit untuk melakukan aktivitas sehari-hari adalah pencerminan dari SIFAT MELAWAN yang anda punyai.

Yang pertama diciptakan Tuhan adalah SIFAT MENURUT. Tuhan merahasiakanNya dalam sebutan “malaikat”. Wujud “sifat menurut” adalah BINTANG-BINTANG. Dari sifat menurut, Tuhan menciptakan “SIFAT MELAWAN”. Tuhan merahasiakanNya dalam sebutan  iblis dan jin. Wujud “sifat melawan” adalah MATAHARI. Tuhan menciptakan sifat melawan bukan untuk melawan Tuhan. Adalah sebuah kemustahilan dan tidak rasional jika yang diciptakan akan melawan Yang Menciptakan. Sifat MELAWAN diciptakan Tuhan untuk MENURUT kepada Tuhan karena sifat MELAWAN diciptakan dari sifat MENURUT. Karena itu MATAHARI adalah bagian yang tidak terpisahkan dari BINTANG.

Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah obyek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).

Menurut ilmu astronomi, defenisi bintang adalah: semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. BINTANG terdekat dengan bumi adalah MATAHARI pada jarak sekitar 149.680.000 kilometer.

Karena jaraknya yang sangat jauh, semua bintang (kecuali matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfir bumi. BINTANG terdekat dengan MATAHARI adalah Proxima Centauri, berjarak 39,9 triliun (1012) kilometer, atau 4,2 tahun cahaya. Cahaya dari Proxima Centauri memakan waktu 4,2 tahun untuk mencapai bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal didalam sebuah piringan galaksi. Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galaksi dan di dalam gugus bola atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi. Karena kerapatan yang rendah didalam sebuah galaksi, tumbukan antar bintang jarang terjadi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bintang atau lingkungan sekitar pusat galaksi tumbukan dapat sering terjadi. Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstillun (7×1022) bintang diseluruh alam semesta yang teramati. Ini berarti 70.000.000.000.000.000.000.000. bintang atau 230 milyar kali banyaknya bintang di galaksi bima sakti yang berjumlah 300 milyar.

Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktek keagamaan, dalam navigasi dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir disemua bagian dunia, adalah kalender matahari, mendasarkan diri pada posisi bumi relatif terhadap bintang terdekat, matahari.

Apakah tidurnya manusia dimalam hari untuk beristirahat dan bangunnya disiang hari untuk beraktivitas, terjadi begitu saja?. Tidak!, semua itu disebabkan karena diciptakan oleh Tuhan Yang Penuh Kasih. Dia-lah Yang menciptakan malam lebih dahulu kemudian siang, sebagaimana firmanNya dalam alkitab, kitab Kejadian 1 : 1-2:

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi . Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Firman di atas menjelaskan kepada kita bahwa malam (gelap gulita) lebih dahulu yang diciptakan Tuhan kemudian siang. Itu berarti SIFAT MENURUT lebih dahulu diciptakan kemudian dari sifat menurut diciptakan SIFAT MELAWAN agar sifat melawan tetap menurut kepada Tuhan.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang”. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. (Kejadian 1 : 3-5).

Untuk membuktikan bahwa gelap gulita lebih dulu lalu siang atau sifat menurut lebih dulu diciptakan kemudian sifat melawan kita dapat lihat pada keadaan bayi yang ada dalam kandungan. Meskipun bayi itu memiliki mata akan tetapi matanya terpejam. Bayi tertidur terus (malam/gelap gulita). Keadaan itu adalah saat dimana bayi menerima SIFAT MENURUT. Ketika bayi telah lahir, bayi itu menangis. Tangisan bayi menandakan bahwa sibayi telah mendapatkan SIFAT MELAWAN. Beberapa hari kemudian, mata sibayi dapat melihat keadaan terang di sekelilingnya. Bayi akan tersenyum karena ternyata terang itu baik.

Cakra Ningrat berpendapat; iblis dan jin tidak ada karena memang tidak pernah diciptakan Tuhan. Malaikat juga tidak ada karena memang belum diciptakan Tuhan. Itu berarti tidak ada saksi yang pernah menyaksikan Tuhan atau tidak ada saksi yang mengetahui Tuhan, termasuk ketika Tuhan menciptakan semuanya. Adam dan Hawa juga tidak pernah melihat dan menyaksikan Tuhan. Karena mereka tidak pernah melihat dan menyaksikan Tuhan berarti mereka tidak mengetahui wujud Tuhan. Dialog-dialog antara Tuhan dengan Adam dan Hawa adalah dialog yang berkaitan dengan apa yang akan diciptakan Tuhan. Kalaupun dialog-dialog itu benar adanya maka Adam dan Hawa hanya mendengar suara tanpa menyaksikan wujud nyata sumber suara (Tuhan).

Tuhan sangat menjaga rahasia diriNya sebab bila ada yang pernah melihat atau mengetahui diriNya, maka sifat Maha Suci-Nya akan gugur dengan sendirinya. Legal Opinion ini hanya sebatas mengungkap fakta-fakta hukum yang berkaitan dengan apa yang Dia ciptakan yang selama ini merupakan rahasia yang terjaga, karena fakta-fakta ini berkaitan dengan diriNya sendiri. Mengetahui rahasia penciptaan awal berarti dekat dengan sumber segala penciptaan yakni Tuhan.

Pada awalnya adalah Tuhan. Dia ada dengan sendiriNya, sebab itu Dia tidak Bernama. Dia berwujud. Dan wujudNya adalah laki-laki Yang Maha Sempurna. Maha Pandai. Maha Kuat. Maha Perkasa. Dia menutup diriNya dengan pakaian. PakaianNya itu disebut IHRAM. Dia Maha Mulia. Warna pakaianNya adalah putih. Dia Maha Bersih. Dia Maha Suci. Dia Maha Agung. Tuhanku Sangat Sederhana. Dia Maha Sabar.

Setelah Tuhan ada, maka bayanganNya juga ada. Tuhan memberi nama bayanganNya itu Dengan Nama “Allah”. Bayangan Tuhan tidak berwujud akan tetapi hidup. Karena bayangan Tuhan hidup meski tidak berwujud maka disebut Roh Allah. Roh Allah memiliki sifat yaitu MENURUT kepada Tuhan. Alqur’an menyebut Roh Allah sebagai Arasy dan Tuhan berada di atas Arasy.

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya (singgasana-Nya) di atas air (QS 11 : 7).

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1 : 1-2)

Kanonisasi alkitab dibuka dengan kitab kejadian 1 : 1-2 untuk menggambarkan penciptaan awal yang sangat rahasia dimana bumi belum berbentuk dan kosong, keadaan gelap gulita yang menutupi samudera raya dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Alqur’an menggambarkan keadaan rahasia ini dengan mengatakan Arasy-Nya berada di atas air.

Ummat islam mengetahui bahwa Arasy adalah singgasana Tuhan. Mereka meyakini bahwa Arasy di atas langit ketujuh di atas Sidratul Muntaha tempat nabi Muhammad menerima perintah shalat ketika beliau mi’raj. Ketahuilah bahwa Arasy pernah berada di bumi, di atas air ketika langit dan bumi masih satu. Ketahuilah bahwa alqur’an dan alkitab saling menerangi karena kedua kitab itu berasal dari Tuhan Yang Satu.

Air tidak dapat diartikan secara harfiah semata oleh karena air adalah sumber hidup yang menghidupkan. Tuhan menciptakan dengan perantaraan Arasy atau Roh Allah agar yang diciptakan itu menjadi hidup dan nyata.

Apakah orang-orang yang ingkar tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu keduanya menyatu lalu Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman? (QS 21 : 30).

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan perantaraan Allah-Nya yang menurut kepada Tuhan oleh karena itu segala yang diciptakanNya harus memiliki SIFAT MENURUT.

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh”. (QS 41 :11).

Ayat di atas tidak bisa diartikan secara harfiah, kalimat “kami datang dengan patuh” harus diartikan sebagai SIFAT MENURUT.

Dia yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy (QS 25 : 59).

Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy (QS 32 : 4).

Alqur’an tidak menjelaskan kepada kita apa saja yang Tuhan ciptakan selama enam masa dalam penciptaan langit dan bumi serta apa saja yang ada diantara  keduanya. Alkitab menerangi kita dengan firman Allah bahwa rangkaian-rangkain penciptaan selama enam masa (hari) adalah sebagai berikut:

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang”. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air. Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada dibawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering”. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi”. Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi”. Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan mahluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala”. Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis mahluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah  serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak”. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis mahluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar”. Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji diseluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang  bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya”.  Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kejadian 1 : 3-31)

Alkitab telah menjelaskan berbagai hal penciptaan selama enam masa (hari) sebagaimana firman tersebut di atas.

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah” Lalu jadilah ia. (QS 2 : 117)

Dan Dialah yang menciptkan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataanNya diwaktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS 6 :73).

Firman didalam alkitab dan alqur’an tidak bisa diartikan secara harfiah. Dalam kalimat “jadilah” LALU “terjadilah”, harus menjadi perhatian kita pada kata penghubung “lalu”. Kata “lalu” adalah predikat yang menghubungkan antara subyek dan obyek. Kata “lalu” harus ditafsirkan sebagai SIFAT MENURUT. Obyek apapun yang hendak diciptakan Tuhan maka obyek harus menurut pada subyek tersebut.

Subyek yang hendak diciptakan Tuhan telah tersusun dengan baik selama enam masa (hari) dan pada hari ketujuh Tuhan beristirahat.

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. (Kejadian 2 : 2)

Apakah benar Tuhan beristirahat?. Kata “beristirahat” hanya untuk mengaburkan rahasia Tuhan bahwa yang terjadi dibalik kata “istirahat” justru saat dimulainya aktivitas sifat menurut. Subyek penciptaan adalah Allah dengan kata lain Allah adalah SEBAB penciptaan. Setiap fase penciptaan selama enam masa (hari) alkitab membukanya dengan kalimat “Berfirmanlah Allah”. Kalimat ini terus menerus diulangi sebanyak sepuluh kali. Apakah penciptaan telah terjadi?. Belum!. Penciptaan belum terjadi. Semua yang difirmankan Allah masih sebatas ranah HUKUM SEBAB. Hukum AKIBAT belum terjadi. Hukum sebab adalah GAIB. Disebut Gaib karena belum terjadi dan Hukum Akibat adalah NYATA. Disebut Nyata karena sudah terjadi. Fakta ini dipertegas pada Kanon berikutnya:

Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu. (Kejadian 2 : 5).

Kita dapat menyaksikan sebuah fakta hukum bahwa alkitab untuk pertama kalinya menggunakan kata sambung “TUHAN Allah”. Ini adalah “Kata kunci” bahwa TUHAN-lah Sang Pencipta Hukum SEBAB. Oleh karena rumitnya dan beraneka ragamnya serta panjangnya mata rantai kait mengait antara satu dengan lainnya rencana penciptaan yang dikehendaki Tuhan maka seluruhnya dihimpun didalam satu kata yang disebut ALLAH. Allah adalah SEBAB penciptaan BUKAN pencipta SEBAB. Allah penyebab AKIBAT akan tetapi BUKAN pencipta AKIBAT. Allah BUKAN Tuhan!. Tuhan adalah Tuhan!.

Tuhan dengan kalimat terselubung mangatakan “belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang. Sebab Tuhan Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu”. Kita tidak bisa menafsirkan secara harfiah firman tersebut oleh karena dibalik firman itu, Tuhan  menyampaikan fakta hukum bahwa belum ada yang hidup dengan kata lain belum ada kehidupan akan tetapi TANAH sudah diciptakan. Pertanyaannya dari manakah awal penciptaan Tanah?.

Firman selanjutnya:

tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu-ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup (Kejadian 2 : 6-7)

Kita tidak bisa terlena dengan firman di atas tanpa berusaha memikirkannya. Bagaimana mungkin kabut bisa naik ke atas tanpa ada yang menyebabkannya lagi pula “atas” dan “bawah” belum ada mengingat langit dan bumi masih menjadi satu, Firman di atas tidak ada bedanya dengan firman Tuhan dalam alqur’an QS 41 : 11.

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi; “Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa. “Keduanya menjawab, “kami datang dengan patuh”.

Alkitab menyebut “kabut” dan alqur’an mengatakan “asap” Pertanyaannya; dari manakah kabut dan asap berasal?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Dalam alqur’an dikatakan:

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ArasyNya (SinggasanaNya) di atas air (11:7).

Alkitab menjelaskan:

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1 : 1-2).

Dari kedua firman tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa yang pertama-tama diciptakan Tuhan adalah AIR. Logika kita tentu saja akan mempertanyakan dari manakah air itu berasal?. Perhatikan dan cermatilah firman Tuhan dalam alqur’an surah Al-Anbiya (QS 21 : 30 – 35) sebagai berikut:

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebanar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Ummat islam mengenal dan meyakini adanya nabi yang bernama nabi Hidir. Nabi ini tidak diketahui sejarah hidupnya dan dimana keberadaannya. Dia dikenal sebagai NABI-NYA AIR. Oleh karena air ada dimana-mana maka nabi ini ada dimana-mana. Cakra Ningrat akan menulis artikel husus untuk mengungkap misteri YANG MULIA NABI HIDIR. Nabi yang diciptakan Tuhan, bersamaan saat Tuhan menciptakan air. Ada dua fakta hukum tentang jati diri beliau yang dapat kami kemukakan yaitu:

1.    Peristiwa banjir Nuh dapat terjadi karena Tuhan memerintahkan nabi Hidir, nabi yang menguasai air untuk membuka pintu-pintu air agar air dapat menenggelamkan bumi.

2.    Peristiwa munculnya mata air zam-zam di Mekkah yang sampai saat ini airnya mengalir terus menerus oleh karena Tuhan memerintahkan nabi penguasa air untuk memunculkan mata air tersebut.

Air adalah sumber utama kehidupan. Dua pertiga bumi ini dipenuhi oleh air. Sungguh betapa berbahayanya manusia jika menyepelekan nabi “Sang Penguasa Air” ini. Nabi ini adalah nabi gaib sebagaimana gaibNya Allah. Jika air adalah wujud Allah maka nabi ini dinamakan Allah karena nabi ini ada dalam wujud air. Oleh karena Allah tidak dapat dilihat (gaib) maka nabi ini tidak dapat di lihat (gaib). Bila mana nabi ini berwujud nyata, sama bentuknya dan sebagaimana manusia biasa dan dapat di lihat dan diketahui oleh manusia maka nabi ini akan disebut sebagai ARASY. Arasy artinya “Singgasana” Tuhan.

Legal Opinion ini berpendapat; BUKAN Yesus Kristus, bukan pula Imam Mahdi dan Isa Almasih yang akan muncul diahir zaman oleh karena manusia sudah mengenal nama-nama itu. Logikanya sangat sederhana; dengan cara apa mereka menyebut dirinya dan dengan cara bagaimana manusia bisa mengenalnya?. Dapat dipastikan nama-nama itu hanya akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan, perdebatan dan perbedaan pendapat yang tak berkesudahan. Nama-nama suci itu hanya akan menjadi sumber keonaran, keributan yang menyebabkan manusia justru saling bermusuh-musuhan bahkan saling berbunuh-bunuhan.

Cakra Ningrat berpendapat; sosok yang akan muncul (atau telah muncul) adalah sosok NABI HIDIR. Alqur’an dan alkitab menyebut Dia sebagai AIR. Ummat islam mengenal Dia sebagai Nabi-Nya Air. Nabi ini tidak pernah memiliki jasad. Apabila nabi ini telah berjasad seperti manusia pada umumnya maka nabi ini disebut ROH ALLAH YANG NYATA atau ARASY YANG NYATA. Nabi ini tidak “bersembunyi” (TIDAK “PININGIT”). Tuhan menempatkan nabi-Nya ini sebagai SEBAB agar AKIBAT dapat tercipta. Segala akibat yang akan tercipta adalah PENCIPTAAN TUHAN YANG KEDUA.

Cakra Ningrat tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang apa saja yang masuk dalam kategori “Penciptaan Tuhan Yang Kedua”.  Pengetahuan kita hanya sebatas menelusuri rahasia Penciptaan Tuhan Yang Pertama melalui alqur’an dan alkitab kemudian mengungkapnya dalam bantuk tulisan artikel agar dapat kita ketahui bersama.

1.    BINTANG

Tuhan menempatkan Roh Allah yang pertama-tama sebagai SEBAB dan Air sebagai AKIBAT. Karena Roh Allah bersifat menurut kepada Tuhan maka akibat yang tercipta Air memiliki sifat menurut. Selanjutnya Tuhan menciptakan SIFAT MENURUT dalam wujud BINTANG-BINTANG. Tuhan menciptakan Bintang sangat banyak sekali. Astronom memperkirakan jumlahnya sekitar 70 sikstillun (7×1022). Jumlah ini setara dengan jumlah penciptaan yang dikehendaki Tuhan.

Tuhan hanya memulai dalam penciptaan pertama yang akan terangkum dalam satu kata yaitu SEBAB. Penciptaan selanjutnya diserahkan kepada manusia untuk mewakili Tuhan. Contoh yang paling sederhana adalah arloji yang kita kenakan. Ada berapa macam merk arloji, jenis, ukuran dan modelnya. Siapakah yang menciptakan arloji tersebut?. Tentu anda mengatakan manusia. Benar, akan tetapi jangan anda lupa bahwa jauh sebelum manusia menciptakan arloji, Tuhan sudah memasukkan arloji dengan segala macam merk, model dan jenisnya di dalam wujud bintang-bintang yang sangat banyak itu. Sangat banyak diciptakan manusia sebagaimana banyaknya rencana penciptaan Tuhan dalam wujud bintang-bintang tersebut. Manusia menerima ide-ide penciptaan dengan perantaraan bintang di langit. Semua penciptaan yang dilakukan oleh manusia dan sudah tidak digunakan lagi; sebagai contoh kereta kuda (delman) yang sudah digantikan dengan mobil maka bintang “kereta kuda” disebut sebagai bintang semu atau bintang yang tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Saat pertama kali diciptakan Tuhan, bintang belum berada di ketinggian akan tetapi bintang berada di atas permukaan air. Energi pertama yang diperoleh bintang adalah energi yang berasal dari air. Bintang mulai meninggi saat matahari telah diciptakan.

2.    MATAHARI

Setelah SIFAT MENURUT dalam wujud BINTANG-BINTANG tercipta maka Tuhan menciptakan SIFAT MELAWAN dalam wujud MATAHARI yang sumber penciptaannya dari SIFAT MENURUT, oleh karena itu matahari disebut juga sebagai BINTANG. Matahari adalah api yang amat sangat panas. Inti matahari memiliki suhu 15 juta derajat Celcius atau 27 juta derajat Faranheit. Saat pertama kali diciptakan posisi matahari berada di atas dan menyatu dengan permukaan air.

3.    TANAH

Tuhan memerintahkan MATAHARI untuk MELAWAN AIR. Air yang ada disamudera raya mendidih. Kita tidak tahu berapa luasnya areal yang terkena titik didih matahari pada awalnya. Areal itu mengering, memadat dan membatu yang pada ahirnya tercipta TANAH yang ikutannya adalah GUNUNG-GUNUNG. Segala mineral-mineral alam termasuk segala kandungan logam yang terdapat di dalam perut bumi adalah akibat terjadinya pembakaran oleh matahari.

4.    LANGIT

Perlawanan matahari terhadap air menimbulkan ASAP yang sangat banyak. Asap inilah yang menjadi dasar penciptaan LANGIT

5.    UDARA

Pembakaran yang dilakukan matahari terhadap air menghasilkan UAP AIR. Uap inilah yang menjadi dasar terciptanya UDARA.

Roh Allah (Arasy), Allah dalam wujud air dan bintang-bintang; ketiganya memiliki sifat menurut. Tuhan akan menggenapkan yang tiga ini menjadi empat. Pemilik sifat menurut keempat adalah sebuah alam yang disebut alam barzah. Tuhan menempatkan roh-roh manusia yang sudah mati di alam itu. Alam itu diciptakan Tuhan setelah peristiwa banjir semesta. Kita akan saksikan bersama bagaimana Tuhan menciptakan alam itu dalam artikel “Perjanjian Tuhan Dengan Nuh, Hud dan Saleh”.

Tanah, Udara dan Langit; ketiganya TIDAK MEMILIKI SIFAT. Tuhan akan menggenapkan yang tiga ini menjadi empat dengan menciptakan Adam. Tuhan mengambil tanah untuk menciptakan tubuh Adam. Udara untuk jalur keluar-masuknya nafas dan langit untuk akal-fikirannya. Saat pertama kali diciptakan dari tanah Adam masih seperti sebuah gambar berbentuk patung dengan rupa wajah sebagaimana yang diinginkan Tuhan. Belum bernafas dan belum memiliki darah. Tentu saja Adam tidak memiliki sifat.

ROH

Dalam alqur’an difirmankan:

Apabila Aku telah menyempurnakan kejadian (Adam), dan sudah meniupkan roh (Ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud, “Maka bersujudlah para malaikat itu bersama-sama”. (QS 15 : 29-30).

Firman di atas tidak bisa diartikan secara harfiah oleh karena ada rahasia penciptaan lain di balik firman tersebut. Ada empat makna yang penting kita ketahui yaitu:

a.    “Apabila Aku telah menyempurnakan kejadian (Adam)”. Awalnya Adam hanya sebuah patung yang Tuhan bentuk dari tanah. Patung itu diberi gambar dan rupa sebagaimana yang diinginkan Tuhan. Patung itu tidak hidup. Tidak bergerak dan belum bisa digerakkan oleh Tuhan. Andaikan tanah MEMILIKI SIFAT, entah SIFAT MENURUT atau SIFAT MELAWAN tentu saja patung itu bisa digerakkan oleh Tuhan entah patung itu menurut atau melawan sebagaimana bintang dan matahari yang dapat saja dengan mudah digerakkan.

b.    “Meniupkan roh (Ciptaan)-Ku”. Apakah Roh Allah yang ditiupkan?. Bukan!. Roh Allah memiliki sifat menurut tidak boleh ditiupkan kedalam patung tanah yang tidak memiliki sifat. Roh yang ditiupkan ubun-ubun di kepala patung tanah Adam adalah Roh yang Tuhan Ciptakan dari Langit yang tidak memiliki sifat. Roh itu bentuknya seperti asap berwarna putih bersih. Asap itu sebagai akibat dari pembakaran matahari terhadap air saat tanah diciptakan.

Roh Ciptaan Tuhan  tersebut memiliki fungsi sebagai akal fikiran manusia. Dengan kekuatan akal dan fikirannya kelak manusia akan mampu menembus ruang angkasa. Diawal penciptaan tentu saja Adam tidak secerdas manusia sekarang oleh karena ukuran otak manusia saat pertamakali diciptakan masih sangat kecil, sederhana dan terbatas.

c.    Roh Ciptaan Tuhan yang berfungsi sebagai akal-fikiran manusia yang ditiupkan melalui ubun-ubun patung Adam DIGENAPKAN dengan terciptanya ANGIN. Bila manusia telah mati maka Roh keluar dari jasadnya, Roh itu akan dijemput oleh angin kemudian angin akan mengantar roh itu menuju ke alam barzah. Pemahaman manusia selama ini bahwa roh orang yang mati akan dijemput oleh malaikat adalah pemahaman yang keliru. Cakra Ningrat berpendapat; sifat yang dimiliki oleh “angin” sama dengan sifat yang dimiliki oleh malaikat yakni “sifat menurut”. Iman islam meyakini adanya malaikat yang menjemput nyawa seseorang bila orang itu akan memenuhi ajalnya. Cakra Ningrat berpendapat “malaikat” yang dimaksudkan tersebut adalah “angin” yang memiliki sifat sama dengan malaikat yakni “sifat menurut”. Malaikat terlalu sangat suci untuk berinteraksi langsung dengan manusia yang penuh nafsu.

d.    “Maka bersujudlah para malaikat itu bersama-sama”. Bukan malaikat yang bersujud kepada patung Adam akan tetapi bintang-bintang yang harus bersujud. Bintang-bintang tidak bersujud akan tetapi menurut sebagaimana sifatnya yang menurut sebab Tuhan berkehendak bahwa nantinya manusia yang akan melanjutkan ide-ide penciptaan dengan menggunakan akal-fikiran yang telah Tuhan tiupkan.

Patung Adam belum dapat dikatakan hidup meskipun Roh telah ditiupkan kepadanya. Tuhan masih harus memberinya nafas hidup.

NAFAS HIDUP

Difirmankan dalam alkitab:

Tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu. Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup (Kejadian 2 : 6-7).

Kita tidak bisa menafsirkan firman di atas secara harfiah oleh karena terdapat rahasia penciptaan dibalik firman. Kata “kabut” dan kata “debu” pada hakekatnya sama saja. Kedua kata itu digunakan didalam firman guna menyembunyikan rahasia Penciptan Tuhan.

Kabut atau debu memiliki makna sebagai udara. Udara berasal dari uap air yang mendidih akibat pemanasan yang dilakukan oleh matahari terhadap air yang menyebabkan terciptanya tanah. Tuhan mengambil sedikit udara kemudian dihembuskan ke dalam hidung patung Adam sebagai nafas hidup maka hiduplah Adam. Manusia yang hidup adalah manusia yang memiliki nafas. Nafas akan terhenti dengan sendirinya apabila tidak ada udara (oksigen). Manusia akan mati apabila tidak mendapat oksigen (udara) oleh karena nafas hidup diciptakan Tuhan dari sebab adanya udara.

Meskipun patung Adam telah diisi nafas hidup dan dinyatakan hidup akan tetapi patung itu belum dapat dikatakan sebagai manusia oleh karena patung itu belum bisa bergerak, berbicara dan melihat oleh karena Tuhan belum mengisi darah di dalam diri patung tersebut.

DARAH

Difirmankan dalam alqur’an:

Ingatlah ketika Tuhan berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS 2 : 30).

Kita tidak bisa menafsirkan firman di atas secara kharfiah yang menggambarkan suatu suasana dialogis antara Tuhan dengan malaikat. Malaikat tidak ada karena belum diciptakan Tuhan dan dialog tersebut juga tidak pernah terjadi. Dalam melakukan Penciptaan Awal, Tuhan hanya sendiri. Dia Tunggal. Dia Esa. Dia tidak memiliki saksi yang menyaksikan Dia Mencipta. Dia tidak memiliki sekutu dalam segala penciptaanNya.

Akan tetapi, disaat-saat waktu menjelang ahir zaman ini, Dia ingin memilih dan mengambil saksi-saksi atas diriNya. Dengan perantaraan tulisan tangan (Cakra Ningrat) ini, Dia ingin kita dapat menerima, mengerti dan memahami bagaimana sistematika perencanaan dan penciptaanNya. Mata kita tidak perlu melihat Dia akan tetapi akal-fikiran kita perlu mengetahui Dia. Dia Tahu bahwa akal-fikiran kita memiliki kekuatan yang dapat menembus langit. Sebab Dia yang menciptakan akal-fikiran kita dari dzat yang sama dengan dzat yang Dia gunakan ketika menciptakan langit. Hanya dengan akal, kita dapat menembus langit guna mengetahui rahasia penciptaanNya yang selama ini Dia jaga kerahasiaanNya.

Anda dapat menyaksikan saat matahari terbit atau terbenam, matahari itu berwarnah merah. Seperti itulah ketika Tuhan pertama kali menciptakannya, kemudian matahari diperintahkan berada di permukaan air dan melawannya. Tentu saja air berubah menjadi warna merah karena tidak kuat menghadapi sifat melawan matahari. Air yang memerah inilah yang Tuhan jadikan sebagai DARAH. Darah yang mengalir di dalam tubuh manusia memiliki SIFAT MELAWAN, sama dengan sifat yang dimiliki oleh matahari. Tanpa matahari tidak ada kehidupan, tanpa darah semua manusia akan mati.

Dimasa Musa, Tuhan pernah menurunkan TULAH DARAH. Seluruh air yang ada di sumur-sumur, sungai-sungai dan lautan berubah menjadi darah. Tulah itu merupakan penggenapan dari air yang berubah menjadi merah saat Tuhan pertamakali menciptakan darah. Tuhan mengabadikan peristiwa Tulah Darah dengan nama sebuah laut yang disebut sebagai LAUT MERAH (RED SEA), agar manusia bisa memahami bagaimana cara Tuhan menciptakan darah kita. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana cara Tuhan memasukkan darah kedalam tubuh patung Adam . Pengetahuan kita sebatas pada bagaimana cara Tuhan menciptakan darah pertama kali, saja.

DAGING

Pembakaran (pemanasan maksimal) matahari terhadap air yang membuat air mengering, mengeras dan membatu mengakibatkan terciptanya TANAH, kemudian dari tanah itu, Tuhan menciptakan tubuh Adam dalam bentuk patung tanah. Setelah patung tanah disuntikkan darah maka patung tanah berubah menjadi DAGING.

TULANG BELULANG

Pembakaran (pemanasan maksimal) matahari terhadap air menimbulkan asap putih dan uap air sehingga menjadi CAIRAN PUTIH. Cairan putih ini disuntikkan ketubuh (daging) Adam sehingga membentuk TULANG BELULANG (RANGKA TUBUH MANUSIA).

Setelah tulang Adam tercipta maka langit mulai ditinggikan. Udara mengantarai langit dan tanah. Langit tidak perlu tiang penyanggah oleh karena tulang-tulang yang menyanggah tubuh Adam memiliki fungsi yang sama sebagai tiang penyanggah langit. Ini disebabkan karena tulang belulalng Adam diciptakan Tuhan dari pencampuran asap putih dan uap air (cairan putih) sebagai dzat yang dijadikan Tuhan menciptakan langit dan udara sama dengan dzat yang digunakan Tuhan dalam menciptakan tulang belulang manusia untuk pertamakali.

Selama manusia masih hidup dan berdiri maka selama itu pula langit tidak akan runtuh oleh karena tiang penyangga langit adalah tulang belulang manusia (rangka) manusia yang tegak berdiri. Langit akan runtuh dengan sendirinya apabila seluruh ummat manusia “mati” secara serentak dan bersamaan (kiamat) oleh karena tidak ada lagi kerangka manusia yang berdiri tegak menopang atau sebagai tiang penyanggah langit.

Artikel ini akan dilanjutkan pada Bagian Kedua.  Pada bagian kedua nanti Cakra Ningrat akan mengungkap rahasia penciptaan binatang, penciptaan Hawa (isteri Adam) dan bulan. Juga akan diungkap berdasarkan hukum alqur’an dan alkitab siapakah sesungguhnya yang disebut malaikat dan iblis. Malaikat dan iblis adalah anak cucu keturunan Adam. Jika malaikat dan iblis bukan anak cucu Adam, mustahil komunitas mereka dapat berinteraksi dengan manusia; Hanya Tuhan saja, SENDIRI yang bukan berasal dari keturunan Adam karena Dia-lah yang menciptakan Adam.

Mudah-mudahan tulisan ini membawa manfaat yang besar bagi seluruh pembaca terutama kepada warga setia blog yang terhormat ini.

Indonesia Timur; 11 – 09 – 2013

LEGAL OPINION TERHADAP PERJANJIAN LAMA

Download Artikel

PERJANJIAN TUHAN DENGAN ADAM (MANUSIA)

Oleh: Cakra Ningrat

PENGANTAR:

Sesungguhnya Legal Opinion ini sudah pernah kami sampaikan di kolom komentar blog satriopiningitmuncul.wordpress.com pada tanggal 17-1-2013 sampai dengan tanggal 20-2-2013 akan tetapi Tim Admin meminta kami menulis ulang dalam bentuk artikel untuk memberi kemudahan seluruh warga setia dan pembaca mempelajarinya atau membacanya secara berulang-ulang dengan pertimbangan tulisan dalam bentuk artikel dapat dipajang secara permanen di blog tersebut.

Awalnya kami merasa enggan untuk memenuhi permintaan Tim Admin, disebabkan karena banyaknya tugas-tugas rutin yang harus kami kerjakan, yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi yang prima. Bukan hanya itu, Legal Opinion yang membahas perjanjian-perjanjian Tuhan memiliki cakupan yang sangat luas yang belum pernah mendapat perhatian para ahli baik dikalangan islam maupun oleh golongan nasrani sehingga tidak ada satupun literatur yang bisa kita jadikan rujukan dalam penulisan artikel ini.

Tuhan menciptakan segala sesuatunya tidak hanya sekali jadi karena tidak sekali jadi, maka Tuhan perlu membuat Perjanjian-Perjanjian antara diriNya dan ciptaanNya. Perjanjian itu bersifat mengikat sejak perjanjian itu disampaikan, sampai kepada hari ini dan waktu yang akan datang hingga perjanjian itu kembali lagi kedalam tanganNya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa “Perjanjian” adalah produk hukum yang mengikat para pihak. Bila salah satu pihak tidak mentaati perjanjian yang telah disepakati maka pihak yang dirugikan akan mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan. Hakim memiliki kewenangan untuk memutuskan perselisihan hukum perjanjian.

Dalam alkitab disebutkan bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi selama enam hari dan pada hari ketujuh Tuhan beristirahat. Alqur’an mengatakan “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa … (QS. 11:7). Secara lengkap kami kutipkan alkitab sebagai berikut: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dengan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatnya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang dibuatNya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu (Kejadian 2:1-3).

Ummat islam akan menerima firman Tuhan pada surat Hud ayat 7 tanpa koreksi. Ummat nasrani akan menerima firman Tuhan pada kitab kejadian 2:1-3 tanpa bantahan. Sebagai orang hukum Cakra Ningrat tidak bisa berpihak kepada ummat islam atau ummat nasrani meskipun Cakra Ningrat orang islam. Sebagai orang hukum Cakra Ningrat menerima alqur’an dan alkitab dengan catatan berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1.     Apa yang dimaksud dengan “masa”. Jika masa dimaknai sebagai waktu, satuan apakah yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur yang bisa diterima secara hukum, apakah jam, hari,  minggu, bulan, tahun atau abad?. Satuan “masa” sangat penting agar kita dapat mengetahui jarak waktu dari satu masa kemasa berikutnya sampai terpenuhi enam masa. Lebih dari semua itu, jika benar satuan waktu sudah ada, siapakah yang berkepentingan terhadap penggunaan waktu tersebut?

2.     Apa yang dimaksud dengan “hari ketujuh”. Dari mana dasar penghitungannya. Apakah kata “hari” yang dimaksud oleh alkitab sama dengan hari yang kita gunakan sekarang yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu dan Minggu. Jika sama kenapa alkitab tidak menyebut nama harinya agar bisa kita terima secara hukum!.

Dua pertanyaan di atas adalah contoh pertanyaan hukum. Apapun jawaban anda maka hukum akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan hukum sampai ditemukan jawaban yang dapat diterima secara hukum untuk kepastian hukum. Artikel ini berjudul “Perjanjian Tuhan dengan Adam (Manusia)”. Pembaca yang sombong dan hatinya culas akan menganggap sepele judul artikel ini seakan-akan dia sudah mengetahui maksud dan tujuannya. Pembaca seperti itu adalah seorang pecundang sejati. Orang pandai yang membaca judul artikel ini merasa ingin mengetahui materi tulisan untuk kemudian menyimpulkannya sendiri. Pembaca seperti ini adalah orang yang bijaksana dan berbudi pekerti luhur. Orang seperti ini adalah orang yang tahu berterima kasih terhadap orang lain yang telah bersusah payah mengerjakan atau memberi peringatan tanpa berharap mendapatkan imbalan apa-apa.

Belum ada  seorangpun ahli yang mampu mengungkap misteri “enam”. (hari atau masa) secara akurat berdasarkan hukum. Misteri angka “enam” berkaitan dengan terdapatnya enam unsur yang ada didalam tubuh manusia. Keenam unsur-unsur tersebut adalah ruh, hati, jiwa, darah, daging dan tulang. Pertanyaannya sekarang adalah; apakah ketika Tuhan menciptakan Adam, keadaannya sudah sama dengan manusia yang hidup sekarang ini?. Logika hukum  penulis mengatakan BELUM!. Fakta hukumnya; banyaknya temuan-temuan arkeologis yang mampu membuktikan bahwa manusia dulunya sebangsa kera (mirip orang utan) yang berjalan dengan dua kaki. Bentuk tubuhnya, tinggi, besar dan kuat. Baru-baru ini dunia digemparkan dengan penemuan bahtera Nuh di atas gunung Arafat-Turki oleh expedisi tim ahli arkeologis berkebangsaan Cina. Orang islam dan nasrani menganggap hal itu adalah hal biasa saja. Penemuan arkeologis penting itu hanya merupakan pembuktian atas apa yang mereka yakini selama ini karena kisah “bahtera Nuh” tertulis jelas didalam kitab suci alqur’an dan alkitab. Kisah Nuh adalah kisah nyata bukan cerita fiksi atau dongeng.

Sebagai orang hukum saya memiliki pandangan yang berbeda dengan orang islam dan nasrani meskipun saya ini seorang muslim. Hukum mempertanyakan; kalau hanya untuk membuat manusia mati kecuali keluarga Nuh dan binatang yang ada diatas bahtera Nuh, kenapa bumi harus ditenggelamkan dengan air pasang setinggi ribuan meter sampai-sampai seluruh puncak gunung tertutup oleh air?. Pertanyaan kedua adalah; kenapa banjir harus berlangsung lama, sampai memakan waktu berbulan-bulan?. Betapa  mudahnya bila hanya untuk mematikan manusia dengan cara menenggelamkannya. Paling lama satu jam mereka akan mati semua mengingat dimasa itu belum ada yang tahu berenang?. Jawabannya sangat sederhana. Dibutuhkan kedalaman air yang tinggi karena manusia saat itu tinggi-tinggi. Dibutuhkan waktu yang lama karena manusia saat itu besar-besar dan kuat-kuat. Fakta hukumnya; Temuan arkeologis tentang binatang  dinosaurus. Manusia lebih tinggi, lebih besar, lebih kuat dan lebih hebat dibanding dinosourus. Dinosourus punah semua saat terjadinya banjir semesta.

Sebagai orang hukum, penulis hanya ingin mengingatkan kita semua bahwa ternyata Perjanjian-Perjanjian Tuhan bukanlah perjanjian masa lalu. Perjanjian-Perjanjian itu masih berlaku hingga saat ini dan mengikat kita semua. Clausul-clausul perjanjian dimaksud disampaikan dalam bentuk Legal Opinion, agar kita faham dan membenarkannya dengan harapan kita tidak perlu panik bila “hari penghakiman” tiba. Tidak ada yang mengetahui kapan datangnya “hari penghakiman” atau “hari pembalasan” tersebut, namun patut diduga waktunya sudah amat dekat. Dugaan ini didasari oleh fakta adanya fenomena alam berupa gempa bumi akibat letusan gunung berapi baik gunung api yang ada di atas permukaan tanah maupun gunung api yang berada jauh di bawah dasar laut secara berurut dan berkelanjutan, yang ikut berdampak terjadinya anomali cuaca yang membingungkan manusia untuk melakukan prediksi akurat. Fenomena sosiologis berupa terbukanya peluang dan kesempatan yang luas sehingga memicu hawa nafsu manusia untuk berlomba-lomba mengejar dunia dengan menghalalkan segala cara. Pada saat yang bersamaan manusia juga berlomba-lomba menyemarakkan tempat-tempat ibadah untuk mencari kedamaian.

Artikel ini ditulis dengan dua tujuan. Pertama; agar manusia SADAR bahwa dirinya terikat perjanjian dengan Tuhan. Kedua; agar manusia mengetahui Rahasia Perencanaan dan Penciptaan Tuhan. Dengan mengetahui Rahasia Tuhan maka manusia akan menjadi orang yang TERCERAHKAN. Orang yang SADAR dan TERCERAHKAN adalah BUDDHA

Semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan, yang membedakannya adalah tingkat ketaqwaannya.

Apa yang dimaksud dengan taqwa?. Apa yang menjadi tolok ukur atau barometer untuk disebut sebagai orang yang bertaqwa?. Apakah karena orang rajin shalat lima waktu, puasa, berzakat, berhaji dan umrah sudah dapat disebut sebagai orang yang bertaqwa?. Atau apakah karena orang rajin mengikuti misa di gereja, kebaktian dan melakukan pelayanan sudah dapat disebut sebagai orang yang bertaqwa?. Belum bisa karena semua yang disebutkan diatas masih bersifat subyektif. Sebuah kebenaran harus tunduk pada nilai-nilai obyektifitas dan universalitasnya.

Secara intristik (hakiki), taqwa bermakna dekat. Ketaqwaan dapat dimaknai sebagai “kedekatan” manusia kepada Tuhan. Pertanyaannya bagaimana cara “mendekati” Tuhan?. Jawabnya sangat sederhana; Ketahui Rahasia-Nya. Tanpa mengetahui Rahasia-Nya; MUSTAHIL anda bisa dekat dengan Dia dan Dia dekat dengan anda.

Contoh; seorang suami sangat dekat kepada istrinya dan seorang istri sangat dekat kepada suaminya karena mereka saling mengetahui rahasia mereka yang paling tersembunyi. Anda memiliki teman yang banyak akan tetapi diantara teman anda yang dekat dengan anda yaitu mereka yang tahu rahasia anda dan anda mengetahui rahasia dia. Seorang pemimpin baik di instansi pemerintah maupun swasta akan memperlakukan sama semua bawahannya akan tetapi ada bawahan yang paling diistimewakan oleh sang pemimpin yaitu yang mengetahui rahasia pimpinan meskipun bawahan itu memiliki pangkat yang paling rendah di kantor tersebut.

Legal Opinion ini akan mengantar anda semua. Membimbing logika anda untuk mengetahui Rahasia Tuhan dengan pendekatan hukum. Dengan mengetahui Rahasia-Nya maka anda akan dekat dengan Tuhan dan Tuhan dekat dengan anda. Legal Opinion ini diawali dengan artikel yang pertama yaitu “Perjanjian Tuhan Dengan Adam (Manusia)”. Artikel kedua adalah “PERJANJIAN TUHAN DENGAN KAIN (QABIL)”, menyusul artikel ketiga, keempat, kelima dan seterusnya dan selanjutnya.

Hanya mereka yang “SADAR” dan “TERCERAHKAN” yang mampu memahami artikel-artikel yang akan dipersembahkan oleh Cakra Ningrat. Artikel itu akan dipajang secara permanen di blog satriopiningitmuncul.wordpress.com. Blog yang sangat mulia dan terhormat ini.

Legal Opinion

 

LEGAL OPINION

Baca lebih lanjut